Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
Journey to Nightshade - Mission




Mission


MENGHABISKAN WAKTU DI PERPUSTAKAAN sudah menjadi kebiasaan Elleanor. Gadis itu bahkan mulai menggelung rambut kepangnya jika sudah bertahan dengan beberapa buku, seperti yang sedang ia lakukan sore ini.


Selepas menguping secara tidak sengaja pembicaraan para guru, Elle bergegas melangkahkankan kaki menuju perpustakaan. Miss Therenia hanya tersenyum kala gadis itu menyerahkan kartu siswanya.


“Mengerjakan tugas?” tanyanya.


Elle tersipu malu, lalu menggeleng. “Hanya sedang mencari bahan bacaan.”


“Bukankah sekarang seharusnya kau masuk kelas Herbologi?” Penjaga perpustakaan itu tampak menelisik wajah Elle dengna saksama.


“Eh. Iya, Miss. Saya sedang mencari buku tentang beberapa tanaman dalam ilmu farmasi dan ramuan,” jelas Elle sambil menunduk.


“Oh, kau bisa mencari di lorong sepuluh untuk farmasi, dua belas untuk ramuan, dan lima belas untuk herbologi. Namun, kalau kau ragu silakan panggil aku.” Kartu siswa dikembalikan dengan senyum ramah penjaga perpustakaan berambut merah itu.


Setelah mendapat informasi, Elle segera melesat ke lorong sepuluh. Hanya butuh waktu 30 menit bagi Elle untuk menemukan apa yang dicarinya.


Perpustakaan Maple High Scool Academy adalah perpustakaan bagi pelajar sejati. Seperti gambaran perpustakaan para pengarang fiksi sejarah. Jangan bayangkan ruangan futuristik dengan komputer tersebar di mana-mana. Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Setiap lorong berisi berbagai macam klasifikasi buku sesuai dengan mata pelajaran di Maple.


Elle mencintai perpustakaan ini sejak pertama kali memasukinya. Bau kertas dan perkamen membuatnya tidak bisa memilih tempat yang paling ia favoritkan selain perpustakaan. Ia bersyukur penjaga perpustakaannya adalah wanita yang sangat cantik dan juga ramah. Meskipun ia mendengar succubus berambut merah itu kadang sangat menyeramkan kepada siswa-siswa yang selalu tidur di perpustakaan.


Dalam 30 menit, Elle sudah menemukan enam buku dengan memasukkan kata kunci melalui panel sihir di setiap rak. Dua buku masing-masing untuk mata pelajaran yang disebutkan oleh Miss Therenia. Beragam Tanaman Penawar Racun dan Racun Paling Mematikan untuk Makhluk Mistis adalah dua judul yang diambil Elle dari Lorong Farmasi. Sementara dari Lorong Ramuan, ia menemukan buku Ramuan Level Menengah dan Mengenali Unsur Dasar Nabati dalam Ramuan. Dua buku lainnya yang ia anggap dapat membantunya dari Lorong Herbologi adalah Tanaman Klasik dan Khasiatnya serta Berbagai Tanaman Pencipta Racun.


Keenam buku itu ia jejerkan di atas meja. Beruntung perpustakaan memiliki kaca-kaca besar yang banyak. Sinar mentari sore mulai menyoroti Elle yang begitu tenggelam dalam bacaanya. Ia tampak terlena dengan buku-bukunya, sementara catatannya terus bertambah seiring dengan selesainya buku yang dibaca.


Salah satu kemampuan manusiawi yang diturunkan langsung oleh orang tuanya adalah kemampuan membaca cepat dan mengolah data secara ringkas. Dan gadis itu merasa bersyukur atas kemampuan itu. Sehingga, ketika ia menyelesaikan semua buku yang diambil dari rak perpustakaan, ia sudah melingkari catatan di bukunya dengan lingkaran yang tebal.


Dan lingkaran itu hanya berujung pada satu tempat. Blackcave.


Sebagai seorang penutur, Elle sadar bahwa mungkin hanya ia yang dapat membantu sahabatnya pulih. Apa yang dialami oleh Peony bukanlah hal yang biasa.


