Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Kupon Berhadiah



Happy reading


Audrey yang melihat sahabatnya duduk di kursi taman menghadap ke kolam ikan itu langsung berlari menuju Ica.


"Ica sayang," panggil Audrey yang membuat Ica langsung menghapus air matanya dengan cepat.


"Eh kenapa kok nangis?" tanya Audrey dengan panik. Padahal tadi ia tak keras menepuk pundak Ica.


"Gak apa apa kok, Drey. Kenapa?" tanya Ica mencoba untuk tersenyum kepada Audrey.


"Kamu kenapa? Kamu gak bisa bohong sama aku. Kenapa kamu nangis? Lagi berantem sama Dito atau gimana?" tanya Audrey dengan rentetan pertanyaan yang membuat Ica tersenyum tipis.


Audrey memang sahabatnya yang paling baik, yah karena mereka tak memiliki sahabat lagi selain Audrey.


Karena dulu mereka pernah punya teman, tapi yang satu dengan teganya merebut pacar Ica membuat Audrey juga kesal dengan perangai sang sahabat itu.


Dari SMP sampai SMA kelas 2 ini, Audrey juga hanya memiliki satu sahabat yaitu Ica. Tapi kalau teman teman biasa mah banyak.


"Aku gak bisa cerita sekarang, Drey. Masuk kelas aja yuk," ajak Ica dengan senyum manisnya.


"Aku gak tahu kamu sedih gara gara apa. Tapi jika benar Dito yang udah buat kamu nangis kayak gini. Aku gak akan tinggal diam, walau badanku kecil tapi aku masih bisa banting tu cowok brengsek," ucap Audrey dengan amarah yang berkobar seperti ingin memakan orang.


Ica yang mendengar itu hanya tersenyum getir. Ia tak tahu kenapa sahabatnya ini sangat dendam dengan yang namanya Dito. Padahal Dito gak pernah punya salah sama Audrey.


"Dendam banget lu sama dia, emang kenapa sih. Ada apa dengan kalian?" tanya Ica penasaran. Audrey menatap Ica dengan serius.


"Gue gak suka cara dia nyakitin lu. Dia bukan cowok kalau yang ada cuma selingkuh selingkuh terus. Lu sendiri sudah tahukan berapa kali dalam setahun ini dia selingkuhi lu."


"Herannya lagi kenapa lu masih pertahanin cowok brengsek kayak dia?" tanya Audrey dengan emosi. Entahlah setiap ia membahas soal Dito, ia ingin sekali mencakar cakar wajah laki laki itu.


"Aku cinta sama dia, Drey."


"Cih, cinta cinta. Cinta gak akan mungkin salah satunya menyakiti dengan sangat seperti dia. Awas aja kalau sampai di berbuat yang enggak enggak sama lu. Dia bakal habis di tangan gue," ucap Audrey dengan tegas.


Entahlah gadis ini memiliki berapa kepribadian, dia yang manja, kekanak kanakan, dewasa, tegas, dan dingin juga ia bisa saja.


Tergantung dengan keadaan dan situasi saja. Bahkan tanpa keluarganya tahu, Audrey juga merupakan salah satu wanita pemegang sabuk hitam taekwondo. Yang tak gurunya tak lain adalah ayah dari Ica sendiri. Tapi tak tahu kenapa Ica malah tak tertarik dengan jenis bela diri itu.


Kenapa tidak ketahuan para bodyguard Audrey yang disiapkan Arka? Karena Audrey sudah bekerja sama dengan para bodyguard Arka agar tak memberitahukan bahwa ia ikut taekwondo. Karena sudah pasti jika diberitahukan Arka dan Mama papa pasti menolaknya. Akhirnya dengan ketekunan dalam 3 tahun Audrey sudah mendapatkan sabuk hitamnya.


"Udah jangan nangis lagi, tapi lu harus cerita semuanya sama gue. Lu kenapa bisa nangis kayak gini nanti. Sekarang kita masuk kelas dulu, aku gak mau dihukum lagi. Nanti Daddy marah lagi kalau sampai aku kenapa napa," ucap Audrey menghapus air mata Ica dengan lembut.


Mereka berdua berjalan menuju kelas mereka, Ica memang satu bangku dengan Audrey jadi mereka sudah biasa masuk ke kelas bersama.


