LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Menahan diri



Aku menarik tangannya sedikit memaksa. Mencoba mengatur hatiku yang saat ini sedang kacau. Ini adalah pertama kalinya aku menyentuh tubuh seorang wanita. Tangan yang lebih kecil dan juga terasa begitu halus.


Dengan masih menahan diri, aku membawanya masuk kedalam sebuah kamar hotel yang tadi sudah kupesan. Kami masuk kedalam, aku segera menutup dan mengunci pintunya.


Berbalik badan. Bisa kulihat jika saat ini fare sedang bersendekap tangan dengan menatap tajam ke arahku. Benar- benar sempurna wanita itu. Wajahnya yang kini terlihat begitu cantik dengan kulit putihnya.


Bukan hanya itu saja, kini aku bisa melihat setiap lekukan tubuhnya dari balik pakaian ketat yang sedang dipakai olehnya dan hal itu membuatku semakin mendamba dirinya.


Uuuuuhhgg.. Perfect..


" Jadi, kamu sudah mengeluarkan berapa duit untuk tante risa, hingga kamu bisa menemuiku ? " todongnya.


Aku tersenyum tipis melihat wanitaku yang saat ini sedang menatapku kesal.


" Kenapa kamu tersenyum, az ? Aku sedang tidak ingin bercanda. " cercanya.


Mencoba menetralkan perasaan aneh yang kini mulai hadir. Aku merasa senang, merasa rindu tapi juga kecewa. Satu hal yang kini ku yakini. Aku bersyukur karena saat ini semesta telah membawaku pada situasi seperti ini. Bertemu dengan seseorang yang sejak beberapa hari terakhir sangat ku rindukan.


Ku sandarkan punggungku pada sisi pintu. Ikut bersendekap tangan dengan menatapnya santai. Jika saja bisa, mungkin saat ini aku sudah berteriak sambil memeluknya erat. Meluapkan kerinduanku padanya. Tapi nyatanya aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Memendam rasa yang selama ini ku tahan.


" Apa yang kamu pikirkan, re. ? Santai saja, ini aku, azmi, sahabatmu. " tuturku.


Dia kini mulai melangkah mendekatiku. Masih belum bisa memalingkan pandanganku. Semuanya yang ada pada wanita itu seakan menghipnotis kesadaranku yang memiliki hasrat sebagai lelaki normal.


" Apa tujuanmu menemuiku dan membawaku kemari ? "


Dia berhenti tepat didepanku. Sedikit berat aku menahan hasratku yang kian bertambah.


" Aku hanya ingin bertemu denganmu. Dua hari yng lalu aku pulang ke kampung. Mampir ke rumahmu dan aku tidak bisa menemuimu, seseorang telah memberiku petunjuk hingga kini aku bisa kembali ke Jakarta. Aku ingin menemuimu. "


Fare mengernyitkan keningnya. Tangannya mulai terbuka hingga melemas begitu saja.


" Apa maksudmu ingin menemuiku ? " tanyanya.


Akankah segera ku utarakan isi hatiku, ataukah aku harus bersandiwara lebih dulu untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan isi hatiku. Sejenak aku bergelut dengan asumsiku sendiri. Berfikir mengenai setiap hal yang mungkin bisa saja terjadi nanti.


" Jadi, apa alasan kamu ingin menemuiku, az. " tanyanya lagi dengan nada membentak. Dia seakan sudah tidak sabar.


Entah apa yang sedang dia rasakan, namun bisa kulihat jika saat ini dia sedang menatap kesal padaku. Penasaran. Aku benar-benar penasaran pada wanita itu. Dia adalah fare, sahabatku. Tapi kenapa kini dia seakan tidak suka melihat kedatanganku.


" Aku rindu. Aku rindu padamu, re. Aku ingin bertemu denganmu. Sudah dua tahun kita tidak berhubungan. Apa salah jika aku menemuimu. Menemui sahabatku. " jelasku.


Menemui cintaku.


Dia mengatupkan bibirnya. Masih menatapku. Kini mata tajamnya berubah menjadi sendu.


" Tidak seharusnya kamu menemuiku, az. Kamu salah memilih mengeluarkan banyak uang hanya untuk menemuiku. " balasnya.


Kini aku melihat matanya berkaca-kaca. Kemudian dia menundukkan kepalanya. Hatiku pun trenyuh. Aku tahu semua ini bukanlah keinginannya.


" Ceritakan semuanya padaku, re. Aku akan membawamu pergi dari sini. " pintaku.


Ku langkahkan kakiku untuk mengikis jarak antara kami. Namun, aku sama sekali tidak menduganya. Dia, fareku, wanitaku sedang menabrakkan tubuhnya. Yah, dia sedang memelukku. Menangis. Kudengar dia terisak.


Tanpa ragu, kini kedua tanganku pun merengkuhnya. Menepis kecanggungku yang sejak tadi kurasakan. Aku mengelus pelan rambut panjangnya. Begitu lembut dan juga harum. Tubuhku seakan merespon lain.


