
Happy reading
Setelah panggilan dari Mama Olivia terputus, Arka langsung melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Saat sedang fokus dengan laptop tiba tiba secara spontan, Arka menatap kalender yang sudah mendekati tanggal 5 berarti sebentar lagi ulang tahunnya yang ke 30 tahun.
"Tak terasa udah 30 tahun aja gue," gumamnya menatap kalender yang memberitahukan jika ia sudah tua.
Tak mau memikirkan usianya yang makin hari makin tua, Arka terus mengerjakan laporan di laptopnya.
Tapi belum juga 1 jam Akrab mengerjakan pekerjaannya, tiba tiba pintu ruangannya terbuka.
Ceklek
"Dasar tidak punya sopan santun, kenapa tidak ketuk pintu hah?" sembur Arka dengan ucapan kesal. Arka tak peduli siapa yang datang, tapi hal itu malah membuat Lista yang baru sampai di ruangan Arka puas.
"Arka," panggil Lista yang membuat Arka langsung menatap siapa yang sudah mengganggu konsentrasinya.
"Siapa kamu yang berani beraninya masuk ruangan aku?" tanya Arka yang tak ingat siapa wanita di depannya.
"Aku Lista, pacar kamu. Dan masalah aku masuk ke sini tanpa ketuk pintu. Emm maaf ya, aku cuma kangen sama kamu. Aku sudah lama pingin balik ke Indonesia tapi pekerjaanku disana banyak banget," ucap Lista senyum manisnya mulai menutup pintu dan berjalan ke arah Arka.
"Lista? Ooo kenapa kamu kembali? Aku sudah tak butuh wanita tak tahu diri seperti kamu. Dan satu lagi kita bukan lagi sepasang kekasih tapi mantan!!"
"Tapi kita belum putus Arka. Kita masih sepasang kekasih sejak 12 tahun yang lalu. Aku tak terima kamu bilang putus begitu saja," ucap Lista yang tak terima jika Arka bilang mereka sudah menjadi mantan.
"12 tahun hah. Yah itu waktu yang lama Lista, cintaku sama kamu udah pudar seiring berjalannya waktu dan rasa kecewa aku sama kamu. Aku sudah menuruti apa kemauan kamu saya itu dan apa yang aku dapat, kamu pergi tanpa kabar bahkan aku sempat ke rumah kamu tapi apa. Orangtua kamu bilang kamu sudah pergi dengan orang yang kata orangtuamu adalah pacar kamu, dan parahnya lagi, selama itu kamu tidak memberitahukan aku sebagai pacar kamu. Aku kamu anggap sebagai apa Lista!!!"
"Mending kamu pergi dari sini, aku sudah muak dengan hubungan kita yang sempat terjalin 7 bulan. Anggap saja apa yang aku berikan padamu saat itu adalah sedekah dariku untuk cewek murahan kayak kamu," tambah Arka bangkit dari duduknya dan membukakan pintu ruangan itu agar Lista keluar.
"Maafin aku soal itu, Ar. Aku dipaksa orangtuaku untuk menerima perjodohan itu, aku tak mau. Aku berusaha untuk pergi saat itu tapi tak bisa," ucap Lista mendekat ke arah Arka dan mencoba untuk memeluknya tapi Arka lebih dahulu menghindar. Alhasil Alex
"Karena kamu cewek matre Lista. Aku nyesel pernah suka sama cewek kayak kamu."
"Tapi Ar."
"Pergi dari ruangan aku, dan jangan pernah sekali kali kamu masuk lagi ke ruangan ini."
"Arka, aku tahu kamu masih cinta sama aku. Dan aku juga tahu kamu ngejomblo sampai saat ini karena kamu gak bisa move on dari aku kan. Bahkan sampai saat ini kamu belum juga punya pasangan," ucap Lista dengan percaya dirinya.
Ia tak tahu jika saat ini Arak sedang dalam mode, senggol bacok. Entahlah nanti bagaimana.
