Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Dragon in Gingko Forest - Don’t You Dare Leaving Me This Way!




Don’t You Dare Leaving Me This Way!


Sepanjang jalan, Shal dan Malachite berbincang-bincang lewat batin. Sudah kurang lebih 15 menit mereka berjalan menyusuri sungai dan tampaknya masih jauh dari titik pengambilan lumut. Shal mulai khawatir, Thann sudah kehilangan banyak energi atau darah saat dia sampai di titik pengambilan lumut nanti.


Sekarang giliranmu.


Shal meminta Malachite menceritakan tentang dirinya sebelum bertemu Shal. Namun, gadis itu menghentikan langkahnya dan tampak tegang. Dia melihat naga Porsesa sedang berbaring di pinggir sungai. Mungkin mereka habis minum air lalu beristirahat di sana. Anak-anak naga juga tampak tidur dalam damai. Siapa sangka mereka tadi dengan ganas menyembur-nyemburkan napas api ke sembarang arah?


Shal menatap Malachite meminta pertimbangan.


Kita harus segera sampai ke titik pengambilan lumut dan meminta pertolongan. Namun, di depan ada naga Porsesa. Thann … dia sepertinya membutuhkan lumut di punggung naga itu untuk mengobati penyakitnya. Apa yang harus kita lakukan?


Malachite tampak berpikir. Samar-samar dia mendengar suara temannya di atas pohon. Dia mendapatkan ide.


Aku akan bicara kepada temanku, kadal pohon. Semoga mereka mau membantu.


Shal mengangguk. Malachite memanjat salah satu pohon yang ada di sana dan menghilang di rimbunnya dedaunan. Sambil menunggu, Shal memperhatikan keempat naga Porsesa. Shal merasa hari ini banyak sekali hal yang terjadi. Perkataan The Prof bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di luar sana memang benar adanya. Kemampuan bela diri dan bertarung sungguh sangat diperlukan. Shal tahu apa yang harus dilatihnya saat kembali ke Maple Academy, jika dia masih bisa keluar dengan selamat dari Gingko Forest.


Selama ini, dia gentar menghadapi semua musuh yang ada di Battle Arena karena takut melukai atau membunuh. Di sisi lain, dia juga harus melindungi diri sendiri. Selama hampir setahun berada di Maple Academy, pikiran itu terus bertentangan dalam hatinya. Namun, hari ini dia belajar satu hal dari Thann. Saat menghadapi induk babi, Thann tidak melukai dan membunuhnya. Dia hanya melumpuhkan induk babi itu. Mengapa hal jenius seperti itu tak terpikirkan sebelumnya? Yang perlu dia ketahui adalah menemukan titik lemah lawan dan melumpuhkannya sementara. Shal tidak harus membuat cedera atau mengambil nyawa mereka.


Benar kata sang Mentor. Ini bukan semata-mata tentang bertarung, menang, atau kalah. Ini juga tentang belajar mengerti diri kita sendiri dan apa yang sebenarnya kita butuhkan.


Tak lama kemudian Shal merasakan Malachite sudah merayap ke atas bahunya.


Kadal pohon takut kepada anak-anak naga. Kejadian tadi pagi sudah menyebar ke seluruh penjuru Gingko Forest. Mereka menolak untuk membantu mengambilkan lumut di punggung naga.


Shal terlihat sangat kecewa. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Tenang, Shal. Mereka menawarkan diri untuk menghubungi burung pingai yang bersarang di atas pohon. Jika burung pingai itu bersedia, dia akan terbang mencari anggota timmu dan mengarahkan mereka kemari. Aku juga sudah menyampaikan ciri-ciri guru Herbologimu kepada mereka.


Betapa beruntungnya dia memiliki Malachite! Thann salah besar kalau bilang mengikat batin dengan kadal hanya membawa sial!


Jangan memujiku, Shal. Sahabat memang harus saling melindungi dan menolong.


Shal mengelus Malachite dengan sayang. Sudah baik hati, Malachite pun tak sombong.


Kalau kamu terus-terusan memujiku, lama-lama aku bisa sombong!


Malachite tertawa mendengar Shal yang terus-menerus memujinya dalam hati.


Sambil menunggu kabar dari kadal pohon, bagaimana kalau kita mengambil lumut di punggung naga? Aku akan naik ke punggungnya dan bolak-balik mengambil lumut itu sedikit demi sedikit.


Sekali lagi Shal setuju dengan saran Malachite. Sahabatnya itu punya hati yang tulus, jadi seharusnya naga Porsesa tidak akan marah. Yang harus dijaga adalah jangan sampai anak-anaknya terbangun dan berulah lagi. Namun, kalau pun terbangun, mereka mungkin tidak akan menyadari keberadaan Malachite di punggung induknya.


