
The Last
ELLE MASIH DUDUK di kursi yang ada di sebelah ranjang Adniel. Sudah lebih dari seminggu remaja laki-laki terbaring. Sudah seminggu ini juga ia menjadi pengunjung tetap di klinik sambil membawa bunga setiap harinya. Ia tak hanya menjenguk Peony yang sudah sadar, tetapi juga berkunjung ke klinik Fallen Angel. Madam Polina bahkan sudah hapal dengan semua jam kunjungan gadis itu.
Pemulihan Peony membutuhkan waktu lebih lama karena lingkaran biru dan merah yang serupa sulur di lehernya sudah hampir membentuk kalung yang sempurna. Proses pelunturan lingkaran itulah yang membuatnya lama dirawat di klinik.
“Menjenguk Adniel lagi?” tanya Madam Polina ramah.
“Iya, Madam.” Elle tersenyum ramah. Setelah menyusun bunga-bunga itu Elle kembali duduk di kursi. Ia membalikkan badan saat memdengar langkah mendekat. Sebuah ******* lega meluncur dari mulutnya.
“Kupikir siapa?” gerutu Elle.
Sementara itu Peony terkekeh. “Jadi, rupanya bukan hanya aku seorang pasien favoritmu?”
Elle tersipu malu mendengar kalimat dari sahabatnya. “Bukan begitu. Hanya saja aku—“
Peony mengibaskan telapak tangannya. “Sudahlah. Aku tak peduli dengan alasanmu. Sekarang ceritakan bagaimana petualanganmu kemarin. Jujur saja, aku sudah sangat penasaran dengan ceritamu, tetapi kamu tak pernah lama di bangsalku.”
Elle tersenyum. Ia senang tidak kehilangan sahabatnya. Akhirnya ia menceritakan ulang perjalanannya menuju Blackcave. Elle bahkan bercerita saat-saat Peony mulai jatuh koma, yang disambut dengkusan tak suka dari putri Werewolf itu.
Peony adalah pendengar yang baik. Ia menanggapi cerita Elle dengan beragam ekspresi. Gadis berambut abu-abu itu tampak terganyut dalam kisah yang dituturkan sahabatnya. Bahkan sampai Elle menceritakan soal Sandy, Peony sampai menutup mulutnya tak percaya.
“Kau memiliki hewan kontrak seekor puma? Aku tak percaya!” seru Peony.
“Aku juga tak percaya.” Suara lirih dari kepala ranjang membuat kedua gadis itu terlonjak kaget.
“Kau sudah sadar?” pekik Elle tak percaya.
“Ish.” Elle memukul lengan Adniel pelan. “Jangan bercanda. Tunggu di sini. Biar kupanggil Madam Polina.”
Peony menahan Elle. “Kau diam di sini. Temani dia yang baru sadar. Biar aku yang panggil Madam Polina.”
Sepeninggal Peony, keduanya menjadi canggung. Mereka tidak ada yang mencoba untuk bersuara. “Benarkah yang kau ceritakan tadi?” tanya Adniel berusaha memecahkan kesunyian.
“Tentu saja,” kata Elle sewot. Ia jelas tidak menyukai jika ada yang meremahkannya.
Adniel tersenyum kaku. “Maafkan aku. Kurasa itu berarti akulah penyebab semua insiden itu. Seandainya saat itu aku bisa lebih mengontrol pemakaian energiku, tentu tidak akan terjadi keracunan. Para siswa Werewolf tidak akan mengalami koma yang panjang.”
“Aku tidak setuju,” sergah Peony yang muncul tiba-tiba.
“Tentu saja aku juga tidak setuju. Kau bukan penyebabnya. Roh jahat itulah penyebabnya.”
“Bukan itu, El,” kata Peony.
“Maksudmu?”
“Aku malah bersyukur mengalami koma.”
“Peony, “ tegur Elleanor.
“Aku bersyukur karena aku bisa mendapatkan libur sekolah tanpa perlu pura-pura sakit.” Seketika ketiga siswa itu tertawa berbarengan.
Di balik tawanya, Elleanor diam-diam bersyukur. Ia tidak hanya memdapatkan sahabatnya kembali. Gadis itu bahkan mendapatkan seorang teman baru. Bahkan lebih dari itu, kini ia memiliki seekor hewan kontrak yang sangat tidak biasa. Seekor puma. Keputusannya menerima tawaran bersekolah di Maple High School Academy bukanlah keputusan yang buruk. Ia senang sekali menjadi murid di akademi ini, meskipun bayang-bayang Meteor Emas masih menganggu pikirannya. Meski begitu, asalkan ia memiliki teman-teman, mereka akan menghadapinya bersama-sama.