
Sore itu hujan membasahi bumi dengan derasnya seorang gadis tampak duduk mengagumi derasnya hujan tak peduli jika percikan air hujan yang mengenai tubuh mungilnya. Hujan bagaikan tangisan seorang wanita yang bisa membawa kebahagiaan atau kesengsaraan. Karita Sariwati gadis yang menikmati hujan tersebut perlahan meninggilkan bangku halte bus tempatnya menikmati hujan yang perlahan mulai berhenti dan bergegas menuju ke kostnya di salah satu pemukiman. Dia mulai melepas semua bajunya dan bergegas mandi karena rambut dan tubuh terkena guyuran hujan jika menunggu sampai hujan benar-benar akan berenti bisa sampai malam jadi dia putuskan untuk menembus hujan yang sudah mulai reda.
Flashback kehidupan Karita.
Setelah habis mandi dia mulai membereskan kamar kost sederhananya dan memungut barang bawaan yang dia hempaskan begitu saja, dia sangat bersyukur masih punya tempat bernaung walaupun hanya sebuah kamar kost sederhana dengan kamar mandi di dalamnya, biaya kostnya pun termasuk murah untuk ukuran kamar kostnya. Karita bukanlah seorang gadis yang berasal dari keluarga kaya raya malahan kebalikannya dia sangat menginginkan memilki keluarga yang sebenarnya, dia punya seorang ibu tapi sayangnya walaupun itu ibu kandungnya tapi dia tidak harapkan sedangkan ayahhnya sendiri tidak pernah dia ketahui apalagi melihat mukanya sejak Karita kecil dia diasuh berpindah-pindah mulai dari neneknya tapi kemudian neneknya meninggal lalu di asuh oleh tantenya dan kemudian kembali ke ibunya yang sudah menikah lagi dan punya 4 orang anak dari pria lain.
Karita harus bekerja keras baik sebagai pelayan toko karena dia hanya lulusan sma bahkan ibunya tidak sudi membiayai kuliahnya karena alasan keuangan padahal ayah tirinya seorang yang memiliki uang dan sangat pelit, dia pun harus bekerja keras ketika dirumah dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah karena semua adiknya menganggap dia hanya seorang anak tiri bahkan menganggapnya hanya seorang pembantu.
Uang gaji Karita pun harus di bagi dua setengah bagian untuk ibunya dan setengah bagian untuk ongkosnya ke kantor karena itu dia sangat berhati-hati dalam mengelolah keuangannya dan menyimpannya agar suatu saat nanti bisa digunakan untuk membiayai kuliahnya. Dia sangat ingin bekerja dikantoran seperti para gadis yang dilihat ketika berbelaja di tokonya tersebut, pakaiannya modis dan disertai dengan asesoris wanita yang mahal sedangkan Karita harus puas dengan menggunakan baju dan tas bekas pemberian dari saudara sepupunya. Tapi dia sangat Bahagia dan tetap bersyukur walaupun semua barang yang didapatkan adalah barang bekas setidaknya masih ada yang peduli kepadanya, hanya saja terkadang saudara tirinya suka merampas barang tersebut.
Karita sering mendapatkan cacian dan makian dari ibunya sediri yang lebih menyayangi anak-anak dari suaminya sekarang walaupun sebenarnya ibunya hanyalah istri kedua dan istri pertama suaminya sering datang dan mengancam dan tidak segan untuk memukul ibu dan adik tiriku. Sungguh bosan dengan kenyataan ini akhirnya Karita memutuskan untuk pergi ke kampung dan ke kota dengan berbekal sedikit uang tabungannya agar bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan terlepas dari ibu serta adik tirinya.
Disinilah Ibukota tempat Karita mengadu nasib setelah perjuangan panjang bekerja di sebuah mall terbesar sambal kuliah akhirnya 4 tahun kemudian Karita memegang ijazah sarjana dan bisa bekerja pada salah satu perusahaan asing di ibukota dan gaji yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tempat yang cukup layak baginya untuk bermalam.
Mentari tampak bersinar memasuki jendela kamar Karita dan bunyi alarm sahut menyahut membangunkan tuannya untuk segera bergegas bersiap ke kantor 30 menit kemudian Karita tampak segar dengan blouse biru dan celana panjangnya untuk memulai hari barunya dengan langkah panjang dia menuju halte busway transportasi umum yang biasa digunakan oleh Karita sehari-harinya. Dan ketika dia sampai di lobby kantornya dia menabrak sosok pria dengan setelan jas yang sangat rapi yang baru saja turun dari mobil mewahnya.
“shiit,,,apa kamu tidak punya mata….!!”
“maaf pak saya tadi tergesah-gesah,,,,”
Karita tertunduk karena malu dengan bentakan pria yang barusan dia tabrak dan pria yang menabrak itu langsung pergi dengan perasaaan kesal.
keluh Karita sebal dengan perangai pria tadi dan dia langsung menuju ke kantornya yang ada di lantai 30 untuk memulai aktivitas paginya.
“hi cantik sarapan apa pagi ini ?”
“Roti, lagi gak semangat makan yang berat soalnya pagi ini hidup aku udah berat” keluh Karita.
“whats wrong my angel ?”
“Tadi ada cowok sombong banget, baru ditabrak aja udah ngomel gak jelas kayak tante rempong”
Sena yang posisinya ada di sebelah meja tertawa cekikan karena mendengar celotehan Karita.
********************************************************************************************************
Hai Readers tersayang, mohon maaf kalau dalam penulisan Novel ini masih ada typo ataupun kata-kata yang masih membingungkan. Harap maklum Author masih dalam proses pembelajaran penulisan novel.