Love and Vengeance

Love and Vengeance
Kenapa?



"Aigoo... Anakku.. apa kau baik-baik saja?. "


Nyonya manoban langsung memeluk Yoonji dengan air mata yang sudah terlanjur membasahi pipinya karena rasa khawatir akan keadaan putrinya itu.


"Eomma...'' Tangis Yoonji pecah saat Eomma memeluknya erat dan mengingat kejadian tadi.


"Yoonji-aa..apa kau baik-baik saja?? Bagaimana bisa hal ini terjadi?.'' tanya Nam Joon yang ikut merasa khawatir karena Yoongi yang menelponnya dengan nada panik.


''Aku pun tak tahu siapa mereka oppa.. mereka tiba-tiba sudah berada didalam rumahku. Tapi tenang saja, aku hanya sedikit terluka. '' sahut Yoonji menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi seraya melepas pelukan


Eommanya.


"Aku dan pihak polisi akan membawa mereka kekantor polisi dan menyelidiki siapa mereka."


''Tapi syukurlah kau baik-baik saja. Jika kau kenapa-kenapa, mungkin hidupku juga akan dalam bahaya. '' sambung Nam Joon memperlihatkan lesung pipinya, merasa sedikit lega.


"Yoonji-aa.. apakah dia Tae hyung??.'' tanya Lisa yang sedari tadi memperhatikan pria yang sedang bersender tergeletak lemas disofa, yang ada dibelakang Yoonji dan hanya memperlihatkan punggungnya saja.


" Ohh tuhan.. Tae hyung. " batin Yoonji.


" Tae hyung-aa... " Yoonji memutar badannya panik mengingat keadaan Tae hyung yang sedang terluka.


Yoonji berusaha membangunkan Tae hyung, tapi sepertinya sia-sia, Tae hyung sudah tak sadarkan diri, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya sangat lemah karena darah tak henti-hentinya keluar dari perutnya yang terluka.


Air mata Yoonji kembali tumpah melihat keadaan Tae hyung.


"Nam Joon oppa... bantu aku untuk membawanya kerumah sakit. Dia sedang terluka, dan itu karena diriku. " kata Yoonji yang sesenggukan karena menangis.


"Apakah dia yang sudah menolongmu??." tanya Nam Joon mendekati Tae hyung.


"Iya.. dia yang menyelamatkanku dari penjahat itu."


"Baiklah.. ayo kita bawa dia kerumah sakit. "


"Pak.. bisakah kalian membantuku membawa temanku, dia sedang terluka." panggil Nam Joon meminta bantuan pada para polisi yang sedang menangkap para penjahat itu.


Seorang polisi datang membantu mengangkat tubuh Tae hyung dan memapahnya hingga masuk ke mobil Nam Joon, yang nantinya akan mereka bawa ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut.


"Oppa.. aku akan ikut bersamamu." ijin Yoonji


"Tidak Yoonji.. kau tetaplah dirumah, aku akan mengurus semuanya, kau menginaplah dulu dirumah Lisa, aku juga akan menyediakan pengamanan yang ketat untukmu mulai saat ini. Aku juga tak mau hal seperti ini terjadi lagi padamu. Karena kau adalah adik dari temanku, itu juga berarti kau adalah adikku." ucap Nam Joon lembut dan membelai pucuk rambut Yoonji.


"Tidak oppa.. bagaimanapun juga Tae hyung seperti itu karena diriku, jadi aku mohon ijinkan aku ikut denganmu." bujuk Yoonji.


"Datanglah besok pagi kerumah sakit, untuk saat ini beristirahatlah dirumah. Kau pasti sangat ketakutan dan lelah, obatilah juga lukamu,tenang saja semua akan baik-baik saja." jelas Nam Joon menenangkan Yoonji.


Entah kenapa Nam Joon terlihat sangat yakin bahwa Tae hyung akan baik-baik saja walau dengan lukanya yang cukup dalam.


Mungkin saja karena sikap Nam Joon yang selalu berpikir positif dan tak mau membuat siapapun merasa khawatir.


"Nyonya.. aku titip Yoonji, tolong jaga dia." ucap Nam Joon seraya membungkukan badannya dan segera pergi membawa Tae hyung kerumah sakit.


Sejurus Yoonji hanya terdiam dan terpaku didepan pagar rumahnya memperhatikan laju mobil Nam Joon yang sudah menjauh dari rumahnya dan menghilang dari pandanganya, lalu suara sirine polisi yang santar terdengar olehnya, seolah mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk membawa para penjahat itu masuk kedalam jeruji besi.


Entah kenapa hari ini begitu sunyi ia jalani, walau dengan semua kebisingan kota dan masalah yang terjadi. Semuanya terasa tak menentu, hari ini dia bahkan hampir kehilangan nyawanya, jika saja Tae hyung tak datang menolongnya, mungkin dia akan... Ahhh sudahlah, Yoonji tak mau berpikir sampai kesana.


Dia harus bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup didunia ini dan itu berkat Tae hyung. Dan kini dia juga harus berdoa untuk keselamatan pria itu.