Wolfbane adalah tanaman berwarana biru yang sangat cantik. Sayangnya, memiliki kandungan racun yang sangat tinggi. Racunnya adalah jenis yang menyebabkan orang mengalami kejang karena darah dipompa secara berlebihan. Namun, di tangan yang tepat, racun itu justru menjadi obat stimulus yang baik untuk kesehatan. Seiring kemajuan ilmu medis, wolfsbane yang sudah dikeringkan dan ditumbuk halus dan ditakar dengan dosis yang tepat, tidak akan menjadi masalah. Hanya saja, tanaman itu tetaplah pantangan bagi ras Werewolf, bagaimanapun wujud tanaman itu.


 Elle baru saja keluar perpustakaan ketika Miss Therenia, penjaga perpustakaan,  memanggilnya.  “Miss Thompson. Aku baru saja dapat informasi, The Prof memanggilmu ke Ruang Utama. Sekarang.”


Wajah Elle seketika pucat ketika membayangkan Ruang Utama. Ruangan dengan karpet beludru merah yang diisi banyak meja yang Elle tidak tahu gunanya. Biasanya itu tempat pertemuan para guru dalam membahas hal penting.


Elle berjalan meninggalkan perpustakaan, melewati Ruangan Tropi sambil memikirkan kesalahannya yang mangkir dari kelas Herbologi. Ketika Elle meningkati tangga menuju Ruangan Utama, ia berpapasan dengan beberapa siswa yang terus saja menatapnya. Ada yang hendak memanggilnya, tetapi ia abaikan. Fokusnya hanya satu. Ia harus segera menemui The Prof. Berusaha memberikan alasan yang logis karena ketidakhadirannya di kelas Herbologi hari ini.


Pintu Ruang Utama tidak tertutup sempurna saat Elle sampai di sana. Dengan ragu, ia mengetuk pelan.


Pintu mengayun terbuka dan tampak seorang wanita dengan gaun hijau daunnya yang menarik muncul di balik pintu. “Ah, Miss Thompson. Masuklah. Kami sudah menunggumu.”


Elle melangkah masuk sambil memandang deretan meja yang bisa bergerak sendiri itu. Ia menyadari bahwa ada seorang siswa lain yang turut hadir di ruangan serbamerah itu. Memori otaknya mulai bekerja. Satu hal yang sangat ia sesali dari kemampuan otaknya adalah tidak dapat mengingat nama dan wajah orang. Terutama yang tidak pernah berinteraksi dengannya.


Sekelebat ingatan saat pulang dari latihan pengembangan bakat mengusiknya. Seorang siswa berpapasan dengannya dan Peony. Wajah tak acuh yang menatapnya tajam, lalu muncul sebuah nama, Adniel.


Elle tidak terlalu memperhatikan Adniel sebelumnya. Apalagi mereka berbeda kelas dan asrama. Yang gadis itu tahu, pangeran dari ras Fallen Angel itu berdiam di Asrama Sci-Fi. Satu-satunya kesempatan mereka bisa saling bersinggungan adalah karena Elle dan timnya mengalahkan tim Adniel di Summer Battle di awal Juli kemarin.


“Selamat sore, Sir,” jawab Elle sopan. Ia melirik Adniel yang berdiri di depan meja Miss Grewyinn.


“Saya mohon maaf kalau menganggu jadwal sore Anda. Namun, saya memiliki berita yang harus saya sampaikan.”


Perut Elle seketika menegang. Ia merasakan mulas yang luar biasa. Sebagai anak yang rajin dan berjanji untuk rajin belajar kepada kedua orang tuanya, ini pertama kalinya Elle bolos pelajaran.


“Ini berkenaan dengan para siswa Werewolf yang terkena musibah.”


Serasa ada air es yang mengalir di perut Elle. Dalam hati ia bersyukur ini bukan tentang acara membolosnya, sekaligus khawatir dengan berita tentang Peony. Perhatian gadis itu pun mulai terpusat pada kalimat The Prof selanjutnya.


“Kami para guru sudah menebak dan memastikan penyebab dari peristiwa yang meyebabkan siswa Werewolf tumbang. Juga sudah menemukan bagaimana cara untuk mengatasi permasalahan ini. Jadi kami memutuskan untuk membentuk tim pencarian yang akan melibatkan para siswa.”


Miss Grewyinn berdehem dan melanjutkan kalimat The Prof. “Pencarian yang dimaksud adalah pencarian tanaman yang jadi menjadi penawar bagi siswa ras Werewolf. Tim ini akan dipimpin oleh saya sendiri, dan saya memohon bantuan kepada kalian berdua untuk bersiap menjadi bagian dari tim pencarian ini.”


