
The Voices in Autumnland
SHAL TERSENYUM BAHAGIA melihat cloud candy yang ada di genggamannya. Cloud candy adalah camilan berbentuk awan mini berwarna yang melayang menyelimuti sebuah stick tipis panjang berbentuk halilintar. Saat menjilat dan menghirup cloud candy, kau bisa merasakan bagaimana rasa dan aroma sebuah warna.
Dengan tak sabar, Shal menjilat awan berwarna abu-abu dan ungu muda yang sudah dibelinya tadi. Ada sensasi dingin saat lidah dan hidungnya menyentuh kabut cloud candy. Secara mengejutkan, Shal merasakan sesuatu yang agak manis, tetapi getir saat menjilat awan berwarna abu-abu, dan rasa seperti teh melati saat menjilat yang berwarna ungu muda. Selintas Shal juga seperti mencium bau kacang dan tinta.
Shal tertawa girang. Mencoba beragam penganan saat Autumn Festival memang begitu menyenangkan!
“Shalima!”
Seseorang memanggilnya dan seketika otot di wajahnya membentuk sebuah senyuman. Shal berbalik lalu membungkuk hormat kepada pria yang kini ada di hadapannya.
“Mengapa begitu kaku?” Pria itu, Eero Iziah, merentangkan kedua lengannya seperti bersiap menerima pelukan. Shal tersipu malu. Dia langsung mendekat dan memeluk Eero. Pelukan itu sangat nyaman dan hangat, seperti dekapan seorang ayah.
Bicara apa aku ini!
Shal segera melepaskan pelukannya karena merasa malu dengan apa yang barusan dia pikirkan.
“Wow! Cloud candy!” Eero tersenyum saat melihat gumpalan awan yang melayang-layang di atas tangan Shal. “Tampaknya aku sudah lupa rasa dan aroma warna ungu muda. Bolehkah?” Paman Eero tersenyum sambil mengangkat jari telunjuknya, meminta izin Shal untuk mencicipi cloud candy itu.
“Aku sudah menjilatnya tadi.” Shal tersenyum malu.
“Tidak masalah.”
Eero lalu memutar jari telunjuknya di awan berwarna ungu muda milik Shal. Ada kabut yang lepas dan berpindah mengelilingi jari telunjuknya. Setelah menjilat dan menghirup cloud candy di jarinya, Eero tertawa lepas. Shal penasaran bagaimana lidah dan hidung Paman Eero merasakan warna ungu muda.
“Ini seperti rasa lilin dan aroma pakaian basah.”
Shal tertawa geli mendengarnya. Dengan raut wajah yang lucu, Eero menghirup dan menjilat cloud candy-nya sampai habis.
“Bagaimana kalau sekarang kita mencari lava drink?” tawar Eero.
Shalima mengangguk dan mengikuti Eero. Ini adalah waktu yang sangat dinantikan olehnya, di mana dia bisa mengobrol dan bercerita lepas dengan pria baik hati yang ingin sekali diangkatnya sebagai ayah.
Shalima menelan ludahnya. Callia, istri Eero, mengenalkannya kepada dr. Saja Forta, ketua tim Zoologist Maple Island. Eero lalu menceritakan keinginan Shal yang besar untuk melakukan penelitian di bidang kesehatan.
“Aku sangat menyukai orang muda yang berbakat dan bersemangat,” balas dr. Forta. Ingin rasanya Shal bersembunyi di bawah kursi karena malu.
Sambil menunggu pertunjukan Lynean dimulai, Eero dan Callia menyapa beberapa kenalan mereka, yang kebanyakan orang penting. Mereka juga memperkenalkan Shal kepada orang-orang itu. Shal merasa kurang nyaman, tetapi berusaha menjaga sikapnya sebaik mungkin. Shal, Eero, Callia, dan dr. Forta lalu duduk di kursi penonton dalam satu baris yang sama. Kursi di samping Shal kosong dan dia tahu itu pasti tempat duduk Thann.
Shal berdoa dalam hati supaya Thann tidak datang Namun, doa itu sama sekali tak manjur karena Thann sudah menduduki kursinya tepat saat pertunjukan dimulai. Anak laki-laki itu tampak semakin dewasa sejak terakhir kali mereka bertemu. Rahangnya semakin tegas, lehernya kelihatan kukuh, dadanya lebih berotot, dan bahunya kian lebar serta tegap.
Hei! Berhenti membahas tubuh lelaki!
“Baru datang?” Shal mencoba mengalihkan pikirannya dengan menyapa Thann.
Anak laki-laki itu menoleh. Dengan suaranya yang berat serta tatapannya yang mencela, Thann menjawab, “Menurutmu?”