Shal bersembunyi di salah satu batu besar yang ada di pinggir sungai. Malachite naik ke kaki induk naga dan berdiam selama beberapa saat di sana. Setelah itu dia merayap naik ke punggung naga. Saat itulah Shal melihat beberapa burung pingai terbang bersamaan dari atas pohon. Semoga itu tanda mereka setuju membantunya mencari The Prof dan anggota tim yang lain.


Beberapa menit kemudian Malachite sudah turun dari punggung naga dan membawa sejumput lumut Porsesa. Badan naga sangat besar. Perjalanan untuk mengambil sejumput lumut itu cukup memakan waktu dan tenaga. Shal memasukkan lumut itu ke dalam tempat obat yang diberikan Amara.


Aku rasa ini bukan ide yang baik, Mala. Kamu pasti lelah.


Shal hendak mencegah Malachite naik kembali ke punggung naga.


Aku tidak apa-apa. Induk naga tahu saat aku naik ke atas punggungnya. Namun, dia mengizinkanku naik dan mengambil lumut itu. Katamu lumut itu berkhasiat. Kalau misalnya aku kelelahan, aku akan coba memakannya. Siapa tahu staminaku akan pulih.


Shal tidak yakin dengan pilihan itu, tetapi Malachite terus meyakinkannya untuk tidak khawatir. Malachite pun kembali naik ke atas punggung naga dan terus bolak-balik mengambilkan lumut untuk Shal. Setelah beberapa waktu, lumut itu terkumpul hampir memenuhi tabung gading. Namun, kini Malachite tak kunjung kembali dari atas punggung naga. Shal menantinya dengan cemas. Dia takut terjadi sesuatu kepada Malachite.


Malachite!


Shal memanggil Malachite sekali lagi. Akhirnya sesuatu menjembul di balik punggung naga. Shal pun lega. Dia meminta Malachite segera turun. Namun, betapa terkejutnya dia begitu melihat seekor kadal besar seukuran kurang lebih 3 meter turun dari punggung naga. Warna kulitnya hijau berkilauan dengan beberapa bercak merah. Shal tahu itu Malachite, tetapi dia tampak sudah bermutasi.


Apa?


Malachite seperti terkejut saat mendengar batin Shal berbicara tentang tubuhnya. Tadi dia mencoba memakan sedikit lumut di punggung naga karena kelelahan dan penasaran. Lumut itu terasa lezat di lidahnya dan dia terus memakannya. Tak terasa dia sudah menghabiskan semua lumut di punggung naga dan baru menyadari kalau Shal terus menerus memanggilnya. Dia juga tidak menyadari bahwa semakin banyak dia memakan lumut Porsesa, semakin berubah pula tubuhnya.


Tiba-tiba seekor anak naga terbangun dan langsung melaung begitu melihat ada kadal besar tak jauh dari mereka. Semua anak naga ikut terbangun karena terkejut. Mereka tidak sempat mengembuskan napas api karena keburu menghindari rentetan bom asap yang tiba-tiba melayang ke arah mereka. Sayangnya, walau berhasil menghindari bom, mereka tidak bisa menghindari asap yang muncul dari bom. Malachite menggunakan kesempatan itu untuk segera berlari ke arah Shal.


Induk naga menjerit ke langit dan mengembuskan bola api yang besar dari mulutnya ke arah salah satu batu di sungai. Dari sanalah asal mula ketiga bom asap tadi. Mungkin seseorang yang melemparkan bom itu bersembunyi di sana. Induk naga tidak berusaha menghanguskan batu itu, dia hanya memberi peringatan. Setelah itu, induk naga segera menghirup air sungai dan menyemburkannya ke arah bom asap dan ketiga anaknya. Ketiga anak naga basah dan terbatuk-batuk. Saat mereka mau mengeluarkan napas api, hanya asap hitam saja yang keluar. Mereka sangat terkejut dan perlahan berbaring di bebatuan sungai.


Induk naga kembali mengembuskan bola api ke arah batu di sungai. Setelah itu, dia langsung terbang sambil membawa anak-anak naga yang tampak lemas dalam cengkeramannya. Mereka terbang tinggi ke langit sampai menghilang di awan-awan.


Malachite dan Shalima saling berpandangan. Malachite nampaknya mulai bisa melihat dirinya yang sebenarnya melalui proyeksi dalam pikiran Shalima.


You look like a giant komodo dragon.


Tiba-tiba seorang pria keluar dari bebatuan yang tadi menjadi sasaran bola api induk naga. Dia adalah salah satu Zoologist yang ada dalam pengambilan lumut tadi pagi. Tiba-tiba pria itu melihat ke arahnya dan Shal tahu orang itu kini mengincarnya.