Baik Elle maupun Adniel saling pandang. Keduanya merasa heran dengan pilihan para guru. Masing-masing dari benak kedua siswa ini adalah tidak percaya. “Maaf, Miss Grewyinn, “ sela Adniel, “Apakah Anda tidak salah pilih?”


Miss Grewyinn menatap Adniel tajam. “Maksudmu?”


“Saya paham kenapa saya terpilih. Itu karena saya murid terbaik di kelas Anda. Namun, kenapa siswi berkacamata ini juga harus ikut dalam tim pencarian?” protes Adniel. Ia mengatakan hal tersebut sambil tetap melihat ke arah Miss Grewyinn.


“Apakah kamu paham dengan sebutan tim pencarian? Artinya kita mencari. Dan untuk mencari yang kita butuhkan adalah pemandu. Siswi berkacamata ini adalah pemandu kita dalam pencarian.” Miss Grewyinn tetap menatap Adniel dengan tajam. Membuat siswa itu memilih utnuk menundukkan kepala.


“Dan satu lagi. Siswi ini punya nama, namanya Elleanor Thompson. Bersikap baiklah, Adniel,” tegur The Prof, semakin membuat Adniel menundukkan kepala.


“Kalian berdua sekarang, bersiaplah. Kita akan berangkat setelah makan malam. Bawa perlengkapan secukupnya. Perjalanan kita tidak begitu jauh. Hanya saja, kita perlu bergegas.”


Kedua siswa itu akhirnya pamit undur diri. Saat di luar Ruangan Utama, Elle menahan langkah Adniel.  “Tunggu!”


Adniel berhenti tanpa membalikkan tubuh. “Ada apa?”


“Tidak. Hanya saja kita belum resmi berkenalan. Aku Elleanor dari Asrama Fantasi.”


Adniel menghela napas.”Ya, aku tahu. Summer Battle kemaren kamu mengalahkan timku. Ada lagi?”


Melihat sikap Adniel yang tampak tak acuh, Elle menggeleng. Ia sadar kalau posisi Adniel yang membelakanginya tidak akan melihat gelengan kepalanya. “Tidak. Maaf, aku hanya ingin berkenalan. Apalagi kita akan melakukan perjalanan bersama-sama.”


Melihat tidak ada respons apa pun dari laki-laki sebayanya itu, Elle akhirnya memilih untuk berjalan mendahului Adniel. Memikirkan reaksi Adniel yang cuek dan kurang bersahabat membuat gadis itu tanpa sengaja malah menabrak seorang siswi yang sedang menuju Ruangan Utama.


“Ma-maaf.” Siswi itu meminta maaf pada Elle sambil menunduk. Elle hanya mengangguk tanpa menjawab karena ia sebenarnya sedang melamun.


Siswi itu pun segera melanjutkan langkah tanpa berani menatap Elle. Sementara gadis berkacamata ini menatap punggung siswa yang baru saja menabraknya. Shalima. Siswi yang ia lihat di bangsal rumah sakit.


Setelah melihat Shalima masuk ke Ruangan Utama, Elle memilih untuk melanjutkan langkah kembali ke asrama. Ia perlu mempersiapkan diri untuk perjalanan nanti. Meskipun Miss Grewyinn dan The Prof tidak menyebutkan tujuan pencarian mereka, gadis itu paham bahwa mereka akan berangkat menuju Blackcave. Satu- satunya tempat nightshade tumbuh.


Seperti yang sudah Elle simpulkan dari buku-buku yang ia baca, satu-satunya penawar dari racun wolfsbane adalah nightshade. Nightshade adalah tanaman semak belukar yang menghasilkan tanaman bulat sebesar kelereng. Buahnya berwarna merah dan hitam, dan hanya salah satunya yang dapat menjadi penawar.


Entah harus bersyukur atau merasa terlalu kebetulan, malam ini bulan purnama. Dan buah nightshade yang dapat dijadikan penawar racun hanya yang mekar di bawah cahaya bulan purnama.


Elle menatap fotonya dan Peony yang sengaja ia pajang di pintu lemari. Ia meraba foto itu dan berujar, “Tenang, teman. Aku akan segera menemukan penawarnya. Dan kumohon berjanjilah, kamu akan tetap tidur sampai aku kembali nanti.”