LOVE IN MY LIFE

LOVE IN MY LIFE
Dua puluh sembilan



"Tante turut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga kamu, Xena. Tante nggak nyangka ini semua bisa terjadi di keluarga kamu." lanjut Alice.


"Iya, makasih Tante."


"Kita makan dulu, aku udah laper." ucap Rayn mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau suasana hati Xena menjadi buruk karena mingingat masa lalunya.


"Iya, Tante udah masakin makanan kesukaan kamu. Semoga masih sama seperti dulu." ucap Alice sambil mengajak Xena duduk dikursi meja makan.


"Masih sama Tante. Seafood." sahut Xena terlihat antusias dengan makanan yang tersaji didepannya.


"Ayo dimakan!" ajak Alice.


"Makanan Tante emang selalu enak deh," ucap Xena setelah makan satu suap masakan Alice.


"Kamu bisa aja," sahut Alice senang dipuji makanannya enak.


"Om Gio tadinya mau ikut makan siang dirumah, tapi kerjaannya nggak bisa ditinggal. Jadi dia makan siang dikantor." ucap Alice tanpa ada yang bertanya.


"Mungkin lain kali aku bisa ketemu sama Om Gio." sahut Xena.


"Yeah, nanti kapan² kamu kesini lagi. Sekarang Om Gio lagi sibuk banget. Padahal anak²nya udah ikut kerja bantu mengang beberapa perusahaan, tapi tetep aja sibuk." ucap Alice geleng² kepala.


"Keluarga Arsidhath kan udah jadi orang terkaya kedua didunia. Jadi wajar aja kalo semuanya sibuk." timpal Xena.


"Oh ya, kamu kerja dimana sekarang?" tanya Alice.


"Xena punya perusahaan dibidang kuliner, Ma," jawab Rayn.


"Oh ya?"


"Iya, Tante. Awalnya bikin usaha cafe kecil² an gitu sama temen² dari panti. Lama² jadi makin berkembang. Cafenya berubah jadi resto yang sekarang dipegang sama temen aku, Tan. Terus buat ngurus cabang² sama investor² aku saranin buat bangun perusahaan. Dan sekarang perusahaan itu aku yang pegang. Temen² yang lain udah punya profesi sendiri² sesuai cita² mereka. Jadi resto tetep dipegang temen aku, perusahaan aku yang pegang. Tapi semua itu berawal dari usaha kita." Xena menjelaskan awal terbentuknya perusahaannya.


"Hebat ya kalian. Tante bangga sama kalian. Dari cerita kamu, pasti kalian itu pekerja keras. Buktinya kalian bisa sukses." sahut Alice.


Mereka mengobrol santai sambil makan siang. Rayn hanya sesekali menimpali. Tak terasa mereka sudah menghabiskan makanan yang tersaji. Karena masih ada beberapa tugas dikantor, Rayn dan Xena segera pamit kembali ke kantor.


"Xena pamit duli ya, Tan!" pamit Xena.


"Iya, lain kali kamu main kesini lagi. Nggak usah nunggu dijemput Rayn. Kalo kamu mau kesini, kesini aja. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu." ucap Alice lembut.


"Xena pasti bakalan mampir kesini lagi buat ngabisin makanan Tante." sahut Xena bercanda. Alice tertawa kecil.


"Nanti kalo kamu kesini, Tante masakin lagi makanan kesukaan kamu." ucap Alice.


"Lain kali kita masak bareng aja Tante," usul Xena.


"Boleh!"


"Kita langsung pergi aja, Ma." ucap Rayn yang sudah terburu buru.


"Ya udah sana, hati² dijalan." Rayn dan Xena mengangguk lalu pergi setelah mencium tangan Alice.


Rayn mengantar Xena sampai kantornya. Setelah itu ia langsung pamit karrna ada urusan mendesak.


"Gue langsung pamit ya. Gue masih ada urusan urgen." pamit Rayn.


"Iya, makasih udah nganterin. Hati²!" ucap Xena lalu keluar dari mobil Rayn.


Rayn kembali menjalankan mobilnya menuju kesebuah tempat. Tempat yang tidak diketahui sembarangan orang.


Xena masuk ke kantornya lalu melangkah kelantai ruangannya berada. Sampai disana ia disambut pertanyaan² dari Reza.


"Dari mana aja, Mrs? Tadi saya lihat Mrs. Vita pergi sama pak Rayn yang kemarin kesini itu. Jadi bener ya, kalo anda dan pak Rayn lagi ada something? Nggak mungkin kan kalo cuma kerja sama perusahaan sampai sering pergi berdua?" tanya Reza beruntun tanpa memperhatikan wajah Xena yang malas menanggapi ucapan Reza yang selalu menggodanya dekat dengan Rayn.


"Reza, mendingan kamu kerjain deh kerjaan kamu! Atau pekerjaan kamu kurang sampai kamu masih bisa sibuk ngurusin urusan saya?" ucap Xena malas, gugup juga sebenarnya. Tapi ia tidak mau Reza terus menerus menggodanya jika ia memeberi tau kalau dia habis makan siang bersama Rayn dan Mamanya.


"Enggak Mrs, pekerjaan saya udah terlalu banyak malah. Tadi kan Mrs. Vita udah ngasih saya banyak tugas sebelum pergi. Jadi udah cukup kok, Mrs!" sahut Reza sambil nyengir dan menunjukan dua jari tangannya.


"Ya udah, sana kerjain!" titah Xena.


"Iya deh," Reza dengan pasrah melangkah pergi. Xena terkekeh melihat tampang pasrah Reza. Ia masuk keruangannya lalu kembali kepekerjaannya yang sempat tertunda.


*


Darenbi Resto hari ini cukup ramai. Andre sebenarnya sudah menambah karyawannya, namun Dara yang memang sedang gabut dan memang niat dari awal ingin bekerja disini saat masa cutinya ikut membantu melayani pengunjung.


Ia kini sudah memakai apron khas karyawan Darenbi Resto. Ia sedang menunggu ada pengunjung yang butuh pelayanannya.


"Kak, itu ada yang manggil!" ucap Sisil sambil menunjuk kearah salah satu pengunjung yang melambaikan tangan. Dara mengangguk.


"Oke, gue kesana dulu ya!" ucap Dara.


"Sukses kak!" Sisil memberi semangat.


Dara berjalan mendekati pengunjung itu dengan senyuman ramah.


"Silahkan, mau pesan apa?" tanya Dara ramah sambil memberikan daftar menu. Dara berdiri disamping pengunjung laki² itu. Ia tidak melihat jelas wajah orang itu karena dia menunduk membaca menu.


"Saya mau pesen-" orang itu menatapnya tak percaya.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote👇