
"Lo tau nggak sih dia siapa?" tanya Xena. Dara menggeleng polos.
"Enggak, emang siapa?" tanya Dara ketus sambil menatap tajam Rayn yang balik menatap datar dirinya. Nyali Dara sedikit menciut melihatnya. Tapi tetap ia sembunyikan untuk menjaga harga dirinya.
"Dia ini Rayn Alano Arsidhath. Pengusaha muda yang terkenal itu. Masa lo nggak tau?" jawab Xena.
"Ohh pantes aja dianya sombong, nggak tau minta maaf, modus, mesum, ngeselin!" bukannya malu atau segan, Dara malah semakin mengejek Rayn. Padahal yang menabraknya adalah kembaran Rayn. Reyn.
Rayn mengendus marah mendengar ucapan Dara yang tidak filter dulu. Kalau bukan sahabat Xena, sudah habis cewek didepannya ini. Ingat, Rayn itu terkadang kejam dalam beberapa kesempatan. Ia tak pandang bulu, baik itu laki² ataupun perempuan. Sekali berurusan dengannya atau orang yang ia sayangi, ia tidak akan mudah mengampuninya.
"Dan mungkin orang yang nabrak lo itu bukan Al, tapi Reyn, kembarannya." ucap Xena. Dara terdiam mencerna ucapan Xena.
Memang jika dilihat lebih detail lagi, wajah mereka sedikit berbeda. Mata orang yang menabraknya kemarin biru terang- ia tau saat matanya dan sang penabrak saling bertemu, sementara mata Rayn biru pekat. Rambut mereka juga berbeda.
Dara beru menyadari perbedaan itu. Ia jadi merasa bersalah atas tuduhannya. Dara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eh- emang iya ya?" tanya Dara salah tingkah.
"Ya, kalo yang tingkahnya tengil, rese, nyebelin itu emang Reyn." jawab Xena menahan tawanya. Lucu saja melihat Dara yang salah tuduh itu, dan melihat wajah Rayn yang merah karena kesal dituduh yang tidak², juga karena membayangkan Reyn yang menabrak Dara dan mereka pasti terlibat adu mulut.
"Ya- ya maaf. Gue nggak tau kalo kalian kembar. Gue nggak update soal pengusaha² gitu. Jadi ya, mana gue tau. Tapi beneran deh, kembaran lo itu nyebelin banget. Udah nabrak bukannya minta maaf malah nyolot." ucap Dara menyesal diawal dan kesal diakhir kalimatnya.
"Sekali lagi gue minta maaf udah nuduh lo yang enggak²!" Dara meminta maaf dengan penuh penyesalan.
"Hmm!" Rayn hanya berdehem singkat. Ia masih kesal dituduh seperti itu.
"Oh ya, Dar! Kenalin ini Rayn. Gue biasa manggilnya Al. Dia salah satu sahabat gue waktu kecil dulu." ucap Xena memperkenalkan.
"Dan Al, ini Dara. Dia sahabat gue waktu di panti." lanjut Xena beralih memperkenalkan Dara.
"Dara!" ucap Dara mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Rayn!" sahut Rayn menyambut uluran tangan Dara.
"Kalo itu Andre. Dia juga sahabat gue waktu di panti!" ucap lagi Xena menunjuk Andre yang masih terlelap diranjang rumah sakit.
"Gue tau!" ucap Rayn. Xena mengangguk. Rayn sudah menceritakannya.
"Jadi ini sahabat kecil lo yang lo suka?" tanya Dara berbisik ditelingan Xena.
"Kok Andre belum sadar ya?" tanya Xena mengalihkan pembicaraan.
"Nanti juga sadar." jawan Dara masih berniat menggoda Xena.
"Andre kok bisa sampai jatuh dari tangga sih?" tanya Xena penasaran.
"Tadi sih ada yang bilang kalo ditangga itu ada cewek yang berantem. Andre coba misahin, eh malah dianya jatuh." Dara menjelaskan secara singkat.
"Kasihan banget sih lo, Ndre!" lanjut Xena menatap iba pada Andre.
"Gue nggak bisa lama². Gue masih ada janji soalnya. Titip salam aja buat Andre kalo dia udah sadar." ucap Xena pamit setelah beberapa saat.
"Iya deh, nanti gue sampai in." sahut Dara.
Xena keluar dari kamar rawat Andre diikuti Rayn dibelakangnya. Mereka akan menuju mansion keluarga Arsidhath untuk makan siang dengan Mama nya Rayn.
Sementara di dalam kamar rawat Andre, Aria masuk untuk mengecek keadaan Andre.
"Siang, Dok!" sapa Dara saat Aria masuk.
"Siang! Saya mau cek keadaan pasien dulu ya!" ucap Aria ramah.
"Iya, Dok. Saya boleh titip temen saya dulu nggak ya? Saya mau kekantin sebentar." tanya Dara.
"Silahkan saja. Teman anda aman disini." jawab Aria tersenyum ramah.
