Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - I Want to See the Pink Strokes in the Sky!




I Want to See the Pink Strokes in the Sky!


VALFRED MELETAKKAN SEMACAM kotak P3K di depan Shalima seraya berkata, “Mungkin kamu akan terluka dalam perjalanan. Sebaiknya membawa ini.”


Amara tertawa mengejek, “Val, dia ini Shalima Shero, the Queen of Regeneration! Sel-sel tubuhnya lebih terlatih memberikan pertolongan pertama daripada semua yang ada di kotak ini!”


“For Odin’s sake! Bisa-bisanya aku lupa!” lelaki Werewolf itu menepuk dahinya.


Akhirnya, para Zoologist sudah memastikan bahwa ada naga Porsesa di Gingko Forest yang benar-benar memberikan undangan untuk mengambil lumut di kulitnya. Sudah ada tim yang dibentuk untuk mengambil lumut itu esok hari dan The Prof termasuk di dalamnya. Guru Herbologi itu bermurah hati mengurus perizinan agar Shal bisa menjadi asisten pribadinya dalam mengambil lumut dan mengobservasi kegiatan tersebut. Besok, pagi-pagi sekali, Shal dan The Prof akan pergi ke Gingko Forest.


Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan dan penantian yang akhirnya usai. Shal merasa bergairah bisa bertemu dengan naga dan berada dalam sebuah tim kerja. Dia bisa merasakan pupil matanya melebar kalau sudah membahas tentang hal itu.


“Kamu terlalu banyak memikirkan Elle, sih, makanya keseringan melamun daripada fokus.” Shal meledek Valfred sambil tertawa geli.


“Lagi pula, ini kotak P3K versi lama. Versi terbarunya lebih kecil dan ringkas. Memperbarui informasi itu penting, wolf cub.” Amara menasehati Valfred yang tampak gelagapan, lalu menyodorkan sesuatu kepada Shal.


“Apa ini?” Shal bertanya sambil mengambil semacam tanduk dari tangan Amara. Terdapat ukiran yang sangat halus di permukaannya.


“Ini gading gajah. Pengrajin Spring Kingdom membuatnya menjadi tempat obat sekaligus senjata. Aku rasa kamu lebih membutuhkan ini.”


“Ini bagus sekali!” kata Shal terharu, “Terimakasih, Amara!” Shal memeluk gadis Elf itu. Kadang Amara suka merendahkan orang lain, sombong, dan tidak ramah. Namun, Shal tahu gadis itu sebenarnya sangat baik dan perhatian.


“Semoga semuanya berjalan lancar!” Valfred ikut berpelukan bersama kedua gadis itu di sofa empuk yang ada di ruang berkumpul Asrama Fantasi.


“Aku ingin sekali lagi melihat guratan merah muda langit Maple Island sebelum kita kembali ke rumah masing-masing. Jadi, setelah Shal menyelesaikan tugasnya, kita sama-sama ke pinggir danau, ya!” pinta Amara yang terdengar seperti sebuah perintah.


Kalau Putri Elf sudah bersabda, siapa yang bisa menolak?


“Kenapa kalian bisa memikirkan hal yang sama secara bersamaan?” Amara mengomel setelah membaca pikiran kedua temannya itu.


 Shal merasakan lututnya mendadak gemetar dan jantungnya berdebar sangat kencang. Ini pertama kalinya dia melihat seekor naga secara langsung. Shal takjub sekaligus ketakutan. Dia dengan naga itu perbandingannya seperti dirinya dengan gedung asrama Maple Academy. Hanya saja, yang ada di depannya sekarang ini bisa menyemburkan api.


Saat ini, naga Porsesa tampak sedang tidur dengan tenang. Namun, Shal tidak yakin naga itu benar-benar tidur. Bisa saja tiba-tiba membuka mulut dan menghanguskannya dengan napas api atau mengoyak tubuhnya dengan gigi-gigi yang runcing. Shal meringis membayangkan hal itu.


“Nyalimu menciut?” The Prof bertanya kepada Shalima sambil memakai sarung tangannya. “Kalau kamu tidak punya niat buruk, naga itu tidak akan berbuat jahat kepadamu.”


Ah ya, tentu saja. Kenapa informasi penting yang sudah dia kumpulkan mendadak hilang dalam pikirannya? Naga Porsesa bukan naga agresif yang suka menyerang. Dia juga merupakan naga spiritual yang cenderung tenang, bijaksana, dan tidak gegabah.


