
Happy reading
Audrey menatap Mama dan papanya yang masih salah tingkah hingga akhirnya Mama Olivia bangun dari duduknya dan memeluk tubuh kedua anaknya.
"Ouhh maafkan mamamu ini karena sudah memberikan contoh yang tidak baik buat kamu sayang. Maafkan Mama," ucap Mama Olivia pada Audrey yang masih menatap mereka bingung kemudian tersenyum dengan tipis.
"Mama papa so sweet banget, Audrey jadi mau juga gituan," ucap Audrey yang membuat mereka semua terkejut dengan apa yang diucapkan Audrey.
Sebenarnya Audrey hanya bercanda saja, ia tahu konsekuensinya jika seperti itu pada seseorang yang bukan halal untuk disentuh.
"Sayang."
"Hehehe bercanda doang kok Mah."
Mama Olivia menghela nafasnya begitupun dengan Papa Xander. Sedangkan Arka yang melihat itu hanya menggeleng, adik angkatnya ini memang jahil dengan sangat bahkan yang pembahasan sensitif bagi mereka.
"Mah, Pah. Arka mau ke kamar dulu ya. Gerah mau mandi setelah itu tidur," pamit Arka pada orangtuanya dengan langkah gontai Arka berjalan menuju lift rumah itu.
"Eh, setelah mandi kita makan malam bersama ya. Tadi Mama udah masak banyak buat kita," ucap Mama Olivia pada putra sulungnya.
"Hmm."
Arka berjalan masuk lift dan menekan angka 4 di sana. Sedangkan Audrey yang masih duduk dan meletakkan makanan yang tadi ia bawa itu di meja.
"Kamu bawa aja, Sayang?" tanya Papa Xander pada Audrey.
"Makanan, Pah. Tadi Drey sama Daddy berhenti di pasar malam cuma sebentar beli makanan makanan ini," jawab Audrey mengambil kue cubit itu dan memakannya.
Mama yang melihat itu juga mengambil makanan yang ada di kresek itu.
Walau mereka bisa terbilang sangat mampu dan juga kaya raya, tapi mereka tak malu jika harus memakan makanan pinggir jalan seperti ini.
Setelah Audrey selesai makan, ia pamit pada kedua orangtuanya karena ingin meletakkan tas sekolahnya ini di kamar.
****
Setelah selesai mandi, Audrey keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk kimono berwarna biru miliknya.
"Seger banget kalau udah mandi di rumah. Kalau di kantor tadi rasanya kayak ada yang kurang gitu," gumam Audrey dengan langkah santainya mulai berjalan menuju walk in closed dan mengambil baju tidur bermotif doraemon itu.
"Doraemon mulu sih, bosen gue. Nanti gue ajak Daddy ah buat beli piyama," ucap Audrey lagi dengan senyum langsung memakainya.
Hingga ia melihat sebuah kado di kotak bludru berwarna hitam itu. Ia kemudian tersenyum dan mengambilnya.
"5 hari lagi, Daddy ulang tahun. Semoga Daddy suka sama hadiah yang aku kasih ini."
Kemudian ia kembali meletakkan kotak itu di laci meja riasnya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?"
"Kakak, Dek."
"Masuk Dad, kenapa?" tanya Audrey setelah melihat Arka sudah memakai pakaian santainya.
Arka memang tak pernah memakai baju piyama, karena setiap tidurpun Arka akan melepas bajunya. Dan kebiasaan buruk itu selalu bertahan hingga umurnya yang sudah 30 tahun ini.
"Disuruh Mama buat panggil kamu. Kenapa lama banget sih cuma mandi aja?" tanya Arka yang berdiri di depan pintu itu dengan bersedekap dada.
"Hehehe biasalah cewek pasti lama di kamar mandi," jawab Audrey menghampiri Arka yang sedang menunggunya.
"Nanti Audrey tidur sama Daddy ya," pinta Audrey dengan suara manja. Arka yang mendengar itu hanya mengangguk, tak teran kenapa setiap mereka tinggal di rumah ini Audrey selalu ingin tidur bersamanya.