Naik, Shal!


Malachite memberi perintah kepada Shalima untuk naik ke punggungnya. Shalima langsung melompat ke punggung Malachite dan mengeratkan tangannya di leher kadal itu. Mereka pun segera pergi dari sana. Ada satu bom asap melesat di samping Malachite. Namun, tanpa disangka, Malachite berlari sangat cepat dengan kaki-kakinya yang gesit. Mereka lolos dari serangan bom asap.


Tak beberapa lama kemudian, mereka sudah berada di depan gua stalagmit tajam. Malachite langsung menerobos stalagmit-stalagmit itu dan sama sekali tak merasa kesakitan. Shal masih tetap mengeratkan tangannya di leher Malachite. Dia bisa merasakan tangannya beberapa kali tergores stalagmit, tetapi beberapa detik kemudian luka-luka itu sudah sembuh dengan sendirinya.


Shal melompat turun dari punggung Malachite saat tiba di hadapan Thann. Dia segera menggenggam tangan Thann untuk memeriksa tubuhnya. Sel-sel tubuh Thann masih berusaha menangani luka di pahanya, tetapi mereka mulai kepayahan. Energi Thann juga sudah berkurang. Shal berteriak frustrasi. Dia bingung apa yang harus dilakukannya.


Shal mengeluarkan lumut Porsesa yang ada di tabung obatnya. Dia mengambil sedikit dan memakannya. Tiba-tiba Shal berhalusinasi lagi, sama seperti saat dia menghirup lumut itu tadi siang. Dia seperti ada di dalam kawah gunung berapi. Namun, saat seluruh tubuhnya sudah masuk ke dalam magma, dia merasa ada di tempat yang berbeda. Dia berada di dalam lautan. Shal berenang ke atas, tetapi terkurung oleh lapisan es di permukaan laut itu.


Shalima!


Kembali terdengar suara Malachite memanggilnya, bersamaan dengan kepalanya yang menumbuk tanah gua. Shal tersadar dan langsung bangkit. Shal merasa badannya menyerap sari-sari lumut itu dan ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan saat hal itu terjadi.


“Thann ….” Shalima berbisik lembut membangunkan Thann. Mata anak laki-laki itu membuka dan dia menatap Shal.


“Ada sedikit lumut Porsesa yang tadi diambil Malachite. Aku tak tahu pasti apakah lumut ini benar bisa menyembuhkanmu atau tidak. Namun, tubuhku merasa lumut ini memang memiliki khasiat dan tidak memberikan efek buruk selain halusinasi. Aku harap, lumut ini memang benar-benar bisa menolongmu.”


Shal memberikan setengah lumut dalam tabung ke mulut Thann untuk melihat reaksinya. Thann mengunyah dan menelan lumut itu pelan. Beberapa saat kemudian, Thann merasakan sakit pada dadanya dan tampak kesulitan bernapas. Shal panik melihat Thann meraung karena kesakitan. Dia berusaha menahan Thann agar tidak berguling-guling di tanah, tapi dia tidak berhasil. Shal sendiri panik dan ketakutan.


Tiba-tiba Thann tidak sadarkan diri dan terkulai di tanah.


“Thann!” Shal panik bukan kepalang. Dia memeriksa denyut nadi dan napas Thann. Shal mematung karena merasa tubuh Thann tidak merespons. Dia bahkan tidak merasakan helaan napas dan detak jantung Thann.


Shal berteriak sambil menangis. Kejadian itu sangat mengguncang jiwanya. Shal meremas tanah di depannya dan berteriak frustrasi. Shal mengatur napasnya, berusaha mengembalikan kewarasannya untuk berpikir jernih.


“No! No! No! Thann! Don’t you dare leaving me this way!” dengan cepat Shal menyeka air matanya dan melakukan cardiopulmonary resuscitation. Shal menekan dada Thann dan memberikan napas buatan. Shal terus melakukannya tanpa berhenti sedetik pun. Dia fokus menyelamatkan Thann.


Kamu harus selamat, Thann!


Shal memekik dalam hati.


Tiba-tiba Thann terbatuk. Shal terpaku memperhatikan Thann. Melalui genggaman tangannya, Shal merasa semua yang ada dalam tubuh Thann kembali menjalankan fungsinya masing-masing secara perlahan. Ini seperti proses reset.


“Thann … Thann ….” Shal memanggil-manggil nama Thann, mencoba membuat lelaki itu tersadar. Perlahan-lahan, Thann membuka matanya. Shal segera memeluk Thann sambil menangis histeris.