“Itu yang harus kamu khawatirkan.” Dengan matanya, The Prof menunjuk tiga anak naga yang bermain di ujung pohon. Mereka seukuran singa jantan dan memiliki sayap. “Naga-naga kecil lebih agresif dan tak berpikir panjang. Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang membuat mereka terkejut atau tak suka.”


Ketiga anak naga itu menjadi kejutan bagi seluruh anggota tim. Shal sendiri belum pernah membaca informasi tentang anak-anak naga Porsesa. Ternyata mereka lebih berbahaya, padahal kelihatan menggemaskan.


Kurang lebih ada dua belas orang yang ikut dalam tim pengambilan lumut hari itu. Mereka terdiri dari para Herbologist dan Zoologist berlisensi, juga pihak keamanan. Saat briefing, diinformasikan bahwa lumut Porsesa tersebar dalam area 60x45 meter punggung naga, diperkirakan berasal dari jenis Leucobryum glaucum yang bermutasi, dan berwarna merah muda.


Ada tujuh orang, termasuk Shal, yang naik ke atas punggung naga.  The Prof dan dua orang Herbologist lainnya menggaruk lumut dengan gerakan yang sama dan serentak. Hal ini dilakukan untuk membuat naga nyaman. Awalnya, mereka mencoba menggunakan mesin pemotong lumut, tetapi bunyinya membuat naga menjadi gelisah saat dinyalakan. Akhirnya, mereka menggunakan garu sisir dari nilon yang lembut tapi kuat. Tiga orang Herbologist lainnya bertugas untuk menyedot lumut yang sudah lepas dengan alat semacam vacuum cleaner. Sementara itu, dua orang Zoologist bekerja mengambil sampel dari bagian tubuh naga, satu orang Zoologist lainnya mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan, dan pihak keamanan memastikan semuanya berjalan dengan baik.


Bagaimana dengan anak muda yang bersemangat, Shalima Shero? Awalnya, The Prof menyuruhnya mengobservasi serta mendokumentasikan cara kerja tim dan proses pengambilan lumut. Kemudian, The Prof memberinya garu kecil untuk mencongkel dan menggaruk lumut yang ada di celah-celah kulit naga. Ya, The Prof membuatnya mengerjakan hal yang paling melelahkan.


Shal takjub dengan kulit naga Porsesa. Kulit naga itu seperti batu berwarna hitam pekat. Saat berada di atas punggung naga, Shal seperti berdiri di atas tanah berbatu dan bercelah yang bergerak naik-turun seiring dengan helaan napas naga yang teratur. Gadis itu sangat berhati-hati ketika membersihkan lumut di celah kulit naga. Selain karena beberapa bagian kulit naga memang cukup tajam, dia juga takut mencongkel bagian dermis atau jaringan kulit yang lebih dalam. Kalau dia membuat naga kesakitan, bisa saja punggung itu berubah jadi lautan lava. Ya, Shal hanya berimajinasi. Namun, saat seseorang berada di atas punggung naga, dia pasti akan memikirkan hal-hal terburuk yang bisa terjadi.


Sambil mencongkel dan menggaruk, Shal memiliki kesempatan untuk mengamati lumut Porsesa dari dekat. Dia bahkan sempat mengendusnya secara sembunyi-sembunyi dan berhalusinasi kalau dia ada di dalam kawah gunung berapi. Untungnya Shal segera tersadar dan melanjutkan pekerjaanya. Dia takut lumut Porsesa dapat memberikan efek halusinasi seperti beberapa jamur beracun yang pernah The Prof jelaskan.


Saat beristirahat, Shal tetap bersemangat mendengarkan diskusi yang disampaikan para Herbologist dan Zoologist. Betapa menyenangkan ada dalam tim kerja yang professional karena dia bisa belajar banyak hal.


Pengambilan lumut bagian dua akan dimulai. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang dan mereka berharap satu jam lagi punggung naga sudah bersih. Jika sesuai dengan rencana awal, paling lambat pukul 2 siang mereka sudah meninggalkan Gingko Forest. The Prof dan Herbologist yang lain sudah naik ke atas punggung naga dengan flyboard masing-masing. Shal hendak mengambil flyboard miliknya yang diletakkan dekat tabung besar berisi lumut yang sudah penuh terisi. Dia melihat ada seseorang yang sedang membuka tabung lumut itu, mungkin salah satu Zoologist.


“Demi Apollo!”


