
"huaaa... Akhirnya kita sampai juga. " kata Yoonji sambil meregangkan badannya yang terasa pegal karena duduk berjam-jam ketika perjalanan.
"kita akan pergi kemana oppa? " tanya Yoonji,lalu berhenti dan berpikir sejenak. Dia baru ingat bahwa rumahnya sudah direbut oleh Helena.
"kita akan pergi kerumah kita yang dulu." kata Yoongi lagi sambil menunjukan sedikit senyumnya.
"rumah yang dulu?? "tanya Yoonji bingung
"kau ingat rumah kecil dan nyaman yang dulu pernah kita tinggali bersama eomma dan appa sebelum mereka menjadi sesukses sekarang."kata Yoongi mengingat masa lalu keluarga mereka
Yoonji terdiam sejenak, lalu sebuah senyum kecil muncul dibibirnya yang mungil.
" tentu saja aku masih mengingatnya oppa.. Dulu sebelum kita pindah kerumah besar itu,appa dan eomma selalu mengajak kita bermain diakhir pekan. Itu sangat menyenangkan. "kata Yoonji
" tentu saja.. bagaimana bisa kita melupankannya" kata Yoongi melihat adiknya
"ayooo... Kita berangkat agar tak sampai terlalu larut malam. "ajak Yoongi lalu menarik tangan adiknya dan membawa kopernya lari keluar dari ruangan bandara nan besar dan sangat ramai itu.
Mereka menaiki bus malam menuju sebuah kompleks perumahan yang terlihat amat bersih dan sejuk. Lingkungan yang tenang juga karena diciptakan dengan gagasan nirkabel alias tanpa kabel bersliweran disekitar area permukiman.
Yoonji juga sangat menyukai area permukiman ini karena dulu disini banyak sekali anak-anak tetangga yang seumuran denganya,jadi dia bisa bermain dengan mereka. Salah satu teman dekatnya adalah Lisa, bukan hanya mereka yang berteman tapi orang tua mereka dulu adalah sahabat karib, keluarga Lisa dan keluarganya sangat dekat mereka sering mengadakan jamuan makan bersama dan selalu mengundang satu sama lain. Sangatlah menyenangkan.
"lihatlah... Ini dia rumah kita sekarang." kata Yoongi yang memandang sebuah rumah mungil dengan arsitektur klasik.
Halamannya lumayan besar dengan pagar kayu yang sudah sedikit lapuk untuk membatasi setiap rumah satu dengan yang lainnya dan tertanam tanaman yang anehnya masih tertata rapi dan sangat bersih didepan rumah itu walaupun sudah ditinggal beberapa tahun. Didepan terasnya terdapat pula tanaman gantung yang sudah mulai berbunga, bunganya ungu dan ada pula yang merah muda menambah kesan yang indah dan nyaman pada rumah kecil nan bersih.
"Ayo kita masuk oppa.. Kita lihat isi didalamnya. "ajak Yoonji dan menarik tangan kakaknya.
"sebentar aku akan mengambil kunci rumah dulu. " Yoongi pergi kesamping rumahnya,dia memgangkat sebuah batu bata disanalah dia pernah melihat ayahnya menaruh kunci rumahnya
"masih ada." batin yoongi
Yoongi lalu membuka pintu dan melihat isi dalam rumah mereka itu.
"wahhh... Lihatlah oppa, tak ada yang berubah dari tempat ini setelah kita tinggal. " kata Yoonji melihat keadaan rumahnya.
"tak akan ada yang merubah tempat ini Yoonji.. Kau ada-ada saja. " Yoongi menggelengkan kepalanya heran
"tapi lihatlah debu-debu ini. Pasti tak ada yang membersihkannya, tapi kenapa halaman depan bisa sebersih itu? " Yoongi bingung pada keadaan tempat itu.
"ayooolahh oppa... Sekarang waktunya kita bekerja dan membersihkan tempat ini. Kita buat tempat ini menjadi seindah dulu. " semangat Yoonji sambil menaruh barang-barangnya disamping sebuah meja diruang tengah.
