
The Beginning
“ADA YANG BISA saya bantu?” tanya Elleanor sambil berdiri dan tersenyum kepada seorang perempuan yang baru masuk ke perpustakaan.
Pengunjung itu hanya menarik ujung bibirnya sedikit. Ia mendekati Elle yang masih menunjukkan senyum ramah. “Saya pikir ini sebuah toko buku?”
Elle makin melebarkan senyumnya. “Anda pasti seorang pelancong yang baru pertama kali datang ke Meeneral Town.”
Perempuan itu menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna.
“Hampir semua turis yang pertama kali datang ke desa kami selalu menyangka perpustakaan kami adalah toko buku,” jelas Elle, “Anda tak perlu khawatir, perpustakaan kami menyediakan beragam jenis buku. Kami juga sudah mengklasifikasikan buku sesuai dengan kebutuhan warga dan turis. Jadi, ada yang bisa kami bantu?”
Iris mata perempuan itu tampak berbinar. “Betulkah?”
Elle mengangguk membenarkan. “Jadi, buku apa yang Anda cari?” Gadis berkacamata itu mulai memperhatikan pengunjungnya. Seorang wanita yang berusia tiga puluhan. Mengenakan mini dress kuning cerah dengan motif bunga sakura kecil-kecil. Rambut burgundy-nya panjang bergelombang dan diikat dengan elegan. Sapuan make up tipis membuat wajahnya tampak lebih memukau.
Elle memuji dalam hati. Wanita ini tampak bukan sekadar pelancong biasa. Dia luar biasa anggun.
“Sebenarnya saya sedang mencari informasi tentang tanaman dan juga binatang.” Wanita itu berkata dengan nada tegas.
Elle tampak membulatkan kedua matanya. Ia semringah mendengar kebutuhan wanita di hadapannya. Gadis itu segera beranjak dari meja sirkulasi dan mendekati si wanita. “Anda telah datang ke tempat yang tepat. Ayahku seorang botanis. Ia pasti dapat membantu Anda.”
“Betulkah?” Wanita itu bertanya sangsi. “Tidak bisakah kau saja yang membantuku, Nona?”
Elle tersenyum canggung. “Kurasa ayahku orang yang tepat, Mam ....”
“Ah, iya. Nama saya Tucie Rerr.”
Elle mengangguk sopan, meskipun mengernyitkan kening. Gadis itu heran dengan nama yang didengarnya. “Mam Tu–Ci ?”
Tucie terkekeh. “No. Panggil saya Tu–Si.”
Sekali lagi Elle mengangguk.
“Bisakah Anda membantuku, Nona?”
“Eerr ... bukannya saya bermaksud tidak sopan. Namun, saya hanyalah anak kecil, Mam.”
Tucie tertawa renyah. Suara tawa yang membuat gadis di hadapannya semakin menatapnya kagum.
“Kamu anak yang sopan, Nona. Pasti seorang yang terpelajar.”
Wajah Elle tersipu. Tampak semburat merah muda menghiasi pipinya. “Terima kasih, Mam. tapi saya hanya belajar di rumah.”
“Benarkah?” Tucie membelalakkan mata tak percaya.
“Iya. Bukankah sudah kukatakan ayahku adalah seorang profesor?”
“Tidak. Kau hanya bilang ayahmu seorang botanis,” kata Tucie sambil tersenyum jemawa.
“Ya. Ayahku seorang profesor di bidang botani. Saat ini beliau sedang meneliti Bunga Lily Harapan, bunga kebanggaan desa ini.”
“Oh, rupanya begitu,” lirih Tucie.
“Bagaimana kalau kuantar Mam Tucie bertemu dengan orang tuaku. Saat ini keduanya pasti ada di rumah. Anda juga bisa bertanya tentang tanaman yang sedang Anda cari tahu.”
Tanpa menunggu ajakan kedua kalinya, Tucie segera mengangguk. “Namun, bagaimana dengan toko buk –, eh maksudku perpustakaanmu?”
Elle mengibaskan tangan kanannya. “Ini bukan kota besar, Mam. Lagi pula siapa yang mau menjarah buku?”
“Sayang sekali. Padahal buku adalah harta yang paling berharga,” gumam Tucie.
Wanita berkulit cokelat itu kemudian mengikuti langkah Elle yang mengarah ke sebuah pintu di balik tangga. Tucie baru menyadari ternyata perpustakaan ini memiliki dua lantai.
Begitu Tucie melewati ambang pintu, ia langsung berhadapan dengan sebuah meja makan dengan empat kursi kayu yang tampak nyaman.
