Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Soul Blower - A Discuss




A Discuss


GOLDEN HOUR. SAAT di mana matahari hampir beranjak dengan semburat merah lembut yang masuk melalui celah jendela. Lily masih asik menekuri salah satu buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan.


Menegakkan pandangan, ia mulai mengamati ruangan yang ditempatinya sekarang. Ruang kelas Rune tampak sepi. Tatapan Lily jatuh pada tumpukan buku di meja guru. Ia melangkah mendekati meja guru, lalu mulai menyelisik satu per satu buku yang tertata rapi di sana. Dengan cekatan tangannya bergerak membuka halaman demi halaman.


Saat sedang fokus, tiba-tiba suara dehaman yang cukup keras mengejutkan. Buku-buku di meja langsung terjun bebas ke lantai karena gerakan spontan Lily.


"Rupanya ada yang sudi berkunjung kemari saat weekend begini." Suara berat itu langsung menghentikan gerakan tangan Lily yang memungut buku-buku di lantai.


"Oh? Selamat s-sore, Sir," sapa Lily gugup.


Di hadapannya berdiri seorang pria berbadan tinggi tegap, mengenakan jubah hitam panjang serta rambut cokelat yang dicepol. Pria itu, Samael, menatap serius pada Lily. Membuat gadis merah itu merasa was-was.


Netra Samael menjelajahi sekitar, lalu berhenti pada meja di tengah ruangan. "Wah ... rupanya kau sedang belajar," ujarnya dengan senyum penuh arti. Tangannya terangkat dengan telapak terbuka, seketika buku di meja berpindah di genggamannya. Dalam sekali kedipan, buku tersebut tersibak hingga halaman terakhir.


"Oh, i-itu ... aku ... hanya sedang penasaran tentang sesuatu," kilah Lily dengan tawa kaku di ujung kalimat.


Samael hanya mengangguk kecil. "Perlu bantuan, Nona James?"


Seketika tatapan Lily menjadi berbinar. Kesempatan bagus.


"Permisi." Lily dengan sopan meraih buku dari genggaman Samael, membukanya dan menunjuk di beberapa bagian. "Apakah futhrak ini berhubungan dengan dewa-dewi, Sir?"


Bukannya menjawab, Samael beralih menuju meja guru di belakang Lily dan tiba-tiba loker terbuka dengan sendirinya, memunculkan sebuah buku di tangan pria itu. "Kukira ini versi lengkapnya." Tangannya terulur dan menaruh buku itu ke pelukan Lily.


Apa susahnya tinggal menjawab pertanyaanku? Bukannya malah memberi buku tebal ini. Menambah daftar bacaanku saja, ck.


"Budayakan membaca baru bertanya," kata Samael, seolah dapat mendengar suara hati Lily.


"Ah, baiklah." Merepotkan, imbuh Lily dalam hati.


Samael memilih beranjak setelahnya. Jubah hitam yang tadinya melingkupi tubuh kini telah sepenuhnya terbuka. Itu bukanlah jubah, melainkan sepasang sayap hitam dan lebar. Mengepakkan sayap hingga tubuh terangkat, wujud Samael lenyap digantikan oleh asap hitam lalu menghilang.


 Maya berjalan dengan mulut yang tak hentinya melontarkan makian terhadap Jace. Setelah hampir tengah hari mereka berdiskusi, Jace terus saja berceloteh menanyakan sesuatu yang tak penting. Juga mulutnya itu selalu saja bergumam dengan bumbu keangkuhan khas miliknya.


"Kenapa tidak membahas ini di kelas Rune saja? Membosankan. Katanya kalian ingin mengembalikan roh Sibyl. Sia-sia saja aku berada di sini, ck," gerutu Jace yang sedang bersandar di dekat kincir angin.


Mereka sedang berdiskusi tentang buku-buku yang dibawa Lily. Celotehan Jace jelas sekali sangat mengganggu. Lily sedang menjelaskan pendapatnya. Menurut pengamatan yang telah ia lakukan tadi, sedikit demi sedikit ia mendapatkan simpulan.


Saat membaca kata aettir, pikirannya langsung tertuju pada dewa Aesir. Kemudian ia mulai menanyakan beberapa hal kepada Jace. Karena hanya Jace yang menguasai pelajaran mitologi, terutama tentang bangsa Aesir tentu saja.


"Jace, coba kau sebutkan nama-nama dewa Aesir!"


Jace hanya mendesah malas, lalu mulai menggumamkan beberapa nama dewa mulai dari Odin. Lily sempat meminta Jace berhenti sejenak saat mendengar nama Tyr. Tangannya beralih meraih salah satu buku dan membukanya, kemudian menunjuk deretan huruf rumit dan menjelaskan.


