
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai pagi, Audrey juga sudah bangun dan kembali ke kamarnya dengan perasaan bahagia. Audrey tersenyum sangat mengingat sang kakak yang menyatakan cintanya lagi lagi ini. Walaupun dalam keadaan tidur tapi Audrey tahu itulah kejujurannya.
Sampai kamar mandi Audrey berdiri di depan cermin dan melihat pipinya yang masih memerah karena ucapan sang kakak tadi.
Flashback on
"Daddy, bangun udah pagi," ucap Audrey mengelus pipi sang kakak.
"Emm nanti mam, Arka gak ada rapat hari ini."
Mendengar hal itu membuat ide untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya kemarin. Apa ia tak salah dengar atau memang ia hanya halusinasi.
"Ya sudah, Mama boleh tanya sama kamu," ucap Audrey dengan nada yang dibuat besar.
"Hmm."
"Kamu sudah cinta sama Audrey?"
"Hmm Arka cinta sama Drey, Mam."
"Hmmm ya sudah kamu lanjutkan tidur aja. Aku mau keluar," ucap Audrey menaikkan kembali selimut sang kakak sampai ke atas dada.
Audrey tersenyum saat melihat hasil cetakan bibirnya di dada Arka. Walau ia harus berusaha payah untuk membuatnya tadi, tentu saja memakai bantuan google. Karena yang ada di tubuh Arka hanya tato di bawah dada. Audrey tak tahu apa arti dari tulisan di bawah dada itu.
Setelah itu Audrey keluar dari kamar Arka menuju kamarnya sendiri.
Flashback off
"Seneng banget aku, harus cerita sama Ica deh ini nanti," gumam Audrey melepas pakaiannya dan bersiap untuk mandi.
"Eh."
Audrey kaget saat ia melihat leher dan di atas dadanya banyak sekali tanda merah seperti yang ia lakukan tadi terhadap Arka.
"Apa ini Daddy yang buat? Tapi kapan? Dan kenapa warnanya jadi biru seperti ini?" tanya Audrey mengusap bekas itu dangan jarinya tapi tetap saja ada.
Audrey tak terlalu memikirkan hal ini karena yang pasti. Hari ini adalah hari bahagianya karena Arka juga menyukainya.
Setalah itu Audrey melanjutkan ritual mandi yang bisa saja sampai 1 jam lamanya. Setelah selesai Audrey selesai mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi dan berjalan mengambil seragam SMAnya.
"Cantik banget sih gue, pasti gen Mama dan Papa nurun semua ke aku nih. Dan juga dada aku juga sangat sintal. Gak sia sia dulu Daddy pegangin dada Drey."
Sekarang Drey tahu kenapa Arka sering kali memegang dadanya dulu saat ia awal awal masa pubernya dulu. Ahh membayangkan hal itu membuat Audrey malu sekarang, kenapa dulu ia sangat polos dan tak tahu apa apa begini.
Setalah selesai berpakaian Audrey langsung memakai cream wajah dan juga liptin agar tidak pucat. Jangan lupa jika Audrey sama seperti gadis remaja pada umumnya selalu membawa cermin, bedak dan juga liptin jika ke sekolah walau ia memakai dengan sangat tipis agar tidak pucat saja.
*****
Audrey yang sudah sampai di ruang makan itu langsung disuguhkan oleh pemandangan yang bisa saja menjadi tutorial Audrey nanti. Bersamaan dengan turunnya Arka dari kamar dengan pakaian kantornya.
"Mama sama Papa emang gak tahu tempat deh," ucap Arka.
Arka melihat Audrey yang sedang menonton adegan live dari sang ibu dan ayah yang sedang bercumbu mesra di ruang makan. Mungkin terlalu lama menunggu anak anaknya jadi mereka melakukan hal ini.
Tiba tian Arka menutup mata Audrey, sedangkan Audrey yang melihat adegan itu harus kesal karena tangan seseorang yang menutup matanya.
"Apaan sih Dad. Aku lagi belajar nih," ucap Audrey dengan kesal.
