
Hari ini Reyn berencana mengajak Bella lunch bareng. Ia mencoba menghubungi nomor Bella. Reyn masih berada dikantornya. Ia sedang duduk dikursi kebesarannya.
Setelah beberapa kali nada panggilan, akhirnya Bella mengangkat telponnya.
Bella : "Kenapa Reyn?"
Reyn : "Lo sibuk nggak nanti siang?"
Bella : "Nggak tau nih. Sekarang gue lagi pindah lokasi. Kenapa, tumben nanya²?"
Reyn : "Lah, emamg nggak boleh kalo gue nannya?"
Bella : "Boleh aja sih, emang ada apa sih?"
Reyn : "Lo pindah kemana?"
Bella : "Gue pindah ketaman deket Darenbi Resto."
Reyn sedikit mengeluh mendengar nama Darenbi Resto. Ia teringat cewek ngeselin yang selalu mengajaknya berdebat.
Bella : "Lo masih disana, Reyn?"
Reyn : "Iya. Gue mau ngajak lo makan siang, bisa nggak?"
Bella : "Sama yang lain juga?"
Reyn mengusap rambutnya.
Reyn : "Enggak."
Bella : "Cuma berdua?"
Reyn : "Kalo lo nggak mau ya udah. Gue nggak maksa!"
Bella : "Dih, sensi banget lo?"
Terdengar tawa dari seberang.
Reyn : "Jadi gimana? Mau apa nggak?"
Bella : "Iya, deh. Nanti gue kabarin lagi."
Reyn : "Okee!"
Reyn menutup sambungan teleponnya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar hingga menunjukkan deretan gigi putihnya. Walaupun sering terlihat ribut, namun sepertinya Reyn menyimpan rasa yang lebih terhadap Bella.
****
Diruangan Xena, ia sedang fokus dengan laptop nya. Walaupun sebagian tugas sudah ia serahkan kepada Reza dan Silfi, tetap saja pekerjaannya masih banyak. Lihat saja sekarang dimejanya terdapat setumpuk dokumen yang perlu ia tandatangani.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi, Mrs, saya mau ambil dokumen yang sudah Mrs. Vita tanda tangani." ucap Reza setelah berada diruangan Xena.
"Hah?! Udah mau diambil sekarang?!" Xena menatap nanar setumpuk dokumen dihadapannya. Ia sama sekali belum menyentuh dokumen² itu.
"Iya, Mrs! Mrs. Vita sudah selesai menandatanganinya kan?"
"Saya malah belum menyentuhnya, Reza!" ucap Xena miris.
"Aduh, gimana dong, Mrs, dokumen ini dibutuhin hari ini juga!" sahut Reza menpuk dokumen² itu.
"Sekarang kamu bantu saya. Semua ini udah kamu pelajari lagi kan?" tanya Xena. Reza mengangguk.
"Kalau anda percaya dengan saya. Anda bisa langsung menandatanganinya. Beberapa ada yang di cek sama Silfi." ucap Reza.
"Saya percaya kamu sama Silfi!"
Mereka bekerja sama menyelesaikan dokumen itu. Reza membuka halaman yang haris ditandatangani Xena, dan Xena bertugas menandatangani dokumen itu.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit semua dokumen sudah selesai ditandatangani.
Xena kembali melihat laptop nya setelah Reza keluar membawa dokumen yang sudah ia tandatangani tadi. Tiba tiba ia teringat pembicaraannya pada Bagas tadi malam. Bukan pembicaraannya, namun pada Om nya.
Ia sudah bertemu dengan sahabat² kecilnya juga Tante Alice. Apakah dia juga harus bertemu dengan Om nya? Dia bisa saja langsung mencari tau dimana Om nya beserta istri Om nya. Mudah baginya mencari tau karena dia punya kata kuncinya yang akan mengarahkannya pada semua tantang Om nya.
Hari ini Reyn berencana mengajak Bella lunch bareng. Ia mencoba menghubungi nomor Bella. Reyn masih berada dikantornya. Ia sedang duduk dikursi kebesarannya.
Setelah beberapa kali nada panggilan, akhirnya Bella mengangkat telponnya.
Bella : "Kenapa Reyn?"
Reyn : "Lo sibuk nggak nanti siang?"
Bella : "Nggak tau nih. Sekarang gue lagi pindah lokasi. Kenapa, tumben nanya²?"
Reyn : "Lah, emamg nggak boleh kalo gue nannya?"
Bella : "Boleh aja sih, emang ada apa sih?"
Reyn : "Lo pindah kemana?"
Bella : "Gue pindah ketaman deket Darenbi Resto."
Reyn sedikit mengeluh mendengar nama Darenbi Resto. Ia teringat cewek ngeselin yang selalu mengajaknya berdebat.
Bella : "Lo masih disana, Reyn?"
Reyn : "Iya. Gue mau ngajak lo makan siang, bisa nggak?"
Bella : "Sama yang lain juga?"
Reyn mengusap rambutnya.
Reyn : "Enggak."
Bella : "Cuma berdua?"
Reyn : "Kalo lo nggak mau ya udah. Gue nggak maksa!"
Bella : "Dih, sensi banget lo?"
Terdengar tawa dari seberang.
Reyn : "Jadi gimana? Mau apa nggak?"
Bella : "Iya, deh. Nanti gue kabarin lagi."
Reyn : "Okee!"
Reyn menutup sambungan teleponnya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar hingga menunjukkan deretan gigi putihnya. Walaupun sering terlihat ribut, namun sepertinya Reyn menyimpan rasa yang lebih terhadap Bella.
****
Diruangan Xena, ia sedang fokus dengan laptop nya. Walaupun sebagian tugas sudah ia serahkan kepada Reza dan Silfi, tetap saja pekerjaannya masih banyak. Lihat saja sekarang dimejanya terdapat setumpuk dokumen yang perlu ia tandatangani.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Permisi, Mrs, saya mau ambil dokumen yang sudah Mrs. Vita tanda tangani." ucap Reza setelah berada diruangan Xena.
"Hah?! Udah mau diambil sekarang?!" Xena menatap nanar setumpuk dokumen dihadapannya. Ia sama sekali belum menyentuh dokumen² itu.
"Iya, Mrs! Mrs. Vita sudah selesai menandatanganinya kan?"
"Saya malah belum menyentuhnya, Reza!" ucap Xena miris.
"Aduh, gimana dong, Mrs, dokumen ini dibutuhin hari ini juga!" sahut Reza menpuk dokumen² itu.
"Sekarang kamu bantu saya. Semua ini udah kamu pelajari lagi kan?" tanya Xena. Reza mengangguk.
"Kalau anda percaya dengan saya. Anda bisa langsung menandatanganinya. Beberapa ada yang di cek sama Silfi." ucap Reza.
"Saya percaya kamu sama Silfi!"
Mereka bekerja sama menyelesaikan dokumen itu. Reza membuka halaman yang haris ditandatangani Xena, dan Xena bertugas menandatangani dokumen itu.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit semua dokumen sudah selesai ditandatangani.
Xena kembali melihat laptop nya setelah Reza keluar membawa dokumen yang sudah ia tandatangani tadi. Tiba tiba ia teringat pembicaraannya pada Bagas tadi malam. Bukan pembicaraannya, namun pada Om nya.
Ia sudah bertemu dengan sahabat² kecilnya juga Tante Alice. Apakah dia juga harus bertemu dengan Om nya? Dia bisa saja langsung mencari tau dimana Om nya beserta istri Om nya. Mudah baginya mencari tau karena dia punya kata kuncinya yang akan mengarahkannya pada semua tantang Om nya.