
Happy reading
Setelah sarapan tadi, Audrey langsung berangkat ke sekolah bersama Arka. Karena gadis itu ingin selalu bersama Arka.
"Dad," panggil Audrey menatap Arka.
"Hmm."
"Kita gak pacaran dulu?" tanya Audrey yang membuat Arka langsung menatap Audrey yang juga sedang menatapnya.
Ada rasa geli saat Audrey mengatakan kata pacaran, sebab apa? Sebab ia sudah tak pantas untuk yang namanya pacaran karena usianya sudah memasuki kepala tiga.
"Kakak udah gak pantes yang namanya pacaran, udah waktunya nikah Drey. Bukan waktunya pacaran yang hanya menghabiskan waktu saja," jawab Arka yang membuat Audrey mengangguk.
"Tapia Audrey ingin merasakan yang namanya pacaran, Dad. Bisa jalan jalan ke mall bareng sama pacarnya, bisa jalan jalan kemana aja sambil gandengan tangan. Malam mingguan juga," ucap Audrey yang membayangkan jika ia bisa melakukan malam mingguan bersama Arka. Dengan pakaian santai tak seperti ini yang satu pakai seragam sekolah yang satunya pakai seragam formal.
"Bukannya kita hampir setiap hari makan bareng ya? Bukannya itu sama aja kayak jalan?" tanya Arka yang tak banyak tahu tentang anak muda pacaran sekarang.
Karena dulu ia hanya menghabiskan waktunya dengan buku buku yang setiap hari di kamarnya. Maka dari itu mungkin yang membuat mantannya memilih laki laki lain. Tapi ia tak menyesal akan hal itu dengan adanya penghianatan itu malah membuat pikirannya terbuka untuk tak menilai orang dari fisiknya saja tapi hatinya.
"Ih itu beda, Dad. Kita itu lebih pantas jadi ayah dan anak kalau lagi pakai baju gini. Aku mau sama Daddy pakai pakaian santai biar dikira kayak anak lagi pacaran. Soalnya muka Daddy juga gak menunjukkan kalau umur Daddy itu hampir 30 tahun," ujar Audrey dengan senyum.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Arka yang sepertinya menyukai pembahasan mereka kali ini.
"Aku mau kita pacaran sampai nanti kita menikah," ucap Audrey yang membuat Arka mengangguk.
"Setelah menikah?" tanya Arka.
"Pacaran setelah halal dong. Kalau sekarang kita masih pacaran belum halal."
"Hmm, oke hari ini kita pacaran," ucap Arka dengan senyum tipisnya.
"Gak romantis banget deh, kalau menembaknya gitu," ujar Audrey mencebikkan bibirnya.
"Terus kamu maunya gimana sayang?" tanya Arka dengan lembut. Ia harus super sabar jika menghadapi adik tercintanya ini.
"Gak tahu, Daddy yang peka dong."
Jujur saja Audrey deg degan mendengar kata sayang dari bibir kakaknya yang sangat kaku ini. Bisa juga Arka berucap lembut seperti tadi.
Arka yang harus peka itu mulai menepikan jalan, sungguh juga harus bersikap romantis Arka tak bisa. Ia tak pernah berhubungan dengan yang namanya perempuan tapi jika ini soal Audrey beda lagi.
"Audrey Cantika, maukah kamu menjadi pacarmu untuk berberapa hari ini sebelum kita menikah?" tanya Arka bersikap lembut seraya memegang tangan Audrey dengan lembut.
"Mau...... Drey mau, Daddy."
Audrey bahagia ditembak sang Daddy seperti ini walaupun tak ada adegan romantis seperti yang ada di drama drama tapi Audrey tetap senang.
Arka mengelus rambut Audrey karena mengembalikan mood Audrey itu sangat mudah beda lagi kalau Drey sedang kesal dan marah akut. Maka jangankan mengembalikan moodnya yang hilang, Arka pasti akan dimakan dulu.
Kemudian Arka kembali menjalankan mobil itu menuju sekolah Audrey. Dengan Audrey yang sudah tak malu lagi untuk menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak.
