Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Surat Wasiat



Happy reading


Setelah selesai makan malam, Mama Olivia dan Papa Xander menunggu kedua anaknya di depan televisi yang sudah menyala.


"Ma, anak anak mana kok belum muncul juga ya?" tanya Papa Xander yang menyuapi sang istri dengan buah anggur yang ada di meja itu.


"Mungkin masih makan makanan mereka tadi," jawab Mama Olivia mengganti channel TV.


Sedangkan yang diomongkan itu kini tengah berada di dekat tangga memakan martabak mini yang tadi mereka beli. Untung belum dingin, jadi masih enak jika dimakan.


"Dad, kira kira Mama sama Papa mau ngomong apa ya sama kita?" tanya Audrey menyuapkan martabak itu ke mulutnya yang selalu kurang kurang jika soal makanan tapi herannya tubuh Audrey tak gemuk gemuk malah terkesan seksi.


"Gak tahu juga, udah selesai apa belum makannya?" tanya Arka yang sudah menghabiskan satu martabak pandan itu.


"Udah nih habis juga di kreseknya," jawab Audrey membuang kresek itu sudah tak ada isinya itu.


"Dasar ini perut apa karet sih?" tanya Arka mencubit perut Audrey dengan pelan.


Hal itu sudah membuat Audrey langsung tersenyum bukan sakit malah geli karena memang itu bukanlah sebuah cubitan.


Mereka berdua berjalan beriringan sesekali Audrey menggelitik Arka yang membuat Arka kesal.


"Diam, Drey."


Sampailah mereka di ruang keluarga, Mama dan Papa langsung menyuruh keduanya untuk duduk dengan nyaman di sofa itu.


"Kenapa ya Ma, Pah?"


Kedua orangtua Arka langsung saling bertatap seperti meminta pendapat hingga Mama Olivia langsung menganggukkan kepalanya pertanda setuju.


"Sebelum Papa bilang sama kalian, tolong kalian jangan gegabah dulu mengambil keputusan ini. Papa tak mau ada yang tersakiti jika hal itu terjadi," ucap Papa Xander yang membuat kedua anaknya ini bingung.


"Memangnya kenapa sih Pah? Kenapa juga kita harus gegabah?" tanya Audrey dengan bingung begitupun dengan Arka.


Perasaannya kini mulai resah, entah kenapa raut wajah papanya dan juga Mamanya tak ada raut raut bercanda. Bahkan kenapa mereka sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat?


"Kalian janji dulu sama kami, jika kalian tahu tentang hal ini kalian akan tetap seperti ini. Jangan berubah," ucap Papa Xander dengan sorot tenaganya.


"Iya pah. Memangnya kenapa sih, memangnya ada yang Papa sembunyikan sampai papa harus ngomong gitu?" tanya Audrey dengan nada lembut.


"Ada sayang, tapi Papa mohon kalian harus tetap baik baik saja. Jangan berubah hmm," ucap Papa Xander dan dianggukkan oleh keduanya.


"Iya pah."


Papa Xander mengambil surat yang ada di belakangnya itu kemudian memberikannya pada Arka dan otomatis Audrey juga bisa melihatnya.


"Ini surat apa Pah?" tanya Arka melihat amplop surat yang masih sangat bagus sepertinya belum pernah dibuka.


"Itu wasiat dari orangtua Audrey," jawab Mama yang tak bisa lagi berdiam. Apalagi ia melihat wajah Audrey yang sangat terkejut melihat tulisan tangan itu.


"Ini surat wasiat Mama dan Papa Audrey. Mereka sudah sempat sempatnya menulis surat wasiat ini sebelum mereka pergi?" tanya Audrey dengan suara bergetar.


Kemudian ia menerawang dimana kedua orangtuanya yang meninggal karena sudah menentang kedua keluarga mereka. Keluarga Mama Rania (Mama Audrey) tidak merestui hubungan Mama Rania dengan Papa Maxim (Papa Audrey)


Karena kedua keluarga itu sudah bermusuhan sejak lama hingga membuat kedua orangtua Audrey yang saat itu sedang kawin lari, sangat tertekan dengan apa yang mereka lalui, apalagi teror dari kedua keluarga yang tak habis habis pada mereka.


