Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - When We Spend Our School Break at School




When We Spend Our School Break at School


“AKU BANGGA KITA bisa menghabiskan waktu bersama di sini.” Amara berkata sambil menopang dagunya dengan anggun. Shal, Amara, dan Valfred tengah duduk bersama di meja perpustakaan, ditemani tumpukan buku.


Shal jelas mau mencari informasi tentang naga atau lumut Porsesa. Dia seperti terobsesi dengan naga itu. Kalau Valfred, dia bilang mau menamatkan buku The Viking and God of Thunder yang sudah dipinjamnya sejak dua minggu lalu, tetapi baru dibaca sampai kata pengantar. Valfred berharap dengan membaca di perpustakaan bersama Amara dan Shal, dia benar-benar membuat kemajuan yang berarti.


Shal dan Amara tahu benar itu alasan yang dibuat-buat.


Pasca pulih dari keracunan waktu itu, Valfred seringkali melamun, tersipu, dan gelagapan. Yang paling mengejutkan, Valfred pergi ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku! Awalnya Shal dan Amara mengira itu efek dari racun atau obat yang diminumnya, tetapi pada akhirnya ketahuan kalau Valfred kesengsem dengan Elleanor Thompson yang sering membaca buku di perpustakaan.


“Baca buku yang benar!” Amara memperbaiki letak buku Valfred yang ternyata dari tadi terbalik. Pria Werewolf itu memang tidak niat membaca buku. Dia hanya ingin curi-curi pandang kepada gadis pujaan hatinya yang sedang membaca buku di salah satu meja perpustakaan.


Tak terasa musim gugur akan segera berakhir. Shal masih menunggu kepastian tentang naga Porsesa. Selama apa dia harus menanti?


Saya harap kamu juga bisa bersabar karena proses ini bisa memakan waktu beberapa minggu atau bahkan bulan.


Shal teringat perkataan The Prof. Apakah dia sanggup menghabiskan liburannya di Maple Island dan tidak pulang ke rumah? Dia sudah rindu bertemu Ibu dan Sham. Shal jadi merasa mellow.


“Aku bersyukur tahun pertama ini bisa kita lewati dengan baik. Saat memikirkan banyak murid pembuat onar berkeliaran di Maple Academy, kepalaku langsung sakit. Aku harap kalian bisa belajar lebih tekun dan tetap bersikap santun. Jangan sampai di tahun depan kalian masuk dalam daftar murid bermasalah.” Amara berpesan kepada kedua sahabatnya yang langsung mengangguk patuh. Amara seperti seorang ibu yang sedang menasehati kedua anaknya supaya tidak terlibat pergaulan buruk di sekolah.


“Terutama kamu, wolf cub.” Amara menuding Valfred dengan jari telunjuknya, “Coba lebih fokus dalam belajar! Jangan sampai kasmaran membuatmu mengkhayal sepanjang hari!”


Pria Werewolf  itu pura-pura tidak mendengar dan serius membaca buku.


Amara membuka buku berjudul Animal Kingdom dan mulai membaca. Akhir-akhir ini dia banyak mencari tahu tentang aneka hewan karena tertarik memiliki ikatan batin dengan salah satu hewan di Gingko Forest. Shal mengikuti jejak teman elf-nya itu dengan membaca kumpulan majalah flora dan fauna. Tentu saja dia mencari informasi tambahan tentang naga atau lumut Porsesa.


Sebelumnya, Shal sudah mendapatkan informasi bahwa naga Porsesa masuk dalam kategori naga spiritual yang dipercaya gemar menjelajahi seluruh dunia dan kurang suka menampakkan wujudnya. Menurut cerita kuno, suatu hari naga itu menjerit dari hutan. Hanya seorang pemuda bernama Porsesa yang memberanikan diri masuk ke hutan dan menemukannya. Sebagian kulit naga tersebut terselubung lumut yang membuatnya tersiksa. Dengan hati-hati Porsesa membersihkan lumut itu, sehingga naga itu bisa terbang kembali dengan tenang. Saat tiba di rumah, pemuda itu mendapati ibunya sakit parah dan menyelimuti dengan bajunya. Tanpa sengaja ibunya menggigit baju sang pemuda yang berlumuran lumut dan perlahan-lahan sembuh. Sisa-sisa lumut yang ditinggalkan di hutan dipercaya dikonsumsi oleh hewan dan diserap oleh tumbuhan, sehingga berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit tertentu.


