Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Perjodohan



Happy reading


Suara tangis Audrey saat ini tak bisa di tahan, Audrey meremas surat itu dengan erat. Hal itu membuat Arka menarik tubuh sang adik agar mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Beban yang selama ini selalu Audrey tutupi kini keluar sudah dalam pelukan Arka.


"Sudah jangan menangis, itu wasiat orangtua kamu, Dek. Kakak tahu kamu sedih," ucap Arka mengelus lembut rambut Audrey.


"Hiks hiks hiks, Dad."


Mama Olivia dan Papa Xander yang melihat itu ikut sedih. Mereka memang sudah sangat mencintai anak-anak mereka ini tak terkecuali Audrey.


Dengan adanya Audrey, Mama Olivia yang dulunya sepi di rumah jadi ada temannya di rumah. Karena saat itu, Audrey sedang lincah lincahnya di usianya yang masih 5 tahun menginjak 6 tahun.


Mama Olivia bangkit dari duduknya dan duduk disamping Audrey. Ia menarik kepala sang putri agar bersandar di dadanya.


"Mama tahu perasaan kamu sayang. Tapi kamu gak boleh terus terusan larut dalam kesedihan. Kamu adalah anak Mama dan Papa, jangan merasa kamu itu sendiri ya sayang. Ada Kakak, ada Mama, ada Papa juga. Jangan karena surat ini kamu sedih ya," ucap Mama Olivia yang membuat Audrey mengangguk.


Rasa nyaman karena pelukan Mama Olivia membuat Audrey menghentikan tangisnya. Dengan segukan Audrey menghapus air matanya sendiri kemudian menatap Mama dan Papa serta kakaknya.


"Terima kasih sudah mau menerima Audrey sebagai anggota keluarga kalian. Audrey gak akan minta yang aneh aneh kok, Audrey akan menjadi anak yang baik dan membanggakan untuk kalian," ucap Audrey dengan nada segukan yang masih terdengar.


Mama dan Papa yang mendengar itu hanya tersenyum dengan tulus. Bagi mereka kedatangan Audrey ke rumah ini adalah anugrah bagi mereka. Karena Mama Olivia sudah tak bisa lagi mengandung karena rahimnya sudah diangkat saat keguguran anak kedua mereka dulu.


"Mama dan Papa gak pernah menganggap kamu anak angkat sayang. Mama dan Papa sudah menganggap kamu anak kandung kami."


"Iya Nak. Dan sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantu kami. Sesuai dengan surat wasiat itu, Mama dan Papa juga tak akan memaksakan kalian untuk menerima perjodohan ini. Karena ini soal hati, dan Papa gak ingin kalian terpaksa menjalani pernikahan," ucap Papa yang membuat kedua anak itu diam kemudian saling pandang.


Mama dan Papa juga melihat apa yang akan dilakukan putra dan putrinya ini. Lagipula mereka bukan saudara kandung ataupun ikatan darah.


"Mah, Pah. Arka belum bisa menjawab soal perjodohan dan wasiat dari Papa dan Mama Audrey. Arka butuh bicara berdua sama Audrey, Arka tak mau membuat masa depan Audrey hilang begitu saja. Karena Audrey sendiri masih sangat muda untuk sebuah pernikahan," ucap Arka yang membuat Audrey mengangguk. Begitupun dengan Mama dan Papa.


"Papa harap besok kalian sudah memberikan jawaban tentang wasiat ini. Lagipula umur kamu sudah tua Ar, sudah waktunya untuk menikah dan memiliki anak. Mama dan Papa juga sudah tua sudah waktunya menggendong cucu," ucap Papa Xander pada anak anaknya.


"Iya sayang, tapi Papa dan Mama juga tak bisa memaksa jika kalian memang tak ingin menikah," tambah Mama Olivia dengan senyum tulus.