"Dasar gak tahu malu. Pergi dengan baik baik atau aku paksa sampai kamu gak akan berani lagi masuk ke perusahaan ini," ancam Arka dengan nada dinginnya. Sedari tadi memang tak ada senyum ramah menyambut kedatangan Lista.
"Aku gak akan pergi sebelum kita jadian lagi, aku gak mau kita putus," kekeuh Lista dengan tanpa tahu malunya ia tiba-tiba memeluk Arka.
Arka yang sangat marah karena Lista memeluknya itu langsung melepaskan pelukannya dan membanting tubuh Lista ke lantai.
"Jangan kira gue akan sama seperti 12 tahun lalu, Lista. Gue bukan cowok bodoh yang bisa lu manfaatin terus!!"
"Le.. pas, aku gak kuat."
Lista menatap sendu Arka yang kini bagaikan pembunuhnya. Arka sangat mengerikan jika seperti ini. Apa memang Arka ingin membunuhnya?
"Wanita seperti kamu memang pantas mati Lista. Aku tak akan pernah bisa memaafkan wanita yang dengan brengseknya memeluk tubuhku ini!!!" teriak Arka yang membuat Lista takut jika hari ini ia mati di hadapan Arka.
Sedangkan Audrey yang saat ini tertidur di kamar itu langsung terbangun karena teriakan Arka. Bahkan para karyawan juga mendengar teriakan bosnya itu.
"Daddy kenapa sih teriak teriak, ganggu tidurku aja," gumam Audrey dengan kesal. Audrey tak suka jika tidurnya diganggu oleh siapapun.
Gadis cantik itu keluar dari kamar dengan rambutnya yang masih acak acakan. Kemudian ia disuguhkan oleh pemandangan dimana Arka ingin membunuh seorang perempuan di bawah itu.
"Daddy," pekik Audrey berlari menghampiri Arka dan menahan agar Arka tak membunuh orang.
Arka yang mendengar suara Audrey itu langsung menatap ke sumber suara begitupun orang yang melihat itu. Karena posisinya pintu terbuka jadi para karyawan di lantai atas juga tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Daddy mau bunuh Tante ini?" tanya Audrey dengan polosnya. Emm ralat pura pura polos, Audrey ingat jika wanita ini adalah cewek yang telepon Arka tadi.
"To-long, sa-ya mau dibu-nuh," ucap Lista dengan nada terbata bata, tangis itu juga terdengar sangat jelas di telinga mereka saking sakitnya.
"Daddy mau bunuh perempuan ini?" tanya Audrey memeluk tubuh Daddynya dari belakang.
"Hmmm."
"Jangan dibunuh nanti hidupnya berakhir dan Daddy masuk penjara. Drey gak mau Daddy bunuh orang. Lagipula dia juga udah mau sekarat. Mending dilepas aja dulu," ucap Audrey yang membuat emosi Arka sedikit surut.
Brug
Arka mengangkat sedikit tubuh Lista dan menjatuhkannya lagi ke lantai.
"Bawa dia ke rumah sakit, aku gak mau masuk penjara. Dan satu lagi jangan biarkan perempuan gila ini masuk ke kantor ini lagi. Atau kalian yang akan saya pecat," titah Arka menyuruh para bawahannya untuk membawa tubuh Lista ke rumah sakit.
Brak
Pintu ruangan itu Arka tutup dengan keras hingga membuat Audrey geleng geleng kepala dibuatnya. Audrey tahu emosi Daddynya saat ini sedang tidak baik baik saja.
Audrey tak tahu apa penyebabnya tapi ia bisa merasakan aura yang keluar dari tubuh Arka sangat menyeramkan.
Arka mengabaikan tatapan Audrey yang meminta penjelasan darinya. Arka berjalan menuju kursi kebesarannya dan diikuti oleh Audrey yang duduk di meja itu menatap Daddynya dengan lembut.
Disaat saat seperti ini tentu saja Audrey tak mau membuat Arka lebih marah lagi.
Bersambung