
Xena membuang napas pelan. Ia menatap laptop nya. Bukan untuk bekerja, tapi untuk mencari tau semua tantang Om nya. Ia mengetikan nama 'Iqbal Putra Maheswara' pada keyboard laptop nya yang memunculkannya pada kotak pencarian di google.
Tak butuh waktu lama. Kini dilayar laptop nya sudah dipenuhi data² tentang 'Iqbal' Om Xena.
'Iqbal Putra Maheswara adalah seorang pengusaha tambang yang namanya sudah dikenal hingga kenegara bagian. Maheswara Group. Bisnis yang digelutinya sejak masih muda ini terus berkembang pesat hingga saat ini. Iqbal juga memiliki istri cantik bernama Novia Pradita yang bekerja sebagai dosen disalah satu kampus ternama di Jakarta. Sudah bertahun tahun menikah namun belum juga memiliki keturunan. Meskipun begitu, kebersamaan diantara mereka yang beberapa kali tertangkap kamera membuat iri para netizen. Iqbal tidak pernah mempermasalahkan tentang keturunan. Saat ditanya beberapa kali, ia selalu menjawab "Tidak ada yang sempurna didunia ini. Mungkin kami memang tidak memiliki keturunan, namun kami tetap selalu bahagia dengan apa yang kami miliki." jawaban yang selalu membuat para netizen merasa iri dengan besarnya cinta Iqbal untuk istrinya.....'
Xena membacanya dengan seksama. Ia tertegun sebentar.
"Om Iqbal sama Tante Novia belum punya anak juga?" batinnya menatap iba tulisan dilayar laptop nya. Dulu memang setahu nya Om Iqbal dan Tante Novia memang belum memiliki keturunan. Ia baru tau jika sampai sekarang mereka belum juga mendapat keturunan.
Xena melanjutkan mencari tau tentang Om nya. Ia sudah mengetahui perusahaan milik Om nya. Mungkin ia bisa mengajak kerja sama dulu. Atau langsung saja mendatangi perusahaan Om nya. Jika memgajak kerja sama, mungkin agak aneh. Perusahaan Xena bergerak dibidang kuliner, sementara perusahaan Om Iqbal bidang pertambangan. Mungkin pilihan kedua dengan mendatangi langsung kantor Maheswara Group akan dipilih Xena untuk hal ini.
*****
"Gila sih. Akhirnya kita bisa bales dendam juga sama Wild Horse. Semoga setelah ini mereka sadar diri deh, nggak coba² ganggu kita lagi." ucap Reyn. Ia sekarang sedang berada dikantor kembarannya. Setelah menelpon Bella tadi, ia langsung kekantor Rayn karena gabut. Padahal dikantornya sedang banyak tugas. Ia bilang 'Gue punya anak buah. Sayang kalo mereka nggak digunain.' Ia duduk santai disofa sementara Rayn duduk di kursi kebesarannya.
"Mereka belum kalah!" sahut Rayn dingin.
"Iya gue juga tau. Anggep aja ini sebagai peringatan buat mereka supaya nggak nggaggu kita lagi. Lagian kemana sih, tuh tua bangka. Kalo aja dia ada disana gue sendiri tuh yang bakal nebas kepalanya." ucap Reyn.
Semalam mereka jadi menyerang balik markas Wild Horse. Mereka menang telak. Hanya saja pemimpin dan anggota² inti mereka sedang tidak dimarkas itu. Jadi mereka hanya menyerang anak buah kacangan WH saja.
"Sekali lagi mereka macem² kita berantas sampai akar² nya." geram Rayn.
"Lo udah ngapain aja sama Xena?" tanya Reyn mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau Rayn kepancing emosinya dan dia yang kena imbasnya. Rayn mengangkat sebelah alisnya.
"Maksud gue, lo udah ajak Xena ketemu siapa aja?" Reyn memperbaiki kalimat tanya nya yang ambigu.
"Selain kita, baru Mama!" jawab Rayn singkat.
"Lo nggak ajak dia ketemu sama Om Iqbal sama Tante Novia?"
"Mereka lagi diluar negeri."
