Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Malam Sebelum Pernikahan



Happy reading


Tak terasa hari sudah malam, seharian Audrey tidak bersama Arka karena wanita berusia 17 tahun menjelang 18 tahun itu sedang perawatan dengan Mama dan Keysha.


Dan malamnya pun Arka tidak bertemu dengan Audrey, kata mamanya mereka tak boleh bertemu sampai besok waktu pernikahan.


Arka sempat tak setuju, karena ia tak bisa jika tidur tidak memeluk tubuh Audrey yang sangat hangat itu.


Kini di kamar Audrey, wanita itu menatap tubuhnya yang sangat indah di depan cermin. Tak lupa ia membawa buku panduan menjadi istri yang baik dan benar dari kakak dan mamanya tadi.


"Aku gak nyangka di usiaku yang akan menginjak 18 tahun aku akan menikah. Dan yang gak nyangka lagi sama kakak aku sendiri. Ya walau bukan kakak kandung sih."


Audrey menatap lekukan tubuhnya yang sangat bagus diusia mudanya itu. Ada dibagian bagian tertentu dari tubuhnya itu sangat menarik perhatian pria.


Audrey kini hanya memakai bra dan celana pendek saja karena ia ingin merileks kan tubuhnya sebelum hari pernikahan tiba.


Brug


"Ahh senangnya mau nikah," gumam Audrey dengan senyum.


Ia berguling guling di kasur itu dengan senyum menawannya. Ia membayangkan jika setiap hari ia akan bersama dengan sang kakak.


"Jadi kangen kakak," gumam Audrey dengan pelan.


"Sadar Drey kamu gak boleh ketemu kakak sampai besok. Tapi kangen ih, aku gak bisa gini terus," gumam Audrey lagi.


Sekuat tenaga Audrey menahan rasa rindunya kepada Arka yang kamarnya tak ia ketahui. Karena mama dan Papanya merahasiakan kabar mereka masing-masing. Ponsel keduanya juga disita oleh kedua orang tuanya karena kalau tidak begitu pasti kedua anak mereka itu akan menyelinap dan tidur bersama lagi.


Tok tok tok


Pintu kamar itu diketuk dari luar, Audrey yang mendengar itu langsung memakai kimono pendek yang sangat menerawang itu untuk menutupi tubuhnya.


Ia pikir yang mengetuk pintu adalah Mama Olivia, jadi ia tak apa jika memakai seperti ini.


Ceklek


Dan yang berada di depannya kini adalah Arka. Calon suaminya yang tak ia ketahui kamarnya ada dimana.


Arka yang melihat Audrey memakai pakaian minim itu langsung mendorong gadisnya ke dalam kamar. Arkata habis pikir kenapa Audrey membuka pintu dengan pakaian yang sangat sek*i seperti ini.


"Kamu kenapa pakai pakaian seperti ini?" tanya Arka menatap kesal ke arah Audrey.


Jika tadi yang datang bukan dia bagaimana parka tak mau tubuh indah calon istrinya dipandangi oleh laki-laki lain.


"Kalau yang datang tadi bukan aku gimana? Kalau laki laki lain gimana sayang?" tanya Arka yang tak habis pikir.


Audrey yang melihat mendengar itu langsung diam. Ia tahu disini ia yang salah tapikan ia pikir tadi yang datang adalah Mama bukan laki laki lain.


Arka yang melihat itu langsung memeluk tubuh Audrey. Ia tak marah pada Audrey tapi ia hanya sedikit kesal karena gadisnya itu memakai pakaian minim saat membuka pintu kamar tadi.


"Kakak gak marah kok sayang, tapi sedikit kesal aja. Karena kakak lagi rindu sama kamu, kita udah biasa tidur bersama tapi hari ini kita dipaksa pisah dulu. Kakak rindu peluk kamu sayang."


Audrey tersenyum dengan lembut mendengar hal itu, ia bisa merasakan hal itu karena ia juga merasakan hal yang sama.


"Ya sudah kalau tidur sini aja," jawab Audrey mengajak Arka untuk tidur di kasur empuk itu.


"Tapi jam 4 nanti kakak harus keluar, kakak gak mau kan Mama sama Papa tahu kakak tidur disini?" tanya Audrey dan dianggukkan oleh Arka.


Akhirnya di malam itu keduanya tidur di satu ranjang yang sama. Mereka hanya bisa berdoa agar keluarganya tak tahu jika Arka tidur bersama Audrey. Jika hal itu terjadi maka bisa dipastikan jika Audrey dan Arka akan dipisah lagi setelah pernikahan.


Kamar itu juga sudah di kunci tadi jadi mereka malam ini bisa aman jika ingin tidur bersama.


"Sayang kamu cuma pakai bra?" tanya Arka yang merasakan jika dada Audrey hanya memakai batok pelindung itu.


"Heem, rencananya tadi mau aku lepa tapi gak jadi."


"Kenapa?"


"Nanti kakak pengen."


"Cuma nen kok sayang gak apa apa ya. Kakak haus nih," ujar Arka yang kini sudah menarik tali kimono itu.


"Kebiasaan, kan Drey belum jawab."


"Udah terlanjur pengen minum susu."


"Hahahaha orang gak ada airnya. Kan Drey belum hamil," jawab Drey dengan tawa.


"Gak apa apa."


Akhirnya di malam ini Arka bisa menikmati dada indah milik calon istrinya yang pasti sangat menggoda di ukurannya yang bisa dibilang lebih besar dibandingkan dengan milik teman sebayanya.


Mereka juga sesekali terlibat perbincangan sebelum tidur. Audrey mengatakan jika nanti ia belum sempurna menjadi seorang istri, Audrey ingin ditegur jangan di marahi.


Audrey masih labil, ia akui itu tapi jika tentang pernikahan ini ia tak main main. Ia tahu konsekuensinya jika menikah muda tapi ia juga mengingkan hal itu. Disamping itu juga Arka sudah semakin matang, dan pesonanya juga semakin hot saja jika begini. Audrey takut nanti Arka malah jatuh ke dalam pesona wanita lain.


Arka juga berkata demikian, Arka bukanlah laki laki yang sempurna. Bahkan ia lebih banyak kekurangannya, ia belum bisa mengontrol rasa cemburunya jika bersama Audrey dan bahkan ia kerap sekali diam.


Mereka saling berkomitmen untuk tetap menjaga pernikahan ini sampai mereka tua dan maut yang nanti akan memisahkan.


Bersambung


Besok mereka bilang Woy jangan lupa ampaonya.