
Kunyamankan posisiku. Kali ini hatiku sudah mantap untuk meminangnya. Dua tahun yang lalu aku masih sempat mampir kerumahnya saat aku pulang, aku berharap kali ini dia pun masih berstatus single seperti dua tahun yang lalu.
Memikirkan tentangnya, membuatku merasa ingin sekali cepat-cepat menemuinya. Senyumannya, tutur katanya, candanya, apapun yang ada pada dirinya selalu terbayang dipelupuk mata.
Entahlah, aku merasa sangat yakin jika dia adalah jodoh yang sudah disiapkan oleh-nya untukku. Bukannya apa-apa, tapi karena hanya dia yang hingga saat ini masih bersemayam dihatiku. Tidak akan terganti.
Wanita yang sederhana dengan semangat hidup yang tinggi. Dalam segala keterpurukannya, dia tetap terlihat tegar. Dan aku sangat menyukainya. Dia memang wanita yang berbeda.
Persahabatan kami memang tidak pernah putus sejak kita menduduki sekolah dasar. Bahkan ketika SMP dan SMA pun kita masih tetap berhubungan baik walau tidak satu sekolah.
Yah, tentu saja aku selalu mampir kerumahnya jika ada waktu senggang. Aku tersenyum tipis saat kini tiba-tiba teringat kejadian semasa SMA dulu. Saat aku memaksanya untuk ikut les private bahasa Inggris di tempat guruku mengajar.
*************************************
" Udah, kamu ikut aja. Bayarnya cuman 50ribu kok. " tuturnya.
Fare menggeleng pelan dengan wajah sedih.
" Tapi aku gak mau nambahin beban ayahku lagi, az. Kamu kan tahu ayahku cuman tukang jahit. " jelas fare.
Sejenak azmi berfikir. Dia pin juga ingin mengajak sahabatnya itu untuk meraih ilmu bersama. Tentu saja pelajaran bahasa Inggris adalah pelajaran untuk masa depan dan itu sangat penting.
" Kamu kan bisa nabung dari uang jajan mu, ntar ku bantuin dikit, deh. " tawar azmi.
Keduanya yang sedang asyik berbincang di teras depan rumah fare pun terkejut saat mendengar penuturan dari seseorang dengan tiba-tiba.
" Sudah, ikut saja nduk. Kalau buat pendidikan ayah tidak akan pernah menolak. Cuman 50 ribu saja. " tutur ayah.
Azmi tersenyum lebar.
" Iyah, yah. Tapi kan aku gak ada kendaraan. Ntar bakal ngabisin uangnya buat naik angkot. " ucap fare
" Kan ada sepedanya ayah. Sekalian olahraga. " tutur ayah.
Azmi dan fare saling menatap satu sama lain.
" Ngontel. " ucap keduanya yang terkejut.
Sang ayah hanya terkekeh.
" Kalau demi meraih ilmu yang tinggi, pasti butuh perjuangan. " ucap ayah sambil melangkah masuk.
" Masa ngontel " ucap fare yang seakan berat.
" Gak papa, ntar pulangnya biar ku bonceng. Kan aku juga ngangkot. Kalau motor punya mbak gak dipake, bakal ku jemput pake motor. Biar enak. " jelas azmi.
" Yasudah, terserah. "
Mereka berdua adalah anak dari keluarga yang sederhana. Namun, perekonomian keluarga azmi masih tergolong mampu. Bahkan dia sudah memiliki dua motor dibandingkan dengan keluarga fare yang hanya memiliki satu sepeda ontel.
" Oyah, gimana pelajaran di sekolah, lancar ? " tanya fare mengalihkan pembicaraan.
" Lancar. Aku juga ditawarin masuk kedalam kelas bilingual. Sebenarnya sih, itu khusus anak yang pintar dan juga berduit. Lha aku cuman pintar doang gak ada duit. "
" Lha trus ? " tanya fare penasaran.
" Pihak sekolah kasih beasiswa. Jadi aku ditarik kedalam kelas itu. Huh.. Muridnya sip-sip semua, re. kadang aku juga ngerasa minder. Tapi kembali ingat sama omongan kamu. Kepinteran, kekayaan, dan nasib. Tidak ada yang pernah tahu. Yang pasti kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. " jelasnya.
Keduanya tersenyum. Fare mengangguk bangga.