Pelajaran yang sangat membosankan bagi Audrey pun akhirnya selesai, 2 jam berada di kelas dengan rumus dan angka yang ada di papan tulis membuat matanya sakit. Walaupun ia anak IPS dengan hitungan yang sangat sedikit tapi tetap saja ia sangat tak pandai dalam Matematika dan Ekonomi. Entah itu yang murni ataupun Akuntansi.


(Hahaha itu adalah Tya, dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA ini yang namanya Ekonomi itu sangat sulit masuk ke dalam otak tapi kalau matematika masih ada masuk walau hanya 0,15% saja itu kalau dijelasin dengan sangat.)


"Huhh akhirnya Pak Ekonomi keluar juga, ngebul nih otak. Tiap hari harus ngeliat angka angka di tabel itu buat pusing."


"Helehh lu aja nekat tidur waktu pak Andi jelasin di depan itu. Untung aja gak sampai kelihatan kalau lu tidur, kalau tahu bisa bisa lu dihukum lagi, Drey," ucap Ica memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Hehehe males gue kalau lihat dia ngoceh gak jelas gitu. Udah gitu gak nyambung sama materi," jawab Audrey dengan santainya ingin mengikat rambutnya tapi tiba tiba ia teringat ada tanda di belakang lehernya. Ia menjadikan ikat rambutnya sebagai gelang.


"Dasar."


*****


Jam istirahat sudah berbunyi, dengan semangat 45 Audrey dan Ica langsung cus ke kantin. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah membeli kupon di kantin seperti ritualnya setiap hari.


"Ca, persenin gue mie ayam bakso ya kayak biasanya. Gue mau beli kupon," jawab Audrey langsung pergi ke stand yang menjual kupon.


"Abang beli kuponnya lagi," ucap Audrey pada Abang penjual kupon itu.


"Non teh gak capek beli terus tapi gak dapat yang di incar?" tanya abang itu pada Audrey yang setiap hari membeli kuponnya.


"Gak bang, Audrey pengen dapatin kalung ini apapun caranya."


"Ya sudah sok atuh dipilih dulu. Jangan lupa bismillah."


Audrey mengangguk dan memberikan uang dua puluh ribuan itu dua lembar. Kemudian ia mengambil dua kupon. Yah karena 1 kupon adalah 20 ribuan.


"Ya Allah semoga Audrey dapat yang nomor 99," batin Audrey berdoa.


Audrey memang sudah berniat untuk membeli kupon dan mendapatkan kalung couple itu.


Kupon pertama yang ia buka berisi angka 1, dan ia melihat nomor satu adalah boneka pikachu kecil.


"1 bang."


Abang itu langsung mengambil boneka pikachu itu dan memberikan pada Audrey.


"Ayo neng semoga yang satu itu nomor 99."


Audrey mengangguk dan kembali membuka kupon nomor dua itu. Ia sangat berharap bisa mendapatkan angka 99.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Audrey membuka kupon keduanya dengan harap harap cemas. Kemudian setelah terbuka Audrey melihat angka berapa kali ini.


"99 neng," ucap Abang itu melihat angka berapa yang didapatkan Audrey.


"Iya bang, angka 99."


Dengan perasaan senang Audrey mengambil sendiri hadiah yang ia dapat yaitu sepasang kalung couple berwarna hitam dan putih.


"Makasih ya bang, Audrey udah gak beli lagi habis ini. Udah dapat apa yang Audrey pingin," ucap Audrey mengucapkan terima kasih pada Abang penjual kupon itu.


"Iya neng gak apa apa, karena non juga sudah sering banget gak jajan demi beli kupon ini. Saya yang terima kasih karena non udah langganan beli kupon saya."


"Sama sama bang. Audrey langsung ke sana ya, makasih sekali lagi," ucap Audrey membawa hasil kupon yang ia beli.


Audrey berjalan ke arah Ica dengan perasaan yang sangat senang karena ia mendapatkan hadiah yang ia dapatkan.


"Ca, gue dapat kalungnya," ucap Audrey memperlihatkan kalung yang sudah lama diincarnya.


"Syukurlah lu dapat, emang buat siapa sih sampai lu ngebet banget pengen dapat hadiah itu?" tanya Ica melihat kalung itu.


"Buat Daddy."


"Ha..."


Bersambung


Nih Tya kasih lihat foto kalungnya. Sederhana sih tapi jangan lihat tentang rupanya, lihatlah dengan betapa kerja keras Audrey untuk mendapat kalung ini.