Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Tak Sabaran



Happy reading


Tak terasa hari semakin cepat berlalu, karena sibuk dengan pekerjaan di kantor Arka sampai lupa dengan janjinya kepada sang istri untuk pulang lebih awal.


Tempat pukul 06.00 sore Ark baru ingat dengan janjinya pada sang istri. Dengan cepat Arka mengambil tas kantornya dan bersiap untuk pulang.


"Malam pak."


"Malam."


Para karyawan yang melihat bosnya berjalan dengan terburu-buru itu sedikit keheranan. Karena yang mereka tahu Arka adalah sosok atasan yang sangat cool.


Menghilangkan apa yang ada di pikiran para karyawannya, Arka berjalan menuju parkiran mobil dan membuka mobil berwarna hitam tersebut.


Dengan kecepatan tinggi Arka mengemudikan mobil mewah itu ke alamat rumahnya. Padahal tadi dia rencana pulang pukul 4 sore tapi kenapa malah lupa. Dan ini sudah pukul 6 sore lebih.


"Semoga Audrey tidak marah," gumamnya menghentikan mobilnya di lampu merah.


Ting


Ponsel Arka berbunyi, pertanda bahwa ada pesan masuk. Arka langsung melihat siapa yang mengirimi pesan.


My wife


Sayang belum pulang? Kalau belum beliin martabak manis yang ada di simpang 5 ya. Yang rasa pandan.


Anda


Iya sayang ini baru pulang. Aku beliin langsung. Maaf ya aku telat.


My wife


Iya gak apa apa. Lagian aku tahu kerjaan kamu pasti banyak banget.


Anda


Hmm capek juga, tunggu di rumah hmmm😘


My wife


Hati hati di jalan sayang. Jangan ngebut.


Anda


Ya


Mendapat pesanan dari sang istri, Arka langsung membelokkan mobilnya ke tukang martabak. Kemudian memesan dua martabak manis dengan toping yang berbeda.


Setelah mendapat pesanannya Arka membayar martabak itu kemudian kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Tak sabar rasanya ingin bertemu sang istri yang seharian ini selalu mengacaukan pikirannya.


Dan kini sampailah Arga di depan rumah besar milik keluarganya Mama serta Papa belum memperbolehkan Arka dan Audrey pindah ke rumah pribadi Arka. Entah apa alasannya Arka dan Audrey sepakat untuk tinggal di rumah utama keluarganya.


Dengan membawa tas kantor dan juga dua box martabak, jalan menuju pintu utama rumah itu.


Ceklek


"Makasih bi."


"Sama sama den."


Arka berjalan menuju ruang makan, meninggalkan tas kerjanya di ruang tamu.


"Istri aku mana bi?" tanya Arka pada bibi.


"Tadi sama nyonya di dapur, Tuan."


Arka yang sudah sampai di meja makan dan tak mendapati siapapun disana itu langsung berjalan menuju dapur. Disana ia melihat sang ibu dan sang istri tengah membuat minuman.


Dengan pelan, Arka langsung memeluk tubuh Audrey dari belakang.


"Kak."


"Gak tahu aku ikut Mama," jawab Audrey mengelus punggung tangan sang suami yang berotot.


"Minuman biasa kok, Ka. Drey sayang ajak suami kamu ke ruang makan dulu ya. Mama mau panggil papa yang ada di kamar," ujar Mama Olivia pada Audrey.


"Siap Ma."


Audrey mengajak Arka ke ruang makan sedangkan Mama Olivia berjalan menuju kamarnya.


"Mana martabak aku?" tanya Audrey pada Arka. Arka menujuk meja makan disana ada dua box martabak. Gadis berusia 17 hampir 18 tahun itu langsung berbinar melihat martabak itu.


"Aku mau makan."


"Nanti dulu, setelah kamu makan nasi kamu baru boleh makan martabak. Aku gak mau kamu kena maag karena gak makan nasi," ujar Arka menarik tubuh kecil sang istri agar duduk di pangkuannya.


"Sayang malu kalau dilihat Mama sama Papa."


"Kenapa mesti malu?" tanya Arka mengecup leher Audrey.


"Ih gak tahu, nanti aja ya di kamar. Sekarang kita harus makan malam dulu," ujar Audrey yang turun dari pangkuan Arka dan duduk di kursinya sendiri.


Tak lama akhirnya Mama dan Papa turun dari kamar menuju ruang makan. Kedua paruh baya itu tetap terlihat mesra walau sudah tak lagi muda.


Audrey sendiri bingung kenapa Papanya bisa secepat itu berubah moodnya. Tadi saat bapaknya pulang rawat wajah Papanya itu sangat tidak enak tapi sekarang kenapa menjadi berseri-seri.


"Papa sehat?" tanya Audrey pada Papa Xander.


"Sehat, kenapa sayang?"


"Papa aneh tadi aja Audrey panggil gak nyaut sekarang udah senyum senyum aja."


"Gak apa apa sayang. Maafin papa ya, biasalah ini urusan Mama dan Papa."


Audrey dengan polosnya mengangguk kemudian mengambilkan makanan untuk mereka semua. Padahal bisa saja Mama Olivia yang menyiapkan tapi kali ini ia ingin memberikan hal yang beda pada keluarganya.


Arka mau lihat apa yang dilakukan sang istri. Perkembangan yang cukup pesat sekarang, Audrey sudah mau melayaninya tanpa mendapat perintah dari sang ibu.


"Sayang kamu bisa siapin untuk suami kamu aja. Kalau Mama dan Papa buat urusan Mama."


"Gak sekalian aja Mah?"


"Enggak sayang. Masalah Papa biar Mama yang urus," jawab Mama dengan lembut.


Akhirnya Audrey mengangguk dan mereka menikmati makan malam dengan nikmat. Harga yang tak sabar ingin merasakan nana nina dengan sang istri itu dengan cepat menghabiskan makan malamnya.


Setalah makan malam selesai, Arka langsung mengajak sang istri ke kamar. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah 8 malam.


"Anak mu Pah."


"Anak Mama juga."


Audrey yang di tarik paksa oleh sang suami itu hanya bisa menahan kekesalannya. Ia tak boleh marah marah jika ingin semuanya berjalan dengan lancar.


Sampai di kamar, saat Arka ingin mencium Audrey tangan Audrey terlebih dahulu menahannya.


"Sayang mandi dulu gih, bau. Nanti aku muntah loh."


Arka mencium aroma tubuhnya sendiri memang sedikit kecut. Tapi masih segar kok, dicampur keringat.


"Nanti kan mandi lagi sayang."


"Mandi atau enggak ada malam pertama?"


"Ck iya aku mau mandi dulu. Kamu jangan kemana mana," ujar Arka berlari menuju kamar mandi meninggalkan Audrey yang hanya tertawa pelan disana.


"Dasar."


Bersambung