Shal mendengar Zoologist itu mengekpresikan keterkejutannya saat Shal tiba-tiba muncul untuk mengambil flyboard. Shal mengikik dalam hati, tetapi tiba-tiba merasa ada yang aneh. Shal kenal dengan suara itu!


“Thann?” Shal memberanikan diri menyibak masker yang dikenakan orang itu. Betapa terkejutnya dia begitu kecurigaannya benar-benar terbukti. Pria jangkung yang ada di hadapannya itu benar-benar Thann!


“Kamu! Kenapa? Bu—”


Ucapan Shal terputus karena tangan Thann yang lebar segera membekap mulutnya.  Sebuah tabung obat jatuh ke tanah dan Shal melihat lumut Porsesa berserakan dari tabung itu.


Kamu mau mencuri lumut Porsesa?


Shal membelalakkan matanya.


“Selamat siang, semua. Maaf, aku terlambat!”


Shal, Thann, serta semua anggota tim menoleh ke sumber suara. Ada seorang pria muncul di balik pepohonan dan seorang dari pihak keamanan segera menghadangnya.


“Aku Dami, Zoologist yang ditugaskan meneliti naga Porsesa di Gingko Forest. Aku terlambat hadir karena ada beberapa kecelakaan terjadi di jalan. Ada jalan juga yang ditutup oleh pihak keamanan karena ada singa berkeliaran. Entah kenapa hari ini aku sial sekali. Untungnya aku bisa menyelinap dan segera menuju kemari.”


Saat briefing tadi, semua anggota tim sudah lengkap. Jika ada yang mengaku sebagai anggota tim yang terlambat, berarti ….


Shal menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Thann. Anak laki-laki itu terjerembap ke tanah dan tangannya tak sengaja menyentuh ekor naga. Bersamaan dengan itu, terdengar seseorang berteriak, “Ada penyusup!” dan naga Porsesa tiba-tiba menggerakkan tubuhnya. The Prof dan Herbologist yang ada di punggungnya berusaha tidak jatuh ke tanah. Shal bisa melihat ada sinar kemerahan dari dalam tubuh naga, membuatnya terlihat seperti segumpal besar magma yang bergerak.


Terdengar jeritan anak-anak naga yang marah. Mereka terbang rendah dan menyemburkan api ke segala arah. Semua orang berusaha berlindung dari terjangan napas api. Walaupun masih kecil, embusan napas api anak-anak naga ternyata cukup kuat.


Shal meraih flyboard dan mencoba terbang. Namun, Thann keburu menarik flyboard itu sehingga mereka jatuh ke tanah bersamaan. Flyboard milik Shal terlempar entah ke mana.


“Seriously? Terbang?” bisik Thann kesal saat mereka berdua terbaring di tanah. “Jangan lakukan sesuatu yang membuat mereka kaget!”


“Oh, right, genius!” Shal langsung bangkit berdiri. Dia tak sadar gerakannya menarik perhatian anak naga yang langsung menggeram marah ke arah mereka.


“Moron! ” umpat Thann sambil berdiri. “Lari!” serunya memperingatkan Shal.


Tanpa pikir panjang, Shal mengikuti Thann berlari sekencang mungkin.


“Lompat!” Thann berseru lagi saat mereka sudah cukup jauh berlari.


Saat ini, berlari adalah opsi paling masuk akal. Sekarang, Thann malah menyuruhnya melompat. Kebingungannya terjawab saat dia melihat Thann benar-benar melompat ke jurang yang ada di depannya. Rasanya Shal ingin menangis karena panik, tapi tak ada waktu untuk hal itu. Mau tak mau dia mengikuti jejak Than karena tak punya pilihan lain.


“Aku membencimu!” jerit Shal sambil melompat. Beberapa detik kemudian, dia merasakan hangat semburan api di atas kepalanya. Tak lama setelah itu, Shal merasakan Thann memeluknya dan melingkupi tubuhnya dengan sayap hitam berkilau. Shal terkesima ketika melihat sepasang sayap malaikat Thann melindunginya. Namun, tak berlangsung lama karena semburan api selanjutnya membuat mereka terjatuh ke sungai.


Shall merasakan air dingin memeluk seluruh tubuhnya. Shal tahu dia berada di sungai dan terseret arus yang deras. Dia hanya bisa pasrah dan beharap semoga menyaksikan guratan merah muda langit Maple Island bersama Amara dan Valfred bukan hanya sebatas mimpi.