Sejak awal, Thann sudah menyepelekannya karena berasal dari ras dan dunia manusia. Ada banyak hal yang tidak diketahuinya tentang Maple Island dan itu menjadi bahan cemooh bagi Thann. Walaupun Shal lebih tua 1 tahun dari Thann, anak laki-laki itu tak pernah menunjukkan rasa hormat sedikit pun kepadanya.
Shal memilih memberikan perhatian penuh kepada drama musikal yang sedang ditampilkan. Lynean menjadi tokoh utama dalam pertunjukan itu. Memang tak heran kalau Lynean menjadi primadona karena dia seperti paket lengkap: parasnya jelita, suaranya indah, senyumnya menawan, dan tariannya memukau.
Shal terhanyut dalam pertunjukan sampai tiba-tiba sebuah tangan besar mencoba mengatupkan rahangnya. Dia mendelik kepada Thann yang lagi-lagi memberinya tatapan mengejek.
“Air liurmu benar-benar bisa menetes kalau kamu terus membuka mulut seperti itu!”
Shal merasa malu sekali, tapi berusaha menutupinya. “Nyanyian Lynean sangat indah. Apa salahnya aku kagum?”
“Kagum?” Thann tersenyum sinis, “Kamu mengagumi orang yang justru iri kepadamu.”
Omong kosong! Tidak mungkin bidadari seperti Lynean iri dengan itik seperti dirinya!
Shal tidak memercayai Thann, tetapi terus merenungkan perkataannya itu. Lynean memang tidak pernah menunjukkan sikap bersahabat saat mereka menghabiskan waktu bersama. Walaupun dia agak tersinggung saat Thann menyebutnya bukan siapa-siapa, Shal mengakui dia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Lynean dan semua orang yang ada di Maple Island.
Sekonyong-konyong terdengar suara nyanyian yang sangat merdu bersamaan dengan kehadiran seekor kelelawar berekor panjang yang terbang mengelilingi panggung. Tanpa sadar, Shal memejamkan matanya karena ingin menikmati suara itu. Dia seperti bisa melupakan semua sakit hati dan kebingungan yang dirasakannya. Lebih baik dia tidak melakukan apa-apa dan hanya mendengarkan nyanyian itu.
Aw!
Ada yang menyentil kening Shal sampai meninggalkan rasa sakit. Dia langsung membuka mata dan menatap Thann tajam. Siapa lagi pelakunya kalau bukan orang itu!
“Kamu terpikat nyanyian siren?” Thann mengejeknya, sama sekali tidak merasa bersalah.
Shal memang belum pernah mendengar nyanyian siren sebelumnya. Yang dia tahu, suara siren sangat memikat hati sehingga para pelayar yang mendengarnya menjadi terbuai. Shal tidak mengacuhkan pertanyaan Thann dan berusaha menemukan sosok siren di panggung. Thann mengikik dan anak perempuan itu merasa Thann sedang menertawakannya.
“Kamu tidak tahu nuskabadori, ya? Astaga, Shal! Belajar apa saja kamu di akademi?” Thann kembali mengejeknya.
Nuskabadori?
“Benar-benar tidak tahu?” Thann tersenyum meremehkan, “Nuskabadori itu sejenis chiroptera bisu, tapi pandai mengambil nyanyian. Mereka bisa menyampaikan nyanyian itu kepada pihak yang dituju, kalau mereka mau. Tadi itu nuskabadori yang mengambil nyanyian siren dan menyampaikannya di sini.”
Shal terdiam mendengar penjelasan Thann. Tampaknya hewan itu termasuk satwa gaib tingkat normal-middle karena belum pernah dibahas di tahun pertama. Namun, Shal malas protes pada Thann. Shal malah mencoba mengingat-ngingat apakah dia pernah melihat hewan itu sebelumnya.
Nyanyian siren berhenti seiring menghilangnya nuskabadori di tengah kegelapan malam. Ada hening beberapa detik sebelum kembang api warna-warni melesat ke angkasa. Nyanyian siren tadi menjadi penutup yang tak terduga untuk Autumn Festival dan akhirnya suara riuh tepuk tangan penonton pecah di Autumnland. Shal ikut bertepuk tangan, tapi hatinya mendadak panas begitu mendengar Thann mendengus seperti kuda. Sekarang apa?
“Kalau kalian mengira nuskabadori itu bagian dari pertunjukan, kalian salah besar.”
Shal mengerutkan dahinya. Jadi, nuskabadori itu bukan bagian dari pertunjukan?
