Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Bekerja sama



Happy reading


Di sebuah kamar yang sangat besar itu, Audrey yang sudah selesai bebersih itu berjalan menuju ranjang yang nanti akan di tempatinya bersama Mama mertuanya.


"Gak nyangka udah jadi seorang istri aja," gumamnya menatap jari manisnya yang sudah ada cincin pernikahan.


Gadis itu mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan pandangan masih mengarah ke jari manis itu. Ia tersenyum senang walau ia sedikit kesal karena tak bisa sekamar dangan Arka.


Sedangkan di kamar yang ditempati Papa Xander, Mama Olivia berada di bawah kungkungan sang suami dengan pakaian yang sudah entah kemana.


"Anggap aja ini jatah Papa malam ini. Soalnya nanti malam Mama gak mau tidur bareng papa," ujar Papa Xander memasukkan benda pusaka itu pada inti dari sang istri.


"Papa udah tua masih aja kayak gini."


Walau tak bisa dipungkiri jika pesona para paruh baya itu masih bisa digunakan untuk menjerat berondong di luar sana. Tubuh Papa Xander yang sangat kekar dengan enam kotak di perutnya karena Papa selalu menyempatkan waktu untuk berolah raga dan menjaga pola makannya. Bahkan rambut di kepalanya tak ada yang berwarna putih. Jika saja para ABG di luar sana melihat Papa Xander saat ini maka bisa dipastikan papa Xander menjadi rebutan.


Untungnya Papa Xander setia pada sang istri yang sudah memberinya satu anak laki laki ini.


Sedangkan Mama Olivia juga tak akan kalah dari suaminya. Wanita itu masih memiliki dada yang kencang, tubuhnya terawat sangat baik apalagi inti dari tubuhnya yang hampir setiap Minggu di rawat. Maka dari itu tubuh Mama Olivia selalu terjaga dengan sangat baik.


"Ahh Papa, Drey udah nunggu Mama loh," ujar Mama Olivia menatap mesra sang suami sedang bergerak di atasnya itu.


"Aku cuma mau jatah Mama. Kenapa kamu harus tidur sama Audrey sih hmm? Kan dia udah punya suami," ujar Papa Xander seraya menikmati jepitan hangat sang istri.


Setelah berberapa saat mereka melakukan nana nina bersama di kamar yang berbeda akhirnya Papa sampai pada puncaknya.


"Capek?" tanya Papa mengusap peluh sang istri.


"Heem, tapi tak sebanding dengan enaknya begini," jawab Mama dengan lembut.


Mereka berdua seolah lupa dengan Audrey yang sedang menunggu sang Mama ke dalam kamar.


"Papa mau nambah anak lagi mah. Gimana menurut Mama?" tanya Papa pada sang istri.


Plak


"Kita udah tua, udah waktunya nimang cucu."


"Kan siapa tahu Mama mau nambah anak. Kan Papa bisa minum obat kuat," jawab Papa yang membuat Mama melotot dibuatnya.


Bagaimana jika sang suami meminum obat kuat jika dalam keadaan normal saja sudah membuat ia terkapar seperti ini.


Mama Olivia tak bisa membayangkan, tapi memang ini adalah olah raga yang paling ia sukai. Mereka selalu saja ada cara untuk bisa menyalurkan hasratnya masing masing.


Kadang Mama Olivia yang datang ke kantor membawakan makan siang sekaligus nana nina bersama sang suami. Kadang Papa Xander yang pulang ke rumah padahal waktunya belum pulang.


"Mah lagi yuk, mumpung stamina Papa lagi vit gini."


Mama Olivia malu, suaminya ini seperti anak yang baru menikah saja. Padahal mereka sudah tua walau wajah mereka seperti orang 30 tahunan.


"Tapi Papa mau Mama yang di atas, suka banget lihat ekspresi wajah Mama yang lagi keenakan," ujar Papa Xander yang sudah membalikkan tubuh keduanya hingga posisi mereka saat ini adalah Mama Olivia yang di atas sedangkan Papa Xander di bawah.


Dasar orang tua, makin tua makin jadi kalau begini. Gak mikir Audrey yang lagi nunggu Mama Olivia apa ya.


Tanpa Mama Olivia sadari Papa Xander tersenyum senang dan puas karena rencananya berhasil. Ia membuat sang istri tak meninggalkan dirinya di kamar sendiri. Baginya jika tak ada sang istri yang memeluknya itu sepi dan dingin ranjangnya.


****


Ceklek


Audrey yang belum tidur itu kaget siapa yang datang ke kamarnya. Kenapa bisa Arka yang masuk. Nanti kalau Mama Olivia lihat bagaimana, nanti hukumannya ditambah.


"Kakak kok bisa disini?"


"Mau tidur sayang," jawab Arka menjatuhkan kepalanya di atas paha Audrey.


"Kalau Mama lihat nanti hukumannya ditambah sama Mama emang Kakak mau?" tanya Audrey mengelus rambut sang suami.


"Besok aku langsung pergi selagi Mama belum kesini. Tadi Papa yang punya ide buat aku kesini, sedangkan Papa tidur sama Mama."


"Oalah jadi sudah kerja sama."


"Hmm."


"Padahal aku capek nungguin Mama tapi yang ditunggu malah tidur sama suaminya," gumam Audrey memindahkan kepala sang suami ke bantal kemudian ia ikut berbaring lagi.


"Sini peluk Mas dulu."


"Mas?"


"Heem, kita udah jadi suami istri masa kamu terus manggil aku Kakak sih?" tanya Arka yang sudah menarik pinggang sang istri ke dalam pelukannya.


"Aku gak terbiasa."


"Nanti juga terbiasa. Dah yuk tidur," ajak Arka dan dianggukkan oleh Audrey.


Akhirnya mereka tertidur dengan lelapnya. Rencana Papa dan Arka sukses besar, karena keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dasar tidak anak tidak bapak sama saja.


Bersambung