
The New Life
MATAHARI MENGINTIP MALU-MALU. Semburat jingga di pagi hari menyebabkan dedaunan berkilau di sepanjang jalan. Beberapa rumah tertutup masih menyalakan lampu terasnya. Jalanan pun masih lengang, hanya ada beberapa orang yang terlihat berjalan kaki.
"Bu, di mana sweater hitamku?" teriak seorang gadis yang sedang menuruni tangga.
"Ada di keranjang pakaian," sahut seorang wanita yang tampak sibuk memotong sayuran. "Kau mau ke mana pagi-pagi begini, Lily?"
Lily muncul dengan mengenakan sweater hitamnya. Ia berjalan menuju meja makan dan menuang segelas air.
"Kau mau ke mana?" tanya ibunya lagi karena tak mendapat balasan.
Lily menyengir, "Hanya jalan-jalan biasa."
Ibu Lily melirik tak percaya, kemudian berkacak pinggang dan menatap lekat putrinya. "Memangnya sejak kapan putri ibu mau berjalan kaki? Bukannya Tuan Putri selalu malas?"
Lily beranjak dari duduknya, lalu mengecup pipi sang ibu. Secepat kilat ia melesat keluar dari rumah dan mengucapkan selamat tinggal tanpa mau menjawab pertanyaan ibunya lagi.
Tak jauh dari rumah Lily, ada sebuah kebun cantik yang dipenuhi pohon apel dan labu. Tempat itu sering dikunjungi wisatawan untuk berfoto. Namun, ini masih terlalu pagi untuk mengunjungi Chudleigh's Farm. Lily dengan semangatnya berjalan menuju rumah kayu yang terletak di pusat kebun dengan hiasan labu raksasa di dekat jendela.
"Anda di mana?" panggil Lily lirih entah kepada siapa. Ia terus berjalan dengan berjinjit. Matanya mengawasi sekitar seolah mencari sesuatu.
"Saya di sini, Nona."
Gadis itu menolehkan kepala. Berusaha mencari asal suara tadi. Namun, sama sekali tak menemukan apa pun di sekitarnya.
"Di mana?" bisiknya lagi.
Namun, kali ini tak ada sahutan sama sekali. Hingga ia melihat salah satu pohon apel di tepi jalan setapak bergerak aneh—merambat ke arahnya. Lily sontak memundurkan langkah karena terkejut.
Pohon apel itu memutar, kemudian terbentuk secara perlahan menyerupai manusia. Sesosok lelaki dengan jubah hijau muncul di hadapan Lily.
"Oh, astaga! Anda selalu datang dengan cara yang aneh, Mr. Rut," cibir Lily yang sedang menyisipkan sehelai rambut merahnya jatuh menutupi pandangan.
"Maaf," ujar pria berjubah hijau—Rut Cierer—sembari mengeluarkan sesuatu dari jubahnya. "Kau perlu mengisi ini sebagai tahap terakhir perekrutan, Nona James."
Lily menaikkan alis merahnya, "Kukira akan ada serangkaian tes lagi."
"Kau sudah melakukannya selama hampir 6 bulan, bukan?"
"Yeah, apa itu cukup? Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa akademi itu bukanlah akademi biasa? Namun, Anda hanya menyuruhku menumbuhkan bunga-bunga saja, Sir," heran Lily. "Apa istimewanya menumbuhkan bunga?"
Pria itu tersenyum, "Yang kau lakukan itu bukanlah hal biasa, asal kau tahu. Dalam waktu kurang dari sehari bunga langka bahkan bisa tumbuh dengan lebat. Apa menurutmu itu tidak istimewa? Lagi pula, saya telah mengawasimu sejak lama."
Lily mengendikkan bahu. Terserahlah apa katanya, batinnya. Ia kemudian memperhatikan buku yang baru saja diserahkan oleh Mr. Rut tadi. Buku apa ini?
"Tulis namamu di situ," kata pria berjubah itu seolah mampu membaca pikiran Lily.
"Itu saja?"
Mr. Rut mengangguk sembari menyerahkan sebuah pena kepada Lily. "Sebagai proses terakhir, jika namamu tak hilang dari daftar ini saat kau tuliskan, maka kau resmi diterima."
"Kalau hilang?"
"Ingatanmu tentang akademi ini akan kami hapus."
Lily mengangguk paham, lalu dengan perlahan mulai menorehkan tinta pada lembaran buku yang dipegangnya. "Sudah," ujarnya menyerahkan buku itu kembali. Jujur, dirinya merasa sedikit gugup.