Tidak ada dokumentasi yang jelas tentang pertemuan dengan naga Porsesa, sampai akhirnya di tahun 1824 terbit jurnal resmi dari sebuah tim peneliti. Mereka bertemu dengan seekor naga yang bagian punggungnya diselimuti lumut. Sebelumnya, naga itu melakukan panggilan atau undangan kepada mereka lewat jeritan. Namun, lumut yang diperoleh tidak terlalu berkhasiat menyembuhkan, seperti yang ada dalam cerita. Jurnal penelitian resmi tahun 1824 memberikan gambaran kepada Shal berkaitan dengan wujud sang naga dan suasana pertemuan itu. Naga tersebut cukup tenang saat pengambilan lumut dilakukan dan tidak ada hal berbahaya yang terjadi selama pengambilan.


  Informasi tentang naga Porsesa masih belum banyak diketahui karena naga tersebut sangat jarang dijumpai. Para ahli menduga kalau lumut di kulit naga berasal dari kebiasaan naga itu yang suka berkeliling dunia. Ada banyak teori yang bermunculan, misalnya kemungkin naga itu mengunjungi tempat-tempat tertentu yang bertuah, tinggal di tempat yang terpapar spora ajaib, atau mengkonsumsi jenis tanaman tertentu yang tidak diketahui keberadaannya oleh makhluk lain.


Saat ini, Shal sedang membaca satu teori lain dari artikel yang dibacanya. Ini teori tergila yang pernah dia baca. Katanya, naga itu berendam di magma suatu gunung berapi yang ada di Summerland. Dalam gunung itu terkandung sebuah batu bertuah yang memiliki kekuatan penyembuh dan berhubungan dengan meteor yang jatuh tahun 1822. Batu itu sudah tidak bertuah lagi karena kekuatannya terserap ke dalam meteor yang dilontarkan ke black hole. Para penganut teori tersebut percaya, Golden Asteroid yang jatuh tahun 2222 memunculkan kembali tuah batu itu untuk memberi kekuatan penyembuh. Tidak ada bukti yang akurat tentang hal tersebut. Namun, penulis yakin bahwa teori ini memiliki pengikut fanatik yang akan terus mencari tahu keberadaan batu bertuah itu.


“Apakah dalam buku yang kamu baca, ada informasi soal naga, Am?” Shal berusaha mengalihkan perhatiannya.


Amara menatap Shal sebentar, lalu menjawab, “Ada banyak jenis naga. Ada naga yang suka menyendiri, ada naga yang suka berteman, ada naga yang suka bermeditasi, dan ada juga naga pelindung. Untuk beberapa jenis naga, darahnya bisa membuat kuat, tulangnya bisa untuk meramal, dan keringatnya bisa membuat awet muda. Di zaman dahulu, beberapa naga pernah dibantai dengan kejam.”


Shal menelan ludah karena tahu kalau kaumnya termasuk yang melakukan pembantaian itu.


“Banyak yang percaya pemburu naga masih berkeliaran, meskipun profesi itu dilarang. Bisnis jual-beli anggota tubuh naga kabarnya masih berlangsung di pasar gelap dunia sampai saat ini. Makanya, para Dragon Boy sebaiknya tidak mengikat batin dengan naga hanya untuk terlihat keren. Mereka juga harus siap melindungi naga mereka.”


Amara terdiam selama beberapa detik, lalu melanjutkan ucapannya, “Ada banyak hal tentang naga, Shalima. Namun, Valfred bilang aku sudah terlalu banyak bicara. Jadi sekarang lebih baik aku diam.”


Shal dan Valfred saling berpandangan. Nampaknya Amara berhasil menembus pikiran Valfred dan membacanya. Akhir-akhir ini, Shal dan Valfred memang sering menjadi objek latihan mind-reading Amara.


Apakah dia juga bilang kalau kami sangat bangga punya teman yang pintar sepertimu?


Shal mencoba membuka dan menyampaikan pikirannya kepada Amara.


