Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - What It Takes to Be a Doctor




What It Takes to Be a Doctor


SATU MENIT LAGI di sini dan aku akan muntah!


Shal merasakan ada cairan yang merangkak naik pelan-pelan ke esofagusnya. Bahkan senyum secerah dan sehangat mentari milik Mr. Samael tidak bisa membantunya memahami materi siang hari itu. Serangkaian huruf-huruf rune yang ada di layar telah berhasil membuat kepalanya berada di kaki!


Thée mou!


Shal menjerit lagi dalam hati karena merasa kepalanya sudah menggelinding di lantai. Meskipun begitu, ada sedikit rasa bangga karena berhasil merutuk menggunakan bahasa Yunani! How cool is that! Shal merasa keren sendiri walaupun dia tahu tidak akan ada soal tentang gerutu dalam ujian Mitologi nanti.


Terdengar suara lonceng tanda istirahat yang paling dinanti-nantikan Shal setiap hari Senin.


“Kelas kita cukup sampai di sini. Jangan lupa baca buku kalian untuk kelas Minggu depan!”


“Halaman berapa, Sir?” tanya murid penyuka rune bernama Lily James.


“Hitunglah jumlah pintu di Maple Academy!” Guru Rune yang berjenggot itu menanggapi pertanyaan Lili sambil meninggalkan kelas. Beberapa murid menggerutu pelan karena harus memecahkan teka-teki lagi. Shal tidak peduli dengan teka-teki itu. Begitu Mr. Samael tak terlihat lagi di pintu, Shal langsung lari menuju toilet.


 “Sembuh begitu saja?” Valfred dari ras Werewolf kembali takjub dengan kemampuan Shal.


“Begitu keluar dari kelas, sakit kepalaku hilang, perutku ringan, dan aku merasa seperti baru dilahirkan!” Shal menyantap makan siangnya dengan lahap.


Valfred hanya bisa menghirup aroma peppermint dari botol minyak sambil menatap Shal nanar. Kepalanya masih berdenyut dan dia tidak ada nafsu makan sama sekali. Kedua murid itu punya beberapa kesamaan, termasuk merasakan sakit kepala dan mual setiap kelas Rune. Di awal tahun pelajaran, keduanya langganan muntah di toilet sehabis kelas. Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kemampuan self-healing Shal, perlahan-lahan Shal sudah semakin baik mengendalikan sakit di kepala dan perutnya.


“Semoga tahun depan kemampuanku semakin meningkat. Aku harap aku bisa menguasai bukan hanya self-healing, tapi on-the-threat-healing.”


Valfred mengerutkan dahinya karena tidak paham dengan istilah yang diucapkan Shal.


“Jadi tubuhku ini masih mengalami luka dan merasakan sakit. Setelah itu, baru tubuhku akan bekerja menyembuhkan luka dan menghilangkan rasa sakit dengan sendirinya. Aku harap, di kelas Rune tahun depan, saat melihat huruf-huruf itu, aku bahkan tidak merasakan sakit kepala sama sekali. Begitu ‘ancaman’ muncul, tubuhku langsung sembuh dan mencegah rasa sakitnya! That is on-the-threat-healing!” jelas Shal dengan mata berbinar.


“Serius kamu menginginkan kemampuan seperti itu?” Amara, the cleverest Elf of the world, begitu Valfred dan Shal memuji sekaligus mengejeknya, angkat bicara.


“Is it a problem?”


Shal agak berhati-hati dengan kemampuan prediksi Amara. Tadi Shal hanya mengarang soal on-the-threat-healing. Namun, apakah mungkin kemamampuan itu benar-benar bisa dicapainya di masa depan? Apakah itu bukan hal yang baik?


Shal dan Valfred saling melempar pandang. Kalau soal kebijaksanaan, siapa yang bisa menyamai Amara? Dia suka bicara seperti orang tua.


“Lebih baik sekarang kita ke kelas!” ajak Valfred kepada Amara dan Shal. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan dari kebijaksanaan Amara yang tak terselami. Kedua murid perempuan itu pun setuju. Mereka langsung meninggalkan ruang makan.


“Sejujurnya, aku hanya ingin hidup yang sederhana. Belajar, jadi dokter, menyembuhkan orang sakit. As simple as that! Kenapa aku harus mempelajari huruf rune dan pentingnya mengawetkan chupacabra juga?” Shal berkeluh kesah begitu mereka hampir sampai di ruang kelas di mana kelas Artefak dan Ekofak sudah menanti.


“Hidupmu tidak akan pernah sederhana saat sudah melewati portal.” Amara menanggapi keluh-kesah Shal. Walaupun Amara mengatakannya tanpa empati sedikit pun, Shal tetap mengangguk karena setuju. Ia tahu benar, hidup memang tidak pernah sederhana, melewati portal maupun tidak.