Yang terpenting adalah anak anaknya bahagia dengan pilihan mereka masing masing. Walau tak ayal Mama Olivia juga sudah sangat menyukai Audrey dan Mama Olivia hanya ingin Audrey yang menjadi menantunya dan melahirkan cucu cucunya nanti.


"Iya Mah, Pah," jawab mereka berdua.


Keduanya masih sangat bingung dengan apa yang harus mereka ambil. Keputusan ini bukan keputusan yang mudah untuk dibuat mereka dan hal itu membuat ia bingung bahkan sangat bingung.


Setelah pembahasan itu mereka langsung pamit ke kamar masing masing. Audrey dan Arka saling tatap saat mereka sudah sampai di lift.


"Gimana Dad?" tanya Audrey pada Arka yang ikut ikut diam dengan apa yang terjadi saat ini.


"Entahlah, kakak gak mau masa depan kamu yang masih panjang ini hilang karena pernikahan ini."


Audrey yang mendengarkan hal itu tersenyum kemudian, ia menatap langit langit lift yang sepertinya bergerak ke atas itu.


Ting


Sampainya mereka di lantai atas, keduanya keluar dari lift menuju kamar mereka masing masing. Keinginan Audrey tadi yang ingin mereka tidur bareng pun terlupakan begitu saja.


Ceklek


Pintu kamar Audrey tertutup, Audrey menatap ranjangnya yang sangat berat jika dibuat tidur sendiri.


Kemudian tatapannya mengalih pada pigura yang berisi foto dirinya dan kedua orangtua kandungnya. Senyum bahagia tercetak di wajah itu, bahkan Audrey bisa melihat sekarang bahwa Mama dan Papanya dulu sangat tertekan.


"Sekarang, Mama dan Papa sudah tidak merasakan tertekan lagi kan? Mama sama Papa udah hidup damai di surga sana. Audrey janji akan membuat kakek dan nenek menyesal karena sudah berbuat ini pada kalian dan juga sudah membuat Audrey sebagai yatim piatu."


Air mata Audrey jatuh saat mengingat bagaimana dulu, Mama Raini dan Papa Maxim menitipkan dirinya yang saat itu masih berusia 5 tahun. Tak sampai 1 hari saat itu, ia sudah menjadi yatim piatu. Hingga akhirnya Audrey diangkat anak oleh Mama Olivia dan Papa Xander.


Dan saat itu juga Audrey jadi dekat dengan laki laki yang saat itu sudah berusia 8 tahun yaitu Arka.


Mengingat Arka, Audrey jadi rindu. Ia mengambil boneka panda yang selalu menemani ia tidur itu.


Kemudian Audrey keluar dari kamar itu dan tanpa mengetuk pintu kamar, Audrey langsung masuk ke dalam kamar Arka yang dominan berwarna hitam, putih, abu abu. Sangat tidak cocok dengan kamarnya yang dominan berwarna cream dan juga biru.


Audrey naik ke atas kasur dan memeluk bonekanya hingga wajahnya tertutup boneka. Audrey masih memikirkan hal yang tadi, apa ia harus menikah muda demi mewujudkan keinginan atau wasiat Mama dan Papanya.


"Tapi kalau Daddy gak bahagia sama pernikahan ini kan sama aja aku yang egois yang hanya menginginkan dirinya saja," gumam Audrey yang galau memikirkan hal ini.


"Tapi aku juga sangat mencintai Daddy. Ini bukan rasa cinta antara adik dan kakak tapi antara laki laki dan perempuan," gumam Audrey lagi.


Bingung! Bingung! Bingung!!


Hingga suara pintu kamar mandi itu di buka oleh Arka, Audrey yang mendengar itu langsung menyingkirkan boneka dari wajahnya kemudian ia menelan ludahnya kasar saat melihat kakaknya yang keluar dari kamar mandi hanya memakai celana boxer ketat berwarna hitam itu saja hingga membuat tubuh atletis kakaknya terlihat jelas. Apalagi perut kotak kotak macam roti sobek itu.


Deg


Bersambung