Dengan tangan yang yang sejak tadi dipegang Arka sesekali dikecupnya punggung tangan itu dengan lembut.
"Apa seperti ini rasanya pacaran? Kenapa tidak sejak dulu aja aku pacaran kalau seperti ini?" tanya Audrey yang merasakan nyaman dan hangat saat ini.
"Nanti pulangnya, Kakak jemput ya. Kamu tunggu aja di tempat biasa," ucap Arka mengecup kening Audrey dengan lembut.
"Aku udah janjian sama Ica, Dad. Nanti Daddy jemput kalau Audrey udah selesai jalan sama Ica aja ya," jawab Audrey dengan senyum manisnya. Ia tak mau membuat Arka marah maka dari itu ia meminta izin terlebih dahulu.
"Bukannya Daddy juga memata mataiku di sekolah. Pasti Daddy tahu siapa yang dekat denganku dan juga apa yang aku lakukan? Aku tak mau Daddy membunuh orang ya. Awas aja kalau hal itu terjadi seperti kemarin, aku tak akan memaafkan Daddy."
"Hal mereka untuk suka dan cinta sama Audrey, asalkan Audrey tak menyukai mereka kan beres. Drey kan cinta sama Daddy bukan sama yang lain," ucap Audrey mengecup rahang Arka yang membuat laki laki itu kaget dengan tingkah berani Audrey.
Sejak kapan adiknya itu bisa seperti ini, bahkan ucapannya yang tadi itu sangatlah bijak bagi Arka.
"Nanggung Drey, kenapa gak di bibir?" tanya Arka menatap sang kekasih kemudian memajukan wajahnya dan.
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir Audrey, Audrey sempat membatu melihat Arka yang sudah kembali menyetir dan fokus pada jalan raya.
"Daddy, itu ciuman pertama Drey."
"Itu kecupan sayang, bukan ciuman."
"Sama saja."
Arka tersenyum melihat Audrey yang memegang bibirnya sendiri itu. Rasanya sangat bahagia seperti ini, ia tak peduli apa kata orang orang nanti tentang hubungannya dan Audrey yang tak lain adalah adik mereka.
Karena selama ini juga, Audrey tak masuk satu kk dengannya. Walau sudah diangkat menjadi anak oleh Mama dan Papa. Karena apa? Ya karena Mama dan Papa akan menjodohkan dan menikahkan mereka saat keduanya sudah besar.
Sampainya di sekolahan, Audrey langsung melepas sabuk pengamannya dan ingin turun tapi langsung ditahan oleh Arka.
"Apa begini sikapmu kepada calon suamimu, sayang?" tanya Arka yang membuat Audrey bingung.
"Kan biasanya juga gini."
Arka menggeleng, kemudian ia mengambil jatah saku Audrey yang ada di siap di mobil itu kemudian memberikannya ke Audrey.
"Jatah jajan kamu, daripada kamu gak jajan," ucap Arka.
"Jangan dibelikan kupon kupon gak jelas lagi, atau kakak akan buat bangkrut itu yang jual kupon."
"Ih dad, aku hanya mencoba keberuntungan. Emm nanti uangnya mau aku buat nyapit boneka di mall. Bolehkan?"
"Hufftt gini nih kalau punya calon istri masih bocil. Ya sudah boleh tapi gak boleh banyak banyak. Intinya kamu harus jajan jangan cuma beli yang gak berguna," jawab Arka yang membuat Audrey senang.
"Makasih Daddy."
Arka menyodorkan tangannya pada Audrey yang membuat Audrey menerimanya dan mencium punggung tangan sang kakak. Sepertinya ia harus les dulu pada Mama.
Cups
"Belajar yang bener jangan main main."
"Iya dad."
Dengan perasaan senang Audrey keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam sekolah. Tak lupa ia menyapa dua satpam yang sedang berjaga di depan gerbang itu.
Arka melihat sang adik yang sudah masuk dan berbaur dengan temannya itu langsung menjalankan mobilnya menuju kantor.
Bersambung