Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Soul Blower - Winter and the Truth




Winter and the Truth


"TUNGGU!" TERIAK MISS AIMER menyebabkan semua pandangan menuju ke arahnya.


Di depan sana, terdapat cahaya putih yang berpendar membentuk sebuah layar yang berkedip, menampilkan kilas balik kejadian sebelum Lily, Maya, dan Efron ditangkap. Sebuah kebenaran tentang awal mula hilangnya patung Sif dari museum. Cahaya itu berhenti berkedip bersamaan dengan teriakan Aimer Venmaris.


"Tuan Jace Kalandra, tolong maju ke depan!" ucap Miss Aimer dengan mata yang menatap lurus pada podium aula.


Ruangan berubah menjadi sangat hening. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga terdengar entakan sepasang pantofel yang menggema. Lelaki pirang tengah berjalan menuju depan podium dengan kepala menunduk, Jace.


Aimer Venmaris menatap tajam pada Jace. Tanpa kata, ia menampilkan tatapan penuh emosinya. "Kau—"


"Tahan emosimu. Apa kalian tidak ingin melihat bagaimana mereka menuntaskan misi rahasianya itu?" potong Samael, kemudian tersenyum. "Lanjutkan pertunjukkannya."


Cahaya putih tadi kembali memutar, lalu berkedip. Perlahan muncul gambar-gambar yang bergerak seperti sebuah layar hologram.


 Sejak pagi, tak ada cahaya sama sekali. Hal ini wajar, karena sudah memasuki musim dingin. Meski tak ada cahaya, langit tetap indah karena dihiasi oleh warna-warni pelangi yang disebut aurora borealis.


Lily mengeluarkan Sleipnir yang menyusut dari kotak kecil, kemudian Efron mengambil alih dan memberikan cairan untuk mengembalikan ukuran Sleipnir.


Mereka kini berada di tepi sungai di belakang Villagic. Segala keperluan sudah mereka persiapkan.


"Kita perlu berhati-hati," ucap Maya. Tatapannya waspada mengamati sekitar. "Bisakah kita lebih cepat?"


Lily menghentikan gerakannya yang mengelus Sleipnir. Ia beralih pada patung Sibyl yang sedang menatap langit gelap. "Kau sudah siap, Sibyl?"


Seharusnya aku yang bertanya padamu. Aku siap kapan saja.


Lily mengangguk, mengajak Efron dan Maya untuk segera menyelesaikan persiapan mereka. Efron membuka lipatan kertas, meminta Sibyl agar berdiri di atasnya. Kertas tersebut telah ia beri mantra penyegel untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Meski bukan segel yang cukup kuat, mengingat Efron hanyalah siswa tingkat satu. Maya menggantikan Lily mengelus Sleipnir. Kuda jantan itu tetap lebih jinak kepada perempuan.


"Here we go," desah Lily pelan untuk menghilangkan gugupnya. Ia semakin mendekat ke arah Sibyl. Memejamkan mata, Lily berusaha fokus agar mantranya berhasil. Setelah itu ia mulai merapalkan kata demi kata yang tertulis dalam kertas pemberian Efron.


Efron dan Maya menatap cemas ketika tak menemukan tanda-tanda mantra bereaksi. Sampai Lily selesai membaca pun tetap saja tak ada reaksi. Mereka bertiga mulai saling pandang dengan kepanikan.


Ada apa?


Lily mengusap kasar rambutnya. Ia menatap ke arah Efron dan Maya secara bergantian. Mereka hanya mengendikkan bahu dengan tatapan yang ... entahlah.


"Bagaimana ini? Efron katakan sesuatu," gusar Lily.


"Tenanglah, Lily."


"Tidak. Bagaimana aku bisa tenang?" Lily berjalan mondar-mandir. Kedua tangannya saling meremas. "Oh, God. Help me, please."


Mata Lily menatap langit gelap di atasnya sayu. Dengan penuh harap, ia bergumam, "Help me, please."


Tak disangka, tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang berwarna keemasan keluar dari patung Sibyl. Lily, Maya, dan Efron refleks menjauh dan menutup mata karena silaunya.


Sebuah penebusan.


Cahaya yang semakin lama tampak keemasan itu membentuk sesosok wanita dengan surai panjang yang sedang tersenyum lembut.


Permohonan dari jiwa yang bersih.