"Iya."
Keduanya turun dari kamar menuju ruang makan, Papa dan Mama yang sudah menunggu mereka.
"Malam Mama, Papa," sapa kedua orang itu pada Mama dan Papanya.
"Malam sayang."
"Ayo makan malam dulu, habis ini ada yang ingin Mama sama Papa ingin membicarakan hal serius sama kalian," ucap Mama yang dianggukkan oleh sang suami.
"Tumben mau bicara serius, biasanya kalau mau ngomong ya ngomong aja. Gak biasa biasanya kalian ngumpulin kita bahkan nyuruh kita pulang ke rumah ini?" tanya Arka yang menatap tak biasa pada orangtuanya.
"Sekali kali kita ngumpul bareng kayak gini, Ar. Semenjak kamu punya rumah sendiri kamu jadi jarang di rumah ini. Bahkan Audrey juga lebih sering menginap di rumah kamu. Mama kesepian Ar, kamu tidak merasakan apa yang Mama dan Papa rasakan selama ini," ucap Mama mengambilkan makanan untuk anak anaknya yang duduk bersebelahan itu.
Arka dan Audrey yang bersalah pada Mama dan Papanya itu langsung meminta maaf dengan tulus. Bukan apa apa Audrey selalu menginap di rumah baru Arka, karena jarak sekolahan dengan rumah Arka lebih dekat daripada rumah utama ke sekolah.
"Mam."
"Gak apa apa, lagipula masih ada Papa yang udah pensiun jadi CEO. Walau kadang Papa masih ikut campur dengan perusahaan itu," jawab Mama dengan senyum pada suaminya.
"Mam maafin kita."
"Iya sayang. Sudah jangan bahas itu dulu, ayo makan aja. Mama sama Papa udah lapar menunggu kalian pulang tadi," ajak Mama yang membuat Audrey dan Arka mengangguk.
"Heem mari makan," ucap Papa Xander pada mereka.
Makan malam yang selama ini selalu ditunggu wanita paruh baya itu akhirnya terlaksana. Ia berharap semoga keluarganya tetap seperti ini tanpa ada perselisihan apalagi dendam.
"Dad, aku mau udangnya," ucap Audrey menujuk udang asam manis yang belum terkupas itu.
Arka yang paham akan maksud sang adik itu langsung mengambil udang asam manis itu dan mengupasnya untuk Audrey.
"Makan yang banyak, nanti kalau kurus kakak yang bakal dicincang sama Mama dan Papa. Dia pikir nanti kakak gak kasih kamu makan lagi," ucap Arka menyindir orangtuanya yang sedari tadi menatap mereka. Arka bukannya tak tahu kenapa Mama dan Papanya menatap Arka dan Audrey dengan senyum.
"Kan Daddy menang gak pernah kasih makan Audrey," jawab Audrey yang memang jujur.
Selama di rumah memang Arka jarang makan bersama Audrey tapi jika di luar mereka akan selalu makan bersama.
"Apa!! Jadi benar kamu gak dikasih makan sama kakak kamu hah?"
Audrey dengan polosnya mengangguk yang membuat Arka menatap adiknya dengan tatapan datar.
"Hei kapan kakak gak kasih makan kamu?" tanya Arka dengan suara datarnya.
"Di rumah Daddy gak pernah ajak Audrey makan malam dan sarapan. Audrey selalu sendiri, apalagi setiap hari Audrey harus bersama bibi terus," jawab Audrey dengan jujur.
Arka yang mendengar jawaban Audrey itu tiba tiba merasa bersalah karena memang benar apa yang diucapkan Audrey itu benar.
"Maafin kakak."
"Gak apa apa lagian, dengan begitu Audrey bisa makan bareng Daddy di luar. Kadang Audrey malas masakan koki di rumah, enak juga sate di pinggir jalan."
Arka tersenyum mendengar itu, kemudian ia kembali mengupaskan udang itu untuk Audrey. Melihat kedekatan mereka membuat Mama Olivia dan Papa Xander tersenyum melihatnya.
Bersambung