"Baik," ujar Mr. Rut mengambil alih buku yang dipegang Lily.
Tiga detik berlalu, tetapi tak ada perubahan dari buku yang dipegang Mr. Rut. Hal tersebut menyebabkan senyum perlahan berkembang dari bibir dua orang yang berhadapan itu.
"Bagus, Nona James. Dengan begini kau diterima di Maple High School Academy." Mr. Rut menutup buku yang dipegangnya, lalu memasukkan kembali ke dalam jubah hijau yang ia kenakan. "Tunggu surat resmi dari kami dan persiapkan dirimu untuk datang ke akademi Februari nanti."
"Tunggu, Sir!" cegah Lily saat Mr. Rut akan berubah wujud.
"Ya?"
"Emm ... bagaimana dengan orang tua saya?" tanya Lily pelan.
Mr. Rut tersenyum, "Tenang saja, saya akan mengurusnya nanti. Baiklah, saya pergi dulu. Selamat menikmati liburanmu, Nona James."
"Wanginya ...."
Lily memeluk ibunya dari belakang dan mencium dalam-dalam aroma manis yang menguar. "Ibu tidak pergi ke taman? Untuk apa kue sebanyak ini?"
Cashie—ibu Lily—tersenyum, "Ayahmu hari ini pulang, Sayang."
"Benarkah?" tanya Lily antusias.
Cashie mengangguk senang. Tangannya dengan lihai memasukkan kue-kue buatannya ke dalam stoples kaca.
"Oh ya, Lily." Cashie berbalik menatap Lily yang sedang asyik menikmati kue di belakangnya. "Kau kenapa tidak bilang pada Ibu?"
Lily mengerutkan dahinya bingung. "Bilang soal apa, Bu?"
"Kau diterima di akademi bergengsi, tetapi sama sekali tak pernah memberi tahu Ibu," sungut Cashie.
Lily sedikit terkejut. Dari mana ibunya tahu? Padahal ia belum pernah menyinggung hal ini. "Dari mana Ibu tahu?" tanya Lily pelan.
Belum sempat Cashie menjawab, terdengar bel rumah berbunyi. Disusul dengan suara ayahnya yang berseru, "Ayah pulang!"
Lily segera berlari ke depan, membukakan pintu untuk ayahnya.
"Selamat datang, Ay—Mr. Rut? Kenapa Anda bisa di sini?" tanya Lily terkejut saat mendapati Mr. Rut Cierer berada tepat di samping ayahnya. Namun, penampilannya sangat berbeda dari biasanya saat menemui Lily. Pria itu kini mengenakan pakaian formal selayaknya staff pengurus akademi.
"Begitukah caramu menyambut tamu dan ayahmu, Lily?"
Lily hanya tersenyum malu, lalu mempersilakan mereka berdua memasuki rumah. Cashie muncul dari dapur dan menjamu Mr. Rut Cierer dengan baik.
Mr. Rut Cierer berdeham sejenak sebelum mulai berbicara. "Jadi begini, Mr. James, Anda pasti tahu dengan bencana Meteor Emas yang hampir memusnahkan peradaban kita beberapa tahun lalu. Masalah, meteor itu akan kembali ke Bumi dengan daya hancur yang lebih dahsyat. Untuk menanggulangi itu, kami Maple Academy merekrut anak-anak berbakat untuk berpatisipasi dan mencengah hal itu terjadi.” Mr. Rut Cierer menjelaskan alasan kedatangannya. Tentang Lily yang diterima di Maple High School Academy dan tujuan dari akademi itu sendiri.
"Saya melihat potensi putri Anda dalam hal merawat tanaman yang mungkin saja bakatnya berguna di masa yang akan datang. Di Maple Academy, dia bisa lebih fokus belajar tentang tanaman dan mengembangkan bakatnya. Anda tidak perlu cemas, kami juga memberikan fasilitas lengkap serta tempat yang strategis berdekatan dengan pemukiman warga. Kami menjamin pendidikan dan kenyamanan untuk putri Anda, Mr. Anthony James," jelas Mr. Rut Cierer. Anthony dan Cashie mengangguk paham dengan antusias.
"Oh, satu lagi. Selama menjalani pendidikannya, Nona James tidak boleh pulang kecuali saat libur musim dingin di akhir tahun ajaran," lanjut Mr. Rut Cierer. Kemudian Mr. Rut mengambil sebuah amplop sejak tadi dibawanya dan menyerahkan kepada Lily.