Warna-warni di langit pun ikut berputar. Hingga mencapai ke arah cahaya emas, roh Sibyl. Sleipnir segera menghampiri sang Dewi. Menunduk hormat, menawarkan punggungnya untuk dinaiki. Roh Sibyl menengok ke arah tiga siswa yang kini tengah menatap tak percaya. Tersenyum, ia mulai menaiki Sleipnir.


Terima kasih.


Dalam hitungan detik, Sleipnir melangkah menaiki pelangi. Semua lenyap begitu saja dalam sekejap. Hanya menyisakan tiga siswa yang masih tercengang.


Lily jatuh terduduk di tanah yang mulai basah karena salju. Kemeja putih yang ia kenakan menjadi sedikit kotor karenanya. "Itu tadi ... apa?" gumamnya masih tak percaya. Lily berusaha bangkit dan berjalan menuju patung di depan sana. "Si-byl?" Ia memegang patung Sibyl dan menggoyangkannya.


Maya yang tersadar lebih dahulu segera mengajak Lily dan Efron untuk mengembalikan patung Sibyl ke tempatnya semula. Entah kenapa, ia merasakan aura gelap mendekat ke arah mereka.


"Tap-tapi ... benarkah Sibyl telah kembali? Secepat itu?" tanya Lily yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Maya terus meyakinkan Lily kalau yang mereka lihat benar terjadi. Efron pun telah membereskan beberapa barang yang mereka gunakan tadi. Efron tampak tak sabaran merogoh saku celana hitam yang ia kenakan. Tangannya terus meraba bagian saku celananya dengan sedikit terburu.


"Maya, apa kau membawa ramuan penyusut?" tanya Efron setelah menghentikan kegiatan mencarinya.


"Aku? Tidak. Bukannya kau yang membawanya, ya?"


Efron menggaruk kepalanya dengan sedikit keras. "Berarti tertinggal di kamar ramuan, ck."


"Di dekat sini ada tanaman daisy seingatku. Aku segera mencarinya," sahut Lily yang mulai beranjak ke arah kincir angin. Namun, belum genap lima langkah, ia terhenti. Matanya membola ketika melihat gerombolan orang yang dikenalnya. "Ma-dam Aimer ...."


 Aula tampak riuh sejak para staff dan guru memutuskan untuk meninggalkan ruangan setelah kebenaran dibuka oleh bunga emas pemberian Sibyl. Terlebih lagi sekarang terdapat satu siswa yang ikut dipasangkan rantai dari cahaya merah.


Sembari meringis, gadis yang dipanggil Shal itu menatap kasihan pada empat orang yang menjadi tontonan gratis bagi para siswa.


"Apa menurutmu dikeluarkan dari akademi adalah hukuman yang pantas untuk mereka, Peony?" bisik sebuah suara lagi dari gadis berkacamata bulat dengan rambut cokelat yang dikepang.


Peony mengendikkan bahunya, "Kurasa itu setimpal dengan pencurian yang mereka lakukan, Elle."


"Tapi mereka tak sengaja melakukannya, bukan?" tanya Elleanor lagi.


"Entahlah," jawab Peony yang kembali mengendikkan bahunya. "Setidaknya berkurang populasi pengacau dari akademi ini. Bukan begitu?" ucap Peony dengan sedikit lantang.


Elleanor yang berdiri di sampingnya pun menyenggol tangan Peony tak suka. "Jaga bicaramu."


"Peony sepertinya berkata benar, walau agak menyakitkan," kata Amara kepada Shalima yang hanya mendengarkan ucapan antara Peony dan Elleanor sejak tadi.


Shalima memelototi Amara yang tampak santai dengan kata-katanya. "Jangan berkata seperti itu!”


Elleanor, Peony, Shalima, dan Amara hendak melanjutkan pembicaraan ketika asap hitam yang tak asing memasuki ruangan. Mr. Samael datang dengan senyum yang sedikit misterius. Mr. Samael berdeham sejenak, "Mohon maaf, kami sedikit lama berdiskusi."


"Di sini saya akan menyampaikan hasil diskusi kami tentang ...." Samael menatap empat siswa yang mencolok, berada pada bagian paling depan aula. "Hukuman untuk mereka ….”


"Mohon maaf menyela, Sir." Seorang siswi dari barisan tengah menginterupsi.


"Ya, Miss Thompson?"


"Saya rasa sangat tidak adil kalau hukumannya dikeluarkan dari akademi, Sir," ucap Elleanor dengan lantang.


