
Blackcave’s Myth
Jangan pernah memercayai Elf yang berkata bahwa mereka sudah sangat mengenal alam.
ADNIEL DAN ELLE berjalan sambil mengatur napas mereka. Angin malam yang menerpa tidak lantas membuat keduanya merasa kedinginan. Keduanya terengah-engah sambil saling tatap. Pikiran mereka menyuarakan satu suara.
Jangan biarkan para Elf memimpin perjalanan di malam hari.
“Ayo, anak-anak! Kalian harus bergegas. Kita tidak mau kehilangan momen yang tepat, bukan?“
Elle mendengkus tanpa perlu menahan diri. Adniel yang melihatnya hanya terkekeh.
“Bagaimana bisa kau bertahan dengan guru seperti itu?” bisik Elle.
“Seperti apa?” Adniel balik bertanya, pura-pura tak mengerti.
Elle memutar bola matanya. “Kau tahu maksudku. Dia sepertinya bersemangat tetapi—“
“Ya. Aku mengerti maksudmu. Meskipun tampaknya dia buta arah, tapi dia guru yang sempurna untuk farmasi.” Adniel tertawa geli melihat guru di hadapannya yang tampak terdiam sambil melihat ke kiri dan kanan secara bergantian.
“Kutebak dia sudah memalingkan kepalanya ke kiri dan kanan sebanyak sepuluh kali.”
“Dua belas,” koreksi Adniel.
Elle menatap Adniel tak percaya, sementara yang ditatap hanya mengangkat sebelah alisnya seolah berkata, apa?
“Miss Grewyinn sangat ahli untuk urusan farmasi. Dia dapat meracik obat dengan cepat. Tahu bagaimana menakar tiap komposisi dalam satu obat. Dan yang paling utama, dia benar-benar membiarkan siswanya untuk praktik secara langsung.”
“Kau meracik obat sendiri?” Elle membelalak tak percaya.
“Kenapa? Nggak percaya?”
“Murid tingkat satu –“
Ucapan Elle terputus karena Adniel berhenti mendadak. Otomatis gadis itu melihat ke depan dan baru menyadari mereka telah kehilangan guru pemandu mereka. Kedua murid itu saling pandang. Adniel dapat melihat kepanikan tersirat di wajah teman seperjalanannya.
Dengan menekan rasa takut, ia berujar, “Tetap tenang. Mungkin Miss Grewyinn sedang ada panggilan alam.”
Elle memiringkan kepala sambil melongo, tak percaya dengan alasan paling tidak masuk akal teman laki-lakinya itu.
Kedua siswa itu bergegas menuju tempat terakhir kali guru mereka terlihat, di sebuah persimpangan. Keduanya mengedarkan pandangan melihat sekeliling. Tidak ada apa pun kecuali pepohonan mati.
Pepohonan yang masih berdiri dengan akar kuat menghujam tanah, tetapi sama sekali tidak ada kehidupan di atas batangnya. Tidak sehelai daun pun.
“Tunggu sebentar,” kata Elle.
Adniel diam melihat bagaimana Elle merapalkan kalimat-kalimat yang tak dapat dipahami olehnya. Tak lama, beberapa kunang-kunang yang menyertai langkah mereka berpencar. Kegelapan menyelimuti keduanya.
“Kau meminta mereka pergi?” tanya Adniel jengkel.
“Bukan,” tukas Elle, “Aku hanya meminta mereka berpencar sebentar. Kunang-kunang yang kupanggil tadi berjumlah tujuh. Tersisa lima ekor. Berarti sisanya bersama Miss Grewyinn.”
“Tapi sekarang tak ada cahaya.”
Elle mendecak kesal. “Ini malam. Sudah sepantasnya gelap. Atau kau memang takut gelap?”
Tidak adanya bantahan dari laki-laki itu semakin menguatkan dugaan Elle. Gadis itu menarik ujung bibirnya. Berusaha untuk tidak meremehkan teman seperjalanannya.
“Tenang saja. Tidak akan lama. Lagi pula bulan sudah cukup menerangi kita.” Adniel mengenggam tali tas pinggangnya dengan kuat. Bukan salah Elle jika ia membenci gelap. “Gelap itu sama sekali tidak menenangkan. Tidak ada yang bisa dijadikan harapan dalam kegelapan,” ungkap pemuda itu tanpa diminta. Elle hanya mengangkat bahu tak menanggapi lebih.
