LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Love, Farenina



Aku merengkuhnya. Tepat di sepertiga malam fare terbangun dan menangis tersedu-sedu. Membuatku mau tak mau ikut membuka mata dan terjaga.


Aku yang masih terkejut melihat keadaannya yang sedang menangis hanya bisa memeluknya. Mengusap lembut punggungnya.


"Kenapa, Sayang? Apa perutmu sakit?" bisikku lembut.


Dia menggeleng.


"Lalu kenapa? Kenapa kamu menangis, hem?"


Dia meleraikan pelukannya. Aku menatapnya bingung.


"Aku.. Hiks.. Hiks... bermimpi," jawabnya.


Hampir saja aku dibuat tertawa mendengar penuturan darinya. Namun, dia lebih dulu melanjutkan perkataannya.


"Kamu.. Hiks.. Hiks.. Pergi meninggalkan aku sendiri. Kamu menggandeng dua bocah dan pergi meninggalkan aku."


Aku menelan ludahku sedikit berat. Tidak ingin berfikir macam-macam. Aku segera memeluk tubuh istriku yang sedang menangis pilu. Memeluknya erat. Menyangkal perasaan gelisah yang tiba-tiba saja menyelimuti hatiku.


"Tenanglah! Itu hanya mimpi. Kenapa mesti di tangisi? Sudah lebih baik kita shalat saja bagaimana?" tawarku.


Aku bisa merasakan kepalanya bergerak ke bawah. Setelahnya aku menggiringnya menuju kamar mandi dengan masih memeluk tubuhnya.


**********************************************


"Ayah, kenapa bunda lama sekali di dalam?"


Aku mengusap wajahku kasar. Suara layu itu terdengar merdu di telingaku membuatku tersadar dari lamunanku. Hingga kini aku menatapnya. Putraku, sangat mirip sekali dengan Fare. Aku memaksa kan diri untuk tersenyum pahit.


Jantungku masih tidak terkendali. Setelah aku menghubungi ayah, kini aku duduk sendiri di depan ruang persalinan. Memeluk faris putraku yang masih terbengong melihat ku.


Aku benar-benar tidak tega melihat Fare yang tadi terus mengeluh sakit, bahkan dia menangis dan mencengkram kuat lengan ku. Hampir saja aku ikut masuk kedalam jika saja faris putraku ada yang menemani.


"Iyah, yang sabar yah. Bunda sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan adik kecil faris. Ayo kita membaca shalawat bersama-sama."


Aku mulai membimbingnya untuk mengucap shalawat khafi. Dengan perasaan campur aduk aku mencoba memasrahkan diri. Memasrahkan kondisi istriku pada kuasa sang maha Agung.


Mengingat kembali kejadian ketika aku menggendong fare keluar dari taksi. Ku lihat darah segar mengalir bercampur dengan cairan kental yang aku tidak tahu apa itu. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


Satu jam berlalu. Ruangan yang ada di depanku belum ada tanda-tanda akan terbuka. Hingga aku mendengar suara seseorang memanggilku. Aku tertegun melihatnya. Seseorang yang tersenyum manis melambaikan tangannya. Dia terlihat begitu cantik dan juga berseri.


Aku masih memandang wajahnya, hingga aku baru teringat dengan perutnya. Mengapa dia sudah tidak buncit lagi. Kini aku tersadar dari bayangan tersebut. Aku menjingkat Ketika seseorang menepuk bahuku.


"Az, lihat apaan?" tanya ibu panik.


Kini aku menangis. Aku bisa merasakan kepergiannya. Fareku. Cintaku. Istriku. Dia benar-benar melambaikan tangannya. Dia pergi, dia pergi meninggalkan aku. Aku menangis dipelukan ibu. Menangis pilu dengan pikiran dan perasaan ku sendiri.


Hingga tiba-tiba saja pintu ruang bersalin terbuka. Seseorang dengan memakai seragam kebesarannya keluar dengan wajah tak terbaca. Aku semakin terisak masih memeluk faris dan ibuku.


"Selamat pak, bayinya lahir dengan sehat. Sekarang sedang dalam masa perawatan."


"Bagaimana dengan menantu saya," tanya ayah.


