
"Bang, apa Mama baik² aja?" tanya Xena pada Rafael. Rafael mencoba mengendalikan emosinya.
"Abang juga nggak tau." jawab Rafael.
"Kenapa Papa jahat, Bang?"
"Abang nggak tau."
"Abang marah sama Papa?"
"Abang nggak suka Mama disakitin."
"Aku juga nggak suka liat Mama nangis. Papa jahat!" ucap Xena menangis. Rafael hanya bisa diam. Ia juga marah ke Papa nya.
Sementara, Ajeng mengurung diri dikamarnya. Ia duduk diujung ranjang sambil menangis tersedu sedu.
"Buka pintunya, Ma. Papa tau, Papa salah. Papa minta maaf, Ma." seru Papa Xena sambil mengetuk pintu kamar nya.
"Ma, please. Papa bisa jelasin semuanya. Bukain pintunya, Ma." Papa Xena masih terus berusaha.
"Pergi, Pa. Tinggalin Mama sendiri!" sahut Ajeng dari dalam.
"Biarin Papa masuk, Ma!"
"Pergi, Pa!" bentak Ajeng.
"Oke, Ma. Papa biarin Mama tenang dulu. Nanti Papa bakal jelasin semuanya." Papa Xena akhirnya menyerah. Ia pergi keruang kerjanya.
Ia berpapasan dengan Xena dan Rafael yang hendak kekamar mereka.
"Sayang!" panggil Papa mereka.
"Papa jahat. Papa tega buat Mama nangis. Papa nggak sayang lagi ya sama Mama? Papa nggak sayang lagi sama kita?" tanya Xena emosi.
"Sayang kok kamu ngomong gitu?" tanya Papa nya.
"Kita liat semuanya. Papa jahat!" sahut Rafael dingin. Ia segera mengajak Xena kekamarnya.
Papa mereka mengacak acak rambutnya frustasi. Ia tak menyangka kejadian 13 tahun lalu akan terungkit kembali setelah ia sembunyikan rapat². Sekarang semuanya jadi kacau. Keluarganya jadi berantakan.
Malamnya Ajeng sudah menenangkan diri. Ia mengizinkan suaminya masuk untuk menjelaskan dari sudut pandang suaminya.
"Makasih, Ma udah kasih kesempatan buat Papa jelasin semuanya. Papa tau Papa salah, dan Papa bakalan jelasin semuanya. Mungkin Mama nggak bisa langsung maafin kesalahan Papa, tapi setidaknya Papa udha jelasin."
"Langsung aja, Pa. Papa jelasin kenapa Papa bisa ngrhamilin perempuan itu." tanya Ajeng to the point. Terdengar helaan napas panjang dari suaminya.
"Wakti itu-"
Tok tok tok
Ucapan Papa Xena terpotong oleh suara ketukan pintu dari luar.
"Maaf Tuan, Nyonya. Didepan ada polisi mencari Tuan!" ucap salah satu pembantu dirumah itu.
Ajeng dan suaminya saling pandang. Keduanya lalu keluar untuk menemui polisi yang sudah di suruh masuk oleh pembantu dirumah itu.
"Dengan saudara Agam Adibrata?"
"Ya, saya sendiri. Ada apa ya pak?" tanya Papa Xena begitu sampai di ruang tamu. Disana sudah ada beberapa anggota kepolisian berseragam lengkap.
"Anda kami tangkap atas tiduhan penggelapan dana perusahaan Arta Jaya sebesar 50 miliar rupiah!" ucap salahsatu polisi dengan tegas sambil menyerahkan amplop berisi surat perintah penangkapan.
"Anda bisa menjelaskannya dikantor polisi." sahut polisi tadi.
"Papa mau dibawa kemana?" tanya Xena saat ia dan Rafael tiba diruang tamu. Mereka kesana karena mendengar ramai².
"Maaf, Pak. Tapi saya yakin suami saya tidak pernah melakukan penggelapan dana apalagi diperusahaanya sendiri!" ucap Ajeng membela suaminya. Ia mungkin belum memaafkan kesalahan suaminya yang telah mengkhianatinya. Namun bagaimanapun ia tetap suaminya. Ajeng berhak membelanya.
"Kami sudah membawa surat penangkapan beserta bukti yang akurat. Jadi suami anda sudah terbukti bersalah, Bu. Mohon kerjasamanya." sahut tegas polisi itu.
"Pak, Papa saya mau dibawa kemana?" gantian Rafael yang bertanya.
"Papa kalian kami tangkap atas tuduhan penggelapan dana perusahaan Arta Jaya." jawab salah satu polisi.
"Mari, Pak!" ucap pulisi tadi membawa Papa Xena keluar dari rumah.
"Saya tidak pernah melakukan penggelapan dana, Pak. Semua ini salah! Saya difitnah, Pak. Lepasin saya, Pak!" berontak Papa Xena.
"Sebaiknya anda jelaskan dikantor polisi. Dan anda lebih baik menurut saja atau hukuman yang akan anda terima lebih berat!" sahut polisi itu. Papa Xena memilih diam.
"Pak jangan bawa suami saya, Pak! Saya mohon jangan bawa suami saya. Saya yakin dia tidak bersalah, Pak." mohon Ajeng sambil menangis didepan polisi.
"Iya, Pak. Jangan bawa Papa kami. Papa nggak mungkin ngelakuin itu. Lepasin Papa kami, Pak!" Xena dan Rafael ikut memohon pada polisi.
"Maaf, Bu, anak². Tolong jangan mempersulit kami. Kalau Papa kalian memang tidak bersalah, pasti akan kami bebaskan. Tapi itu kecil kemungkinannya karena semua bukti mengarah pada beliau!" jawab polisi tadi segera membawa Papa Xena kedalam mobil polisi.
"Ma, Fael, Xena! Kalian percaya Papa kan. Papa nggak ngelakuin itu. Papa nggak pernah gelapin uang perusahaan Papa sendiri." ucap Papa Xena sebelum masuk mobil polisi.
"Pa, Papa jangan pergi!" ucap Xena dan Rafael sambil menangis.
"Pak jangan bawa suami saya!" Ajeng mencoba menghalangi polisi mebawa suaminya, namun ia sendiri sudah dicegah para pembantunya.
Papa Xena sudah masuk kedalam mobil. Ia menatap sendu istri dan anak²nya yang tengah menangisinya.
Ajeng terus memberontak hingga saat mibil polisi sudah pergi meninggalkan halaman rumah Xena yang luas, ia berhasil terlepas dari para pembantu yang memeganginya.
"Pa!" pekik Ajeng mengejar mobil polisi. Ia jatuh terduduk karena tak berhasil mengejar mobil polisi yang sudah benar² menghilang dari pagar rumah itu.
"Papa!" teriak Ajeng.
Xena dan Rafael menghampiri Ajeng lalu memeluknya erat sambil menangis.
"Papa bakal baik² aja kan, Ma? Papa bakal balik lagi kan, Ma?" tanya Xena sambil menangis sesenggukan.
Ajeng hanya mampu mengelus rambut putrinya sambil menangis. Ajeng memeluk anak²nya erat.
Belum selesai masalah perselingkuhan suaminya, kini sudah ada masalah lain lagi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote😊