Tak berapa lama, mulai terlihat setitik cahaya di kejauhan. Lama-lama cahaya itu berubah banyak dan mulai membentuk siluet tubuh seseorang yang tampak bergoyang tidak stabil.
“Miss Grewyinn?” panggil Adniel pelan. Ia masih berdiam di tempat. Akal sehat menyuruhnya untuk memastikan terlebih dulu sosok itu sebelum mendekat.
Sosok itu tampak melambaikan tangan ke arah dua remaja tanggung yang diam di tengah kegelapan. Elle memandang Adniel. Hal yang sama dilakukan oleh remaja dari ras angel itu. Keduanya ragu untuk menafsirkan gerakan dari sosok itu. Hingga Adniel merasakan ada embusan angin di tengkuknya disertai suara keriut yang mencekam.
“Apa itu?!”
Elle memicingkan mata. Ia mengabaikan cengkeram erat Adniel di pergelangan tangannya. Gadis itu mulai memusatkan pendengarannya. Dalam keheningan, pendengarannya bisa berfungsi dua kali lipat.
Siapa?
Adniel menatap Elle dengan ngeri. Suara yang dikeluarkan oleh Elle bukan suara manusia, melainkan keriut yang sama dengan yang telah membuatnya merinding.
Kalian dari sekolah Maple?
Iya, jawab Elle lugas, siapa kau?
Adniel yang sudah merasa ketakutan semakin ngeri saat raut wajah Elle yang semakin pucat.
“Anak-anak!”
Suara yang familier langsung menenangkan Adniel. Seketika ia menoleh mencari asal suara. Suara barusan berasal dari arah yang berlawanan dengan siluet yang kini menghilang.
“Miss Grewyinn?” panggil Adniel sekali lagi. Raut wajahnya tampak kalut dengan fakta baru itu.
“Jangan bertanya,” kata Elf cantik itu ketika melihat Adniel hendak membuka mulut, ”Kita harus cepat. Aku menemukan jalan pintas lainnya.”
Adniel tidak punya pilihan selain segera mengikuti langkah gurunya. Ia menarik tangan Elle yang masih terpaku di tempat. Mereka bertiga akhirnya meninggalkan jalan setapak dan berjalan melewati jalur pepohonan mati.
“Are you okay?” bisik Adniel. Ia heran melihat Elle yang terus saja diam. Gadis itu memang tidak banyak bicara. Namun, setelah kejadian dengan suara keriut tadi, diamnya Elle jelas cukup aneh.
“Eh. Ya. I’m okay.” Elle melepaskan genggaman Adniel dengan halus. “Miss Grewyinn, tunggu kami.” Meninggalkan Adniel di barisan paling belakang, Elle segera menyusul Miss Grewyinn yang bergerak lincah di antara batang pohon.
“Kita sampai,” kata Miss Grewyinn tiba-tiba.
Baik Elle maupun Adniel sama-sama menghentikan gerakan kakinya di udara. Kaki kanan mereka belum turun berpijak. Keduanya masih was-was karena ini kali kelima guru farmasi mereka berkata ’kita sampai’.
“Anda yakin, Miss?” tanya Adniel memastikan.
Elf cantik itu membuka tudungnya, Kemudian memicingkan mata. Seketika retinanya bersinar kehijauan. “Tentu saja! Hanya saja aku perlu menemukan semak yang tepat.”
Kedua siswa yang berhenti tujuh langkah di belakang Miss Grewyinn akhirnya mengembuskan napas lega. Mereka segera menurunkan kaki mereka yang menggantung. Keduanya saling tatap dan saling berbicara dengan tatapan mata itu gurumu.
“Miss Thompson, kemarilah.”
Elle melangkah mendekati guru cantiknya.
“Ingatkan aku tentang tanaman itu! Nightshade. Beasty nightshade.”
Elle memejamkan mata. Ia berusaha mengingat lagi semua hal yang sudah ia baca.
“Beasty nightshade adalah tanaman termasuk dalam keluarga Solanaceae. Tanaman herba alami yang sayangnya mematikan. Khusus beasty memiliki bunga berwarna putih yang mekar di sore hari sampai tengah malam. Memiliki buah berwarna merah dan ungu. Jenis buahnya termasuk keluarga berry. Semak beasty hanya ada di daerah lembab. Daunnya berjari tiga dengan ukuran yang sangat kecil.”
Miss Grewynn tersenyum mendengar penjelasan dari siswi berkacamata itu. “Rupanya kau benar-benar belajar.”
Adniel mendekati Elle, ia berbisik, “Kamu yakin itu tanaman yang dimaksud?”
