
Wolfbane Poison
PAGI DI RUANG MAKAN tidak pernah setenang ini. Tidak ada satu siswa pun yang bersuara. Semuanya menikmati sarapan dalam diam. Tidak ada guyonan pagi yang kadang mewarnai pagi siswa Maple Academy.
Elle menatap kursi kosong di sebelahnya dengan hampa. Ia menyelesaikan sarapannya tanpa selera. Meskipun waktu sarapan masih panjang, gadis berkacamata itu bergegas meninggalkan ruang makan. Beberapa siswa yang melihatnya hanya berbisik.
“Pasti berat baginya,” kata salah satu siswa dari ras Fallen Angel.
“Sstt, kita tidak usah banyak berkomentar.” Suara lain dengan tak peduli terdengar memperingatkan.
Elle berusaha untuk tidak mengacuhkan bisikan yang sempat ia dengar sebelum menghilang di balik pintu. Ia langkahkan menuju salah satu tempat favoritnya, ruang ramuan. Sekelebat, ia teringat tragedi tadi malam.
Elle segera berjalan ke arah suara begitu dentuman itu terdengar. Ruang berkumpul Asrama Fantasi seketika penuh dengan banyak siswa. Semuanya hanya diam mematung di tempat. Tak mungkin baginya untuk bisa mengetahui apa yang terjadi, ia memutuskan untuk menghindari kerumunan, Elle berjalan melewati para siswa sambil lirih mengucapkan permisi. Langkahnya terhenti ketika seorang gadis berambut merah bergelombang meraih tangannya.
“Dia temanmu, bukan?” Tangannya menunjuk pada sosok rambut abu-abu yang terbaring di tengah ruang berkumpul.
Elle menutup mulutnya tak percaya. Buku yang sedari tadi dibawanya terjatuh begitu saja. Ia gegas menghampiri tubuh yang terbaring itu. Rambut abu-abu gelap itu hanya milik Peony seorang. Begitu tangannya hendak merengkuh Peony, satu suara menahan gerakannya.
“Tunggu. Jangan disentuh!”
Pintu terbuka dan cahaya biru sebesar kepalan tangan melayang masuk diiringi serbuk berkelip. Cahaya itu kemudian perlahan membentuk siluet biru terang seukuran manusia. Para siswa segera mundur dan menundukkan kepala.
“Tahan langkah Anda, Miss Thompson. Jangan menyentuhnya, Madam Polina sudah mengutus perinya menuju kemari.” Kepala Asrama Fantasi mencoba untuk menenangkan Elle yang masih ingin mendekati Peony.
Tidak lama, muncul beberapa cahaya berwarna keemasan yang kemudian berubah menjadi Penyembuh. Mereka adalah peri hutan yang dibina oleh Madam Polina sebagai asistennya. Empat Penyembuh itu segera memblokade area sekeliling Peony. Dua di antara mereka mulai menyentuh dan mengubah posisi gadis Werewolf itu.
“Anak-anak! Segera masuk ke kamar kalian sekarang juga. Jam malam dimajukan. Tidak boleh ada yang keluar kamar sampai pagi, dan tidak ada yang saling mengunjungi kamar.”
Koor kekecewaan menggema seketika. Para siswa segera bubar begitu Miss Nania memperlihatkan tatapan tajamnya.
Saat siswa lainnya beranjak meninggalkan ruang berkumpul, Elle masih bergeming di tempatnya. Tatapan matanya tertuju kepada para penyembuh yang masih memeriksa sahabatnya. Kini ia dapat melihat wajah Peony setelah diubah posisinya menjadi telentang.
Wajah pucat Peony kini kini tampak membiru. Elle dapat melihat di sekitar leher sahabatnya ada garis merah dan biru yang tampak hidup. Gadis itu bahkan mengedipkan matanya berulang kali. Ia merasa berhalusinasi melihat garis-garis itu tampak bergerak meski perlahan.
“Miss,“ panggil Elle khawatir.
Miss Nania yang tampak baru menyadari Elle masih di sekitar ruang berkumpul mendekatinya. “Kembalilah ke kamarmu. Temanmu akan baik-baik saja,” pinta Miss Nania.
“Tapi, garis biru-merah itu ...”
“Kau dapat melihatnya?” tanya salah seorang Penyembuh. Elle mengangguk.
