Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - The Enchantment of Gingko Forest




The Enchantment of Gingko Forest


“BUKANKAH SEHARUSNYA KAMU sudah pulang ke Winter Kingdom?” Shalima bertanya kepada Thann sambil mengibas-ngibaskan tangannya dan berjalan mengikuti anak laki-laki itu. Mereka terdampar di pinggir sungai dan memutuskan untuk menelusuri sungai kembali ke arah titik pengambilan lumut. Sambil bertanya, Shal merasakan ada yang aneh. Bunga-bunga di samping kanan dan kirinya dalam keadaan layu, padahal mereka berada di tepi aliran sungai.


“Dokter Forta memintaku tinggal di Maple Island untuk menemaninya meneliti beberapa mamalia bersayap,” jawab Thann.


“Sayapmu tidak apa-apa? Aku melihat sayapmu terbakar sebelum terjun ke sungai,” tanya Shal lagi ketika Thann memeluk dan melindunginya dari semburan api sang naga.


“Sayapku bisa regenerasi sendiri. Namun, dalam beberapa hari ini aku tidak bisa menumbuhkannya dahulu sebelum benar-benar pulih. Jadi satu-satunya cara untuk kembali hanya dengan berjalan kaki. Apa kau berharap aku menumbuhkan sayapku dan menggendongmu terbang?”


Shal buru-buru menggeleng sambil membayangkan Thann menggendongnya di dada sambil terbang. “Tidak. Aku tidak pernah berkata seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu memiliki sayap,” ucap Shal lagi sambil terus mengenyahkan pikirannya dari pelukan Thann.


Thann mendengkus. “Apa yang kamu pelajari di akademi? Tidak ada yang bilang kalau semua malaikat memiliki sayap? Apa tidak ada teman dan gurumu yang berasal dari ras Fallen Angel?”


Shal membuka mulut untuk menjawab, tetapi buru-buru menutupnya kembali. Percuma saja berdebat. Akhirnya Shal mengalihkan topik pembicaraan. “Terima kasih atas lagunya,” ucap Shal dengan nada menyindir atas kiriman lagu lewat nuskabadori tempo hari.


“Tidak masalah,” balas Thann sambil tersenyum dan berjalan mendahului Shal.


Baru beberapa langkah berjalan, Shal ingat kalau Thann baru lulus Sekolah Menengah Pertama, tetapi sudah bisa melakukan penelitian bersama ketua Zoologist Maple Island? Apa-apaan ini! Memang anak laki-laki itu punya bakat tersembunyi atau jangan-jangan ini karena keluarganya kenal dekat dengan dr. Forta? Ini jadi semacam nepotisme, begitu?


“Kenapa kamu bisa ikut tim Zoologist? Bukannya kamu—”


Thann menoleh ke belakang dan tersenyum meremehkan begitu melihat ekspresi Shal yang penuh pertanyaan. “Jangan iri, Shalima. Aku memang kelewat jenius dan berbakat.” Anak laki-laki itu lalu memutar kepalanya ke depan dan lanjut berjalan sambil menyentuh bunga-bunga di sampingnya. Shal bersumpah, dia melihat bunga-bunga itu mendadak layu setelah disentuh Thann. Namun, dia memilih menutup mulutnya rapat-rapat karena khawatir bunga-bunga itu seperti Mimosa pudica, the touch-me-not shameplant, yang menguncup saat disentuh. Ada banyak tanaman yang tidak diketahuinya. Jangan sampai Thann menjadikan hal ini sebagai bahan untuk kembali merundungnya.


Tahu-tahu, mereka sudah masuk ke dalam hutan. Shal ikut saja ke mana Thann melangkah. Walaupun Thann menyebalkan, Shal mengakui anak lelaki itu selalu tahu apa yang harus dilakukan.


Mereka mulai memasuki wilayah penuh pohon berdaun kuning. Thann sempat berhenti selama beberapa detik, lalu melanjutkan langkahnya melewati tempat itu. Mereka melangkah di atas tanah yang ditutupi dedaunan kuning yang berguguran. Thann menoleh saat mendengar Shal berseru kagum. Dilihatnya perempuan itu tersenyum bahagia mengamati pepohonan yang cantik.


Sekarang ini adalah masa peralihan dari musim gugur ke musim dingin. Namun, daun-daun pepohonan di Gingko Forest masih belum habis berguguran.