"adikku.. Kau duduk saja disini..biarkan aku saja yang membersihkan tempat ini. " kata Yoongi
"tidak, tidak... Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja sendiri, aku akan membantu setidaknya membersihkan debu-debu yang menempel pada barang-barang ini. "bujuk Yoonji sambil menunjukan wajah yang memelas
"cehhh... Arrasoo... Kau boleh membantu tapi jangan ambil pekerjaan yang berat-berat. Mengerti? " kata Yoongi sambil menjewer hidung mungil adiknya
"Siap laksanakan komandan. " Jawab Yoonji yang memberikan sikap hormat sambil menegakkan badannya dan membusungkan dadanya. Dia malah terlihat sangat lucu.
"hahahahaaa... Dasar gadis kecil. " kakaknya tertawa melihat tingkah Yoonji dan Yoonji hanya cengingiran saja.
Saat akan membersihkan rumah, seseorang mengetuk pintu. Yoonji segera berlari kecil membuka pintu...
" eommoni.... " teriak Yoonji dan memeluk wanita paruh baya yang ada didepannya
Dia adalah ibu dari Lisa, nyonya manoban. Yoonji biasa memanggilnya eommoni, Lisa pun begitu jika memanggil ibunya Yoonji. Nyonya manoban adalah seorang wanita paruh baya yang tidak terlalu tinggi, badannya juga tidak terlalu gemuk ,dia adalah sesosok ibu yang sangat penyayang dan sangat lembut. Nyonya manoban juga sangat menyayangi Yoonji dan Yoingi.
"siapa itu Yoonji??" tanya Yoongi dari dalam
"lihatlah oppa.... Siapa yang datang. " jawab Yoonji sambil melepas pelukannya
"aigoo.... Anak-anakku, akhirnya kalian kesini juga. Eommoni sangat merindukan kalian."kata nyonya manoban langsung memeluk Yoonji lagi
"eommoni??. Kaukah itu? "tanya Yoongi mendekati mereka.
"anak-anakku, bagaimanakah kabar kalian hah?."
"lihatlah Yoongi, badanmu sangat kurus sekarang." kata nyonya manoban mendekati Yoongi dan mengelus pucuk rambutnya lembut.
"kami baik-baik saja eommoni... Eommoni sendiri bagaimana?." tanya yoongi
"aku lihat kau semakin ramping saja sekarang eommoni. " sambung Yoongi menyunggingkan senyum manisnya.
" sungguh aku sangatlah merindukan kalian. "kata nyonya manoban seperti hendak menangis
lalu dia melihat keadaan sekitar seperti mencari sesuatu
"kau hanya datang berdua kesini,Yoongi?." tanyanya lagi pada laki-laki berusia 15 tahun itu
Raut wajah Yoongi berubah, dia kembali mengingat peristiwa naas itu. Tapi dia masih berusaha menunjukan senyumnya pada eommoni nya itu.
"iya eommoni.... Kami datang berdua."jawab Yoongi singkat
"lalu dimana eomma dan appa kalian? Apakah mereka tak ikut kemari?." tanya nyonya manoban kembali.
"aigooo... Ternyata kalian yang datang berkunjung. " belum sempat Yoongi menjawab pertanyaan nyonya Manoban,suara seorang pria santar terdengar oleh orang yang sedang berbincang-bincang didalam rumah.
Dia adalah tuan manoban, suami dari nyonya manoban dan tentunya ayah Lisa. Dia adalah seorang ayah yang penyayang pula.
Dibelakangnya seorang gadis kecil berusia sekitar 11 tahun yang seumuran dengan Yoonji,rambutnya yang hitam panjang terurai sepunggung, matanya bulat, dan bibirnya juga agak tebal tapi manis.
mengintip dari belakang punggung pria itu sambil terlihat malu-malu lalu menunjukan senyumnya yang begitu manis. Itu Lisa kecil yang begitu manis dan imut.
"abeoji... Lisa... " panggil Yoonji pada tuan manobann dan putrinya,Lisa namanya
"uaaa... Putriku, apa kabarmu sayang?. "tanya tuan manoban memeluk Yoonji
"aku baik-baik saja.. " jawab Yoonji melebarkan senyumnya. Melepaskan pelukannya lalu tentu saja pergi dan mendekati teman lamanya, Lisa.