“Siren tadi menyanyi menggunakan bahasa kuno ras Fallen Angel. Yah, bahasanya sangat kuno sehingga tidak semua Fallen Angel bisa memahaminya.” Thann tesenyum hambar sambil memandang lurus ke arah kakak perempuannya yang berdiri di atas panggung bersama para seniman lainnya. “Siren itu menyanyikan lagu tentang seorang bidadari penipu yang menyanyi tanpa menggunakan hati. Nuskabadori itu mengambil nyanyian siren dan menyampaikan celaan untuk Lynean di panggungnya sendiri.”
Shal menghentikan tepukan tangannya. Dilihatnya Callia mencoba bertepuk tangan, tetapi kemuraman di wajahnya tak bisa disembunyikan.
Mendadak terdengar suara bising seperti jeritan dari langit. Semua orang langsung menutup telinga mereka, tampak terkejut dan bingung. Ini bukan suara yang lazim. Shal bisa merasakan gendang telinganya bergetar aneh dan jantungnya berdetak sangat cepat. Setelah beberapa detik, suara itu akhirnya berlalu.
“Itu suara naga yang gelisah ….” Shal mendengar dr. Forta berbisik kepada Eero. Ada jeda beberapa saat sebelum Tuan Forta melanjutkan ucapannya, “Jika itu naga Porsesa, gadis muda kita yang bersemangat mungkin akan punya kesempatan.”
“Seperti biasa, Shalima Shero yang sangat antusias dan bersemangat.”
Itulah tanggapan pertama yang diberikan The Prof setelah Shal mengajukan permohonannya. Shal hanya bisa menunduk malu. Apakah dia terlalu lancang mengajukan permintaan berkali-kali kepada The Prof?
Ada jeda yang lama sebelum akhirnya The Prof melanjutkan, “Sekarang para Zoologist sedang melakukan kontak dengan naga yang terdengar di Autumnland. Mereka mau memastikan semuanya. Walaupun suaranya terdengar resah, belum tentu itu naga Porsesa.”
The Prof diam beberapa saat, sementara Shal meneguhkan hatinya untuk percaya bahwa itu benar-benar naga Porsesa.
“Saya akan mempertimbangkan permintaanmu. Sebaiknya kamu mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang naga dan lumut Porsesa, sambil menunggu informasi lebih lanjut. Saya harap kamu juga bisa bersabar karena proses ini bisa memakan waktu beberapa minggu atau bahkan bulan.”
“Baik, Prof!” seru Shal dengan antusias. Entah mengapa firasatnya kali ini mengatakan dia akan ikut melakukan pengambilan lumut Porsesa di Gingko Forest. Dadanya seperti mau melompat saat membayangkan dirinya melakukan observasi lapangan dan bertemu naga.
Malamnya, Shal berkhayal bertemu dengan naga sampai tertidur. Dia terbangun karena merasakan sesuatu terbang di luar jendela kamarnya. Shal membuka jendela dan sangat terkejut karena melihat seekor nuskabadori.
Oh, gadis malas, bangunlah. Jangan engkau hanya tidur dan mengeluh saja!
Nuskabadori terbang menjauh dan Shal menatapnya dengan tatapan penuh dendam.
Itu suara si Jelek Thann! Menggunakan nuskabadori untuk mengejekku, huh? Thann sialan!
Shal merutuk dalam hatinya. Dia memperhatikan ekor nuskabadori yang tertiup angin dan entah kenapa dia seperti terhipnotis melihat ekor nuskabadori yang menjuntai itu. Shal tersadar dari lamunannya, lalu segera menutup jendela dan tirainya dengan kasar. Cukup creepy mendengar suara Thann menyanyi barusan, walau hanya lewat perantaraan nuskabadori.
Setelah pulang dari Autumn Festival, Shal segera mencari tahu tentang nuskabadori. Nuskabadori sulit dijumpai, sangat sensitif, moody, dan suka pilih-pilih. Mereka tidak sembarangan mengambil nyanyian. Misalnya, secara alami telinga mereka akan menolak nyanyian berupa mantra, tidak tertarik mengambil nyanyian jika suara penyanyinya tidak enak didengar, dan hanya menyampaikan lagu dengan lirik yang dalam dan indah.
Lantas, bagaimana dengan barusan?
Shal harus mengakui suara bass milik Thann begitu enak masuk di telinganya. Namun, lirik yang disampaikan tentunya jauh dari dalam dan indah! Shal harus mengakui kehebatan anak lelaki dari ras Fallen Angel itu! Bagaimana bisa dia mengelabui nuskabadori untuk menyampaikan lagu yang sungguh tak penting! Thann memang menyebalkan, tapi tak berhenti membuatnya terkejut.