“Kamu terlihat bahagia berjalan bersamaku di tengah pohon gingko,” ejeknya.


Shal memandangi Thann dengan tatapan kosong. Dia tidak tahu bahwa ini adalah pohon gingko, asal nama Gingko Forest. Apakah seharusnya dia tidak bahagia melihat pemandangan yang indah ini?


“Lupakan!” Thann mengembalikan pandangannya ke depan sambil berdecak kesal.


Shal merasa banyak hal yang ditutupi oleh Thann.


“Kenapa kamu menyamar jadi Zoologist dalam tim pengambilan lumut?” pancing Shal.


“Ada orang lain yang menyamar jadi Zoologist dalam tim itu, bukan aku.”


“Benarkah?” Shal tidak memercayai perkataan Thann. Namun, kalau diingat lagi, memang tidak ada sosok Thann dalam tiga orang Zoologist  yang ikut pengarahan tadi pagi, kecuali dia punya kekuatan mengubah wujud. Namun, kalau Thann punya kemampuan mengubah wujud, kenapa saat mengambil lumut dia tidak berubah? Shal jadi pusing sendiri.


“Lantas kenapa kamu mau mencuri lumut Porsesa?” Shal bertanya lagi. Kali ini Thann langsung menghentikan langkahnya. Shal menunggu jawaban Thann, tetapi rupanya pria itu tidak ada niat menjawab pertanyaannya. Thann mendengar sesuatu dan berjalan pelan-pelan mendekati asal suara tersebut.


Thann berjalan ke arah semak-semak, diikuti Shal. Saat dia menyibak semak-semak itu, mereka berdua dapat melihat seekor anak babi membelakangi mereka. Babi kecil itu asyik mengendus pepohonan. Shal mengembuskan napasnya lega. Untunglah hanya seekor babi kecil dan bukan hewan berbahaya seperti dugaannya.


Namun, Thann malah mengendap pelan-pelan mendekati anak babi itu sambil bersenandung kecil. Anak babi itu seperti terhipnotis mendengar suara merdu Thann. Dia langsung berbalik dan mendekati Thann. Shal hanya bisa memperhatikan dari balik semak-semak sambil mempertanyakan rencana itu. Dia harus secepatnya menemui tim pengambil lumut, tapi Thann malah meninabobokan seekor anak babi.


Ada yang aneh saat anak babi itu disentuh oleh Thann. Shal bisa merasakan tatapan anak babi itu melemah dan tak beberapa lama terkulai lemas ke tanah.


“Apa yang kamu lakukan?” Shal merasa sangat terkejut. Dia menerjang semak-semak, hendak memeriksa kondisi anak babi itu. Namun, dia keburu mendengar suara yang gusar dari balik pepohonan. Langkah Shal tertahan karena ada sosok hewan besar muncul.


“Not you again!” Shal merajuk pelan. Di depannya berdiri seekor induk babi besar yang melihat ke arah mereka dengan geram. Babi itu mirip sekali dengan babi yang pernah dihadapinya di Battle Arena. The one that almost killed her.


Syukurlah ini bukan pertarungan nyata.


Itu kata mentornya saat simulasi usai. Bagaimana dengan sekarang? Shal merasakan lututnya mulai gemetar.


Tanpa ba-bi-bu, Shal dan Thann langsung berlari menyelamatkan diri dari serangan induk babi yang kelihatan sangat marah. Shal payah dalam berlari, sementara Thann sudah jauh berada di depan. Thann coba menumbuhkan sayapnya, tetapi tidak berhasil.


Berhenti berlari, Shal! Hadapi dia!


Terngiang suara sang Mentor saat simulasi dulu. Ini bukan simulasi lagi!


Apakah aku harus tetap menghadapinya? Shal membatin. Dia mengepalkan tangan untuk memantapkan diri. Dia berbalik dan berusaha menghadang babi itu. Sama seperti simulasi, taring babi itu berhasil merobek pahanya dalam sekejap dan melemparnya. Namun, ada hal aneh yang Shal rasakan. Sesaat setelah mendarat dengan keras di tanah, dia merasakan tubuhnya sudah sembuh total. Tak disangka, luka besar di tubuhnya langsung sembuh dalam sekejap. Dia bisa segera berdiri dan memasang kuda-kuda.