Di dunia manusia, Shal tinggal bersama ibunya dan Shamuel, adiknya. Mereka keluarga miskin. Ayah Shal sudah lama meninggal dan ibunya hanya berjualan kue tradisional. Beberapa tahun belakangan ini ibunya terlilit hutang dengan jumlah yang cukup besar.  Akhirnya, Shal dan Sham membantu berjualan susu kedelai secara online. Shal juga kerja paruh waktu di perpustakaan pribadi milik Madam Hee, seorang kolektor buku analog. Meskipun Shal anak yang tekun dan pintar di sekolah, hal itu tidak akan cukup untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter.


Memang dari kecil Shal selalu tergerak melihat orang sakit dan selalu punya keinginan untuk menyembuhkan mereka. Dorongan itu mulai muncul saat melihat ayahnya sakit sampai kemudian meninggal. Seiring berjalannya waktu, Shal menyadari bahwa dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri.


Shal pernah tidak sengaja mengiris jarinya dengan pisau, tetapi luka itu menghilang begitu saja setelah ia menjilatnya. Yang paling parah, Shal pernah ditabrak motor dan terseret lebih dari 2 meter di atas aspal panas. Dia merasakan sendiri bagaimana sakitnya kulit yang terkelupas karena tergesek aspal. Sampai di rumah sakit, perawat hanya menemukan sedikit luka gores tipis di tubuhnya. Awalnya Shal kira dia hanya berhalusinasi. Namun, akhirnya Shal menyadari dia memang memiliki kemampuan self-healing yang istimewa.


Kini sudah hampir setahun Shal menjadi murid di Maple Academy. Hal itu benar-benar berkat yang sangat disyukurinya. Di sana, Shal bukan hanya belajar mengembangkan kemampuan self-healing yang dimilikinya, tetapi juga punya kesempatan mempelajari Ramuan, Farmasi, Herbologi, Virologi, bahkan Alchemist yang diyakininya dapat membantu menyelamatkan banyak orang. Walaupun sakit kepala dan rasa kantuk yang dialaminya sungguh nyata saat berada di kelas Rune dan Artefak, Shal tetap merasa bangga dan senang bersekolah di Maple Academy.


Lamunan Shal buyar begitu melihat sekumpulan teknisi meninggalkan salah satu cermin di Koridor Pengumuman. Shal dan kedua temannya segera menghampiri cermin itu. Seorang peri melambaikan bendera Autumn Festival dari dalam cermin dan seperti mengajak mereka masuk ke sana. Saat mereka bertiga masuk menembus cermin, dalam sekejap mereka sudah berada di tengah keramaian.


Peri tadi kini terbang mengelilingi mereka dan menjabarkan berbagai informasi lengkap tentang Autumn Festival yang dilaksanakan di Autumnland. Peri itu juga menyampaikan akan ada beragam pertunjukan seni di sana. Walaupun semua yang dilihat dan didengar Shal hanya ilusi, termasuk si peri yang sedari tadi terbang mondar-mandir, semuanya tampak benar-benar nyata! Shal bahkan takjub melihat Lynean Iziah, seorang seniman muda berbakat dari Winter Kingdom, menari tepat di hadapannya. Seakan-akan Lynean memang ada di depannya saat ini dan Shal bisa menyentuh wajahnya yang sebening kristal itu.


Shal kenal dengan Lynean karena dia adalah anak Paman Eero, pria yang berhasil membuat ibunya mengizinkan Shal bersekolah di Maple Academy dan berinisiatif untuk menjadi sponsornya selama tinggal di Maple Island.


Sebuah senyum terukir di wajah Shal. Dia ingat beberapa baris dari surat terakhir yang ditulis Paman Eero untuknya.


“Kami sekeluarga berencana menghabiskan beberapa waktu di Maple Island setelah Autumn Festival. Saat itu kita bisa bertemu dan bercerita lebih banyak lagi. Callia sangat merindukanmu. Dia menitipkan satu tiket Blue Diamond untukmu supaya kita bisa bersama menyaksikan pertunjukan Lynean. Sampai jumpa di Maple Island, Shalima! Kiranya aku mendapatimu dalam keadaan sehat dan bahagia saat kita berjumpa nanti.”


Rasanya tak sabar bertemu dengan Paman Eero dan isterinya, Callia. Mereka keturunan bangsawan di Winter Kingdom dan juga memiliki pengaruh di Maple Island. Shal tidak akan bisa melupakan kebaikan hati mereka, terutama kebaikan Paman Eero yang sudah membantunya mengenyam pendidikan di Maple Academy. Namun, dahi Shal langsung berkerut begitu ingat nanti juga dia akan bertemu dengan Thann, anak kedua Paman Eero. Anak laki-laki yang sombong dan angkuh itu! Huh! Shal malas memikirkan Thann.


Seketika Shal, Valfred, dan Amara dikagetkan oleh suara lonceng tanda masuk kelas.  Tanpa berpikir panjang, mereka segera keluar dari cermin dan berlari sekencang mungkin menuju kelas Artefak dan Ekofak. Amit-amit kalau sampai Weidra Balda menyuruh mereka menggosok peti mati kuno sebagai hukuman karena terlambat!


Aku ingin hari Selasa cepat datang!


Shal memekik dalam hati.