"Yoongi... Bagaimana juga dengan kabarmu? Tumben sekali kalian berkunjung kesini?"tanya tuan manoban.
"Lalu dimana eomma dan appa kalian? " tanya tuan manoban lagi pada Yoongi
"aku juga tak melihat mobil appa kalian didepan. Tadi aku kira yang datang adalah pencuri. " kata tuan manoban yang terlihat mengintimidasi Yoongi.
"aku juga baru saja bertanya hal itu pada mereka. "sambung nyonya manoban
"oo... Benarkah??? Wah sepertinya kita memang sangat berjodoh sayang. " godanya pada sang istri
"kau bisa saja.. Lihatlah ada anak kecil disini. " nyonya manoban terlihat malu-malu.
"aku siapa??aku dimana? Aku ngak dengar yang kalian bicarakan tadi!. "kata Yoonji yang tertuduh oleh keromantisan pasangan ini.
Orang-orang yang melihatnya pun akan tertawa karena keluguan anak ini.
"hahaaa... Dasar gadis kecil..sudahlah aku tadi bertanya pada Yoongi." kata tuan manoban mengalihkan pandangannya kembali pada Yoongi.
Yoongi yang sedari tadi merasa lega karena topik pembicaraan sempat teralihkan,kini raut wajahnya kembali berubahh dia pikir memang seharusnya orang yang sudah dia anggap ayah dan ibu ini mengetahui peristiwa tragis yang dia dan adiknya lalui.
Memang nyonya dan tuan manoban belumlah mengetahui tentang kematian kedua orang tuanya. Entah kenapa mereka lupa memberitahukan ini pada orang tua angkatnya. Mungkin karena kematian ayahnya juga terjadi di negeri orang, jadi mereka tak bisa memberi kabar.
Tuan manoban yang melihat raut wajah Yoongi berubah saat ditanya mengenai orang tuanya. Dia merasa aneh dan sedikit khawatir. Lalu dia mengajak Yoonji dan Yoongi untuk kerumahnya yang ada disebelah rumah mereka juga. Tak ada tembok lain yang memisahkan antara rumahnya dan rumah Yoongi, hanya dibatasi oleh kayu-kayu pagar pada rumah mereka masing-masing.
Sebuah kebetulan juga, saat itu nyonya manoban sedang memasak kimchi untuk makan malam. Entah kenapa dia ingin sekali memasak masakan ini untuk makan malam, biasanya dia akan memasak kimchi hanya saat ada acara atau memang sangat menginginkannya. Mungkin inilah sifat ke ibuanya pada Yoonji. Karena Yoonji sangatlah menyukai kimchi.
Tapi sebelum itu Yoongi ingin membersihkan diri terlebih dahulu agar merasa lebih segar begitupun dengan Yoonji. Dirumah tuan manoban terdapat dua kamar mandi, jadi mereka bisa mandi lebih cepat.
Setelah membersihkan diri, mereka berkumpul diruang makan untuk acara makan malam. Selesai makan malam, Lisa mengajak Yoonji bermain dikamarnya,sementara Yoongi sedang bercakap-cakao dengan tuan dan nyonya manoban.
"nak... Kau belum menjawab pertanyaan kami tadi. " kata tuan manoban
Dalam hatinya, Yoongi sedang mengumpulkan kekuatannya untuk mengatakan hal yang sangat menyakitkan baginya. Tapi bagaimanapun juga mereka berhak mengetahuinya. Karena dulu ayahnya dan tuan manoban adalah sahabat karib.
"jika kau tak ingin mengatakannya juga tak apa nak, kami tak ingin membuatmu merasa tak nyaman. " sambung nyonya manoban yang merasa aneh melihat raut wajah Yoongi
Yoongi sejurus terdiam, lalu menarik nafas entah ingin mengatakan sesuatu atau hanya ingin menyambung oksigen yang masuk ketubuhnya. Dia akan mengatakan hal yang sebenarnya akan menyakitkan baginya.
...Bersambung ...
...👑👑👑...
**Hayy para readers Jangan lupa kasi like, komen, rate and votenya ya 😁😁
i purple you 💜💜💜**