“Seorang nature gift.” Miss Nania mengungkapkan kekuatan yang dimiliki Elleanor. Kemudian kepala Asrama yang cantik itu menatap muridnya dan berkata, “Miss Thompson, sebaiknya kau segera kembali ke kamarmu. Temanmu sekarang berada dalam penanganan yang tepat.”
Setelah memandang Miss Nania lama, akhirnya Elle memilih untuk menuruti permintaan kepala asramanya. Ia membalikkan badan dan beranjak menuju kamar.
“Semua siswa Werewolf ?”
Elle mendengar nada tak percaya dalam pertanyaan Miss Nania pada salah satu Penyembuh.
Elle menaikkan kacamatanya dan menghapus air mata dengan punggung tangan kala ia mendengar pintu terbuka.
“Wah, saya merasa tersanjung. Sepagi ini sudah ada yang siswa yang siap belajar ramuan.”
Gadis itu terlonjak di atas kursinya kala menyadari The Prof masuk ke dalam kelas. “Maaf, Prof, saya pikir tidak ada orang di sini.” Elle membungkukkan badan memohon maaf. Berhadapan dengan guru ramuan, selalu membuat Elle merasa tak nyaman. Bukan karena sikap The Prof yang tak ramah. Hanya saja gaya berpakaian The Prof yang tidak biasa membuat Elle selalu berjengit tiap melihatnya.
The Prof hampir tidak pernah membuka tudung kepalanya. Selama mengajar, ia tak pernah melepaskan cloak besar yang ia kenakan. Meski begitu, pelajaran ramuan tetaplah favorit Elle. Selain karena ia merasa dekat dengan bahan utamanya dari ramuan itu sendiri, juga karena The Prof mengajarkan mereka dengan bahasa yang mudah dipahami. Tidak seperti Mr. Samael yang selalu saja menyampaikan materi dengan penuh teka-teki.
“Bagaimana kabar kawanmu?” tanya The Prof sambil menarik kursi di mejanya.
“Saya belum tahu, Prof. Nanti siang saya akan menjenguknya.” Elle menatap The Prof ragu, “Maaf, Prof., bolehkah saya bertanya sedikit?”
“Ya, “ jawab The Prof sambil lalu.
“Semalam saya melihat garis biru-merah di leher teman saya. Tiba-tiba penyembuh bertanya, ‘apakah saya melihatnya?’. Yang mau saya tanyakan adalah, tidak semua orangkah yang bisa melihat garis itu?”
The Prof terdiam sebentar. Di balik tudungnya, Elle merasa ia sedang ditatap tajam oleh guru ramuannya ini. Alih-alih menatap balik, Elle memilih untuk menundukkan kepala dan memperbaiki posisi kacamatanya yang kerap kali turun jika ia sering menunduk.
Elle mengangguk.
“Bergerak perlahan?”
Lagi Elle mengangguk.
“Sayang sekali,” bisik The Prof sambil menggeleng pelan.
“Eh?” Elle tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh gurunya.
“Garis biru-merah ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya oleh tanaman. Dan efek ini hanya bisa dilihat oleh mereka yang dianugerahi kekuatan oleh alam. Seperti dirimu.”
Selepas makan siang, Elle benar-benar berangkat menuju rumah sakit. Ia sengaja membawa kembang Lily berwarna putih sebagai buah tangan. Di depan pintu bangsal, ia berpapasan dengan Madam Polina yang hanya menganggukkan kepala begitu melihatnya.
Elle meletakkan bunga yang ia bawa ke dalam vas di atas nakas. Ia membawa vas itu ke dalam kamar mandi karena ingin diisikan air. Saat keluar dari kamar mandi itu, barulah Elle menyadari bahwa di bangsal itu tidak hanya Peony seorang yang sedang dirawat. Ia tidak menyadari sebelumnya karena setiap ranjang tertutup tirai.
Ranjang yang paling dekat kamar mandi kini tirainya terbuka, sehingga Elle sempat melihat dua siswi yang sedang mengelilingi ranjang. Salah seorang dari siswi itu berambut putih dan terlihat dewasa, sementara yang lainnya siswa berambut hitam yang tampak sendu menatap seseorang yang berbaring di atas ranjang.
