Maple High School Academy Year 1

Maple High School Academy Year 1
The Soul Blower - Sorry?




Sorry?


SUARA TERIAKAN MENGGEMA di sepanjang lorong asrama fantasi. Seorang gadis berlari kencang dengan membawa sekop di tangannya. "Lily! Lily! Tolong aku," teriak Maya sesekali mengusap hidungnya yang terkena salju.


Lily yang sedang menyingkirkan salju di luar kamar ramuan menjatuhkan sekopnya karena terkejut. Ia berkacak pinggang dan menatap malas kepada Maya yang terus saja berteriak sejak mendatanginya.


"Bisakah kau berhenti berteriak?"


"Aku sedang panik! Astaga, astaga! Ini sangat mengerikan. Lihatlah, bulu-buluku sampai berdiri semua," ucap Maya berlebihan.


Lily mengabaikan Maya dan melanjutkan kegiatannya untuk menyingkirkan salju yang menghalangi jalanan. Padahal sekarang sudah malam dan hampir tak ada yang melintasi jalanan asrama mengingat banyak siswa yang memutuskan pulang, tetapi Miss Naina tetap meminta mereka untuk menyingkirkan salju-salju yang menyebalkan itu.


"Lily! Kau mendengarku tidak?" protes Maya yang melihat Lily tak acuh terhadapnya.


Lily menoleh sejenak, "Apa?" Kemudian ia melanjutkan kegiatannya kembali. Udara sangat dingin, meski ia menggunakan mantel tebal sekalipun tak akan mampu mengalahkan dingin yang terus mencumbui kulit putihnya. Sebab itulah Lily ingin menyelesaikan tugasnya agar bisa masuk kamar dengan segera.


"Ada hantu!" Maya mengangkat kedua tangannya seolah menirukan hantu yang dilihatnya.


"Kau hanya berhalusinasi, cepat lanjutkan tugasmu dan segera tidur. Besok pagi kita masih banyak tugas bersih-bersih."


"Lily, tapi hantunya sangat mengerikan. Ia menertawakanku dan tawanya itu membuatku merinding."


Lily kembali berkacak pinggang, "Lalu maumu apa?"


Maya menyengir lebar, kemudian menyerahkan sekopnya pada genggaman Lily. "Kau bantulah aku, ya. Aku akan pergi ke kamar. Aku ketakutan, tubuhku merinding, dan udaranya sangat dingin. Nanti aku sakit."


"Hah? Kau gila Maya!" umpat Lily tak terima.


"Gila artinya brilian, omong-omong terima kasih, Lily!" teriak Maya meninggalkan Lily.


"Hei!" Lily terus berteriak memanggil Maya. Namun yang dipanggil semakin jauh menghilang. Bibirnya yang menggigil tak hentinya melontarkan serapah kepada Maya.


Dengan setengah hati, ia berjalan menuju halaman belakang akademi, tempat di mana Maya tadi bertugas. Ia mulai menyekop salju yang menghalangi jalan. Sesekali ia mengusap kedua telapak tangannya karena merasa kedinginan.


Lily tiba-tiba menghentikan gerakannya. Mendadak tubuhnya merinding. Ekor matanya berusaha melirik sekitar, tetapi tak menemukan apa pun. Sebuah tangan hinggap di pundaknya, menyebabkan Lily berteriak spontan.


"Ini aku, Jace."


Lily mengelus dadanya, merasa lega karena yang ditemuinya bukanlah hantu seperti yang Maya bilang tadi. Ia hanya melirik sekilas pada Jace, lalu melakukan kegiatannya yang sempat terhenti seolah tak terjadi apa-apa.


"Hei," sapa Jace yang mulai mendekati Lily. Namun, tak mendapat respons apa pun. Jace tak menyerah. Ia terus saja mengajak bicara Lily meski tak mendapat tanggapan.


"Mau aku bantu?" tanya Jace, kemudian mengambil sekop yang tergeletak di tumpukan salju.


"Tidak perlu!" Lily segera merebut sekop yang dipegang Jace dan segera membereskan pekerjaannya.


Lily bergerak dengan terburu, kemudian segera meninggalkan Jace ketika merasa pekerjaannya selesai—meski sedikit kacau.


Jace bergegas menyusul langkah Lily yang sedikit lebih cepat. Dengan kakinya yang panjang, ia berhasil berada di samping Lily.


"Hei, tak bisakah kita berbicara sebentar saja?" tanya Jace yang masih setia mengikuti ke mana pun Lily berjalan. Kini mereka berada di gudang penyimpanan dengan Lily yang meletakkan dua sekop yang dibawanya.


"Tidak," jawab Lily ketus. Ia kembali meninggalkan Jace di belakangnya.


Jace ingin menyusul langkah Lily kembali, tetapi Efron yang baru saja datang mengurungkan niatnya. Ia berdiri di depan pintu dan menunggu Efron yang meletakkan sekop di gudang.


"Ada apa?"


Jace berdeham. Meski Efron mau berbicara dengannya, tetapi lelaki itu tampak sedikit menghindar. "Ah, tidak. Hanya saja ... kita bisa menuju kamar bersama, mungkin," jawab Jace sedikit kaku.


Efron hanya mengangguk tanpa banyak kata. Mereka berjalan bersamaan menyusuri lorong asrama. Sedari tadi Jace ingin membuka percakapan, tetapi ia bimbang. Tak seperti sebelumnya, di mana ia sampai mendapat julukan Burung Berkicau karena celotehnya. Namun kali ini, ia seperti kehilangan hasratnya untuk banyak bicara.