Tyr's Aett, Aett ketiga yang bernaung di bawah Dewa Perang. Memiliki hubungan erat dengan hal-hal berbau spiritual dan dunia luar. Namun, sepertinya Lily tampak belum puas dengan jawaban Jace.


"Apa tidak ada lagi?" desaknya tak sabaran.


Jace tampak berpikir. Tatapannya berubah menerawang. Menaruh tangannya di dagu dan mengetuknya pelan. "Ada," jawab Jace


Lily semakin mendesak Jace untuk mengatakannya dengan cepat.


"Tapi ... mereka sebenarnya adalah ras Vanir," lanjut Jace.


"Apa?" Lily jelas terkejut. Ia sama sekali tak tahu-menahu tentang Aesir maupun Vanir. Lily hanya tahu bahwa dirinya seorang Van, itu pun setelah memasuki Maple High School Academy. Dia benar-benar masih awam tentang dewa-dewi. Bahkan hampir tak pernah memercayai keberadaannya selama ini.


"Ya …," Jace sedikit menjeda kalimatnya. "Semacam kesepakatan atau apa, aku lupa tepatnya," kemudian ia mengendikkan bahu.


"Bisa kau sebutkan?"


Jace kembali berpikir. Ingatannya lamat-lamat mengeja beberapa nama. Ia tak terlalu mengingat beberapa dewa Vanir karena menurutnya tak begitu penting. "Aku hanya mengingat kakak beradik bernama Freyr dan ... Freyja," ungkap Jace masih dengan pandangan menerawang.


Lily kembali menelusuri halaman demi halaman buku yang ia pegang. Menemukan sebuah tulisan Freyja's Aett pada halaman depan. Ia menggeleng cepat, masih merasa tak puas. Freyja's Aett jelas sekali bukan yang ia cari, karena rune tersebut bernaung pada Dewi Cinta dan Kematian. Berhubungan dengan dunia dan penciptaannya.


"Ada lagi?"


Bahu Lily terkulai lemas. Mungkin benar kata Jace, ini adalah kesia-siaan. "Apa tidak ada dewa yang bernama Hagal?"


Jace menggeleng mantap. Sepertinya memang tak ada. "Apa tak ada petunjuk lain?"


Lily beralih pada buku lainnya, lalu menyodorkannya pada Jace. "Di sini, dalam buku ini dijelaskan lengkap tentang delapan huruf Hagal's Aett. Sedang aett lainnya aku sama sekali tak menemukan bukunya. Jadi kupikir kita akan lebih mudah seandainya berhubungan dengan aett yang satu ini."


"Kau sedang meledekku atau bagaimana dengan menyodorkan buku yang sama sekali tak kumengerti?" kesal Jace sembari membuang muka.


Lily kemudian meminta Efron yang sejak tadi hanya menyimak. Tampaknya Efron lebih bisa diajak berdiskusi tentang ini daripada Jace. Jelas sekali wajahnya sedikit paham apa yang dimaksud Lily. Juga kemampuan Efron memahami rune yang hampir sama seperti Lily, tentu saja.


"Lagi pula apa gunanya mempelajari ini? Bukannya tadi sudah mendapat petunjuk yang lebih jelas dari buku Sebuah Jalan Menuju Asgard? Kita hanya tinggal menemukan kuda Sleipnir dan menunggu waktu yang tepat sesuai yang ditunjukkan di buku." Ini adalah protes Jace yang ke sekian kalinya. Membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi panas.


"Heran, kenapa orang-orang suka sekali mencari jalan yang rumit padahal ada yang lebih mudah," gerutu Jace sembari melempar bebatuan kecil.


Maya tampak geram sekali mendengar gerutuan Jace. Sejak tadi ia sudah menahan emosi. Sungguh, Jace adalah pria paling cerewet yang pernah ia temui. Baru kali ini ada yang bisa menandingi kemampuan Maya dalam berceloteh.


"Hei, dengar!" Suara Maya meninggi dengan telunjuk yang menekan dada Jace beberapa kali.


"Kau ini ... bisa tidak, otaknya dipakai sebelum berbicara seenaknya? Sombong saja didahulukan, padahal punya otak tak digunakan semestinya." Maya menarik napasnya sejenak. "Begini, Tuan Kalandra yang terhormat sejagat raya. Mungkin kita harus mendapatkan kuda aneh itu dan juga menanti sebuah pelangi yang bernama fros ... fros ... apalah terserah."


"Bifrost," koreksi Jace.