Di sana tampak sepasang suami istri yang sedang menikmati teh. Keduanya menatap Tucie dan Elle secara bergantian. Melihat ekspresi keduanya, wanita bergaun kuning itu menyadari ia belum memperkenalkan diri.
“Papa, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,” kata Elle dengan riang.
“Maafkan saya sudah bersikap lancang. Saya belum memperkenalkan diri secara layak. Perkenalkan, nama saya Tucie Rerr.”
Kedua orang yang sedang duduk di meja makan itu saling pandang. Yang laki-laki bertindak duluan dengan berdiri dan tersenyum ke arah Tucie. “Selamat pagi. Mohon maaf jika kami menerima Anda dalam keadaan kurang pantas seperti ini. Saya Basil Thompson, dan ini istri saya, Karen.”
Perempuan yang duduk berhadapan dengan Basil, bangun dari duduknya dan bergerak mendekati Tucie. “Maafkan kami menjamu tamu di ruang makan.” Karen menyalami Tucie yang langsung disambut pelukan hangat. “Ini pasti karena putri kecil kami.”
“Mama,” kata Elle sambil memberengut.
“No. No. Ini murni karena saya yang memang mau bertemu dengan Anda berdua.”
Ketiga anggota keluarga Thompson kini menatap Tucie heran. Terutama anggota keluarga termuda.
“Apakah saya sebaiknya perlu keluar?” tanya Elle sopan.
Baik Basil dan Karen saling tatap sebelum kemudian mempersilakan Tucie duduk di salah satu kursi makan mereka. Sementara itu, Karen segera menyiapkan teh tambahan.
"Kenapa kau tidak ikut duduk?” tanya Tucie pada gadis berkacamata yang terus memperhatikan dirinya.
“Siapa Anda sebenarnya?” tanya Elle. Pada akhirnya gadis itu mengutarakan apa yang mengganjal dalam benaknya.
Tucie tertawa dengan renyah. Hal itu membuat Basil dan Karen menatapnya takjub. “Sebaiknya kalian bertiga duduk dulu.”
Entah kenapa, ketiga anggota keluarga Thompson mengikuti kata-kata Tucie.
“Baiklah. Saya akan memperkenalkan diri dulu, nama saya Tucie Rerr. Saya datang sebagai perwakilan dari Maple High School Academy. Kedatangan saya untuk memberi kabar bahwa kami memberi kesempatan kepada putri Anda, Elleanor Galina Thompson, menjadi siswi di sekolah kami.”
Basil dan Karen menatap Tucie lama. Keduanya mencoba mencerna informasi yang baru saja disampaikan oleh seorang wanita cantik bergaun kuning cerah di ruang makan mereka.
“Maple High Shool Academy?” tanya Karen.
Tucie mengangguk.
“Belum pernah dengar.” Karen dan Basil sama-sama menggelengkan kepala. Sementara Elle hanya terdiam di kursinya. Tampak ia memejamkan mata dan mulai berpikir.
“Maksud Anda, aku dapat kesempatan untuk bersekolah seperti anak lainnya? Belajar di dalam ruang kelas dan memiliki teman? “ Elle menatap Tucie dengan mata berbinar.
Tucie kembali mengangguk sambil tersenyum.
“Kami belum pernah mendengar sekolah tersebut. Dan atas dasar apa putri kami dapat kesempatan sekolah di ... High School ... ya ... itulah.” Basil mencoba untuk menahan Elle melontarkan pekikan kebahagiaannya. Sebagai kepala keluarga sudah sewajarnya ia bersikap waspada dan hati-hati.
Tucie menarik napas panjang. “Maple High School Academy bukanlah sekolah seperti pada umumnya. Kami hanya tertarik untuk mendidik siswa yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, seperti Elle. Saya sudah memperhatikan selama beberapa bulan, putri Anda memiliki bakat khusus di bidang linguistik.”
Elle kembali mengembangkan senyumnya. Salah satu keinginan terbesarnya, yaitu bersekolah, akan menjadi kenyataan.
“Anda tidak salah orang?” tanya Karen dengan nada yang terdengar santai, tetapi juga khawatir.
“Bagaimana mungkin saya bisa salah orang. Melihat interaksinya selama berbulan-bulan, membuat saya yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh putri Anda.”
“Apakah putri kami wajib bersekolah di sekolah yang Anda wakili?”
