LOVE IN MY LIFE

LOVE IN MY LIFE
Dua puluh delapan



"Dara yang kasih tau kita semua!" jawab Bagas. Ia duduk dikursi yang ada di dekat ranjang Andre.


"Dia disini?" tanya Andre.


"Lah, kok lo malah tanya gue. Gue aja baru dateng, mana gue tau. Emang lo nggak liat dia?" tanya Bagas.


"Gue baru sadar. Pas gue sadar yang ada disini cuma dokter tadi." jawab Andre.


Pintu terbuka kembali, kali ini Dara yang masuk.


"Nah itu orang nya." ucap Bagas.


"Apa?" tanya Dara tak mengerti.


"Enggak, nggak ada apa apa." jawab Bagas.


"Kapan lo dateng?" tanya Dara.


"Baru aja gue sampai." jawab Bagas.


"Andre! Ya ampun lo tuh ya, bikin gue parno aja deh. Ada ada aja sih lo pakek jatuh dari tangga segala. kenapa lo nggak jatuh kekasur aja yang empuk. Jadi nggak bikin gue cemas." omel Dara rada ngawur.


"Mana gue tau kalo gue bakal jatoh dari tangga. Kalo gue dikasih pilihan jatuh dari tangga atau jatuh kekasur, ya gue jelas milih jatuh ke kasur lah. Udah empuk tinggal tarik slimut bisa langsung merem." sahut Andre sedikit ngegas.


"Lo jatuh dari tangga juga langsung merem. Mana nggak melek² lagi!" balas Dara kesal. Andre menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Sekarang gue udah melek nih, nih!" elak Andre sambil memelototkan matanya.


"Ribut mulu sih kerjaan kalian. Nggak bisa apa sehari aja akur. Pengang telinga gue denger kalian berantem terus." gantian Bagas yang mengomel.


"Enggak!" jawab mereka kompak. Bagas mengendus kesal, namun ia tidak menjawab lagi. Ia kalah, dua lawan satu.


"Oh ya, tadi Vita kesini tapi lo belum sadar. Dia cuma nitip salam terus pergi lagi ada janji katanya." ucap Dara mulai kalem.


"Gue jadi kayak orang sakit aja ditungguin gini." ucap Andre.


"Lo emang lagi sakit ogeb!" sahut Bagas dan Dara bersamaan.


"Iya deh! Tapi nggak usan nungguin gue juga. Pasien² lo gimana tuh Gas? Kasian kan kalo lo undur jadwal mereka." ucap Andre. Tumben ia bijak.


"Lo juga, mending lo balik aja sana ke resto. Urus tuh Resto sampai gue keluar dari sini." lanjutnya beralih pada Dara.


"Kebetulan gue lagi nggak ada pasien hari ini. Jadi bisa lah gue jagain lo, siapa tau lo butuh sesuatu. Lo kan lagi nggak bisa jalan." ucap Bagas sambil menaik tutun kan alisnya.


"Dara aja tuh, sana lo balik ke resto!" lanjut Bagas.


"Emangnya nggak boleh kalo gue disini nungguin Andre?" tanya Dara.


"Entar aja lo balik lagi. Sekarang biar gue aja yang jagain. Lo udah dari tadi kan disini?!'' sahut Bagas.


"Iya, bantu² sana diresto. Lo bilang waktu itu mau kerja jadi pelayan kan selama lo cuti. Nah, sekarang karna gue lagi nggak bisa ngurus resto, lo gue terima kerja disana," ucap Andre.


"Ck, gue diusir." Dara memanyunkan bibirnya. Ia pasrah menurut kata Bagas dan Andre.


"Ya udah, gue balik ke resto nih!" ucap Dara lalu pergi meninggalkan kamar rawat Andre.


"Dia lagi ada masalah ya?" tanya Bagas setelah Data menghilang dibalik pintu. Andre mengrinyitkan dahinya tak mengerti.


"Maksud lo?"


"Tumben dia ambil cuti panjang. Gue liat juga, kayaknya dia lagi ada masalah. Dia cerita ke lo?"


"Enggak sih, dia nggak cerita apa². Mungkin belum. Coba lo tanya Vita. Siapa tau dia tau sesuatu. Kayaknya dua hari ini Dara ngineo diapartemen Vita." jawab Andre.


"Iya deh nanti gue tanya. Kasian kan kalo Dara ada masalah dia tanggung sendiri padahal ada kita² yang siap tau bisa bantu."


"Gue jadi penasaran deh sama yang lo pelajari dikampus tentang teori sekali liat wajah orang lo langsung tau kalo orang itu ada masalah. Kok bisa sih? Gue aja ngeliat Dara biasa² aja tuh," Bagas tertawa mendengar kalimat Andre.


"Ada² aja sih pertanyaan lo. Gue ini psikiater, gue tau lah muka² orang bermasalah. Gue juga tau kalik muka² orang kasmaran!" jawab Bagas menaik turunkan alisnya.