"Efron, lain kali kalau kau butuh bantuanku, aku ... bersedia membantu," ucap Jace ketika hampir mencapai kamarnya.


"Bantuan?"


"Ah, ya. Kalau kau kesulitan dengan hukumanmu, barangkali."


Efron menautkan kedua alisnya. "Kau? Bagaimana mungkin kau mau membantuku, sedangkan kau sendiri saja tak mengerjakan hukumanmu dan bersantai sepanjang hari."


Holy crap!


Jace tertawa hambar sembari menggaruk rambut pirangnya yang tak gatal. Efron hanya menggeleng, kemudian meninggalkan Jace menuju kamarnya.


 "Iyuh, ini menjijikkan," keluh Maya sembari menenteng seember kotoran. Salah satu tangannya menutup hidung karena tak tahan dengan bau yang menguar.


"Ini tidak adil!" teriak Maya yang disambut tawa renyah dari Lily.


"Semangat, Maya!"


"Sialan kau!"


Lily semakin semangat untuk menertawakan Maya. Ia sampai hampir terjungkal dari kursi karena terpingkal. Hingga sebuah suara membuatnya diam. Tak ingin bersuara sama sekali.


"Sedang menertawakan apa?" tanya Jace yang tanpa izin duduk di samping Lily. Membuat Lily menggeser duduk menjauhinya.


"Bukan apa-apa."


"Hei, Rambut Api, kenapa kau semakin ketus?"


"Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan itu, kupotong lehermu!" ancam Lily tak suka.


Jace tertawa senang. Akhirnya Lily mau berbicara kepadanya.


"Maaf," ujar Jace bersungguh-sungguh.


Lily menengoknya sekilas, lalu beralih mengamati Maya kembali. "Untuk apa?"


"Untuk masalah kemarin."


"Tak perlu. Bukankah kau memang tak bersalah?" Lily beranjak dari duduknya, kemudian meninggalkan Jace untuk kesekian kalinya.


Jace mendesah pasrah. Sudah beberapa kali ia berusaha meminta maaf. Namun, sepertinya ia telah melakukan kesalahan fatal. Tak hanya Lily, Efron, bahkan Maya yang biasanya cerewet pun tak mau berbicara kepadanya. Jace bangkit dan mulai berjalan ke arah tiga orang yang sibuk tertawa di depan sana.


"Kau bau sekali, Maya," ucap Efron dengan berpura-pura menutup hidung.


"Sialan, kau!" Maya yang tak terima pun memukul Efron berkali-kali. Bukannya marah, Efron justru tertawa kencang karena berhasil meledek Maya. Lily bahkan sampai memegang perutnya karena melihat betapa kacaunya penampilan Maya saat ini.


"Uh, kau seperti kerbau saja." Kini gantian Lily yang mengejek Maya. Hal tersebut membuat gadis berambut cokelat itu menghentakkan kaki kesal dan sesekali menjerit.


"Hai, boleh aku bergabung dengan kalian?" Suara Jace sontak menghentikan kegiatan tiga orang yang sedang bercanda itu. Suasana berubah menjadi canggung.


"Oh, aku akan melanjutkan pekerjaanku," kata Maya sembari meraih kantong yang ia letakkan di dekat tiang penyangga.


Jace berusaha menahan mereka bertiga. "Kumohon kali ini saja, beri aku kesempatan," lanjutnya.


Lily menatap malas, "Apa?"


Maya pura-pura tak melihat, sedangkan Efron hanya mengamati dalam diam.


"Aku mohon, beri kesempatan untuk—"


"Untuk meminta maaf? Tak perlu. Kami sudah memaafkanmu. Lagi pula kau tidak bersalah 'kan?" potong Lily.


"Tidak, dengarkan aku dulu." Jace masih berusaha menjelaskan.


"Baiklah, katakan. Kau membuang waktu kami." Kini giliran Maya yang angkat bicara.


Jace meneguk ludahnya gugup, merasa kehadirannya tertolak. "Aku hanya ... aku ...."


"Cepat katakan, kau benar-benar membuang waktuku," tuntut Maya.


Jace berdeham sekilas, "Baiklah, untuk masalah maaf aku benar-benar tulus mengatakannya dan terima kasih kalian telah memberi maaf. Namun tolong, beri aku kesempatan untuk menjadi teman kalian, apakah boleh?" Jace memohon dengan tatapan serius.


Mereka bertiga tampak sedang berpikir. Sesekali bertukar pandang untuk mencari kesepakatan.


"Aku menyerahkan keputusan pada Lily," putus Efron.


"Aku juga," sahut Maya.


Lily hanya mendengkus sebal. Ia sebenarnya tak suka keadaan seperti ini. Namun, mengingat tindakan Jace waktu itu, membuatnya sedikit ragu.


"Teman?" tanya Jace sembari mengulurkan tangannya ke arah Lily. Persis seperti yang pernah Lily lakukan waktu itu kepada Jace.


Lily hanya menatap tangan Jace, tanpa berniat menyambut. Mengendikkan dahi, tatapannya berpaling. "Entahlah, akan kupikir-pikir lagi setelah ini," jawabnya kemudian bergegas pergi.


"Ayo, Maya, cepat selesaikan pekerjaanmu atau kau tak akan mendapat jatah makan siang," ajak Efron untuk meninggalkan Jace yang masih terpaku.


Jace menurunkan tangannya dengan hampa. Ia terkekeh, merasa miris dengan dirinya sendiri. "Baiklah, Jace. Sepertinya perjuanganmu masih kurang."