
"Mau apa kamu kesini?" tanya Papa Xena tergagap.
"Kamu masih tanya apa mau aku kesini? Tentu aku mau minta pertanggung jawaban kamu lah!" sahut perempuan itu menekan kata terakhirnya.
"Lebih baik kamu pergi!" usir Papa Xena tanpa menanggapi ucapan perempuan tadi.
''Dulu kamu emang udah tanggung jawab dengan nikahin aku walaupun secara siri. Tapi setelah anak kita lahir, kamu malah pergi ninggalin aku. Aku mati²an ngerawat anak kita. Aku banting tulang buat hidupin dia. Sementara kamu? Kamu malah enak enakan hidup bahagia sama keluarga kamu.
"Karna kamu, hidup aku jadi hancur. Digosipin dimana mana. Mereka bilang aku perempuan nggak bener. Pelakor. Itu semua salah kamu. Aku nggak betah tinggal di Jakarta. Aku mutusin buat pindah ke Medan. Disana aku mulai hidup baru. Aku rawat anak kita dengan penuh kasih sayang. Dia sekarang udah besar, mas. Cantik." ucap perempuan itu yang mengaku istri siri Papa nya Xena, sambil menahan tangis dan menunjuk nunjuk wajah Papa Xena.
"Kok tamunya nggak disuruh masuk, Pa?" tanya Ajeng yang memeutuskan untuk menyusul suaminya yang tidak kunjung kembali.
"Ma!" Papa Xena kaget dengan kedatangan Ajeng.
"Ini siapa Pa?" tanya Ajeng.
"Ohh, jadi ini istri kamu mas, kamu ninggalin aku karna dia?" ucap perempuan itu sambil menatap sinis Ajeng.
"Maksudnya apa ya?" tanya Ajeng tak mengerti.
"Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Papa Xena.
"Biar saya jelasin,"
"Pergi kamu dari sini!" usir lagi Papa Xena dengan nada lebih tinggi. Dia takut perempuan didepannya ini membongkar semua perbuatannya.
"Saya istri siri suami kamu!" lima kata yang keluar dari mulut perempuan itu membuat dunia Ajeng seakan runtuh. Ia tersentak dengan pengakuan perempuan didepannya. Ia masih mencerna baik² ucapan yang ia dengar.
"Dan kami punya satu anak!" lanjut perempuan itu dengan santai.
Belum sempurna ia mencerna kalimat pertama, kalimat selanjutnya juga membuat hati Ajeng semakin teriris iris mengetahui kenyataan ini.
"Ma, dengerin dulu aku bisa jelasin semuanya!" ucap Papa Xena menenangkan Ajeng.
Sekarang kalimat suaminya cukup baginya untuk mendapat konfirmasi tentang kebenaran ucapan perempuan didepannya yang sedang tersenyum puas melihatnya.
"Jadi bener kalo dia istri siri kamu, Pa? Dan kalian punya anak?" tanya Ajeng dengan berlinang air mata.
"Ma, dengerin dulu ya!" ucap Papa Xena sembari meraih tangan Ajeng. Namun Ajeng segera menepisnya.
"Kenapa, Pa? Kenapa kamu khianatin aku? Sejak kapan kamu punya simpenan, Pa? Apa salah aku sampai kamu selingkuhin aku, Pa?" tanya Ajeng beruntun dengan air mata yang terus mengalir dipipinya.
"Malam itu, suami kamu dateng ke salah satu hotel didekat sini. Dia masuk kekamarku tanpa izin. Dan dengan lancangnya suami kamu mengambil kehormatan ku. Beberapa bulan setelah malam itu, aku positif hamil dan aku mencari suami kamu untuk meminta pertanggung jawaban.
"Suami kamu diam² menikahi ku secara siri didepan keluargaku. Tapi, setelah anak yang ada didalam rahimku lahir, dia justru menghilang.
"Walaupun awalnya kita tidak saling kenal dan tidak saling mencintai, tapi saat² kamu jadi masih disampingku dulu cukup membuatku jatuh cinta sama kamu, mas." perempuan itu menjelaskan bagaimana bisa ia menjadi istri siri suami Ajeng dengan emosi.
Ajeng semakin tersedu sedu mendengar penjelasan perempuan itu. Ia tak menyangka suami yang begitu ia cintai bisa mengkhianati diri nya.
"Kamu pergi dari sini!" bentak Ajeng kepada perempuan itu.
"Saya kesini untuk meminta suami anda kembali kepada saya. Anak kami butuh sosok Ayah disampingnya."
"Saya tidak akan kemana pun. Ini keluarga saya. Dan saya tidak pernah memenuhi permintaan kamu. Sekarang kamu pergi dari sini!" ucap Papa Xena tagas.
"Pergi kamu dari sini!" bentak lagi Ajeng. Ia menatap marah perempuan didepannya.
"Pergi kamu!" Ajeng mendorong tupuh perempuan itu dengan kasar hingga perempuan itu terjatuh.
"Saya akan pergi. Tapi ingat baik². Kamu sudah memilih keputusan yang salah, mas." ancam perempuan itu tak terima.
"Pergi kamu!!!" teriak Ajeng sambil menunjuk wajah perempuan itu. Air matanya masih terus mengalir membentuk sungai kecil dipipi Ajeng.
Karna sudah terlalu kesal, perempuan tadi akhirnya pergi dari kediaman keluarga Adibrata.
Kini tinggal Ajeng dan suaminya. Pembantu yang membukakan pintu tadi sudah kembali kedapur saat tuannya datang.
"Ma-"
"Cukup, Pa. Mama nggak mau dengar apa apa lagi. Mama nggak nyangka Papa bisa lakuin ini ke, Mama. Apa sih salah Mama sampai Papa tega khianatin, Mama? Mama kecewa sama, Papa!!" ucap Ajeng dengan berlinang air mata. Ia lalu berlari ke kamarnya. Papa Xena menyusul istrinya. Ia tau ini salah. Semua ini salahnya.
Tanpa mereka sadari, Xena dan Rafael melihat semua kejadian itu. Mereka bersembunyi dibalik tembok dan mendengarkan semuanya. Rafael mengepalkan tanyannya marah. Ia tak menyangka Papa nya tega mengkhianati Mama nya. Dan selama ini Papanya tidak pernah merasa bersalah.
Sementara Xena, diusianya yang sudah 12 tahun, ia sudah bisa sedikit memahami apa yang terjadi. Ia ikut menangis melihat Mama nya yang disakiti oleh Papanya sendiri. Ia juga kecewa dengan Papa nya yang sudah mengkhianati Mamanya.
"Bang, apa Mama baik² aja?"
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote👇