
Happy reading
Dengan senang Audrey berjalan menuju sofa dan mengambil tas sekolahnya. Jangan senyumnya Audrey mengambil kalung couple yang tadi dari undian.
Audrey mengamati kalung yang sangat cantik itu, walau harganya tidak seberapa tapi perjuangan untuk Audrey mendapatkan kalung itu tidak mudah.
"Sekelas CEO tapi harus pakai kalung beginian," gumam Audrey yang mendadak sedih.
Padahal tadi ia sudah semangat ingin memberikan kalung itu pada Arka. Tapi ia mengingat kembali jika Arka adalah laki-laki sempurna yang ada di kehidupannya saat ini.
"Kasih aja deh, mau dia pakek ya syukur kalau enggak ya udah gak apa apa. Lagian juga kalung murah," ucap Audrey membawakan dua kalung itu keluar dari kamar menuju kamar Arka.
Sedangkan Arka yang ada di kamar menunggu kedatangan Audrey. Laki-laki itu sudah menyiapkan kejutan yang istimewa untuk adik angkatnya itu.
Ceklek
Arka menyembunyikan kotak bludru berwarna merah itu ke dalam saku celana piyamanya.
"Daddy."
Arka yang melihat Audrey datang itu langsung berjalan menuju Audrey dan memeluknya dari belakang.
Audrey yang dipeluk dari belakang itu cukup terkejut mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari kakak angkatnya. Tapi tak bisa dipungkiri jika Audrey juga senang.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arka membawa sang adik ke balkon tak lupa ia mengambil selimut tipis untuk menutupi tubuh kekasihnya agar tidak kedinginan.
"Kakak ingin mengajak kamu melihat bulan dan bintang dari atas sini," ucap Arka yang masih memeluk Audrey.
Keduanya menatap ke arah langit yang penuh dengan bintang. Audrey memang suka dengan bintang bintang, apalagi jika dilihat secara langsung seperti ini.
"Daddy nanti kedinginan kalau begini. Apalagi Daddy gak pakai baju atas," ucap Audrey membalikkan badannya dan ingin menyelimuti tubuh sang kakak.
"Gak usah, Kaka gak apa apa."
"Dad," panggil Audrey yang membuat Arka menatap sang adik.
"Kenapa?"
"Audrey mau kasih sesuatu buat Daddy, tapi Daddy jangan marah dengan apa yang Audrey lakuin ya," ucap Audrey yang kembali membuat Arka bingung dengan apa yang diucapkan Audrey.
"Memangnya apa?"
Audrey mengambil 2 kalung yang ada di saku piyamanya. Iya memperlihatkan kalung berwarna hitam itu kepada Arka. Yang melihat itu tentu terkejut kapan adiknya memberikan sebuah kalung yang indah seperti itu.
"Hmmm, kamu beli?" tanya Arka menatap kalung couple itu.
"Enggak, itu yang aku bilang kupon berhadiah yang selalu aku incar. Dan hari ini aku beruntung karena mendapatkan kalung ini."
"Walau kalung ini harganya tak seberapa tapi Audrey sudah sangat berjuang untuk mendapatkan kalung ini. Bahkan sampai Drey sendiri gak jajan loh. Tapi syukurlah Drey yang masih dapat ini," ucap Audrey menceritakan apa yang ia lakukan.
"Maaf dad. Tapi Audrey berhasil dan janji gak akan beli kupon lagi. Dan kalung ini buat Daddy, dan yang warna putih itu milik aku," ucap Audrey memberikan kalung hitam itu dengan bandul setengah hati itu.
"Janji kamu gak akan buang buang uang untuk beli kupon gak jelas itu?" tanya Arka pada Audrey yang langsung mengangguk.
"Iya Dad. Dan ini buat Daddy, Drey memang sengaja buat dapatin ini buat kita. Audrey ingin Daddy memakainya walau hanya satu malam ini aja," ucap Audrey dengan wajah penuh harap. Ia tak apa jika kalung ini hanya dipakai, asal Audrey melihat kalung ini melingkar di leher Arka.
Arka tersenyum dan mengambil kalung itu dari tangan Audrey yang sedang memegang dua kalung itu.
"Kalau bisa dipakai kenapa cuma semalam. Lagipula kalung ini tidak buruk untuk dipakai," jawab Arka meminta Audrey untuk memakaikan kalung itu ke lehernya.
"Gak apa apa semalam, nanti kalau lama lama leher Daddy gatal gatal lagi," ujar Audrey menyuruh Arka untuk menunduk.
Akhirnya kalung itu terpasang di leher putih Arka, sangat kontras sekali. Memang keluarga mereka rata rata memiliki kulit yang putih bersih. Walau ada buku buku halus di badan Arka tapi hal itu malah membuat ia terlihat keren.
Kini giliran Arka yang memasang kalung itu ke leher Audrey. Akhirnya kalung couple itu terpasang sempurna di leher masing masing.
"Terima kasih," ucap Arka tulus yang dianggukkan oleh Audrey.
Sebenarnya Arka sudah tahu apa yang dilakukan Audrey di sekolah. Tentu saja dari anak buahnya.
Tiba tiba saja Arka menghidupkan musik romantis dari ponselnya dan meletakkan di kursi yang ada disana.
Kemudian Arka berlutut di depan Audrey dan mengambil kotak yang ia sembunyikan tadi dan membukanya. Audrey yang melihat apa isi kotak itu langsung menutup mulutnya, walau ia tak menyukai perhiasan mahal tapi jika perhiasan sebagus ini siapa yang akan menolak.
"Maaf kakak telat memberikan kamu gelang ini. Dan juga tadi pagi, sangat tidak romantis bukan? Dan bahkan sekarang rasanya juga sangat garing. Dan yah, aku ingin mengungkapkan cintaku lagi malam ini."
"Audrey Cantika maukah engkau menjadi pacar sekaligus menikah dan menjadi istriku?"
Audrey yang mendengar itu tak bisa lagi menahan air matanya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum yang membuat Arka bahagia. Kemudian ia memakaikan gelang yang sangat sederhana tapi sangat elegan. Bahkan tanpa Audrey tahu, gelang ini harganya bisa untuk membeli dua unit mobil Toyota keluaran terbaru.
"Dad, ini sangat cantik. Drey suka," ucap Audrey yang membuat Arka senang.
Laki laki itu langsung memeluk tubuh sang adik dengan senang. Ia tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah bahagia Audrey.
"I love you sayang. Terima kasih sudah mau menerima pria tua ini," bisiknya yang membuat Audrey mengangguk.
"Hot Daddy," jawab Audrey yang semakin mengeratkan pelukan mereka. Bahkan selimut tipis yang tadi menutupi tubuh Audrey sudah terjatuh begitu saja ke lantai.
Berberapa saat mereka saling berpelukan Arka melepaskan pelukan itu kemudian ia menatap wajah cantik Audrey.
Cups
Sebuah kecupan di layangkan oleh Arka, bubur mereka saling bersentuhan hingga membuat Audrey terdiam membatu merasakan benda kenyal yang menempel di bibirnya.
"Sudah sangat dingin, ayo masuk saja. Kakak ingin memeluk tubuh kamu," ujar Arka tanpa aba aba langsung menggendong tubuh Audrey masuk ke dalam kamar tak lupa juga ia menutup jendela balkon itu.
Bersambung