Elle mengenal keduanya, Amara si putri elf, dan Shalima, Queen of Regeneration. Gadis itu menggigit bibir begitu menyadari bahwa yang terbaring itu adalah Valdref. Werewolf yang sering terlihat bersama mereka.
Dengan tergesa, Elle melangkah menuju ranjang Peony. Segera ia letakkan vas dan memasukkan bunga Lily yang dibawa. Demi sedikit privasi, Elle menarik tirai untuk menutupi ranjang sahabatnya. Sekilas ia sempat melihat salah satu ranjang di sisi yang berlawanan dari ranjang Valfred. Mestilah ranjang itu diisi oleh Werewolf lainnya. Elle mengembuskan napas prihatin. Tidak ada seorang pun yang menjenguk Werewolf itu. Bahkan Elle sendiri kesulitan untuk mengingat nama dari siswa itu. Entah karena ia yang memang tidak banyak bergaul selain dengan Peony atau karena siswa itu yang lebih sering menarik diri. A Pitty Prince, julukan Peony kepadanya.
Peony masih terbaring menutup mata. Elle mengenggam tangan sahabatnya erat. Terngiang ucapan Peony tempo hari sepulang dari latihan pengembangan bakat.
“Seharusnya kau berhati-hati dalam berbicara, Peony. Lihat dirimu sekarang,” lirih Elle. “Kumohon, jangan tidur lama-lama. Kau harus bangun. Aku tidak mau melihatmu seperti ini. Kau tahu, kan aku tidak punya teman selain dirimu.”
Setelah 15 menit bermonolog di samping ranjang Peony, Elle memutuskan untuk kembali ke asrama. Ia harus bersiap untuk kelas Herbology. Gadis itu menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Satu hari yang sama bertemu satu guru yang sama dengan pelajaran yang berbeda. Namun, sekali lagi Elle tidak menyesalinya. Herbologi adalah mata pelajaran yang sempurna untuknya.
“Dengarkan aku, kamu pasti akan segera sadar! Jadi, aku pergi dulu. Nanti aku kembali lagi kemari.”
Gadis berkepang satu itu pun beranjak meninggalkan bangsal. Dilihatnya ranjang Valfred masih ditemani oleh kedua sahabat lintas ras.
Saat Elle keluar dari bangsal tempat para Werewolf dirawat, ia mendengar suara-suara dengan nada tinggi. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan tertarik untuk mendengarkan obrolan itu karena salah satu suara itu menyebutkan tentang wolfbane.
Bukankah itu tanaman terlarang? Terutama dengan adanya ras Werewolf yang bersekolah di sini? Pikir Elle. Rasa penasaran, membuat ia berjingkat dan mendekati arah suara yang berasal dari kantor Madam Polina.
“Jadi benar penyebabnya adalah wolfbane?” tanya Miss Grewynn.
Madam Polina mendesah, lalu membenarkan. “Iya. Aku sudah memastikan hal itu. Ditambah dengan garis biru-merah yang muncul melingkari leher mereka.”
“Bukankah ada antiracun untuk wolfbane?” Terdengar suara wakil kepala sekolah.
Elle menahan napas mendengar ada kesempatan bagi Peony untuk sembuh.
“Seandainya bukan Werewolf yang terkena racun wolfbane, aku masih bisa menyiapkan ramuan penawarnya. Namun ...”
“Apa?” tanya Miss Elafir penasaran.
“Werewolf hanya punya waktu dua malam sampai garis biru-merah itu melingkari leher dengan sempurna. Setelah itu, tidak ada kesempatan. Kecuali ... Nightshade!”
“Mungkinkah?” Madam Polina mengutarakan kesangsiannya.
“Ada. Namun, perjalanan ke sana cukup sulit. Kita perlu seseorang yang paham tentang tanaman ini, karena saya sendiri masih kesulitan untuk membedakannya.”
“Apakah The Prof tidak bisa membantu?” Miss Nania mencoba memberikan saran.
“Entahlah, tapi dia sendiri begitu tertutup. Aku merasa segan untuk meminta bantuannya.”
“Bukankah ada seorang siswa?” Madam Polina mengajukan tanya.
“Siapa?” tanya Miss Grewyinn.
“Penyembuhku bilang, seorang siswa bisa melihat garis biru-merah itu.”
Miss Nania tercekat saat menyadari siapa siswa yang dimaksud.