
"Gue kan udah nganterin harusnya lo bilang makasih lah!" ucap Bagas.
"Iya iya makasih!" sahut Xena akhirnya mengucapkan terimakasih.
"Haha, gue bercanda kalik. Kenapa?" tanya Bagas menjawab panggilan Xena sebelumnya.
"Gue butuh bantuan lo!"
"Bantuan apa? Bilang aja! Siapa tau gue bisa bantu,"
"Emm, gini. Gue bingung mulainya dari mana." ucap Xena merangkai kata² yang pas untuk menyampaikan masalahnya.
Teman² nya belum ada yang tau tentang masa lalu Xena. Dan yang akan ia bicarakan pada Bagas menyangkut masa lalu nya.
"Lo ada masalah?"
"Ini menyangkut masa lalu gue!" jawab Xena sambil menunduk.
"Gimana gimana?" tanya Bagas. Ia sekarang dalam mode serius. Ini menyangkut masalalu sahabatnya yang dari dulu ia tunggu² ceritanya.
"Tapi bentar. Kayaknya nggak enak deh kalo kita ngobrol disini. Kita cari tempat yang enak buat ngobrol!" ajak Bagas sebelum Xena melanjutkan ceritanya. Xena mengangguk.
Bagas kembali menjalankan mobilnya. Ia berhenti disebuah cafe. Cafe dengan desain klasik namuan terkesan elegan dan mewah. Cafe itu cukup ramai pada malam hari. Bagas mengajaknya masuk kedalam ruang VIP.
Sepertinya Bagas sering kesini. Ia seperti sudah hafal letak ruangan itu. Sebelum masuk keruangan itu, Bagas mengode seorang pelayan. Xena tidak mengerti maksud kode itu, tapi sepertinya pelayan itu paham. Itu membuktikan bahwa Bagas memang sering kesini.
Bagas menyuruh Xena duduk disebuah sofa.
"Lo sering kesini?" Xena menanyakan hal yang sejak tadi ia pikirkan.
"Cafe ini punya temen sekelas gue dulu waktu kuliah. Gue sering kesini kalo misalnya ada pasien yang butuh tempat lain pas konsultasi selain di RS. Mungkin bosen, atau gue yang emang ngajak mereka biar bisa kasih suasana baru." jawab Bagas menjelaskan. Xena hanya mengangguk angguk kan kepalanya paham.
Seirang pelayan masuk dengan minuman dinampan yang ia bawa. Pelayan yang tadi dikode oleh Bagas. Pelayan itu menaruh minuman dimeja lalu kembali keluar setelah Xena dan Bagas mengucapkn terimakasih.
"Oh ya, tumben Dara ngambil cuti lama? Dan sejak kapan Dara ngungsi di apartemen lo?" tanya Bagas memilih membicarakan Dara terlebih dahulu.
"Iya, Dara itu lagi ada masalah sama model satu kontraknya. Jadi dia milih buat ngambil cuti dulu sampai masalahnya nggak terlalu panas. Di kesepian diapartemennya jadi dia ngungsi deh ke apart gue. Nggak papa sih, itung² buat temen." jelas Xena.
"Kasian amat tuh anak!"
"Gitu deh. Gue nggak tau keputisan di buat ngambil cuti itu bener apa salah."
"Harusnya dia selesaiin masalahnya dulu. Kalo gitu sih sama aja dia kabur dari masalah. Kapan selsainya tuh masalah kalo dia menghindar terus?" sahut Bagas. Xena hanya diam mendengar ucapan Bagas yang berlaku untuknya juga sebenarnya.
"Jadi, apa yang mau lo ceritain?" tanya Bagas mulai masuk ke masalah Xena.
"Gue yakin lo orang yang tepat untuk gue cerita!" ucap Xena sebelum memulai ceritanya. Ia berniat menceritakan sebagian kisah masa lalunya yang menyangkut Mama nya. Karena hanya jtu yang diperlukan Bagas untuk bisa membantu Mama nya. Tidak perlu semua cerita.
"13 tahun yang lalu..."
...****************...
Hari ini keluarga Xena tengah bersiap untuk pergi berlibur. Setelah melalui ujian sekolah yang begitu menguras pikiran mereka, beberapa hari lalu Xena dkk sudah resmi lulus dari SD. Dan dua minggu ini mereka libur kelulusan sebelum kembali masuk sekolah di SMP. Mereka sudah merencanakan liburan kali ini adalah keliling Indonesia. Dengan antusias Xena segera mengemasi barang² yang ia perlukan. Kakak dan orang tuanya juga melakukan hal yang sama.
"Yey, liburan! Liburan!" Xena melompat lompat senang diruang keluarga. Mereka sudah selesai mengemasi barang² keperluan pribadi mereka dan sekarang mereka sedang mengemasi barang tambahan apa yang mereka perlukan selama berlibur.
"Asyik! Kita keliling Indonesia!" ucap Rafael sama antusiasnya dengan Xena.
"Foto nya juga harus bagus. Jadi kakak juga mau bawa kamera!" sahut Rafael sambil menunjukan kamera kesayangannya.
"Kalo Bella sama Aria liburan kali ini pergi kemana? Kalo Rayn, Reyn sama kak Rilan kan udah pulang ke Paris?" tanya Papa mereka. Keluarga Arsidhath pulang kekampung halamannya. Mereka akan menetap disa
"Bella katanya mau ke Italia. Aria mau kerumah Oma nya di Riau." jawab Xena.
"Mereka udah pada berangkat?" tanya Ajeng.
"Udah Ma, Bella berangkat kemarin sore. Kalo Aria berangkatnya tadi pagi." jawab Rafael. Jadwal penerbangan mereka jam 4 sore. Jadi mereka masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala keperluan. Walaupun kemarin mereka juga sudah mencicil berkemas.
"Aku nggak sabar deh, pengen berangkat." ucap Xena berbinar antusias.
Tapi kebahagiaan mereka harus selesai sampai disitu, karena hadirnya seseorang kerumah itu.
Ting tong
Bel rumah besar itu berbunyi. Salah satu art dirumah itu segera membukakkan pintu. Seorang perempuan seumuran Ajeng terlihat setelah pintu terbuka.
"Cari siapa, Bu?" tanya art.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini!" jawab perempuan itu.
Art itu nampak sedikit ragu mengijinkan perempuan didepannya masuk.
"Siapa Bi?" tanya Papa Xena pada art yang dipanggil Bibi itu. Ia keluar karena penasaran siapa yang datang.
"Ini tuan, ada yang ingin bertemu tuan!" ucap art sopan. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari pintu supaya tuannya ini bisa melihat tamu yang datang.
Deg
Bagai tersambar petir disiang bolong. Tubuh Papa Xena menegang seketika melihat perempuan yang berdiri manis didepannya.
"Hai, mas! Apa kabar?" tanya perempuan itu tersenyum ramah, tapi hanya pura².
"Udah lama ya kita nggak ketemu. Kamu masih ingetkan sama aku! Atau kamu udah lupain aku?" lanjutnya.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Papa Xena tergagap.
"Kamu masih tanya apa mau aku kesini? Tentu aku mau minta pertanggung jawaban kamu lah!" sahut perempuan itu menekan kata terakhirnya.
"Lebih baik kamu pergi!" usir Papa Xena tanpa menanggapi ucapan perempuan tadi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan vote👇