Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - We Are Bonded, After All!




We Are Bonded, After All!


“KAMU … SUKA SEKALI memelukku, ya?” tanya Thann. Lelaki itu mau mengejek Shal seperti biasa, tapi entah kenapa nada suaranya terdengar canggung.


Gadis itu tersentak dan langsung melepaskan pelukannya. Sudah berapa lama dia memeluk Thann?


“Maaf. Aku … aku tidak bisa berpikir saking senangnya.” Shal mengatakan hal itu sambil menggaruk lehernya pelan. Tiba-tiba dia menatap Thann dalam dan berkata, “Kamu boleh mati di tangan siapa saja, tapi jangan di tanganku atau di depan mataku! It was so traumatizing!”


Thann mengerjap-ngerjapkan matanya seperti kebingungan. Shal melanjutkan ucapannya, “Tadi tubuhmu sempat tak memberikan respons setelah memakan lumut Porsesa. Namun, ternyata tubuhmu seperti mengalami proses reset. Aku tidak tahu apakah seperti itu cara kerjanya dalam tubuh. Namun, yang jelas, kamu selamat!”


Shal menyentuh tangan Thann dan berusaha menjelajah ke dalam tubuh Thann lagi.


“Aku juga tidak menemukan pusaran energi lagi di dalam tubuhmu.”


“Pusaran energi?” Thann menarik tangannya sehingga kontak fisik mereka terlepas.


“Ya, saat kamu terluka, aku mencoba melihat ke dalam tubuhmu.” Shal salah tingkah sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. “Maksudnya, secara batiniah. Entahlah, aku juga tidak bisa menjelaskannya. Pokoknya, aku tidak membuka bajumu dan—” Shal tak sanggup meneruskan kalimatnya. “Intinya, aku menemukan pusaran di dalam tubuhmu yang terus menyerap energi perlahan-lahan. Namun, sekarang pusaran itu sudah tidak ada.”


Thann tampak berpikir. Dia lalu mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Shal. “Benarkah?” tanyanya.


Shal hanya bisa terpaku pada tempatnya melihat reaksi Thann. Tiba-tiba sebuah tangan gempal menghalangi tangan itu untuk menyentuh Shal. Thann terkejut dan langsung menurunkan tangannya. Malachite menatap Thann dalam-dalam.


Entahlah, Shal. Aku tidak suka dengan pria ini.


Mala berkata dengan ketus.


“Ah, kadal gua ini cepat sekali dewasa.”


Shal mengabaikan ucapan Thann. Dia bertanya kepada Malachite lewat batin sambil memeriksa luka di kaki Thann.


Apakah menurutmu kita harus pergi dari tempat ini?


Shal mencoba terlihat biasa-biasa saja, padahal jantungnya berdebar kencang. Entah karena apa debaran itu! Luka di kaki Thann terus mengeluarkan darah. Mungkin luka itu terbuka lagi karena Thann tadi berguling-guling di lantai gua. Sangat berisiko jika dia harus berjalan jauh dengan luka seperti itu.


Kita harus pergi ke tepi sungai, Shal. Di situ titik yang disepakati untuk bertemu dengan timmu, jika mereka menerima pesan dari burung pingai. Aku akan coba mencari jalan lain untuk menghindari orang jahat tadi.


Shal berpikir sebentar, lalu bicara kepada Thann, “Lukamu masih belum pulih, tapi kita harus pergi ke pinggir sungai. Burung pingai membantu kita untuk mencari tim pengambil lumut dan meminta guru akademi untuk menemui dan menolong kita di pinggir sungai. Mari, aku bantu supaya kamu bisa naik ke punggung Malachite.”


 “Kalau ada sesuatu yang sangat kamu inginkan, bilang saja kepadaku.”  Thann bicara kepada Shalima saat mereka sudah melintasi hutan kurang lebih 20 menit. Thann berbaring di punggung Malachite, sementara Shal berjalan di sampingnya. Mereka berjalan pelan agar tubuh Thann tidak terlalu terguncang di atas punggung Malachite. Menurut kadal besar itu, sebentar lagi mereka tiba di tempat tujuan.


“Aku akan berusaha memberikannya sebagai balasan karena sudah menolongku hari ini,” lanjut Thann dengan gayanya yang angkuh.


Shal mengembuskan napasnya karena kesal.