"Baiklah nak... kau beristirahatlah dikamar Lisa." ucap Nyonya manoban seraya menutup pintu rumahnya dan membawa Yoonji masuk bersama Lisa.


"Terima kasih Eomma." ucap Yoonji dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang saja putriku semua akan baik-baik saja, kau pasti sangat takut. Tak apa semua sudah aman sekarang, lagipula sekarang beberapa polisi juga sedang berjaga diluar rumah kita, jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan." ucap Nyonya manoban membelai rambut hitam Yoonji dan mencium pucuk kepalanya lembut.


"Iya benar juga.. kau harus obati dulu lukamu." sambung Nyonya manoban tersenyum.


Yoonji hanya mengangguk dan mengikuti Lisa yang sudah menggenggam erat tangannya dan menariknya menuju kamar besar dengan nuansa yang identik dengan seorang gadis remaja.


Kamar Lisa cukup besar dan Yoonji sudah sering keluar masuk kamar itu, mungkin hanya sekedar ingin mengambil barang ataupun untuk menginap.


"Duduklah disini, aku akan mengambil kotak obatnya terlebih dahulu." kata Lisa mempersilakan Yoonji duduk dikasurnya. Lalu pergi mengambil kotak obat dan sebuah kursi untuknya duduk kembali disamping Yoonji


"Pertama akan aku bersihkan dulu lukamu."


''Aauuhh... pelan-pelan Lisa. '' rintih Yoonji kesakitan.


Lisa hanya tersenyum dan meniup-niup luka dikening Yoonji dengan lembut agar perihnya berkurang.


''Apa sudah membaik?.''


"Gomawo-yo, Lisa.. '' ucap Yoonji menatap Lisa dan tersenyum.


Lisa kembali menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah perahu kecil yang terlihat manis diwajahnya. Sebagai tahap akhir, Lisa juga memasang plaster obat dikening Yoonji yang terluka, dan selesai.


Untuk beberapa saat, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Lisa ataupun Yoonji. Lisa menutup kotak obatnya dan menaruhnya disebuah meja didekatnya. Dia menatap Yoonji dengan tatapan yang tak biasa lalu menarik nafasnya panjang dan mendengus pelan.


Yoonji yang memperhatikan tatapan tak biasa dari Lisa untuknya merasa ada yang aneh, selain itu sedari tadi Lisa memang jarang bicara saat dirumahnya.


"Wae-yo??.'' tanya Yoonji membalas tatapan Lisa.


"Kau hampir membuatku jantungan Yoonji-aa.'' ucap Lisa, dan kini giliran dirinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Wae-yo??. Ada apa denganmu??'' tanya Yoonji memegang pipi Lisa agar tak menangis dan mengernyitkan alisnya bingung dan terkejut melihat reaksi Lisa.


"Kau tahu....ahhh sudahlah, kau tak akan mengerti.'' ucap Lisa dan memalingkan wajahnya agar Yoonji tak tahu kalau dirinya menangis, dia lalu berjalan kearah kasurnya dibagian lain disamping Yoonji.


Lisa menarik selimutnya dan menutupi tubuh mungilnya. Tak ada pergerakan setelah itu, Yoonji pun bingung dan menatap tubuh Lisa yang tergulung oleh selimut.


'' Apakah aku melakukan kesalahan ??.'' batin Yoonji.


Namun tiba-tiba Lisa kembali membuka gulungan selimutnya dan langsung memeluk Yoonji, dia menangis dipelukan Yoonji dan menumpahkan air matanya.


"Mianhe... karena aku tak bisa membantumu saat kau sangat membutuhkan pertolongan." ucap Lisa tak melepas pelukannya.


Yoonji sedikit terkejut, tapi setelah itu dia membalas pelukan Lisa. Kini dia tahu mengapa Lisa seperti ini, itu karena Lisa sangat menghawatirkannya. Saudari mana yang tak tega mengetahui saudarinya yang lain hampir terbunuh.


"Kwencanayo... kau tak perlu menangis, ini bukan salahmu.Ayolah, apakah aku yang harus menenangkanmu saat ini." gurau Yoonji menenangkan Lisa.


Lisa melepas pelukannya dan menatap Yoonji.


"Aku memang wanita yang cengeng dan lemah, aku sungguh tak berguna untukmu." ucap Lisa


" Heyyy... apa kau mau membuatku terlihat seperti saudari yang buruk dengan mengatakan itu." sahut Yoonji menatap tajam Lisa yang masih menangis.


'' Sekarang berhentilah menangis dan sayangi jantungmu." sambungnya membelai pipi Lisa.


"Tapi tetap saja... "


''Jika kau terus menangis, maka aku akan pergi dari sini." kata Yoonji memotong perkataan Lisa.


Lisa mengangguk dan mulai tersenyum, kini mereka berpelukan dengan perasaan bahagia.


Tapi Yoonji masih merasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba Lisa berbicara seperti itu, bahkan jelas-jelas ini bukan kesalahannya, lalu kenapa dia harus merasa bersalah.


Yaa...mungkin Lisa merasa bersalah karena tak bisa membantu Yoonji saat dalam kesusahan, tapi entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal dihati Yoonji melihat sikap Lisa. Tak biasanya dia seperti ini. ___