Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Keputusan Bersama



Happy reading


Deg


Pandanaran mereka saling bertemu, Audrey yang melihat tubuh kakaknya itu langsung menutup wajahnya yang merah dengan boneka panda yang ia bawa.


Sedangkan Arka yang melihat sang adik itu hanya bisa menggeleng dan mengambil celana tidurnya tanpa memakai atasan. Sebenarnya Arka juga tak suka jika tidur memakai celana panjang.


Arka jadi ingat tadi saat sebelum makan malam, Audrey meminta untuk tidur bersama dan bodohnya Arka menyetujuinya.


Arka berjalan menuju kasur dan meraih boneka yang menutupi wajah sang adik. Kemudian melihat wajah Audrey yang sudah memerah, sangat menggemaskan bagi Arka.


"Kenapa disini?" tanya Arka dengan senyumnya. Ingin sekali menggigit pipi mengembung milik Audrey.


"Daddy kenapa gak pakai baju?" tanya Audrey dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedangkan matanya sedikit melihat perut yang sangat menggoda imannya itu.


"Memangnya kenapa, kan kakak emang gak betah kalau pakai baju saat akan tidur," jawab Arka mendekatkan diri ke arah Audrey.


Hal itu cukup membuat Audrey deg degan. Dan makin salah tingkah di depan sang kakak yang dipanggil Daddy itu.


Bughh


Arka yang sudah membuat jantung Audrey berdisko ria itu malah menjatuhkan tubuhnya di kasur samping Audrey.


Audrey menatap kakaknya dengan kesal, seenaknya sudah membuat jantungnya tak normal kini malah tanpa bersalah tidur begitu saja.


"Daddy nyebelin," ucap Audrey menggembungkan pipinya.


"Hmm. Kenapa?"


Audrey tak menjawab tapi ia malah memeluk boneka panda miliknya dengan erat.


"Dad."


"Hmm."


Arka yang belum tidur tapi hanya menutup matanya itu bisa mendengar dan merasakan apa yang sedang gadis ini lakukan di kasurnya.


"Tentang tadi," ucap Audrey dangan pelan. Selain ingin tidur bersama, Audrey juga ingin membicarakan hal ini dengan Daddynya.


"Soal?"


"Soal surat wasiat," jawab Audrey yang semakin lama semakin kesal dengan sang Daddy.


Arka yang mendengar itu langsung membuka matanya dan duduk kembali kemudian ia menatap Audrey yang sedang memainkan tangan bonekanya.


"Kamu maunya gimana?" tanya Arka.


Jujur saja laki laki yang hampir menginjak usia 30 tahun itu kini sedang dilanda kepasrahan. Arka berpikir Audrey akan menolak karena usia Audrey yang masih sangat muda untuk menjalani pernikahan. Tapi Arka juga ingin membina sebuah rumah tangga yang harmonis dengan wanita yang ia cintai dan ia sayangi juga. Bukan karena keterpaksaan.


"Kalau Daddy gimana? Audrey gak mau keputusan Audrey membuat Daddy menjauh dari Drey. Drey mau Daddy selalu sama Drey," ucap Audrey yang membuat Arka bingung.


"Tapi Drey juga gak mau egois, Daddy berhak bahagia dengan pilihan Daddy sendiri. Walau Audrey sangat menginginkan Daddy sebagai suami Drey," tambah Drey tanpa sadar mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang istri dari Arka.


"Eh apa yang Drey bilang tadi?" tanya Audrey dengan bingung. Jujur ia tak sadar apa yang diucapkannya.


"Daddy diam, Audrey tadi ngomong apa sih. Kan Drey cuma ngomong, Drey gak mau egois," ucap Audrey yang tak ingat apa yang ia katakan tadi.


Arka yang mendengat kalimat yang tak sengaja dikatakan adik angkatnya itu tanpa sadar ia menarik sudut bibir ke atas. Membuat Audrey bingung, kenapa ia bisa lupa akan apa yang ia katakan sih.


"Daddy," rengek Audrey saat ia tak mendapat jawaban dari Arka.


Tiba tiba Arka menormalkan ekspresi wajahnya dengan cepat. Apalagi ia juga ingin mengatakan apa yang ada di otaknya.


"Hmm."


"Aku tadi ngomong apa?" tanya Audrey dengan pelan.