Akan lebih baik kalau ungkapan terima kasih itu diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Dengan tidak merendahkanku lagi, misalnya?


Shal bicara dalam hati dan bisa mendengar Malachite terkekeh dalam hatinya.


“Tidak usah. Kita sudah seharusnya saling menolong,” balas Shal ketus.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam keheningan.


“Kalau boleh tahu, mengapa kamu bisa mendapatkan penyakit aneh seperti itu?” tanya Shal.


Netra Thann menerawang ke arah rimbun dedaunan pohon. Mungkin dia teringat kenangan di masa lalu. Shal jadi merasa bersalah menanyakan hal pribadi seperti itu. Namun, dia memang penasaran dengan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.


“Saat Asteroid Emas melepaskan energi kosmik, bukan kamu saja yang memiliki bakat luar biasa. Aku juga memilikinya.” Thann akhirnya menjawab.


“Oh, ya?” Shal terbelalak kaget. Dia baru mengetahui hal ini. Apa bakat Thann? Kejeniusan? Bermulut tajam? Mengejek di saat yang tepat?


“Ya. Menyerap energi,” balas Thann singkat. Shal menganguk-anggukkan kepala dan mereka kembali berada dalam keheningan.


Shalima merenung. Hal itu bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.


“Saat aku berusaha melatih kemampuanku, aku tidak sengaja menyerap energi yang sangat besar dan tidak bisa aku kendalikan. Energi itu malah menyerangku serta menyebabkan kerusakan dan ketidakstabilan energi dalam diriku. Itulah kenapa dalam kondisi tertentu aku membutuhkan asupan energi. Aku selalu membawa pil energi ke mana pun pergi, tampaknya pil itu terhanyut di sungai. Dalam kondisi darurat, aku harus menyerap energi dari makhluk lain yang energinya tidak lebih besar dari energiku. Aku minta maaf kalau hari ini kamu harus menyaksikan pemandangan yang mengerikan.”


Shal bisa merasakan sindiran di kalimat terakhir. Thann sudah kembali menjadi Thann yang dulu, Si Tukang Mengejek dan Mencemooh. Shal mencoba mengambil sisi positifnya saja, yaitu Thann sudah semakin pulih.


Tiba-tiba sesuatu menarik Shal dengan kasar dan menempelkan sesuatu di lehernya.


Belati!


Ada belati di lehernya! Shal sebisa mungkin tidak bergerak. Dia bisa merasakan belati itu tepat berada di atas arteri karotisnya. Shal tidak pernah tahu apa yang terjadi jika arteri karotisnya terpotong. Apakah arteri itu bisa menyambung lagi atau dia akan mati? Tanpa sengaja, Shal melihat pergelangan tangan orang yang memegang belati itu. Ada tattoo matahari berwarna hitam di sana.


“Shal!” Thann dan Malachite sama-sama terkejut karena tiba-tiba Shal sudah berpindah tempat. Lebih terkejut lagi saat ada orang yang berniat mencelakai gadis itu.


“Berikan lumut Porsesa!” perintah orang itu kepada Shal.


Shal ingat masih ada sisa lumut Porsesa di tabung gadingnya. Tentu saja dia tidak ingin memberikannya kepada orang jahat itu.


“Atau kau memilih aku menyayat lehermu perlahan?” tanya orang itu sambil menekan lebih dalam belati di leher Shal.


Shal mengambil tabung gading di balik bajunya. Namun, dia sama sekali tidak berniat memberikannya. Dia tidak akan menang melawan pria itu, jadi dia harus menyerang titik lemahnya.


Saat penjahat itu tampak lengah, Shal memutuskan untuk memukulkan sikunya ke ulu hati penjahat itu. Pria itu tampak kesulitan bernapas dan Shal langsung memanfaatkannya untuk lari ke arah Malachite. Walau pun wajahnya tertutup masker, Shal mengenali sosok itu sebagai salah satu Zoologist yang hadir saat pengambilan lumut. Dialah penyusup itu!


“Sialan!”


Penjahat itu masih berusaha melakukan perlawanan. Dia masih kesulitan bergerak, tetapi mampu melemparkan bom asap ke arah Shal. Malachite langsung bergerak dan menepis bom itu dengan tangannya. Thann terpelanting ke tanah karena gerakan tiba-tiba itu. Bom asap terlempar dan jatuh ke arah lain.


