Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Tidur Bersama



Happy reading


"Bagaimana Dad?" tanya Audrey pada Arka lagi.


"Biar dijelaskan Mama besok aja. Ini udah malah ayo kita tidur, jangan mikir yang enggak enggak dulu hmm."


Arka membawa Audrey untuk berbaring di ranjang Arka yang king size itu. Dengan posisi Audrey berada di dalam dekapan sang kakak.


"Dad, soal surat wasiat papa Maxim gimana?" tanya Audrey dengan lirih. Mungkin Audrey juga sudah mengantuk karena ini juga sudah waktunya ia tidur.


"Kita harus menjalankannya, Dek. Kamu tahukan surat wasiat itu adalah keinginan terakhir orangtua kamu agar kamu menikah. Dan jika tidak kamu lakukan maka kamu akan berdosa begitupun dengan kakak."


Audrey mengangguk dengan senyum manisnya ia memeluk tubuh Arka. Ia tak bisa terus bertanya seperti ini, nanti kesannya malah dia yang ngebet pengen kawin.


"Hmm."


"Yang penting kita sudah tahu isi hati kita masing masing. Jadi kamu jangan pernah selingkuhi aku ya. Kamu tahu aku orangnya gimana kan?" tanya Arka dengan mata terpejam. Ia sangat menikmati aroma wangi rambut Audrey.


"Emang Daddy udah nyatain cinta sama aku sampai kakak bilang jangan selingkuhin Daddy? Ingat ya Dad, seorang wanita itu butuh kepastian bulan cuma bualan semata," ucap Audrey yang membuat Arka tersenyum.


"Kamu maunya gimana?" tanya Arka menggoda adiknya ini.


Dengan adanya Audrey, hidup Arka sekarang jauh lebih berwarna daripada dulu saat setelah ia dikhianati oleh pacarnya eh mantan pacar maksudnya.


"Ih gak peka dasar," kesal Audrey melepas pelukan itu dan mengambil bonekanya kemudian memeluk boneka panda itu.


Arka yang melihat tingkah kekanak kanakan Audrey itu harus bisa mengimbanginya. Karena apa, karena tugas seorang pasangan juga saling melengkapi atas kekurangan dan juga kelebihan pasangannya.


Dipeluknya tubuh Audrey dari belakang dengan lembut, ia mengelus perut rata Audrey yang membuat Audrey melepaskan tangan Arka di perutnya.


"I love you."


Deg


Audrey yang mendengar itu langsung membalikkan posisinya dan melihat ke arah Arka yang seolah tak berkata apa apa.


"Apa, Daddy tadi ngomong apa?" tanya Audrey yang ingin kembali memastikan apa yang di ucapkan Arka tadi.


"Aku ngomong apa, dek? Yang mana ya?" tanya Arka yang pura pura bodoh dengan apa yang ditanyakan Audrey.


"Yang tadi Dad, yang tadi itu loh. Saat Daddy peluk perut Drey," ucap Drey yang tak sabar ingin mendengar kata yang keluar dari bibir Arka itu lagi.


"Kakak gak ngomong apa apa sama kamu. Kamunya aja ngambek gini," ucap Arka dengan senyum.


Sungguh bukan sifatnya seperti ini pada gadis yang notabene adalah adik angkatnya. Arka yang biasanya tegas dan dingin jika berada di kantor hanya agar disegani oleh para bawahannya kini tak ada lagi jika bersama Audrey.


"Daddy."


"Hmm."


"Udah malam, Kakak mau tidur. Kamu mau tidur disini atau tidur sama boneka kamu aja hmm?" tanya Arka saat merasa boneka panda Audrey sangat menyusahkan saja.


"Ini boneka dari Daddy saat Drey umur 16 tahun. Jadi ini juga bakal jadi teman main Drey selama Drey tidur," jawab Audrey mengambil bonekanya dan meletakkannya di pinggir sedangkan Audrey tidur di antara boneka dan juga Arka.


Arka juga tak melepaskan celana panjangnya karena ia tak mau adiknya ini berpikir yang tidak tidak.


"Aku tak menyangka aku akan jatuh hati pada adik angkatku sendiri."


