Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Sahabat



Happy reading


Ica bingung, kenapa Audrey sebegitu kerasnya membeli banyak kupon hingga ia tak jajan hanya untuk sebuah kalung biasa seperti ini. Bahkan jika uang kupon itu dikumpulkan mungkin sudah mendapatkan yang asli tuh kalung.


"Buat Kakak kamu? Buat apa dih. Lagian kalau dia pingin kalung kan bisa beli sendiri. Kamu juga, kenapa pake beli kupon segala?" tanya Ica dengan keberadaan.


Sedangkan Audrey hanya tersenyum melihat kalung yang ia dapatkan itu. "Mendapatkan kalung ini butuh perjuangan, Ca. Walau ini cuma KW tapi perjuanganku untuk mendapatkan kalung ini gak main main," ucap Audrey memasukkan kalung itu ke saku jas sekolahnya.


Kemudian Audrey memakan mie ayam yang ada di depannya dengan lahap. Apalagi rasa bahagia karena bisa mendapat kalung yang sudah 1 bulan ini ia incar. Untungnya saja tidak ada yang mendapatkan kalung itu.


"Oh ya lu belum cerita sama gue, kenapa tadi pagi lu nangis di taman?" tanya Audrey pada Ica yang hanya meminum jus jeruk nipis itu.


"Gimana ya gue cerita sama lu," ujar Ica yang sudah bisa menebak jika Audrey akan marah jika tahu hal ini.


"Cerita aja, lu itu udah gue anggap saudara sendiri tahu. Apalagi Abah sama Ambu yang juga udah anggap aku anak."


" Dito selingkuh lagi, Drey," ucap Ica setelah berberapa saat berlalu.


"Uhuk uhukk."


Audrey yang sedang enak enaknya makan malah mendapat ucapan seperti ini. Tentu saja ia terkejut. Ica langsung memberikan minumannya pada Audrey karena ia tadi lupa membeli minum untuk Audrey.


"Whatt!!! Lagi? Dasar ya si brengsek emang perlu dikasih bogem dulu," ucap Audrey yang sudah mulai reda rasa sakit di tenggorokannya.


Audrey yang ingin bangkit itu langsung ditahan oleh Ica. Kenapa malah ditahan harusnya dibiarin aja biar muka sok ganteng Dito itu rusak sekalian.


"Kenapa sih?"


"Udahlah gak usah berantem, lagian gue udah putus sama Dito malam tadi."


"Gila di di brengsek, ingin rasanya gue bejek bejek kepalanya biar mirip penyet tempe. Ihh kesel , bisa bisanya dia selingkuh kalau dia udah punya pacar secantik lu. Gue yakin habis dia putus dari selingkuhannya itu dia langsung cari lu. Pokoknya lu gak boleh terima, di brengsek harus kapok sama ulahnya sendiri. Ya!!"


Ica yang melihat itu langsung memeluk Audrey, hanya Audrey sahabat terbaiknya. Bahkan hubungan mereka lebih daripada seorang sahabat.


"Lu emang sahabatnya terbaik gue, gue janji gak akan lagi nerima tu cowok kalau memang mau balik sama gue," jawab Ica dengan senyum tipis.


"Bagus, gue akan menjadi garda terdepan kalau sampai dia balik lagi. Lagian ya, Ca. Lu tuh cantiknya pake banget walau masih cantik gue sih, banyak laki laki yang mau sama lu. Bukan hanya di brengsek, contohnya Kak Zaki."


"Zaki siapa dah?" tanya Ica yang lupa dengan yang namanya Zaki.


"Beh udah lupa lu? Itu kak Zaki, sekretarisnya Daddy. Yang biasanya godain lu," jawab Audrey yang membuat Ica mengangguk.


"Aku gak pantes buat dia yang seperti itu. Dia udah berhasil sedangkan aku apa? Masih pelajar yang gak pantas bersanding dengan dia," ucap Ica dengan pelan.