Tiba-tiba, Thann berdiri di depannya, seperti berusaha melindunginya dari serangan babi yang kedua. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.


“Saat babi itu menyerang lagi, kamu lari sekencang mungkin ke arah utara!” perintah Thann.


Shal terkejut dengan aksi dan perkataan Thann. Padahal, anak laki-laki itu sudah jauh berlari di depannya tadi. Shal pikir, itu kesempatan yang baik bagi Thann untuk menghindar dari serangan babi. Ternyata dia salah menilai Thann. Pria itu malah kembali dan berusaha melindunginya.


Kini babi itu mulai menyerang lagi.


“Lari!” Thann memerintahkan Shal untuk lari sementara dirinya sendiri maju menghadang induk babi yang marah. Shal tidak menjalankan perintah itu dan malah berdiri kaku di tempatnya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Melarikan diri dan meninggalkan Thann berkelahi dengan babi bukan hal yang benar menurut hati nuraninya.


Thann berteriak ke arah babi itu dan Shal bisa merasakan gendang telinganya agak sakit. Ini bukan teriakan biasa. Babi itu terlihat menahan sakit, tetapi tetap menerjang Thann. Shal menjerit ketakutan. Dilihatnya Thann melayang ke atas, sepertinya berhasil ditanduk oleh induk babi. Namun, saat sudah berada di atas babi, dia memutar badannya dan meninju kepala babi hingga jatuh. Babi itu terus berlari, tapi langkahnya mulai sempoyongan. Tak lama, babi itu sudah jatuh ke tanah.


“Lari, Shalima!” Thann mengucapkan perintahnya lagi. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Shal berlari mengikuti Thann. Terdengar suara induk babi menggeram dan mencoba bangkit. Nampaknya, pukulan dari Thann memberikan mereka waktu untuk segera mencari tempat persembunyian. Tak lama lagi induk babi itu akan kembali berlari dan menyerang mereka.


 Shalima dan Thann kini berada di dalam sebuah gua. Induk babi terdengar menggeram di pintu gua, tetapi tak bisa masuk karena stalagmit tajam tumbuh di sepanjang gua. Saat masuk tadi, Shal dan Thann sangat berhati-hati melangkah melewati celah antar-stalagmit. Beberapa waktu kemudian, terdengar langkah induk babi menjauhi gua.


“Kita bisa bersembunyi dulu di sini.” Thann duduk di sebuah area tanah yang tak ditumbuhi stalagmit. Wajahnya tampak agak pucat. Mungkin kelelahan berlari. Dia memperhatikan celana Shal yang sobek dan berlumuran darah. Tak lama kemudian, dia tampak mengingat sesuatu dan menjadi sangat jengkel.


“Kalau kamu punya kemampuan self-healing, untuk apa aku repot-repot membantumu tadi?” sesal Thann.


Shalima hanya bisa cemberut. “Punya kemampuan self-healing bukan berarti tak bisa mati!”


“Oh ya?” Thann bertanya dengan nada mencibir, sama sekali tak percaya dengan perkataan Shal. Anak laki-laki itu tidak menuntut penjelasan dan malah minum dari sumber air yang ada di sampingnya. Shal sendiri tak mau menghabiskan waktu untuk memberikan penjelasan.


Shal memang sering merenungkan hal ini. Jika dirinya terus-terusan diserang, apakah dirinya tetap bisa melakukan self-healing terus atau malah mati?


Tak lama kemudian, netra Thann terkunci pada sesuatu di dinding gua dan bibirnya mulai bersenandung. Shal déjà vu dengan apa yang dilihatnya. Setelah melihat melihat seekor kadal yang diam di dinding gua, Shal tahu yang akan Thann lakukan. Tangan Thann sudah terjulur, tetapi Shal langsung menghadang dan menepisnya.


“Apa yang kamu lakukan?” Thann terkejut dan langsung melotot marah ke arah Shal.


“Kenapa? Membunuh anak babi masih belum cukup? Masih mau membunuh kadal juga?” seru Shal marah. “Walaupun mereka hewan lemah, mereka juga layak untuk hidup! Jangan karena mereka lemah, kamu jadi punya hak membunuh mereka!”


“Aku tidak membunuh mereka, Shalima Shero!” bentak Thann kesal.