Apalagi Arka sedari dulu sudah mencoba menghilangkan rasa yang timbul karena rasa kebersamaan itu. Dan ia tak menyangka jika ia akan dipermudah seperti ini. Dengan surat wasiat orangtua Audrey membuat ia lebih dekat lagi dengan Audrey.


Arka meletakkan lengan kanannya agar menjadi bantalan Audrey sedangkan ia memeluk perut Audrey dengan lembut. Mendekatkan tubuh mereka dengan nyaman.


"Apa sih yang dipakai Audrey sampai sampai aku kecanduan aroma tubuh dan rambutnya ini?" tanya Arka dengan senyum manisnya menghirup aroma wangi sang adik.


Arka mengelus lembut rambut sang adik yang tak lama lagi akan menjadi bagian dari jiwanya ini.


"Aku harap kamu juga lebih mencintai kakak, Drey."


Karena ngantuk apa memang ia nyaman dipeluk dan memeluk tubuh Audrey. Akhirnya Arka terlelap dengan nyaman, bahkan tangan ia sadari tangan kiri Arka itu sudah masuk ke dalam baju piyama Audrey seraya mengelus punggung Audrey yang polos.


****


Sedangkan di sisi lain, orangtua Arka sedang berada di kamar dan membaca surat yang tadi ditinggalkan oleh Audrey dan Arka ralat hanya Mama Olivia saja yang membaca.


"Kenapa sih kamu dari tadi diam aja?" tanya Papa Xander menatap istrinya yang sejak masuk kamar tadi diam aja.


Mama Olivia menatap suaminya yang sedang membaca buku dengan kaca mata baca yang bertengger di hidung mancungnya.


Mama Olivia meletakkan kertas itu di nakas dekat lampu tidur dan menatap suaminya.


"Aku takut kalau Audrey sama Arka gak mau menikah. Audrey masih muda sedangkan Arka sudah terlalu tua untuk Audrey," ucap Mama Olivia dengan wajah gusar.


Walau bagaimanapun perjodohan antara Arka dan Audrey sudah terjalin sangat lama. Mereka sudah janji untuk menikahkan Audrey dengan Arka suatu saat nanti.


Maka dari itu dulu sebelum kecelakaan berlangsung dan menewaskan orangtua Audrey, Papa Maxim dan Mama Rania menitipkan Audrey kecil pada mereka. Supaya saya Audrey besar bisa langsung menikahkan Audrey dan Arka.


"Aku yakin Arka dan Audrey akan memiliki keputusan yang terbaik, Mah. Kamu jangan negatif thinking aja jadi ibu. Siapa tahu besok kita dapat kabar bahagia," ucap Papa Xander melepas kaca mata bacanya dan juga menutup buku yang ia baca.


Ia meletakkan kedua benda itu di meja samping ranjang kemudian menatap sang istri yang sudah membaringkan badannya menghadap kearahnya.


"Semoga saja mereka menerima perjodohan ini. Aku juga sangat berharap putri kecil kita itu menjadi anak menantu kita, karena dengan begitu kita akan mendapatkan cucu yang lucu lucu dan menggemaskan," ucap Mama Olivia dengan senyum manisnya.


Mama Olivia ingin sekali menggendong kembali bayi bayi lucu yang akan membuat rumahnya kembali ramai. Mengingat rahimnya dulu yang diangkat membuat Mama Olivia sedih kembali. Bayi yang dulu di idam idamkan mereka harus pergi karena kecerobohan Mama Olivia.


Walau begitu Papa Xander tak pernah menyalahkan istrinya karena hal itu. Papa selalu menyemangati istrinya jika semua ini sudah takdir yang maha kuasa.


"Tuh kan pasti setiap bahas bayi kamu selalu sedih. Udah sayang, jangan sedih lagi. Kita sudah bahagia dengan adanya Arka dan Audrey hmm. Dan gak lama lagi bayi bayi mereka akan memenuhi rumah ini."


Mama Olivia seketika tersenyum mengingat itu, ia mengangguk dan menatap suaminya dengan lembut.


"Jatah Papa hari ini kan Mah?"


Bersambung