Semua terdiam. Ada beberapa yang mengangguk setuju dengan pernyataan Elle dan beberapa sisanya malah mencibir tak suka. Mr. Samael tiba-tiba tertawa sangat keras hingga membuat semua menatap aneh kepadanya.


"Ups, maaf." Mr. Samael mulai berdeham untuk menetralkan tawanya. "Pendapat yang bagus, Miss Thompson. tapi aku bahkan belum bilang kalau akan mengeluarkan mereka."


Mr. Samael kemudian maju mendekati Lily. "Bagaimana, Nona James? Hukuman apa kiranya yang pantas untuk kalian berempat? Oh, untuk pengkhianat pirangmu ini, apa kau mau request sesuatu?"


Lily menatap Jace sejenak, kemudian langsung memalingkan pandangan. "Tidak, Sir. Dia melakukan yang seharusnya dilakukan. Ia memang tak bersalah dalam kasus ini, jadi jangan dihukum."


Jace menatap heran, merasa sedikit tak yakin hal yang diungkapkan Lily. Bukankah mereka musuh?


Teman?


Jace seketika meringis saat suara itu kembali muncul. Suara itu tampaknya selalu menjadi mimpi buruknya belakangan ini. Bagaimana ia lupa kalau mereka sudah berteman saat itu?


Mr. Samael bertepuk tangan, puas dengan jawaban Lily. "Bagus sekali, Nona James. Namun sayangnya, kalian berempat harus tetap dihukum."


Lily memejamkan mata. Entah sudah berapa kali matanya memejam karena ketakutan. Ia meraih tangan Maya dan Efron. Meremasnya pelan seakan saling membutuhkan dukungan.


"Apa kalian siap dengan hukumannya?"


Mereka berempat kompak mengangguk cepat. Tak ingin berlama-lama dengan ketegangan yang terjadi.


"Baiklah." Mr. Samael menarik napas sejenak, "Hasil dari rapat yang kami lakukan beberapa saat lalu adalah ...."


Semua yang ada di sana sampai ikut menahan napas antara penasaran dan merasakan tegang. Mr. Samael sengaja menjeda kalimatnya sedikit lama.


"Hukuman untuk dissidenter atau para pembangkang adalah selama liburan kalian tidak diperbolehkan untuk pulang. Dengan kata lain, kalian wajib berada dalam area akademi."


Empat siswa yang sedang dirantai itu menghela napas lega. Hanya itu, eh?


"Tentu tidak itu saja," lanjut Mr. Samael seolah mengerti apa yang ada di pikiran semua siswa di sana. "Selama itu pula kalian diwajibkan untuk membersihkan setiap sudut asrama fantasi, mulai dari kamar, ruangan, lorong-lorong, sampai kandang satwa ghaib setiap hari. Tanpa sihir."


Astaga, pasti bau sekali, batin Maya tak suka. Lily pun sudah bergidik ngeri ketika membayangkan ia membersihkan kandang satwa ghaib.


"Kalian jangan senang dulu, masih ada hukuman lainnya tentu saja," ucap Mr. Samael setelah puas melihat reaksi anak didiknya.


"Masih ada?" tanya Maya spontan.


"Tentu saja. Kalian pikir kalian hanya melakukan satu kesalahan? Mencuri nektar dewa Yunani, bolos jam malam, mencuri kunci gudang di Villagic, mengunjungi Gingko Forest tanpa izin, tak mengembalikan buku pada waktunya, membuat ramuan tanpa izin, mencuri mantra dari prasasti di Colloseum, sepertinya masih banyak lagi. Apa kalian pikir hukumannya hanya satu?"


Maya meringis malu. Rasanya seperti aibnya sedang dibuka di hadapan umum. Ia menatap melas pada Mr. Samael, berharap hukumannya tak akan terlalu berat.


Mr. Samael terkekeh, "Hukuman kalian tak akan terlalu berat."


"Benarkah?"


Ia mengangguk mengiyakan pertanyaan Maya. "Hanya membantu para guru membawa buku-buku tebalnya setiap hari selama satu semester penuh di tahun ajaran kedua nanti."


"Oh, satu lagi," ucap Mr. Samael yang mendadak berhenti. "Bunga emas kalian kami simpan dalam ruangan khusus dan resmi menjadi barang milik akademi. Kau, Nona James, setelah ini datanglah ke Lakevender. Kekuatanmu perlu dinetralkan."