Sial. Kenapa disaat seperti ini, dia menjadi on ?


Mencoba menahan diri dari gejolak hati. Aku kembali pada kesadaranku. Saat ini wanitaku sedang membutuhkan bantuan dariku.


" Tenanglah ! Aku ada disini. Aku janji akan membawamu pergi. " ucapku.


Kurasakan kini kepalanya menggeleng, hingga membuatku menghentikan gerakan tanganku. Sedikit terhenyak memikirkan sesuatu hal yang membuat fare menggeleng.


" Kenapa ? Aku akan membawamu pergi jauh dari tantemu itu. Aku akan mencarikan mu tempat tinggal baru, re. "


" Pergilah, az. ! Kamu salah jika kamu ingin membawaku pergi. Seharusnya kamu yang pergi. " jelasnya.


Aku terdiam merasa bingung dengan arah pembicaraannya. Bagaimana bisa dia ingin tetap bertahan ketika saat ini ada bala bantuan yang datang.


" Mengapa begitu, re. ? Aku akan membantumu. Aku datang karena aku ingin bertemu dan membawamu pergi dari sini. Ikutlah bersamaku. " Paksaku.


Aku masih mengunci tatapan matanya. Dia seakan tidak ingin terus memandangku. Aku tahu, jika saat ini dia sedang menyembunyikan sesuatu.


" Katakan padaku, kenapa kamu memintaku untuk pergi ketika kini aku datang dan siap untuk membawamu pergi. Aku siap membantumu. Kamu tidak lupa denganku kan. Ini aku, re. Azmi, sahabatmu. " ucapku.


Kini dia kembali menundukkan kepalanya. Sepertinya dia kembali menangis.


" Aku tidak ingin membawamu masuk kedalam duniaku, az. Akan sangat sulit bagimu untuk pergi ketika kamu sudah masuk. " jelasnya lirih.


Hatiku begitu sakit. Nyeri didada semakin membuatku merasa sesak. Melihat wanitaku yang menangis. Bagaimana Tuhan bisa begitu tega dengan memberikan ujian hidup yang bertubi-tubi padanya.


" Ijinkan aku membantumu, re. Percayalah ! Kita bisa pergi bersama-sama. "


Kulihat fare menggeleng.


" Kamu belum tahu, az. Jangan belaga sok jadi pahlawan untukku ! Sebaiknya kita selesaikan urusan kita, dan kamu bisa secepatnya pergi setelah itu. " ucap fare.


Bahuku merosot. Aku berusaha terlihat santai didepannya walaupun saat ini, aku sedang menahan amarahku. Sudah susah payah aku datang bahkan merelakan sebagian tabunganku agar bisa menemuinya, tapi sekarang apa ??


Sial.


" Selesaikan urusan kita ? Jadi kamu juga menganggapku sama seperti pelagganmu yang lain. "


Aku mengatupkan rahangku. Saat ini aku merasa begitu kesal. Aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu, tapi seharusnya dia bisa menceritakan semuanya padaku bukannya seperti ini.


.


Kami saling menatap. Dengan perasaan kesal kini aku mulai meraih setiap kancing kemejaku untuk membukanya. Kedua mataku masih menatap lekat sosok wanitaku.


" Apa yang kamu lakukan, az ? " tanyanya sedikit takut.


" Apa lagi ? Menyelesaikan urusan kita. " jawabku tegas.


Fare terperangah.


" Jangan macam-macam ! Aku bukan seorang ja**ng seperti kebanyakan wanita yang tinggal di rumah tante. " ucapnya dengan keras.


Aku tersenyum dalam hati. Mencoba percaya dengan setiap kata yang terucap. Kemeja berwarna baby blue itu kini kubuang sembarangan. Kini yang tertinggal hanya kaos dalaman saja, yang tentunya aku masih memakai celana jeansku.


Fare semakin menajamkan kedua matanya.


" Kurasa tante risa tidak lupa untuk mengingatkan. "


Heemmm. aku hanya berdehem dengan mengangguk samar.


" Lalu ? "


Dia kebingungan saat ini aku telah melangkah mendekatinya. Bukan, bukan apa-apa. Aku hanya ingin melewatinya. Aku sungguh lelah sekali dan saat ini tubuhku membutuhkan waktu untuk istirahat.


Fare melongo menatap ke arahku. Aku melewatinya begitu saja. Bibirku melengkung keatas. Dengan segera aku merangkak naik keatas tempat tidur. Sekilas menolehkan kepalaku untuk melihatnya.


Astagaaaa.. Dia masih mematung ditempatnya..hihihihihi


" Aku sudah membayar mahal untuk bisa menahanmu selama satu minggu. Jadi mulai besok kamu harus ikut tinggal bersama denganku. "


Kemudian aku pun mulai mencari posisi ternyaman untuk memulai menyambut mimpiku. Tidak lagi memikirkan apa yang akan dilakukan oleh fare.


Tbc.