"Oh iya, gue lupa." Reyn menepuk jidatnya sendiri.
"Kalo sama bokap nya?" tanya Reyn hati hati.
Rayn diam, ia tidak menjawab pertanyaan kembarannya. Ia juga bingung, apakah Xena mau bertemu Ayahnya?
"Ngomong², lo suka sama Xena?" tanya Reyn lagi setelah hening beberapa saat. Rayn refleks menatap kembarannya.
"Tenang aja, gue nggak akan ketawain lo kalo lo suka sama Xena. Gue malah setuju lo sama dia dari pada sama nenek lampir itu." kata Rayn. Nenek lampir yang dimaksud Reyn adalah Celena.
"Gue nggak tau!" ucap Rayn setelah beberapa saat hanya menimang nimang.
"Kalo pun gue suka sama dia, gue nggak tau gimana dia!" lanjut Rayn.
"Ya lo harus pepet dia terus lah. Lo sering sering ajak dia jalan. Nonton kek, liburan kek, piknik atau apa lah terserah lo."
"Nanti!" sahut Rayn santai.
"Susah deh ngomong sama kulkas." gumam Reyn.
"Mending lo pergi sana. Ganggu aja!" usir Rayn. Reyn membelakakkan matanya.
"Nggak ada gunanya lo disini." sahut Rayn pedas.
"Iya sih. Tapi emang nggak boleh gue kesini? Sombong amat lo jadi orang!"
"Pergi sana!"
"Iya iya bawel lo!" Reyn akhirnya beranjak pergi. Ia berhenti diambang pintu dan menoleh kembali ke arah kembarannya.
"Jangan lupa, pepet terus Xena. Langsung halalin juga boleh. Biar gue cepet dapet ponakan." ucap Reyn sambil terkikik. Rayn melempar pulpen nya kearah Reyn namun meleset karena Reyn segera keluar.
"Nonton ya?" Rayn memikirkan saran kembarannya.
*****
Seperti yang sudah ia rencanakan. Siang ini Xena mendatangi kantor milik Om nya. Ia sekarang sudah berdiri di lobi gedung perusahaan Maheswara Group. Xena masuk dan menuju ke meja resepsionis.
"Selamat datang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis sopan.
"Apa saya bisa bertemu dengan, Pak Iqbal Maheswara?" tanya Xena.
"Maaf, Bu tapi Pak Iqbal nya sedang berada di luar negeri." jawab resepsionis. Xena menghela napas kecewa.
"Sama istrinya?" resepsionis itu menatap lekat Xena. Ia memicingkan mata lalu mengangguk.
"Kira² kapan beliau pulang ya?"
"Mungkin dua atau tiga hari lagi beliau pulang. Ada keperluan apa ya, mungkin nanti bisa saya sampaikan ke sekertaris beliau?"
"Tidak usah, lain kali saya datang lagi."
"Apa anda sudah membuat janji dengan Pak Iqbal?" Xena menggeleng. Tentu saja ia belum membuat janji. Ia ingin bertemu Om nya, apakah harus membuat janji terlebih dahulu?
"Baik lah. Anda tulis saja nama dan nomor telpon anda. Nanti saya sampaikan kepada sekertaris beliau." saran resepsionis sambil memberikan kertas dan pulpen.
"Baik." Xena menerima pulpen dan kertas itu. Ia menimang nimang sebentar nama mana yang akan ia pakai. Lexena Kainara atau Evita Anggraini ? Kalau dia pakai nama Lexena Kainara mungkin Om nya langsung bisa mengetahui siapa dia, tapi nama yang sekarang ia gunakan dan dikenal semua orang adalah Evita Anggraini.
Xena membuang napas pelan. Ia mulai menuliskan nama yang ia pilih juga nomor telponnya. Setelah selesai, Xena mengambalikan pulpen dan kertas kepada sang resepsionis.
"Selanjutnya saya akan menghubungi anda." ucap resepsionis itu. Xena hanya mengangguk. Ia kemudian pergi dengan perasaan kecewa karena belum bisa bertemu Om nya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote😄