Love Me Please, Daddy!

Love Me Please, Daddy!
Jantung Yang Tak Aman



Happy reading


"Kenapa sih dad sampai mau bunuh orang segala. Dia apain kamu?" tanya Audrey menatap Arka yang sedang melepas dua kancing kemeja atasnya itu.


"Dia gak tahu diri jadi perempuan. Seenaknya datang ke kantor dan dia dengan beraninya udah peluk aku. Aku gak suka ada wanita lain yang memeluk tubuhku ini," ucap Arka dengan kesal.


Bahkan Audrey bisa melihat wajah Arka yang kini sudah memerah karena menahan amarahnya.


Audrey sendiri juga tak suka jika ada wanita yang dekat dengan Arka. Baginya Arka adalah Daddy yang paling ia cintai dan juga ia sayangi.


"Tapi Daddy mau bunuh dia gara gara itu?" tanya Audrey dan dianggukkan oleh Arka.


Arka mendekatkan dirinya yang duduk di kursi itu ke arah Audrey yang sedang duduk di meja. Bahkan Arka sendiri tak tahu kapan Audrey memindahkan laptopnya tadi.


Arka memeluk perut Audrey dengan lembut, ia butuh ketenangan dari aroma wangi Audrey.


"Elus."


Sisi manja Arka kumat jika sudah seperti ini, Audrey yang mendengar penuturan sang kakak itu langsung paham. Ia mengelus rambut Arka dengan lembut, walau Arka sudah tua tapi hanya ia yang bisa menjadi pemenang bagi Arka. Arka sangat anti dengan yang namanya minuman alkohol ataupun apapun itu.


Walau begitu Arka masih saja belum sadar dengan apa yang ia rasakan pada Audrey saat ini. Ia hanya menganggap bahwa Audrey adalah adiknya saja. Maka dari itu ia menyayangi Audrey dengan sangat tulus.


"Udah ya jangan kayak tadi, Drey takut Daddy bunuh orang. Nanti kalau Daddy masuk penjara gimana? Audrey nanti punya Daddy seorang kriminal dong," ucap Audrey dengan suara imutnya.


Arka yang mendengar itu tersenyum, kemudian ia menatap wajah Audrey yang sedang cemberut kesal melihat senyum Arka.


"Itu gak akan terjadi, karena kekuasaan kakakmu ini sudah mencakup internasional. Bahkan polisipun harus berpikir dua kali untuk menangkap kakak," jawab Arka dengan sombongnya. Bahkan Audrey yang mendengar itu langsung memasang wajah masam karena memang itu kenyataannya.


"Daddy no kakak," ucap Audrey mengalungkan tangannya di leher sang kakak kemudian menjatuhkan tubuhnya ke pangkuan sang kakak.


"Aku ini kakak kamu bukan ayah kamu."


"Tapi aku nyaman manggil Daddy daripada Kakak. Jadi jangan larang Audrey untuk tidak memanggil kakak dengan sebutan Daddy. Wong Mama dan Papa aja gak apa apa aku manggil kakak Daddy," jawab Audrey dengan senyum manisnya.


"Ya sudah terserah kamu aja, asal jangan kakek aja. Karena aku tak setua itu, aku masih 30 tahun, Drey."


"Kan memang Daddy sudah tua."


"Heem sudah waktunya menikah, Carikan calon istri buat Daddy dong dek."


Audrey yang mendengar jawaban dari Arah itu langsung menatap tajam Arka yang sedang bermain dengan rambutnya yang panjang itu dengan kesal mulai menghempaskan tangan itu dari rambut itu.


"Drey gak akan pernah membiarkan Daddy menikah dengan wanita manapun... Kecuali Drey," ucap Audrey yang di tambahkan batin di akhirnya.


"Kenapa kamu gak bolehin kakak menikah? Nanti kan kamu juga punya teman main di rumah jika kakak dan Mama papa gak ada," tanya Arka dengan lembut.


"Nanti kasih sayang Daddy terbagi dengan wanita itu, aku gak mau. Biarkan aku egois Dad. Aku tak ingin Daddy menikah dengan wanita manapun," jawab Audrey dengan cepat.


"Kalau kakak nikahnya sama kamu gimana?" tanya Arka yang entah kenapa mengatakan hal itu pada Audrey.


Deg


"Kenapa gak dijawab? Lagipula kita tidak ada hubungan darah ataupun saudara. Jadi sah sah saja kalau kita menikah," ujar Arka dengan suara lembutnya. Bahkan ia juga meniup telinga Audrey dengan pelan, hal itu cukup membuat Audrey semakin gugup dan takut.


Audrey yang mendengar itu langsung terkejut, jantungnya berdetak dengan tak karuan. Bahkan Arka yang memang sedang mengelus rambut Audrey itu merasakan detak jantung Audrey yang abnormal.


Deg deg deg


Senyum tipis Arka terpancar dengan adanya hal itu. Arka jadi yakin dengan apa yang selama ini rasakan.


"Daddy, Audrey mau pulang," cicit Audrey yang tak mau membalas Arka.


"Pulang kemana?" tanya Arka pada Audrey. Arka tak bodoh, ia tahu jika saat ini Audrey sedang mengalihkan perhatiannya dari pertanyaannya tadi.


"Pulang ke rumah Mama papa, Drey kangen sama mereka," jawab Audrey dengan jujur.


"Kita pulang bareng aja, tadi Mama telepon kalau kita disuruh pulang ke rumah utama hari ini," jawab Arka yang mulai mengambil laptopnya yang tadi disingkirkan oleh Audrey tadi. Dengan posisi masih memangku Audrey, Arka menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai.


"Daddy masih lama?" tanya Audrey yang memegang dadanya yang tak aman jika bersama Arka untuk saat ini.


"Sedikit lagi selesai. Kenapa memangnya?" tanya Arka memegang perut Audrey agar tidak pergi dari pangkuannya.


Sedangkan tangan kanannya berselancar di atas keyboard laptop dan mouse itu.


"Audrey mau pulang dulu aja, takut ganggu kerjaan Daddy," jawab Audrey dengan nada lirih.


Arka yang mendengar itu hanya tersenyum saja, apakah selama ini Audrey tidak mengganggunya saat bekerja dengan apa yang selama ini ia lakukannya?


"Kita pulang bersama, aku tak mau Mama dan Papa marah hanya karena menyuruh kamu pulang duluan. Lagipula pekerjaan kakak tinggal sedikit lagi," jawab Arka dengan bohong. Karena sejujurnya pekerjaan itu sangat banyak.


Audrey yang mendengar itu hanya mengangguk, dan menyandarkan kepalanya di leher Arka agar ia tidur lagi. Karena tadi ia belum puas tidur karena suara teriakan Arka yang keras.


"Nanti kalau udah selesai pekerjaannya bangunkan Audrey ya, Dad."


"Heem."


Tak menunggu waktu lama, Audrey langsung terlelap dengan nyaman di pangkuan Arka. Arka yang merasakan Audrey sudah terlelap itu langsung memindahkannya lagi ke kamar.


"Maaf sudah membangunkan kamu tadi."


Setelah mengucapkan hal itu, Arka kembali ke kursinya dan dengan segera menyelesaikan tugas tugasnya.


Bersambung