Hanya Mama Olivia yang mau berteman tulus dengan Mama Rania apalagi saat itu usia mereka juga tak terpaut jauh. Bahkan tanpa kedua wanita itu sadari Maxim dan Xander juga sahabat sejak lama.


Hal itu yang membuat kedua orangtua Audrey bisa tenang meninggalkan Audrey kecil di rumah besar itu.


Setalah itu, Mama dan Papa Audrey meninggal karena sebuah truk yang menabrak mobil milik Papa Maxim. Hal itu sangat berdampak buruk bagi kesehatan mental dan ingatan Audrey.


Bahkan Audrey sempat dibawa ke psikiater untuk memeriksa keadaan jiwa dan raganya pada dokter.


Oleh sebab itu mereka semua tak mau membuat Audrey sampai trauma lagi soal keluarga. Bahkan kehilangan, Audrey adalah kesayangan mereka walau tak ada hubungan saudara.


"Drey kan sudah janji gak akan sedih, kenapa mau nangis sih?" tanya Papa pada putrinya.


"Gak nangis kok Pah."


"Ayo dad, kita baca isinya," ucap Audrey pada sang Daddy.


Arka menatap Audrey kemudian mendekatkan tubuhnya pada Audrey. Ia membuka surat itu dengan pelan.


"Memang dari Papa dan Mama ya?" tanya Audrey dengan senyum tipis.


Audrey memang tak pernah marah ataupun benci pada orangtuanya kandungnya. Tapi ia kecewa dengan keluarga Mama dan Papanya. Hanya karena permusuhan membuat Audrey yang notabene adalah cucu mereka itu dilantarkan. Apalagi selama ini, tak ada satupun keluara keduanya yang menemuinya.


"Siap kalau kita baca bareng bareng aja?" tanya Arka mengelus rambut Audrey. Audrey mengangguk dengan senyum manisnya.


Untuk putriku Audrey Cantika


Tak terasa kamu sudah 17 tahun ya? Sudah 12 tahun kita berpisah ya nak. Mama dan Papa harap kamu tetap bahagia bersama Mama Olivia dan Papa Xander, karena hanya mereka yang Papa dan Mama percaya untuk merawat kamu.


Maafkan Mama dan Papa jika harus meninggalkan kamu terlebih dahulu dari dunia ini. Keadaan kami sangat rumit sayang. Mungkin kematian adalah hal satu satunya agar kita terbebas dari teror keluarga kami.


Bahkan sebelum kamu tiada, kamu juga hampir saja menjadi korban. Jika saat itu Nak Arka tidak menolong kamu. Dia rela mengorbankan nyawanya yang masih 17 tahun untuk menolong kamu sayang dari orang suruhan Kakek dan Nenek kamu.


Oleh sebab itu Papa dan Mama menulis surat ini buat kamu, Papa rasa Arka dan keluarganya bisa melindungi kamu dengan penuh. Bahkan kamu tak perlu khawatir dengan teror lagi ya.


Audrey, Arka.


Papa tahu kalian membaca surat ini berdua kan, itu karena permintaan Papa pada Papa kamu. Papa ingin Arka melindungi Audrey dengan tulus, jangan biarkan dia sedih lagi atas kepergian orangtuanya.


Nak Arka menikahlah dengan Audrey, tolong sayangi dia sebagai seorang laki laki pada perempuan. Papa dan Mama sangat mengharapkan kamu menikah dengan putri satu satunya Papa.


Dan untuk anak Papa yang paling cantik, ini adalah permintaan terakhir Papa dan Mama. Mama dan Papa tahu usia kalian juga terpaut jauh tapi tak ada salahnya kalian menikah.


Papa harap kalian bahagia bersama, begitupun dengan Papa dan Mama disini yang akan lega saat tahu anak kita sudah menikah.


Tolong ya sayang sayangnya Papa, ini keinginan terakhir kami. Karena kamu juga sudah berusia 17 tahun, walau masih terlalu muda tapi Papa gak mau kamu berbuat yang tidak tidak dengan laki laki di luar sana.


Udah gitu aja, Papa dan Mama nulis ini juga sambil nangis sayang. Udah terlalu banyak kata yang Papa dan Mama tulis disini.


Semoga kita bisa bertemu di kehidupan berikutnya.


Salam sayang untuk kalian sekeluarga.


Bersambung