Senyum percaya diri mekar di wajah Amara. Dia memandangi Valfred dan bicara dengan tegas, “Tidak. Namun, aku sangat menantikan suatu hari dia benar-benar mengatakannya.”


“Apa yang kalian bicarakan? Ingatkah kalian tentang perjanjian kita untuk selalu bicara tanpa sembunyi-sembunyi?” Valfred memperingatkan teman-temannya. Shal tertawa geli.


“Bukan hal yang penting, kok. Eh, latihan bersama Diadyra akan dimulai sebentar lagi, Am. Mari kita bergegas!” Shalima segera membereskan buku-bukunya.


 Shalima sangat tergerak dengan nyanyian siren yang didengarnya di Autumn Festival dan sesegera mungkin mendatangi klub Mystic and Music untuk menyatakan ketertarikannya. Menurutnya, suara nyanyian itu sangat relaxing. Shal ingin mempelajarinya lebih lanjut untuk melihat sejauh mana nyanyian bisa digunakan untuk terapi atau penyembuhan. Apakah nyanyian itu menjadi relaxing karena suara siren atau memang lagunya yang mistis?


Tak disangka, Shal diterima dengan baik. Saking baiknya, dia langsung didaftarkan jadi anggota. Padahal, Shal sebenarnya hanya ingin berkonsultasi kepada salah satu siren pembimbing. Sejak saat itulah, Shal ikut berlatih di klub Mystic and Music.


Miraride, siren pemimpin klub, mengutus seorang siren bernama Diadyra untuk menjadi pembimbingnya secara khusus. Diadyra bukan hanya memiliki suara yang indah, tetapi juga dapat memanggil alam untuk ikut bersuara dan membuat harmoni dari lagu yang dinyanyikannya. Tak heran kadang burung-burung tinggal lama di kepala para pemain musik, termasuk Amara, untuk berkicau. Diadyra juga mengajarkan Shal untuk menggali alam sebagai sumber yang kaya akan suara dan musik.


Shal mendapat izin berlatih bersama Diadyra di pinggir Lakevender walau sebenarnya kegiatan klub sudah selesai untuk tahun itu. Banyak makhluk yang mengunjungi danau ini untuk relaksasi, tapi ada juga yang sengaja menjauhinya karena takut merenung terlalu jauh sampai menjadi gila. Semenjak bergabung dalam klub Mystic and Music, Shal merasa bisa lebih relax. Kadang dia sulit tidur karena gelisah menunggu pengumuman tentang naga Porsesa. Namun, dia semakin bisa mengatur kegelisahannya dengan baik.


“Para siren di masa lampau dapat membius para pelayar dengan nyanyiannya, sehingga kapal mereka pada akhirnya tenggelam. Padahal, siren yang baik menyanyikan lagu-lagu yang dalam dan menyentuh kalbu supaya para makhluk bisa merenungkan keberadaan hidupnya di alam semesta. Reaksi yang muncul ternyata berbeda-beda. Ada yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik, tetapi ada juga yang memilih mengakhiri hidupnya karena menyadari betapa menyakitkannya hidup di dunia. Beberapa makhluk bilang nyanyian kami memberikan ketenangan dan mampu mengatasi gangguan mental. Makhluk lainnya mengatakan nyanyian kami menjadi semacam pelarian dari kejamnya dunia. Aku sendiri tidak pernah tahu sejauh mana efeknya, tetapi memang nyanyian kami bisa membuat seseorang kehilangan kesadarannya.” Diadyra menceritakan beberapa hal yang tidak banyak diketahui tentang siren kepada Shal. Mereka sedang duduk di bebatuan yang ada di pinggir danau sambil berbincang dan mengamati guratan merah muda di langit. Tak jauh dari sana, Amara sedang menikmati me-time sambil bermain harpa.


Shal merasa gelisah. Apakah nyanyiannya suatu saat nanti bisa bermanfaat atau malah membawa bencana? Sambil berpikir, Shal memperhatikan arus danau yang tampak sangat tenang. Gadis itu bisa mendengar suara angin berputar di telinganya. Dia mengeratkan jaketnya karena hawa dingin mulai terasa menusuk kulit.