
Happy reading
Akhirnya setelah berberapa saat mereka melakukan hal yang harusnya belum boleh terjadi itu. Kedua manusia yang memiliki perbedaan usia itu langsung terbaring dengan nafas yang saling bersaut.
"Kakak bakal banget sih."
"Soalnya kamu bikin aku naf*u tiap hari," jawab Arka memeluk tubuh Audrey yang polos bagian atas saja sedangkan yang bawa masih aman.
Keringat yang membasahi tubuh keduanya itu mereka biarkan saja. Karena saat ini mereka masih ingin memeluk seperti ini. Apalagi badan Arka yang berkeringat dan membuat kalung yang ada di leher Arka itu tampak lebih menggoda lagi.
Audrey menyentuh kalung yang ada di kalung itu, ia tak tahu jika hal itu malah membuat Arka gelisah nantinya.
"Cocok kok dipakai kakak, aku harap ini bisa bertahan berberapa bulan atau bahkan aku berharap itu tahunan," ucap Audrey mengelus kalung itu yang membuat tangan Audrey menyentuh leher Arka.
"Aku bakal pakai kok."
Arka juga melihat kalung dan gelang yang dipakai Audrey itu sangatlah indah. Arka tahu jika kalung yang Audrey pakai ini jika di jual harganya lumayan. Tapi Arka tak akan bilang itu, biarlah Audrey menganggap ini kalung biasa yang harganya murah.
"Sayang, dada kamu enak banget sih di keny*t. Aku jadi mau lagi, boleh ya?" tanya Arka dengan muka melas.
"Dasar pak tua, kalau udah tahu rasanya aja minta terus," sindir Audrey mencubit hidung mancung itu.
"Maklum gak pernah rasain ini, jadi sekali coba langsung suka. Dan nagih," jawab Arka mengelus dada yang terdapat banyak bekasnya itu.
Dengan sangat semangat Arka mengambil satu dada dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Audrey yang merasa geli dengan apa yang dilakukan Arka itu hanya menghemat rambut hitam milik sang kakak. Menyalurkan rasa yang biasa dalam dirinya.
"Ahh sayang jangan digigit ya, sakit ini," ucap Audrey yang membuat Arga memerankan hisapannya.
Laki-laki itu terus menyusu pada Audrey yang sedang terbaring menghadap dirinya.
Plup
"Aku pengen cepat nikah," ucap Arka tiba tiba yang membuat Audrey kaget tapi ia juga langsung malu.
"Tapi aku mau setiap hari begini sayang. Kamu tidak tahu bagaimana tersiksanya aku setiap bangun selalu ada kamu yang memakai baju seksi dan menggoda itu?" tanya Arka dengan nada berat.
Arka tentu laki-laki normal yang menginginkan hal lebih dari ini, ia ingin merasakan surga dunia yang seperti sahabat-sahabatnya katakan padanya.
Tapi apalah daya aku terima kasih kecil untuk diajak menikah sekarang. Tapi kan Audrey sudah cukup umur saat ini, umurnya hampir 18 tahun dan itu sudah cukup untuk menikah.
Kalau masalah anak, mereka bisa menundanya sampai Audrey siap dan lulus sekolah tapi saat ini ia hanya memikirkan untuk cepat menikahi Audrey.
"Ouhh masalah itu, aku cuma mau kakak tertarik aja sama aku. Karena aku sudah lama menyukai kakak, bahkan saat aku kecil aku sering mengintip kakak kalau lagi mandi."
Mendengar ucapan Audrey yang cukup frontal membuat Arka malu. Jadi sejak kecil Audrey sudah tahu tentang tubuhnya, tapi kenapa ia tak tahu apa ia kurang ahli daripada Audrey.
"Jadi?"
"Audrey sudah pernah lihat milik kakak yang besar."
"Audrey siapa yang mengajari kamu begini?" tanya Arka dengan lembut.
Ia terkejut ternyata adik kecilnya ini tak polos seperti yang ia pikirkan selama ini. Bahkan Arka berfikir adiknya ini belum terjamah oleh pikiran kotor seperti itu.
"Gak ada sih yang ngajari, soalnya aku belajar dari kakak."
Karena tak ingin menambah pertanyaan yang membuat otaknya tak waras Arka langsung menyuruh Audrey untuk mandi dulu.
Gadis itu lebih dahulu melayangkan kecupan lembut di bibir sang kekasih kemudian berlari menuju kamar mandi.
Arka mematung di tempat tidur, bahkan ia bisa merasakan jika jantungnya ini berdetak kencang. Ia tak bisa terus begini, apa ia perlu memeriksakan diri ke dokter.
Membayangkan tingkah laku Audrey yang makin membuatnya gemas itu. Ia ingin cepat cepat menghalalkan gadis kecil itu.
Bersambung