"Terimakasih, Dok!" ucap Dara lalu pergi kekantin. Ia harus segera makan. Ia punya penyakit mag kronis, jadi ia tidak boleh telat makan.
Aria memeriksa Andre dengan telaten. Saat ia selesai memeriksa, ia tidak langsung keluar. Ia memandang wajah Andre yang masih belum sadar.
"Baru aja kemarin anda melayani saya direstoran anda. Sekarang malah saya yang melayani anda. Ada ada saja!" gumam Aria terkekeh geli dengan ucapannya.
Andre perlahan membuka matanya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikannya dengan cahaya diruangan itu.
Aria yang melihat mata Andre terbuka segera mendekat. Aria menjadi orang pertama yang dilihat Andre setelah sadar.
"Anda sudah sadar?" tanya Aria.
"Apa yang terjadi?" tanya balik Andre dengan suara paru. Ia belum mengingat kejadian pagi tadi.
"Apa yang anda rasakan pak?" tanya Aria. Ia kembali mengecek keadaan Andre.
"Kepala saya sedikit pusing. Kaki saya jug rasanya sakit." ucap Andre menjelaska apa yang ia rasakan.
"Anda pusing karena baru siuman pak, dan kaki anda juga mengalami retak. Jadi untuk sementara kurangi berjalan ya, pak. Jika terpaksa berjalan anda harus menggunakan tongkat sampai kaki anda sembuh." Aria menjelaskan dengan lembut.
"Retak?" tanya Andre memastikan. Aria mengangguk.
"Kira² kapan kaki saya sembuh total, Dok?" tanya Andre.
"Mungkin setelah satu bulan anda tidak perlu menggunakan tongkat lagi. Kalau untuk sembuh total nya, mungkin perlu waktu dua sampai tiga bulan." jawab Aria dengan sabar.
"Tiga bulan?" tanya Andre memastikan lagi. Aria mengangguk.
"Dan sebaiknya untuk beberapa hari ini anda menginap di rumah sakit ini supaya saya bisa memantau perkembangan kaki anda." saran Aria.
Andre membuang napas pasrah. Ia memijit kepalanya.
"Apa ada yang menemani saya?" tanya Andre.
"Ada. Teman anda sedang pergi kekantin sebentar." jawab Aria.
"Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya Aria.
"Emm, saya kebelet." ucap Andre lalu membuang muka. Aria tersenyum geli.
"Mari saya bantu." ucap Aria kembali mendekati Andre dan membantu Andre berdiri lalu memapahnya. Andre dengan canggung menerimanya. Tinggi Aria yang setelinga Andre membuatnya tidak kesulitan untuk memapah Andre.
Dari jarak sedekat ini, Andre dapat mencium aroma parfum yang sama dengan yang ia gunakan dari tubuh Aria. Wangi yang kalem dan menenangkan.
Andre berjalan tertatih. Aria memapah Andre sampai dalam toilet lalu keluar dan membiarkan Andre didalam.
Setelah selesai, Andre kembali dipapah oleh Aria. Dengan perlahan Aria membantu Andre kembali merebahkan dirinya diranjang lalu membantu membenarkan posisi kaki Andre yang dibalut gips tebal. Aria juga merapikan kembali selimut yang dipakai Andre.
"Thanks!" ucap Andre dengan tulus. Aria menjawabnya dengans sebuah senyum manis.
Pintu terbuka dan masuk lah seorang laki² dengan jas doktenya yang masih ia kenakan padahal ini sudah bukan rumah sakitnya.
Aria menatap laki² itu dengan heran+bingung. Ia tidak mengenal laki² yang mengenakan jas dokter itu. Apakah dia dokter baru dirumah sakit ini? Kenapa dia tidak tau? Padahal setiap ada dokter baru, ia selalu diberi tau dan diperkenalkan.
"Selamat siang semuanya." sapa laki² itu tersenyum ramah.
"Ngapain lo kesini?" tanya Andre pada laki² itu. Aria menatapnya.
Ia sekarang tau siapa laki² ini. Dia adalah teman dari pasiennya.
"Jenguk lo lah! Dasar ceroboh! Bisa bisanya lo jatuh dari tangga yang setiap hari lo lewatin." ucap Bagas geleng² kepala.
"Namanya juga musibah. Siapa yang tau!" sahut Andre mengndikkan bahunya.
"Kalo begitu saya permisi dulu." pamit Aria.
"Makasih, Dok!" ucap Bagas. Aria hanya mengangguk lalu keluar.
"Tau dari mana lo kalo gue jatug dari tangga?" tanya Andre.
"Dara yang kasih tau kita semua!" jawab Bagas. Ia duduk dikursi yang ada di dekat ranjang Andre.
"Dia disini?" tanya Andre.
"Lah, kok lo malah tanya gue. Gue aja baru dateng, mana gue tau. Emang lo nggak liat dia?" tanya Bagas.
"Gue baru sadar. Pas gue sadar yang ada disini cuma dokter tadi." jawab Andre.
Pintu terbuka kembali
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote👇