"Ini apa, Sir?"
"Itu adalah surat resmi perekrutanmu, Nona James," ujar Mr. Rut sembari mengedipkan sebelah matanya. Lily akhirnya paham bahwa inilah cara Mr. Rut meminta izin kepada orang tuanya tanpa membocorkan tentang informasi Maple Academy yang sesungguhnya terpisah dengan dunia manusia.
"Baiklah, saya permisi, Tuan dan Nyonya James. Saya akan kembali lagi untuk menjemput Nona James Februari nanti." Ia undur diri sambil menyerahkan Book Guide Maple Academy kepada Tuan James.
Tak terasa Februari telah menyapa. Bunga-bunga bermekaran. Warna-warni bunga semi menghiasi seisi kota. Sama berbunganya dengan perasaan Lily yang tak sabar memasuki akademi.
"Kau siap, Nona James?" tanya Mr. Rut kepada Lily. Mereka saat ini berada di Chudleigh's Farm, tempat mereka sering bertemu sebelumnya.
Lily mengangguk antusias. Ia mengenakan rok hitam selutut dengan kemeja putih berlogo Maple Academy. Sedangkan Mr. Rut berpenampilan seperti biasa dengan jubah panjang warna hijau.
"Baiklah." Mr. Rut mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkan pada Lily. Terdapat sebuah bentuk melingkar seperti segel di dalamnya. "Saya akan membimbingmu memasuki portal menuju Maple Island."
Mr. Rut memberi arahan kepada Lily. Hingga muncul sebuah lubang besar bercahaya. Angin sepertinya bertiup lebih kencang saat portal itu terbuka, menyebabkan rambut merah Lily yang tadinya telah tersisir rapi menjadi berterbangan.
Mereka berdua segera masuk melintasi portal tersebut sebelum menghilang. Hal pertama yang Lily rasakan adalah sebuah guncangan pada tubuh tingginya. Lily merasa seolah terlempar di dimensi lain. Hingga sampailah ia menyebrangi pembatas dari dua dunia yang berbeda itu.
Lily disambut dengan dua sosok yang tinggi besar seperti raksasa yang mengerikan, penjaga portal Maple Island. Saat ia melangkah lebih jauh, ternyata banyak sekali yang berdatangan dari portal tersebut bersama perekrutnya masing-masing.
Gadis rambut merah itu melongo heran. Ia memperhatikan para perekrut yang mendampingi siswa-siswi itu semuanya hampir sama dengan Mr. Rut Cierer. Ia juga merasa takjub melihat beberapa orang bertelinga runcing mengenakan seragam yang sama dengannya. Seperti peri yang sering kulihat di serial kesukaanku, batinnya kagum.
"Mari, Nona James." Perhatian Lily teralih saat Mr. Rut memanggilnya. Di depan sana berdiri seorang pria yang terlihat berwibawa sedang berbicara panjang lebar. Lily hanya mendengar bahwa pria itu bernama James Dakota, pengelola asrama di Maple Academy.
Mereka semua lalu diarahkan menuju kereta yang di depannya terdapat kambing-kambing cantik. Kambing-kambing tersebut menarik mereka masuk lebih jauh lagi. Melintasi sebuah jalan indah yang diisi patung para pendiri Maple Academy di sepanjang jalan, Mapletale Street.
Kehadiran mereka benar-benar disambut dengan sangat baik. Membuat Lily merasa lebih antusias berada di Maple Island. Pemandangan yang ia dapati pun sangat berbeda dengan yang Lily temui di dunia manusia. Berbagai ras berpadu dan beberapa bangunan terkesan kuno memanjakan pandangannya.
"Senangnya berada di sini," gumam Lily senang.
"Aku juga senang," sahut seseorang di sampingnya. Lily yang terkejut menolehkan kepalanya dan menemukan gadis berambut cokelat dengan alis tebal dan tampang ceria sedang memandangnya. Tampang ceria gadis itu sukses menular pada Lily.
"Manusia?" tanya gadis itu sedikit heboh.
Lily terkekeh, ia merasa sedikit aneh dan geli ketika gadis tadi bertanya pasal dirinya manusia atau bukan. Memangnya aku ini hantu?
Gadis tadi memekik girang saat Lily mengangguk. "Ah, senangnya. Mulai saat ini kau adalah temanku. Teman manusia pertamaku."