Tucie kembali tertawa. “Tentu saja tidak. Kami akan memberikan Anda waktu untuk memikirkan tawaran kami. Dan kalau Anda serta Elle setuju, kami akan melakukan sebuah ujian masuk.”
“Apakah ujiannya berupa tes tertulis?” tanya Elle yang mulai merasa khawatir ketika mendengar kata ‘ujian’.
Tucie menggeleng. “Tidak, Nak. Ujiannya hanya sebuah tindakan sederhana. Kamu hanya perlu menuliskan namamu di dalam sebuah buku. Jika namamu tidak menghilang di buku tersebut selesai ditulis, maka kamu otomatis diterima.”
“Itu saja?” Elle dan kedua orang tuanya saling tatap tak percaya.
Tucie mengangguk. “Namun, ada yang harus diketahui, bahwa Maple Academy, selain melatih kemampuan dari anak-anak berbakat, kekuatan mereka akan digunakan untuk mencegah kembali Asteroid Emas.”
“Apakah benda lamgit itu akan kembali lagi ke Bumi?” tanya Karen dengan wajah panik.
“Sesuai ramalannya, ya. Untuk itulah kami melatih anak-anak berbakat agar bisa mencengah bencana dahsyat itu terjadi lagi.” Tucie berdiri dengan anggun kemudian menyerah Book Guide Maple Academy kepada Elle untuk mengenal lebih jauh Maple Academy, lalu ia undur diri.
“Anda mau ke mana?” tanya Elle.
“Saya harus pamit. Tugas saya sudah selesai. Selanjutnya, saya akan memberikan kalian waktu untuk memikirkan kesempatan ini.”
Elle menatap Tucie lama, lalu ia segera berseru, “Aku mau sekolah di sana!”
Basil dan Karen menatap putri semata wayang mereka. “Elle, jangan bercanda. Mencegah meteor itu berbahaya!” seru Karen.
“Ma, saya tidak bercanda. Ini kesempatan agar bisa bersekolah seperti anak normal lainnya. Soal meteor itu, bersekolah maupun tidak di sana, bahayanya tetap ada. Tidak ada yang menjamin keselamatan seandainya Elle tidak sekolah di sana dan tetap di desa ini.”
Tucie menatap keluarga kecil yang sedang berunding di meja makan itu.
“Jadi, bagaimana keputusanmu?”
“Begini, Mam. Anda bilang akan ada sebuah tes. Bagi saya, lebih baik mengetahui tes tersebut sesegera mungkin. Seandainya gagal, saya tidak akan merasa rugi waktu. Dan kalaupun lulus, berarti saya sudah menghemat waktu.”
Orang tua Elle tampak saling pandang. Keduanya menilai alasan putri mereka cukup masuk akal.
“Apakah kau sudah yakin, Nak? Karena kalau kau lulus, kami memintamu untuk bersekolah asrama di sekolah kami. Kau akan jauh dari kedua orang tuamu.” Tucie kembali bertanya.
Elle menatap kedua orangtuanya, lalu ia memgangguk mantap. Tidaak ada keraguan terpancar dari sinar matanya.
Tucie kemudian mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas kulit buayanya. Sebuah buku bersampul hitam yang tampak usang. Ia juga mengeluarkan sebuah pena bulu lengkap dengan tintanya. Di atas meja kini terbuka sebuah buku dengan halaman yang tampak kosong.
“Silakan tulis nama lengkapmu tepat di halaman 12.”
Elle menghela napas panjang. Ia mengambil pena bulu dari tangan Tucie dan menatap kedua orang tuanya. Basil dan Karen sama-sama mengangguk. Mencoba mengalirkan keyakinan pada putri mereka. Elle tersenyum, lalu mencoretkan namanya di halaman 12.
Namanya tertulis sempurna, seolah ada tangan lain yang memandu Elle ketika ia mengguratkan tinta. Mereka menunggu hampir semenit penuh untuk melihat reaksi dari buku tersebut. Selama menunggu, Elle berharap namanya tidak terhapus, ia sudah terlanjur berharap untuk bisa bersekolah dan memiliki teman sekelas.
Secara perlahan, guratan tinta hitam yang tertulis di halaman tersebut memudar. Elle menahan napas melihat itu, mimpinya pupus sudah. Rasa sedih menghujam perasannya. Tiba-tiba, nama Elle muncul kembali. Namun sekarang tinta hitam itu berubah jadi tinta emas.
Tucie tersenyum sambil memandang Elle. “Bakat yang unik. Kami jarang mendapat tinta emas. Selamat, kamu diterima di Maple High School Academy.”