
The Beginning of a Secret Mission
"BISA KAU JELASKAN, LILY?"
Tiga orang kini bersedekap dan menatap Lily mengintimidasi. Sedang yang ditatap hanya meringis, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Entah bagaimana caranya, mereka sekarang berada pada sebuah gudang kosong di Villagic. Tak hanya itu, sesuatu yang Lily sebut sebagai bencana pun berada dalam satu ruangan dengan mereka. Sif, patung kayu dengan rambut emas yang mereka temukan sedang berjalan mendekati gerbang belakang kastel utama.
Karena terlalu panik, bahkan mereka sendiri tak tahu apa dan kenapa bisa berada di sini. Semua yang terjadi terlalu cepat dan spontan.
"A-aku ... itu ...." Lily meremas jemarinya dengan kuat. Suaranya sangat lirih, nyaris tak terdengar.
"Itu apa? Katakan dengan jelas!" Suara tinggi Efron membuat semua terperanjat. Maya bahkan sampai memukul bahu Efron karena dibuat terkejut.
Lily menarik napas panjang. "Jadi ...." Lalu mengalirlah ceritanya. Mulai dari ia yang tak sengaja menyandung kain penutup hingga keisengannya meniup patung Sif dengan mantra kehidupan—untuk tanaman.
"T-tapi aku berani bersumpah, aku tak bermaksud seperti ini. Aku kira mantraku tak berfungsi. Bahkan aku sendiri tidak tahu bahwa aku malah menghidupkan patung itu," jelas Lily.
"Lily," panggil Maya yang mulai mendekat, lalu menangkup wajah Lily. Menatap matanya dalam seolah menyelami apa pun yang terlukis di wajah Lily. Hal yang tak terduga, pada detik berikutnya Maya membenturkan dahinya dengan dahi Lily sangat cepat dan keras, hingga menyebabkan Lily meringis kesakitan.
"Lily, aku bangga padamu!" ucapnya yang kini beralih menepuk pundak Lily dengan bangga. Juga tatapan penuh binar dan memuja.
Apanya yang perlu dibanggakan? Maya dan kegilaannya selalu menjadi paket komplet, di mana pun dan kapan pun.
"Urusanku sudah selesai 'kan?" Jace yang sedari tadi hanya diam, kini melangkah menuju pintu. Namun, sebelum ia berhasil mencapainya, Lily sudah terlebih dahulu menghadang.
"Tidak! Setelah kau ikut dengan kami tadi, maka urusanmu baru dimulai."
"Apa katamu? Enak saja! Aku tidak ada hubungannya dengan masalah kalian ini. Minggir!" ucap Jace tak terima.
Lily sama keras kepalanya dengan Jace. Maka ia tak akan membiarkan Jace lepas begitu saja. "Kubilang tidak! Bisa saja setelah aku membiarkanmu keluar, kau malah melaporkan kami."
"Apa maumu, ha?" tantang Jace, masih berusaha menyingkirkan Lily dari hadapannya.
"Kau harus membantu kami."
Jace berdecih, "Apa untungnya buatku? Menyingkir!"
"Tidak! Tetap di sini atau ...." Lily memajukan wajahnya mendekati telinga Jace. "Gelang ini tak akan kembali." Sebuah jalinan benang rami dengan batu kecil di kedua ujungnya Lily ayunkan. Hal itu berhasil membuat Jace kelabakan.
"A-apa? Dari mana kau—sial!" Jace menggeram kesal.
Lily tertawa penuh kemenangan. Ekspresi Jace benar-benar membuatnya puas. Ia masih berusaha menghalangi langkah Jace. "Bagaimana?"
Jace tampak berpikir, tetapi tak berselang lama karena suara berisik mengalihkan perhatian mereka berempat. Maya dan Efron bergegas memegangi patung yang mulai meronta.
Patung itu sempat terdiam karena Efron melakukan frost magic tingkat satu padanya. Bukankah sebuah patung memang seharusnya diam? Namun, agaknya mantra Efron kini telah pudar.
"Baiklah, aku akan membantu kalian."
Sabtu seharusnya menjadi hari paling ditunggu. Tak ada pelajaran, hanya ada latihan untuk mengembangkan bakat sepanjang hari. Lalu besoknya, semua bebas berkeliaran. Belanja, jalan-jalan, menikmati aroma kopi, atau membaca buku.
Tak ada hal yang lebih menyenangkan selain berinteraksi dengan tanaman. Menurut Lily, dengan melihat dedaunan yang menari diterpa angin dapat meningkatkan hormon kebahagiaan dalam tubuhnya. Namun, sepertinya kali ini berbeda. Tak ada wajah semringah seperti biasa. Parasnya seolah tertutupi oleh asap hitam yang biasanya mengepul di ruang Alchemist.
Di mana aku? Aku ingin kembali ke Balairung Para Dewa. Tapi kenapa semua terlihat aneh di sini? Kalian siapa? Dan badanku ... astaga badanku!