"Nanti kamu pengen kalau terus lihat ke arah mereka. Kamu masih kecil buat mengenal dunia orang dewasa," ucap Arka yang masih salah mengartikan Audrey sebagai gadis yang belum gede.
Padahal umurnya sudah 17 tahun lebih, bahkan hampir 18 tahun berberapa bulan lagi. Atau bisa dibilang 7 bulan lagi Audrey berusia 18 tahun. Tapi Audrey sudah mempunyai KTP sejak umurnya 17 tahun.
"Kan kita juga bakal nikah," ucap Audrey yang membuat Arka tersenyum. Walau Audrey terkesan masih sangat bocil tapi hal itu tak menyurutkan rasa cintanya pada Audrey.
"Heem, tapi seorang istri itu tidak hanya sekedar memuaskan naf*u suaminya saja."
"Terus?"
"Tanya sama Mama," jawab Arka pada Audrey.
Audrey mengangguk dengan senyum manisnya. Nanti sepulang sekolah ia akan bertanya tentang tugas istri pada sang Mama.
"Ayo sarapan," ajak Arka saat melihat kedua orangtuanya sudah tak melakukan melakukan adegan kiss kiss ria itu.
Arka juga sebenarnya tak suka dengan keromantisan kedua orangtuanya yang tak tahu tempat itu. Oleh sebab itu ia mengajak adiknya untuk tinggal bersamanya dulu.
Audrey menggandeng tangan Arka menuju meja makan. Mereka berdua duduk di tempat masing masing.
Mama dan Papa yang melihat hal itu hanya tersenyum kemudian mereka menanyakan bagaimana keputusan Arka dan Audrey sendiri tentang perjodohan yang sudah mereka rencanakan.
"Apa kalian sudah memberikan keputusan kalian soal perjodohan itu?" tanya Mama Olivia dengan senyum manisnya.
"Sudah," jawab keduanya bersamaan.
Tatapan mereka bertemu kemudian tersenyum, Arka hanya tersenyum tipis dengan lembut ia mengangguk.
"Oh ya, apa keputusan kalian?" tanya Papa Xander yang sangat kepo dengan keputusan kedua anaknya.
"Kamu sudah memutuskan untuk," ucap Audrey menatap sang kakak dengan senyum yang terpancar di bibirnya.
"Kami menerimanya Mah, Pah. Maaf jika Arka akan menikahi Audrey yang umurnya lebih muda daripada Arka. Bahkan sangat jauh, Audrey dan Arka sudah saling berbicara tadi malam," ucap Arka pada kedua orangtuanya.
Mama Olivia dan Papa Xander yang mendengar jawaban itu langsung tersenyum dan menggenggam tangan mereka masing masing. Untuk menyalurkan rasa bahagia mereka, karena hal ini adalah janji yang harus mereka tepati pada mendiang sahabat sahabat mereka yang sudah meninggal.
"Rania, Maxim. Anak anak kita akan menikah, sekolah kalian tetap bahagia di sana. Dan juga kalian tetap bisa melihat anak anak kita berbahagia disini," batin Mama Olivia Dengan senyum manisnya menatap kedua anaknya itu.
"Tapi kata Daddy tadi Audrey harus belajar sama Mama buat jadi istri yang baik dan benar. Kapan kita les privat Mah?" tanya Audrey mengambil nasi sendiri dan mengambilkan untuk Arka.
Audrey sering melihat Mamanya yang selalu mengambilkan makanan untuk papa dan mereka. Mama yang melihat itu tersenyum.
"Ini juga bagian dari tugas seorang istri sayang. Kamu gak perlu capek capek masak, tapi soal melayani suami kamu makanan itu kewajiban kamu bukan kewajiban pembantu," jawab Mama yang membuat mereka tersenyum kepada Audrey yang bingung.
"Mengambilkan nasi?"
"Bukan hanya nasi sayang, tapi juga lauknya."
Audrey mengangguk paham dengan senyum.ia mengambilkan makanan kesukaan Arka dan juga dirinya sendiri.
Mereka berempat makan dengan santainya, walau sedikit terdengar ocehan Mama dan Audrey sedangkan para laki laki hanya melihat dan mendengar saja.
Bersambung