" Hehehe.. Makin semangat dong belajarnya. " ucap fare.
Azmi mengangguk.
" Trus gimana sama sekolahmu ? Udah bisa bikin apa sekarang ? Bisa bikinin aku baju gak ? " goda azmi.
Fare terkekeh.
" Bisa-bisa. Bikinin baju apa ? Besok beli kain deh, ntar ku bikinin. " balasnya.
" Wah, keren dong. Oyah, besok ku jemput yah. Kan kamu belum tahu tempatnya. " ucap azmi.
" Hemm. Okey.. Pulang sekolah langsung apa gimana ? "
" Pulang sekolah aja, biar gak ribet nunggin. " balasnya.
" Eh, aku pulang dulu yah, udah jam 9. Ntar ibu nyariin. " Lanjutnya sambil mulai beranjak dari duduknya.
" Yasudah hati-hati. Besok tungguin didepan sekolah kamu aja, takut temen-temen ku pada ramai kalau lihat aku dijemput cowok. " pesannya.
Azmi mengangguk.
" Oke beres. "
" Ayah, azmi mau pulang nih. "
Jarak rumah mereka sih memang tidak terlalu jauh. Tapi itu semua disebabkan oleh fare yang merasa minder dengan keluarga azmi yang terlihat lebih berada darinya.
" Sampai ketemu besok yah.. "
**
Keesokan harinya.
Seorang gadis cantik itu melangkah keluar dari sekolah SMKN 1 Buduran. Kepalanya menengok kanan kiri. Mencari seseorang yang sudah membuat janji dengannya semalam.
" Fare, nungguin siapa ? " Sapa ria teman dekat fare.
" Eh, ria. Nungguin azmi. " Jawab fare.
Seseorang dari kejauhan melambaikan tangannya. Dia menggunakan sepeda motor bebek milik kakaknya. Fare pun juga membalas lambaian tangannya.
" Nah, itu orangnya. " ucap ria.
" Yaudah, aku duluan yah. " Pamit fare.
" Ciee.. ciee.. Udah cocok kok. " goda ria.
Fare hanya tersenyum malu. Dia sedikit mempercepat langkahnya agar semakin cepat sampai.
" Maaf, telat. Ada pelajaran tambahan tadi. " ucap azmi tiba-tiba.
Fare hanya mengangguk kecil.
" Gak papa. "
Azmi memberikan helm yang dibawanya. Karena azmi yang sekolah di SMAN 1 Sidoarjo, hingga mereka pun masih bisa sering bertemu. Walaupun hanya ketika berangkat ataupun ketika pulang.
" Sudah siap. "
" Udah. "
" Pegangan yah. " tutur azmi sebelum dia mulai melajukan motornya.
***************************************
Aku kembali terkekeh saat mengingat kejadian itu. Dia gadis yang selalu kusuka dalam setiap hal. Bagaimana bisa, aku memintanya untuk berpegangan. Eh.. Dia beneran cuma pegangan sama jok bagian belakang.
Gila.. Gila.. Sungguh gila. Bahkan temen-temenku pada masa itu saja sudah ada yang merangkul perut pasangannya dengan erat. Lah, ini ? Pegangan jok motor.
Hahahahahha
Aku sungguh gak habis fikir. Fare bener-bener berbeda dari gadis manapun. Dan aku sangat suka itu.
Jika saja aku punya cukup keberanian, mungkin sejak saat itu dia sudah kujadikan pacar. Tapi sayangnya, aku tidak cukup berani mengungkapkan perasaanku padanya.
Dan untung saja aku tidak mengatakannya. Karena aku baru tahu jika dia tidak ingin memikirkan hal lain sebelum pendidikannya selesai.
Aahh.. Dia sungguh wanita idaman. Walaupun dia bukan anak dari seorang ustadz atau para petinggi agama, tapi dia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.
Farenina. Farenina. Farenina. Hanya nama itu yang hingga saat ini tidak bisa kuhapus dari dalam hatiku. Hanya dia wanita yang ku inginkan. Hanya dia yang ku harapkan.
Farenina, semoga kamu adalah jodohku.
Tbc...
.
.
.
.
.
Yuhuuuu...
Farenina datang lagi..
Jangan lupa like dan komen..
Kasih vote bagi yang suka..
Kasih bintang lima bagi yang cinta..
Terimakasih..
😘😘😘😘