Benar sekali Zaki, usianya baru saja menginjak 26 tahun yang notabene adalah sekretaris Arka di kantor sekaligus adik sepupu Arka dari Mama Olivia.


Ica yang mendengar pernyataan itu kaget sekaligus tak percaya jika sepupu sahabatnya ini menyukai dirinya sampai sebegitunya.


"Ahh gak tahu gue," ujar Ica mengambil keripik kentang yang ada di depannya.


Audrey melihat Ica yang sedang dalam mode sedih plus galau itu memutuskan untuk tak memberitahukan apa yang saat ini ia rasakan.


Masa dia bahagia di atas penderitaan Ica yang baru saja putus dengan Dito. Ia harus memamerkan kebahagiaannya dengan Arka.


"Btw daripada lu sedih sedih gini, mending nanti kita ke mall. Mau main capit gue," ajak Audrey pada Ica.


"Udah bilang sama kakak lu belum? Nanti kayak waktu itu lagi," ujar Ica pada Audrey.


Ia masih mengingat dimana saat mereka berdua jalan jalan tiba tiba Arka mengajak Audrey pulang begitu saja hanya karena lupa tak bilang. Untung saat itu ada Zaki yang mengajaknya jalan jalan menelusuri mall besar itu.


"Tadi pagi udah bilang kok. Gue juga udah bawa uang, yuk nanti ke mall. Gue jamin gak ada adegan gue ninggalin lu lagi kayak yang udah udah," ujar Audrey yang murni ingin jalan jalan bersama Ica.


"Ya sudah nanti aku telepon Abah, biar dapat izin dari dia dulu. Lu paling tahu gimana Abah kalau marah, apalagi Ambu. Behh."


Ica mengabari orangtuanya jika hari ini ia dan Audrey akan ke mall sebentar. Hanya untuk melihat melihat saja tak beli, begitulah yang diucapkan Ica. Dan akhirnya ia mendapatkan izin dari kedua orangtuanya dengan syarat jam 6 sore sudah sampai rumah.


Triinnngggg


Jam masuk sudah berbunyi, keduanya berjalan menuju kelas mereka dengan jalan beriringan. Tak lupa senyum manis Audrey yang selalu ia tebar hingga kalau saja Ica tak menyuruh Audrey untuk berhenti tersenyum mungkin gigi Audrey sudah kering.


Belum juga sampai di dalam kelas mereka tak sengaja berpapasan dengan di brengsek siapa lagi kalau bukan di Dito. Bocah kelas 12 MIPA 3 yang selalu menjadi musuh bebuyutan Audrey. Dari awal Audrey sudah tak menyukai Dito karena sikap Dito yang urakan. Tapi entah kenapa Ica malah suka dengan si brengsek ini.


"Udah, Drey. Gak usah dianggap, gue males ketemu dia."


Audrey diam dengan menatap tajam Diri yang sedang bercanda ria dengan adik kelas mereka yang jika dilihat lihat masih cantik Ica kemana mana.


"Dasar si brengsek, pengen gue tampol deh muka sok ganteng dia tuh. Kenapa sih lu dulu suka sama bajingan kek dia hah?" tanya Audrey geram sendiri dengan apa yang dilakukan Dito.


"Mata gue ketutup dulu, sekarang udah kebuka kok. Ternyata dia bajingan," jawab Ica dengan nada keras hingga membuat Dito yang tak sengaja mendengar itu langsung menatap tajam mereka.


"Kalian ngomongin gue bajingan hah?"


"Loh kita gak sebut nama ya, tapi kalau lu ngerasa gitu sih ya wajar karena lu memang bajingan!!!" Ucapan Audrey memang sarkas dan menusuk hati siapapun jika begini. Walaupun kesannya ia anak yang manis tapi itu hanya berlaku bagi orang orang terdekatnya saja.


Dengan menahan amarahnya Dito langsung pergi dari tempat itu. Audrey dan Ica tertawa kemudian masuk ke dalam kelas.


Bersambung