Elle terlonjak kaget, kemudian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. “Tidak usah banyak komentar. Cukup perhatikan saja. Lagi pula ada hal-hal yang aku lupa.”
Adniel menatap Elle. Gadis itu tampak berusaha mengingat hal-hal yang tampak penting.
“Elle, bukan maksudku untuk menganggu,” ujar Adniel, “Namun, apakah lokasi kita saat ini aman? Aku merasakan atmosfer berbeda di sekitar sini.”
Elle yang tengah memejamkan mata karena sedang mengingat, mengembuskan napas. Ia berpaling menatap Adniel yang bergerak gelisah. "Sejauh ini tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Saat ini kita harus cepat. Sekarang sudah hampir temgah malam. Kalau tidak—“
Adniel merasakan pergelangan tangannya dicengkeram kuat. Remaja laki-laki yang awalnya mengedarkan pandangan ke sekeliling, akhirnya menatap rekan seperjalanannya. “Ada apa? Binatang buas? Tanaman liar raksasa?” tanyanya khawatir.
“Aku baru ingat, alasan tanaman ini tumbuh di daerah lembab adalah karena pelindungnya tinggal di daerah sekitar rawa.”
Adniel mengernyitkan kening. “Pelindung?”
“Seekor buaya albino.”
Keduanya seketika terperanjat dan memekik bersamaan, “Miss Grewyinn!”
Tanpa menunggu lebih lama, Adniel dan Elle bergegas menuju arah langkah guru Elf mereka. Kaki mereka bergerak cepat saat menyadari Miss Grewyinn tidak ada di sekitar rawa.
“Bagaimana bisa Miss Grewyinn menghilang secepat itu?”
“Dia elf, ingat?” Adniel membela guru farmasinya.
“Tapi bukan berarti bebas berkeliaran di tempat mencekam seperti ini!”
“Hei, kita fokus mencari dia saja,” saran Adniel.
“Oke, tapi tanpa suara. Kita tidak mau mengundang makhluk apa pun yang ada di sekitar sini, bukan?” kata Elle.
Mereka berdua berpencar. Elle memutuskan untuk mencari di sekitar pinggiran rawa, sementara Adniel mencari di dekat pepohonan.
Suara gemerisik semak-semak terdengar nyaring di keheningan malam. Adniel dan Elle sama-sama menoleh ke arah yang sama. Mereka berlari mendekat. Adniel melemparkan pandangan bertanya kepada Elle yang dijawab dengan gelengan kepala. Gadis itu menahan napas, lalu mendekati semak-semak yang tampak bergerak-gerak.
“Anak-anak!”
Adniel dan Elle terlonjak bersamaan. Keduanya sama-sama mengelus dada.
Miss Grewyinn tampak mengkhawatirkan mereka. “Kalian seharusnya tetap berada di tempat tadi. Ayo, ikuti saya! Saya sudah menemukan tanaman itu. Kita tinggal menunggu bulan bersinar tepat di atasnya.”
Tanpa menunggu kedua muridnya, Miss Grewyin melangkah. Elle berjalan di belakangnya, diikuti oleh Adniel. Kedua siswa hanya saling mengangkat bahu melihat tingkah guru mereka yang eksentrik.
“Jadi, di mana tepatnya tanaman itu tumbuh?” Elle bertanya penasaran.
“Kau mungkin tidak percaya. Ternyata dia tumbuh bukan di sekitar rawa seperti yang selama ini kita yakini. Tanaman ini justru tumbuh di pintu gua. Saya sudah melihatnya. Tepat sesuai dengan deskripsimu, Miss Thompson.”
Mereka kemudian berhenti tepat di sebuah gua yang cukup besar. Sekilas pandang, gua tersebut tampak seperti rumah bagi hewan besar. Di dalamnya terdapat stalagtik dan stalagmit yang tampak mengerikan.
“Lihat!” Miss Grewyinn menunjuk ke arah pintu gua. Tepat seperti yang digambarkan oleh dirinya, tidak jauh dari pintu gua, tampak semak belukar dengan daun berjari tiga. Semak-semak itu memiliki bunga putih berkelopak lima.
“Berhubung kita sudah menemukan tanaman yang kita cari. Ayo petik!” ajak Miss Grewyinn.
Guru itu melangkah mendekati sesemakan itu. Tanganya sudah hampir menyentuh tumbuhan berwarna ungu itu ketika Elle berteriak, “Miss Grewyinn, tahan tanganmu!”