"Ya, itu maksudku. Namun ... apa kau tidak berpikir, apakah nanti patung Sibyl yang akan pergi ke Asgard? Tidak, bukan? Bisa-bisa kita terkena masalah yang lebih dari ini."


"Jadi, sebelum itu kita harus bisa memisahkan roh Sibyl yang terperangkap di patung kayu itu terlebih dahulu. Dengan cara mencari atau bahkan menciptakan mantra baru dari huruf kuno yang kaubilang tak penting itu tadi," lanjutnya dengan menekan salah satu kata. "Bukan begitu, Lily?"


"Ya," jawab Lily membenarkan perkataan Maya. Sekaligus lega karena ada yang memahami maksudnya. "Selain itu, aku membaca sedikit informasi tentang patung kayu Sibyl di museum hari itu."


Patung kayu dengan rambut emas. Tentu saja merupakan barang yang berharga. Bukan karena harganya yang mahal karena rambutnya dibuat dari emas asli. Akan tetapi, rambut emas itu dapat menyerap energi Golden Asteroid ketika menembus atmosfer. Hal tersebut dapat mengurangi dampak kerusakan pada alam semesta.


Selanjutnya, Lily mulai menjelaskan lagi. Mungkin dengan mengetahui elemen dari masing-masing huruf dengan mengaitkan kekuatan dewa-dewi, mereka dapat lebih mudah mendapatkan mantra. Lalu Efron membenarkan penjelasan Lily. Ia mengaku pernah melihat saudarinya membuat mantra pemikat dari kombinasi Freyja's Aett.


Jace mengangguk tak acuh. Bertingkah seolah paham, padahal sebenarnya ia terlalu malas mendengar penjelasan panjang lebar. Tujuannya hanya satu, menyelesaikan masalah ini lalu mendapatkan kembali gelang berharganya.


 Tepukan di bahu Maya berhasil mengembalikannya dari lamunan. Mengingat kejadian tadi berhasil menyulut emosinya kembali. Bibirnya masih komat-kamit tidak jelas karena merasa kesal.


"Sudahlah, May. Kau mau kopi?" tanya Lily menawarkan kopi kesukaan mereka dari Bread & Butter, sebuah kafe bernuansa vintage di area Sun Market.


Aroma mentega yang menguar di seluruh sudut ruangan membuat mereka sedikit relaks. Aroma lembut tersebut seolah menjadi terapi bagi mereka yang merasa jenuh dengan pelajaran atau apa pun yang bernaung di kepala.


Efron datang sembari membawa tiga cheesecake dengan topping strawberry jam dan cherry di atasnya. Mereka hanya bertiga saat ke sini setelah diskusi yang sedikit alot tadi.


Lily menikmati cheesecake-nya penuh minat. Tekstur lembut dan rasa manis yang pas dengan perpaduan rasa asam dari selai merah di atasnya benar-benar memanjakan lidahnya. Ah, sepertinya aku rindu rumah.


"O, iya," Efron mengurungkan niatnya saat akan memakan cheesecake yang telah ia sendok. "Ini masalah kuda Sleipnir."


Lily kembali menatap serius. "Ya?"


"Aku rasa ... Lily dan Jace yang harus mencarinya berdua."


Lily tersedak saat mendengar perkataan Efron. "Kenapa aku? Ah, tidak, maksudku kenapa tidak bersama kalian saja?"


Efron tampak menggaruk surai cokelat yang nyaris sama keritingnya seperti Lily. "Kurasa kita harus membagi tugas. Kau dan Jace yang akan mencari Sleipnir, lalu aku dan Maya yang akan mencari mantra. Bagaimana?"


Lily mencebikkan bibirnya tak suka. Tatapannya seperti seorang anak kecil yang memohon dibelikan mainan. "Tapi ini sangat tak adil. Bagaimana mungkin kalian membiarkanku berdua dengan Jace?"


Maya hampir melayangkan protesnya juga saat tangan Efron terangkat, menandakan bahwa ia tak ingin disela.


"Ini bukan masalah adil atau tak adil, Lily. Kalian pasti tahu bukan, pengetahuan Jace tentang Sleipnir itu lebih banyak dari pada kita? Dan kau, Lily, bekerja samalah dengan baik."


Lily hanya mendesah pasrah. Menerima segala kesialan yang akan menghampirinya nanti. Maya hanya menatap iba pada temannya itu.


"Kapan mereka akan berangkat?" tanya Maya setelah meneguk kopinya.


"Entahlah, tapi tidak dalam waktu dekat ini pastinya. Karena kita tak mungkin bolos pelajaran."