"Siapa yang lo maksud?" tanya Andre.


"Lo mungkin," jawab Bagas santai.


"Lah kok jadi gue? Gue suka sama siapa?" tanya Andre penasaran. Padahal ia sedang tidak menyukai siapa pun.


"Mungkin sekarang lo belum nyadar, tapi kayaknya lo ada something yang lebih sama dokter tadi." ucap Bagas sambil merebahkan punggungnya kesandaran kursi. Ia bisa membaca karakter wajah seseorang. Jadi ia bisa dengan mudah menebak sesuatu dari seseorang.


"Ngaco lo, gue aja baru dua kali ngobrol sama dia." bantah Andre. Bagas mengandikkan bahunya.


"Btw, kok lo bisa sampai jatu dari tangga sih?" tanya Bagas penasaran.


Andre menceritakan kejadian tadi pagi dengan singkat.


"Setelah itu gue nggak inget apa² lagi. Pas gue buka mata tau tau gue udah disini."


"Ada ada aja sih lo, niat mau misahin orang berantem malah celaka gini." ucap Bagas.


"Selain karna itu juga, biar lo lebih mudah keruangan lo dengan keadaan sekarang. Atau lo pindah aja ruangan lo dilantai bawah," usul Bagas.


"Lantai bawah udah ful, gue nggak bisa nambah ruangan disana. Jadi mending gue pasang lift aja." sahut Andre.


Suara ponsel Andre menghentikan diskusi mereka. Andre meraih ponselnya yang tergeletak dimeja nakas. Tertera nama Davin disana. Andre menggeser tombol hijau dilayar ponsel.


Andre : "Halo, Vin!"


Davin : "Halo, Ndre! Gimana keadaan lo? Katanya lo jatuh dari tangga?"


Bagas menyimak pembicaraan mereka ditelepon.


Andre : "Iya, tapi sekarang gue udah baik² aja."


Davin : "Syukur deh kalo gitu. Gue mungkin sampai sana ntar malem. Mau titip apa lo?"


Andre : "Lo pulang karna mau jenguk gue?"


Davin : "Iya. Nggak juga sih. Kerjaan gue disini udah beres. Tadinya mau pulang besok, tapi sekalian sekarang aja."


Andre : "Ohh, terserah lo deh mau beliin gue apa."


Davin : "Ya udah. Cepet sembuh lo."


Andre : "Thanks,"


"Lo juga aneh hari ini." ucap Bagas setelah Andre mematikan sambungan teleponnya. Andre menatap Bagas dengan heran.


"Aneh gimana?" tanya Andre.


"Aneh aja. Lo biasanya rame, suka ngajak adu bacot, tapi sekarang lebih irit² bicara. Langsung intinya juga." sahut Bagas heran. Andre menaruh kembali ponselnya di nakas.


"Lagi males gue!" jawab Andre sambil memejamkan matanya. Bagas menepuk jidatnya sendiri.


"Ya udah istirahat gih! Lo baru sadar harusnya nggak gue ajak banyak ngomong dulu." sahut Bagas.


"Iya, nggak papa."


"Lo juga istirahat, gue yakin lo kemarin² kurang tidur." ucap Andre dengan mata terpejam. Kepalanya masih sedikit pusing.


"Gampang gue mah,"


...****************...


Sementara di mansion keluarga Arsidhath, Rayn dan Xena baru saja sampai disana. Rayn segera mengajak Xena masuk untuk menemui Mamanya.


Sementara Alice sudah duduk manis dimeja makan menunggu kedatangan Xena.


"Ma!" panggil Rayn.


"Rayn, kamu udah pulang!" sahut Alice menyambut kedatangan anaknya bersama seorang gadis dibelakn Rayn.


"Ini pasti Xena." ucap Alice meraih tangan Xena. Xena mengangguk.


"Iya Tante. Tante Alice apa kabar?" tanya Xena.


"Tante baik. Tante kangen sama kamu." jawab Alice lalu menarik Xena dalm pelukannya.


"Xena juga kangen sama Tante,"


"Kamu kemana aja selama ini? Kita semua udah cari kamu kemana mana. Tapi kita nggak nemin jejak kamu. Kamu baik² aja kan selama ini?" tanya Alice berturut.


"Panjang ceritnya Tante. Intinya selama ini aku tinggal di panti asuhan di Bandung. Dan aku baik² aja." jawab Xena. Alice mengangguk lalu tangannya terulur mengelus pipi Xena.


"Kamu tumbuh menjadi gadis cantik seperti Mama kamu." ucap Alice.


"Tante turut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga kamu, Xena. Tante nggak nyangka ini semua bisa terjadi di keluarga kamu." lanjut Alice.


"Iya, makasih Tante."


"Kita makan dulu, aku udah laper." ucap Rayn mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau suasana hati Xena menjadi buruk karena mingingat masa lalunya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote👇