LOVE IN MY LIFE

LOVE IN MY LIFE
Tiga puluh enam



"Iya!"jawab Dara malas. Ia membuka pintu bersamaan dengan terbukannya pintu dari luar.


"Eh, Dokter!" sapa Dara saat Aria masuk.


"Selamat pagi!" sapa Aria lembut.


"Pagi, Dok!" jawab Andre.


"Permisi, Dok. Tolong jagain temen saya yang agak songong itu ya! Daahh!" pesan Dara sebelum benar² pergi.


Aria menatap Andre yang sedang kesal pada Dara karena dikatai songong.


"Bagaimana keadaan anda? Apa sudah lebih baik?" tanya Aria setelah mendekat ketempat tidur Andre.


"Saya sudah jauh lebih baik dari kemarin, Dok. Cuma dokter sama temen² saya aja yang berlebihan dari kemrin nyuruh saya istirahat terus." keluh Andre pada Aria. Aria tersenyum geli mendengar ucapn Andre.


"Namanya juga lagi sakit pasti disuruh istirahat terus." jawab Aria lembut.


"Kalo gini terus badan saya malah jadi pegel² karena kurang gerak." keluh lagi Andre.


"Bagaimana kalau jalan² ketaman rumah sakit, mungkin itu bisa membuat anda merasa labih segar?" tawar Aria.


Andre menimang nimang sejenak tawaran Aria. Ia mengangguk setelah memikirkan bahwa mungkin itu ide yang bagus.


"Boleh. Tapi anda menemani saya kan?" tanya Andre. Namun setelah menanyakannya ia memikirkan kalimat yang ia ucapkan.


"Maksud saya, saya tidak mungkin kesana sendirian kan?" Andre memperbaiki kalimat tanyanya.


"Tentu saja saya akan menemani anda. Sebentar saya ambilkan kursi roda dulu." jawab Aria lalu pergi mengambil kursi roda.


"Mari saya bantu!" ucap Aria setelah ia kembali dengan sebuah kursi roda. Ia membantu Andre turun dari tempat tidur dan mendudukannya dikursi roda. Ia juga membantu menaikan kaki Andre yang sakit.


Andre menatap intens Aria yang sedang membantunya. Hatinya berdesir saat wajah Aria hanya beberapa senti didepannya. Wajah cantik dengan polesan makeup tipis natural membuatnya semakin cantik. Wangi yang sama dengan yang sering ia pakai masuk ke indra penciuman Andre.


Aria kemudian mendorong kursi roda itu dengan hati hati menuju taman rumah sakit.


"Tamannya bagus juga!" ucap Andre saat mereka sampai di taman rumah sakit. Didepannya tersaji pemandangan yang sangat menyejukan mata. Bunga bunga tumbuh subur di taman itu. Pohon pohon besar yang membuat taman terasa sejuk dan tidak terasa panas. Bangku bangku taman yang tersebar dibeberapa tampat. Ada juga beberapa mainan anak² seperti ayanan, perosotan, jungkat jungkit dan lain². Air mancur buatan yang dibawahnya ada ikan yang sedang berenanh kesana kemari tanpa lelah.


"Taman ini tempat favorit saya dirumah sakit ini. Tempatnya sejuk, asri, nyaman juga." ucap Aria. Ia menarik napas dalam² untuk menghirup udara segar.


"Sepertinya saya betah beberapa hari dirumah sakit ini jika setiap hati saya dibawa kesini." sahut Andre.


"Anda bisa kesini kapanpun anda mau. Tidak hanya ketika anda berada dirumha sakit ini anda boleh kesini. Saat anda bosan dengan suasana restoran mungkin, anda bisa kesini untuk sekedar refreshing." ucap Aria menjelaskan.


"Ohh ya?!"


"Iya. Anda juga boleh kalau ingin mengajak keluarga atau teman² anda piknik disini." Aria terkekeh dengan kalimat yang ia ucapkan.


"Kayaknya kita nggak perlu bicara formal. Kita seumuran kan? Biar lebih santai juga." saran Andre. Aria mengangguk setuju.


"Jika anda tidak keberatan." sahut Aria.


"Iya!" jawab Aria sedikit canggung. Ia masih terus mendorong kursi roda Andre mengitari taman.


Aria menemani Andre berkeliling sambil menjelaskan tentang tempat² favorit dirumah sakit ini. Aria memang selalu ramah kepada para pasiennya supaya sang pasien terus merasa nyaman dan cepat sembuh.


"Minum dulu siapa tau haus!" tawar Aria menyodorkan sebotol air mineral yang ia beli tadi di kantin rumah sakit.


"Makasih." Andre menerimanya lalu menengguknya separuh.


"Nanti kalo lo udah keluar dari rumah sakit, lo masih harus cek up kaki lo kesini. Nanti gue buatin jadwalnya." ucap Aria. Andre menatapnya.


"Kapan gue bisa keluar?" tanya Andre.


"Keadaan lo udah cukup baik-"


"Gue emang udah baik² aja." ralat Andre. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan panggilan lo-gue. Sifat Andre yang mudah bergaul membuat mereka semakin akrab dalam waktu singkat.


"Ya ya ya, mungkin nanti sore lo udah boleh pulang." lanjut Aria. Andre berbinar mendengarnya.


"Beneran nih?" tanya Andre memastikan. Aria mengangguk sambil tersenyum.


"Yes! Akhirnya gue pulang juga!" seru Andre sambil menepalkan tangannya senang. Aria tertawa melihat tingkah Andre yang seperti anak kecil.


"Baru juga sehari di rumah sakit, udah seneng banget gitu dapet kabar boleh pulang." cibir Aria diakhir tawa gelinya. Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Baru sehari ya? Gue kira udah setahun?" Andre tertawa sumbang.


"Gue itu orangnya nggak betah lama² dirumah sakit. Apalagi gue yang sakit. Rasanya pengen langsung kabur aja!" lanjut Andre.


"Gimana mau kabur kalo kakinya aja lagi sakit?" tanya Aria kembali tertawa kecil. Andre memperhatikan Aria saat dia tertawa. Tiba² jantung Andre berdetak dua kali lebih cepat. Ia mengalihkan pandangannya untuk menetralkan jantungnya kembali.


"Bisa aja. Gue pinjem kantong ajaibnya Doraemon dan keluarin alat ajaibnya yang bisa pindahin gue dari rumah sakit keapart." ucap Andre ngasal.


"Ada² aja sih lo. Kebannyakan nonton kartun!" sahut Aria terkekeh.


"Kita balik kekamar aja yuk, mataharinya udah tinggi tuh!" ajak Aria. Andre mengangguk setuju. Merekapun kembali ke kamar rawat Andre.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote😘