Audrey yang mendengar itu langsung duduk berhadapan dengan Arka. Tangannya masih memeluk boneka panda yang ia bawa itu sesekali ia tarik tangan boneka itu.


"Yaa."


"Kakak tanya dulu sama Drey. Bagaimana rasa Drey saat berdekatan dengan kakak seperti ini?" tanya Arka mendekatkan dirinya ke arah Audrey.


"Deg degan," jawab Audrey dengan jujur. Buat apa juga ia bohong jika sudah seperti ini.


"Apa kamu ingin mendengar apa yang menjadi keputusan Kakak saat ini?" tanya Arka dan dianggukkan oleh Audrey.


"Apapun yang menjadi keputusan Daddy, Audrey akan menerima dengan lapang dada kok," ucap Audrey mencoba untuk senyum.


Arka menarik tangan Audrey untuk menyentuh dan merasakan dadanya yang berdebar kencang saat ini.


"Kakak sakit?" tanya Audrey dengan polos tapi Audrey suka menyentuh dada yang polos itu.


"Kakak selalu seperti ini saat bersama kamu, Drey. Oke kakak akui kakak suka sama kamu, bukan antara adik dan kakak tapi seorang wanita dan laki laki. Kakak sudah mencoba untuk menyingkirkan rasa ini tapi tak bisa, semakin kakak menjauh semakin rindu pula kakak dengan kamu. Apa ini salah, Dek?" tanya Arka jujur dengan apa yang ia alami selama ini.


Deg deg deg


Audrey yang mendengar itu terkejut sesaat kemudian tersenyum. Jadi selama ini kakaknya ini juga suka dengan dirinya yang notabene adalah adik angkat?? Arghh rasanya ia sudah ingin terbang karena hal ini.


"Daddy."


Arka tersenyum kemudian merentangkan tangannya, Audrey yang melihat itu langsung membuang boneka panda yang dipeluknya dan beralih memeluk tubuh Arka yang ada di depannya.


Arka juga mengelus lembut rambut panjang Audrey yang memeluknya erat.


"Jadi Daddy."


"Hmm, Daddy mencintaimu Audrey."


Untuk pertama kalinya, Arka memanggil dirinya Daddy pada Audrey.


Audrey tak bisa lagi menyembunyikan senyum di wajahnya, perutnya bagai di kelilingi ribuan kupu kupu. Untung ia masih memeluk Arka dan wajahnya tak terlihat oleh Arka.


"Drey," panggil Arka yang mendapat deheman dari Audrey.


"Kamu gak apa apa kalau nikah diusia muda?" tanya Arka dengan lembut.


"Emm, memangnya boleh?" tanya Audrey menyembulkan wajahnya dari dada Arka.


"Kan kakak tanya sama kamu? Kenapa malah tanya balik sih hmm?" tanya Arka mengecup kening Audrey.


Lagi lagi hal itu membuat Audrey tersipu malu, karena ini yang menyatakan cinta adalah orang yang mencintainya sedangkan dulu ia belum tahu jika Arka menyukainya.


"Aku sih ngikut Daddy. Soalnya Audrey juga udah suka sama Daddy. Bukan sebagai Kakak tapi laki laki," ujar Audrey yang membuat Arka lagi lagi menarik senyum di bibirnya.


"Terima kasih, Drey."


"Tapi kamu masih terlalu muda untuk pernikahan. Kakak gak mau masa depan kamu hancur gara gara kakak yang nikahin kamu," ucap Arka mengelus rambut sang adik.


"Kan Audrey juga udah punya KTP, lagian kalau kita nikah. Daddy gak akan kengkang aku di rumah terus kan? Daddy bakal biarin aku terus sekolah dan jalan jalan sama teman kan?" tanya Audrey dengan senyum manisnya.


"Kakak gak akan kengkang kamu saat jadi istri Kakak. Tapi kamu tak boleh melalaikan kamu sebagai istri kakak, Drey," ucap Arka yang membuat Audrey bingung.


"Tugas istri kayak Mama gitu kan ya. Siapin makan, cium cium. Gampang kok kayaknya," ucap Audrey yang masih berpikir cetek.


Arka bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ia akan menyuruh Mamanya saja untuk menjelaskannya pada Audrey besok. Yang penting sekarang ia sudah mendapatkan cinta dari adik angkatnya ini.


Bersambung