Ingatannya kembali melayang pada kejadian semalam. Sebuah pengakuan dari patung yang dapat berbicara benar-benar membuat mood-nya kacau.
Aku Sibyl. Ah, tidak, maksudku, Sif, mereka memanggilku Sif karena rambut emasku.
Ia terus saja memikirkan bagaimana bisa roh seorang dewi tiba-tiba muncul karena ulahnya. Oh, apakah para dewa benar-benar nyata keberadaannya? Bukankah itu hanya mitos?
Aku tak bisa terlalu lama di sini, atau kalian akan mendapat masalah yang lebih besar dari ini jika semua dewa mencariku. Emm ... terutama suamiku. Ia bisa melakukan hal yang lebih buruk dari memenggal kepala.
Lily merasakan kepalanya sangat pening. Bagaimana caranya ia mengembalikan Sibyl kembali ke asalnya?
"Fokus, Lily James!"
Lily berjingkat karena terkejut. Suara itu berhasil mengembalikan kesadarannya. Seekor banteng berukuran besar berlari semakin mendekat. Ia terperanjat dan segera menghindar.
"Aw!" Lily kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan tubuhnya yang mencumbu lantai.
"Ada apa, Nona James? Kau melakukan kecerobohan hari ini. Fokuslah dan segera ambil cincin yang melingkar di ujung tanduk banteng itu agar latihan ini segera selesai." Seorang mentor bertudung hitam meneriakinya dari dahan pohon.
Lily menarik napas panjang. Berusaha fokus dengan latihan hari ini. Ia memasang posisi jongkok dengan kedua tangan menyentuh tanah. Seekor banteng di depan sana tengah mengaiskan kaki di tanah seolah siap menerjangnya kapan saja.
Saat banteng semakin cepat mengais tanah, Lily segera mengangkat panggulnya dan mangayunkan kaki kirinya sebagai tolakan sekuat tenaga. Ia berlari sekencang mungkin untuk menarik perhatian makhluk besar itu. Lalu, membawanya menuju tanah yang dipenuhi rerumputan.
Nyaris bertubrukan, Lily segera memerosotkan tubuh hingga meluncur melewati celah kaki banteng itu.
Pothos scandens, tanaman dengan daun menyirip seperti sirih yang menjalar di bawah kali banteng itu mulai merambat naik. Rambatannya sesuai dengan gerakan tangan Lily. Banteng itu terperangkap dan meronta. Lily memasang kuda-kuda sekuat mungkin. Jari-jarinya pun mulai mengepal kuat, seolah ia sendiri yang menjerat banteng besar di hadapannya.
Fokus dan relaks, Lily.
Tangannya terus melakukan gerakan memutar hingga pucuk tanaman itu mencapai tanduk. Sebuah bunyi logam yang jatuh membuatnya bernapas lega. Lily segera berlari dan mengambilnya.
Banteng itu akhirnya terlepas dari jerat tanaman, tetapi tak ada tanda-tanda menyerang. Seseorang yang sedari tadi mengamati dari dahan pohon kini berada di hadapan Lily.
"Bagus, tetapi kupikir kau bisa lebih cepat dari ini seandainya tidak melamun tadi." Kemudian sibuk mencatat sesuatu pada kertas di genggamannya.
"Baiklah, cukup sampai sini latihannya. Sampai jumpa minggu depan," lanjutnya, lalu sedetik kemudian lenyap bersamaan dengan banteng besar tadi.
Lily terduduk lemas. Gerakannya memang tak terlalu banyak, tetapi cukup menguras tenaga dalam. Setelah cukup beristirahat, Lily bergegas keluar dari arena berlatih dan disambut dengan tatapan menyebalkan dari Jace.
"Lama sekali."
Lily memilih diam. Ia tak mau energinya kembali terkuras hanya untuk berdebat dengan Jace.
"Ayo!" ajaknya setelah mengambil flyboard yang ia simpan di loker dekat ruang berlatihnya.
Mood Lily benar-benar hancur hari ini. Bahkan aroma buku-buku di perpustakaan tak mampu mengobatinya seperti biasa. Sebab, orang yang tengah berjalan di depannya itu terus mengganggunya. "Kenapa harus aku dan Jace? Kenapa tidak dengan kalian saja?" protes Lily.
"Karena kupikir Jace lebih tahu tentang Asgard. Sudahlah, dengan kami atau Jace sama saja 'kan?" jelas Efron tak acuh.
Lily menggeram tertahan mengingat percakapan semalam.
"Cepat! Lelet sekali kau ini."
Sabar, Lily, tahan emosimu. Tidak ada gunanya berdebat dengan Jace.
Lily kembali menelusuri perpustakaan dan mencoba untuk mengetikkan kata kunci di panel sihir di setiap rak. Berharap ada buku yang sesuai dengan yang ia cari.