Tiba-tiba dinding gua berubah hijau dan ada hujan daun gingko berwarna kuning. Shal heran. Tidak terlihat ada pohon gingko di dalam gua, kenapa tiba-tiba ada ratusan daun gingko berguguran?


Shalima Shero, terima kasih sudah mau melindungiku. Terima kasih sudah menganggapku berharga walaupun aku hanya seekor kadal kecil.


Shal menoleh ke arah sumber suara, yaitu kadal berwarna hijau yang tadi jadi sasaran Thann.


“Tak masalah. Setiap makhluk memang berhak hidup.” Shal mengelus kadal gua itu.


Maukah engkau menjadi temanku selamanya, Shalima Shero? Walaupun aku ini kecil dan tak berguna, tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya menjadi rekanmu.


“Tentu saja, Malachite! Tentu saja!” jawab Shalima antusias. Entah mengapa dia langsung memberi nama Malachite kepadanya. Yang jelas, warna kehijauan yang dimiliki kadal itu sangat indah dan mengingatkannya kepada batu malachite.


Tiba-tiba Thann menarik tangan Shal, seperti ingin membuatnya tersadar. Daun-daun gingko berwarna kuning yang tadi berguguran kini sama sekali tak ada jejaknya dan dinding gua kembali berwarna cokelat kusam. Apakah dia berhalusinasi?


“Kamu mengikat batin dengan kadal?” Thann menutup wajahnya dengan tangan dan melanjutkan kalimatnya, “Aku pikir kamu hanya bodoh, tapi ternyata lebih parah dari bodoh, ya?”


“Aku? Mengikat batin?” tanya Shal bingung.


“Ya, barusan. Kamu bahkan memberinya nama, kan?” Thann menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya.


“Iya,” jawab Shal polos. Mungkin ini akibatnya tidak pernah mendengar perkataan Amara saat mengulang apa yang dibacanya di buku tentang mengikat batin. “Aku tak keberatan mengikat batin dengan Malachite!” lanjut Shal sambil tersenyum ke arah Malachite yang kini sudah ada di bahunya.


Thann kembali menutup muka sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Pilih baik-baik dengan siapa kamu mengikat batin. Dia bukan hanya jadi temanmu selamanya, tetapi juga akan ikut dalam setiap petualangan hidupmu. Kamu juga harus melindunginya dengan nyawamu. Maka dari itu, pilihlah mengikat batin dengan makhluk yang setidaknya benar-benar bisa membantumu atau layak diperjuangkan. Bukan—” Thann tak sanggup melanjutkan perkataannya saat melihat Malachite menatapnya tajam. Dia tidak menyangka ada orang yang benar-benar mau berteman dengan kadal mini selamanya. Apa untungnya?


“Terserahlah, Shal! Toh kamu sudah mengikat batin dengannya!” seru Thann kesal. “Mulai sekarang, lebih berhati-hatilah dalam hidup. Konon, mengikat batin dengan kadal hanya membawa sial. Hewan-hewan akan berpikir seratus kali untuk mengikat batin dengan seseorang yang sudah mengikat batin dengan seekor kadal. Aku bahkan belum pernah mendengar ada yang mengikat batin dengan kadal gua, demi para dewa!” Thann merutuk karena kesal. Dia baru melihat orang membuat sebuah keputusan sekonyol itu dalam hidupnya.


Tak usah khawatir, Shal. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membantumu dalam setiap pertarungan. Terim akasih untuk nama yang kamu berikan. Malachite, aku menyukainya.


Malachite berusaha menenangkan Shal. Gadis itu menatap Malachite dalam. Ternyata begini rasanya mengikat batin dengan seseorang. Shal merasa bisa memahami dan berkomunikasi lewat batin dengan Malachite. Ini seperti perasaan yang dalam dan tidak bisa dijelaskan.


Tentu menyedihkan jika tak diinginkan. Setiap makhluk berhak dapat kesempatan. Shal tahu bagaimana merasa tak berharga, lalu mendapatkan kesempatan. Tak ada salahnya memberikan kesempatan jika dia mampu.


“Oh, ada sesuatu yang mau kuluruskan.” Thann bicara lagi. Namun, Shal merasa Thann mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lemah. Ketika dia menoleh, dilihatnya sosok itu tiba-tiba ambruk.