Kini, Zoologist palsu mulai tampak putus asa. Dia akhirnya memutuskan melemparkan belatinya ke arah Shal.


Shal!


Malachite berusaha memperingatkan Shal. Sambil menggeram marah, Malachite menjulurkan lidahnya yang panjang ke arah Zoologist palsu itu. Dia berusaha mencegah pria itu melemparkan belati ke arah Shal. Syukurlah, lidah Malachite berhasil mengenai tangan si Zoologist sampai belati di tangannya terjatuh. Pria itu berteriak karena merasakan keanehan pada tubuhnya. Dalam sekejap, pria itu sudah berubah menjadi kaku.


Shal terkejut, terlebih Malachite. Kadal jantan itu tidak menyangka juluran lidahnya bisa memiliki efek seperti itu. Pria itu mungkin sudah mati dan Malachite tidak bisa menerima dirinya membunuh orang. Shal bisa melihat tubuh Malachite semakin menyusut dan berubah menjadi kadal gua seperti sebelumnya.


“Mala, tenang ….” Shal berusaha menenangkan kadal malang itu karena merasakan ketakutan yang besar dari Malachite. Namun, Malachite tidak mengindahkan perkataan Shal. Dia kabur ke arah pepohonan karena takut dan panik. Shal tidak mampu mengejar karena larinya sangat cepat.


“Tuan!” tiba-tiba dua orang pria muncul dari pepohonan dan segera menghampiri Thann.


“Kalian sungguh tidak berguna!” Thann menatap tajam kedua orang itu, yang tampaknya adalah pengawalnya.


“Maaf, Tuan. Kami kehilangan jejak.” Seorang pengawalnya bicara dengan kepala tertunduk.


“Apakah kalian bisa membawa Thann pergi dari hutan ini? Dia membutuhkan pertolongan lanjutan.” Shal bicara kepada kedua orang itu.


“Kami sudah meminta bantuan dari Tuan Forta.” Salah satu pengawal Thann menjawab.


“Bodoh!” kata Thann kesal.


“Maaf, Tuan. Kami sudah mencari Tuan ke penjuru hutan, tapi kami tidak bisa menemukan Tuan. Akhirnya, kami menghubungi Tuan Forta,” balas pengawal Thann. Pengawalnya yang lain menambahkan, “Bantuan sudah dalam perjalanan. Supaya cepat, sebaiknya sekarang kami membawa Tuan Thann keluar dari hutan ini.”


Pengawal itu lalu menggendong Thann dan membawa anak lelaki itu terbang menggunakan flyboard. Shal dan Thann terus berpandangan sampai Thann menghilang di balik pepohonan Gingko Forest. Mereka hanya saling menatap, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara itu, pengawal Thann yang lain mencoba membawa si Zoologist palsu yang entah masih hidup atau sudah mati.


“Orang ini sudah membuat kekacauan di Gingko Forest. Aku akan menyerahkannya kepada Tuan Forta. Guru Nona sudah dalam perjalanan menuju kemari. Sebentar lagi mungkin dia sampai.” Setelah mengatakan hal itu, pengawal Thann terbang dengan flyboard sambil membawa Zoologist palsu.


Tinggallah Shal sendirian di tengah hutan. Shal mencoba memanggil Malachite dengan batinnya, tetapi tak ada balasan. Kasihan kadal malang itu. Hari ini tentu menjadi hari yang berat juga untuknya. Dia mengikat batin dengan Shal, menolongnya, naik di atas punggung naga, bermutasi, dan membuat orang menjadi kaku. Shal bisa memahami perasaan dan kepanikan Malachite. Walaupun berusaha tegar, dia sendiri tetap merasa terguncang dengan apa yang terjadi seharian ini. Banyak hal mengerikan terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Yang paling buruk adalah saat melihat Thann tidak bernapas lagi setelah ditangani olehnya. Membunuh seseorang, itu sangat mengerikan.


“Shalima!” terdengar suara The Prof memanggilnya. Shal menengok dan melihat The Prof yang melayang beberapa senti dari tanah. The Prof mengatupkan jubahnya dan turun ke tanah, lalu disusul anggota tim yang lain dari balik pepohonan. Shalima langsung berlari dan memeluk The Prof. Tangisnya pecah dan dia merasa sangat lelah.