"Kau bisa mencari apa tidak? Lama sekali," gerutu Jace yang sedari tadi menunggu.
"Diamlah! Aku sedang fokus mencari. Kenapa kau tidak mencarinya sendiri kalau merasa lama?" balas Lily sengit karena merasa terusik dengan gerutuan Jace sejak tadi.
Jace memutar bola matanya. Dari tadi ia memang hanya memberitahukan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan Asgard. Tanpa ada niatan untuk ikut mencarinya. Bukan ia tak mau mencari, tetapi berhadapan dengan huruf rune membuat kepalanya ingin pecah. Berbanding terbalik dengan Jace, Lily justru tampak sangat ahli berhadapan dengan huruf-huruf kuno tersebut. Bahkan ia memahami beberapa futhrak yang lebih kuno dari yang diajarkan Mr. Samael.
"Hai, Lily! Kenapa kau di sini?" Gadis bersurai cokelat mengenakan kacamata bulat tiba muncul dan menyapa Lily.
"Oh, hai! Kau di sini juga, Elle?" tanya Lily balik yang disambut dengan anggukan dari Elleanor.
"Ya, seperti biasa. Kau sendiri? Sudah lama sekali aku tak melihatmu di sini," tanya Elle pelan, tak mau membuat bising dan menyebabkan Succubus penjaga perpustakaan ini mendapati mereka berbincang.
Lily hanya mengarahkan dagunya kepada lelaki yang sedang sibuk mencibir dan membolak-balik buku dengan malas. Lelaki yang ditunjuk, Jace Kalandra, berkali-kali mengerutkan kening tanda kebingungan. Jelas sekali lelaki itu tak pernah membaca.
"Gotcha! Aku mendapatkan—" Hampir saja Lily berteriak, lalu seketika terhenti saat Elle mengangkat telunjuk mengisyaratkan untuk tetap tenang.
"Jangan berisik atau Miss Therenia akan menghukummu dengan kejam," peringat Elleanor.
Lily menepuk dahinya pelan, lalu mengangguk paham. "Terima kasih telah mengingatkanku, Elle," bisik Lily. Ia segera pamit dari Elleanor dan beralih menuju Jace. Ia segera menarik tangan Jace, lalu melangkah menjauh dengan memegang dua buku. Jace mengangkat sebelah alisnya, tapi tetap mengikuti langkah Lily, sedangkan Elle hanya menggeleng.
"Hei! Kau mau ke mana?" tanya James sedikit memekik dengan tertahan. Hal tersebut langsung mengehentikan langkah Lily dan membuat gadis itu menoleh sejenak.
"Keluar dari sini, memang apa lagi?" jawab Lily terus melanjutkan langkah.
"Aku pinjam ini," ujar Lily yang kini menyerahkan dua buku pada Succubus penjaga perpustakaan, Miss Therenia.
Miss Therenia tersenyum lembut, "Kau lama tak berkunjung kemari, Nona James." Tangannya menerima kartu Lily, lalu meletakkannya di sebuah kotak yang mengeluarkan cahaya merah. "Nah, sudah. Jangan lupa kembalikan tepat waktu, ya."
Lily meraih kembali kartu identitasnya dan tersenyum simpul, lalu berbalik menuju pintu keluar.
Jace masih setia mengikutinya di belakang. Mata Jace memicing saat membaca salah satu judul buku yang dibawa Lily. Aettir: The Elder Futhark of Germanic Runes
Tanpa basa-basi, ia segera menarik buku itu dari dekapan Lily. Membukanya dan hanya membolak-balikkan halaman dengan kening berkerut. "Untuk apa buku ini? Kaupikir kita akan memasuki kelas Rune, ha?" tanya Jace remeh, kemudian mengembalikan buku itu kepada Lily dengan sedikit sentakan.
"Kalau tak tahu apa-apa, diamlah! Ocehanmu itu membuat telingaku panas."
Lily berjalan cepat mengambil flyboard di rak khusus di balik pintu perpustakaan. Sebelum ia menaiki papan terbangnya itu, ia berhenti sejenak dan menatap Jace serius.
"Apa?" tanya Jace yang merasa risi dengan tatapan Lily.
"Ada satu hal yang lupa kutanyakan padamu," Lily mulai menaiki flyboard-nya. "Omong-omong, siapa suami Sibyl?" lanjutnya.
"Thor," jawab Jace tak acuh, lalu mulai terbang meninggalkan Lily.
Siapa yang tak kenal Thor? Seorang tokoh superhero yang terkenal gahar dengan tubuh berotot dan palu godamnya.
Suamiku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari memenggal kepala, ucapan Sibyl kembali terngiang di kepalanya. Membuat Lily bergidik membayangkan Thor yang melayangkan godam untuk meremukkan tulang-tulang di tubuhnya. Bisa jadi lebih parah dari itu.