"Maafkan kami, Ibunya tidak bisa di selamatkan. Tekanan darah tinggi di saat sang ibu sudah mengalami pembukaan 8. Kami sudah melakukan berbagai cara, namun sayangnya sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya ketika terakhir kali dia mengejan."


"Saya turun berdukacita atas kepergiannya."


Aku yang mendengarnya semakin meraung-raung di dalam pelukan ibu. Ayah segera mengambil alih faris kedalam gendongannya. Saat ini aku hanya ingin menangis. Menyalakan takdir yang begitu kejam dengan jalan hidupku.


Baru saja aku merasakan kebahagiaan karena bisa hidup bersama dengannya. Namun, takdir kembali memilihku untuk merasakan patah hati karena kehilangannya.


"Yang sabar, Le. Yang sabar," bisik ibu.


Aku mencoba untuk ikhlas dan berlapang dada. Tapi rasanya begitu berat. Ingin sekali aku menjerit dan berteriak kencang, mengungkapkan keluh kesahku pada takdir yang telah memisahkan kami.


Hancur. Hatiku hancur. Bagaimana bisa takdir memilih fareku untuk memberiku rasa sakit dan bahagia secara bersamaan.




***Lima tahun kemudian***.



Aku menangis dipelukan fare. Memeluk tubuh istriku. Perlahan tapi pasti, aku meneteskan air mata. Sudah lima tahun berlalu. Sayangku masih sama, rinduku masih sama, dan cintaku masih sama.



Bagaimana bisa takdir memilih ku. Jika saja aku bisa memilih jalan takdirku sendiri, sudah pasti aku tidak ingin berpisah dengannya. Namun, takdir telah menunjukkan kuasanya.



Sekali lagi aku memandangnya dengan pandangan merindu. Sosok yang akan selalu mendiami hatiku. Aku mengusap potret fare yang ada di dalam figura tersebut. Membayangkan dirinya membuatku semakin merasakan kerinduan.



Sayup-sayup aku mendengar suara adzan subuh. Tak lama kemudian disusul oleh suara ketukan pintu dari luar. Aku tersenyum. Itu pasti jagoan dan princess ku.



Sekali lagi aku mencium kening fare. Meletakkan kembali figura di atas nakas. Kemudian aku melangkah cepat untuk membukakan pintu kamarku.



"Ayah, kak faris katanya mau jadi imam nanti kalau pas lagi shalat."



Putriku Faraya Maulana dan putraku Muhammad Al Faris. Kini mereka sudah bisa membuatku merasa hidup kembali. Celotehan mereka selalu menghiasi rumahku yang sedikit sepi semenjak kepergiannya.



"Besok, kalau sudah pintar baca Alquran nya, baru ayah ijinin jadi imam. Tapi cuman ngimamin faray yah," tuturku padanya.



Ku lihat faray ku terkekeh kecil.



"Yasudah, cepetan yah. Habis shalat katanya mau ke makam bunda," ucap faris menginginkan.



Aku mengangguk.




Keduanya mengangguk. Ku biarkan pintu kamarku terbuka. Aku segera masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mungkin kedua malaikat ku sudah pergi ke mushola kecil yang ada di lantai bawah.



\*\*\*



Aku baru saja membaca surat yasin untuk mendiang istriku. Faris dan faray menaburkan bunga dan air yang tadi ku siapkan. Minggu pagi ini, kami berencana akan jalan-jalan ke alun-alun kota setelah berkunjung ke makam fare.



Aku masih terduduk di sisi gundukan tanah yang di kedua sisi atas dan bawah terdapat batu nisan. Aku mengusap batu nisan yang di sana tertuliskan nama istriku. Tanggal wafat dan juga tanggal lahir.



Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Melihat tanggal lahirnya membuatku sedih. Hari ini, tepat tanggal 10 Februari adalah tanggal lahirnya. Dia sedang berulang tahun.



Perlahan aku mengusap ujung mataku yang sudah basah. Air mataku terjatuh bebas tanpa henti. Hatiku merasa dingin ketika aku merasakan sesuatu menyentuh pipiku. Begitu lembut hingga membuat ku terhanyut. Tanpa sadar aku pun menutup mata.



"*Terimakasih, sudah menjaga mereka berdua dengan baik, sayang*."



Aku merasakan bulu kuduk ku berdiri. Hingga suara faray terdengar begitu nyata.



"Ayah, ayah, kenapa menangis?"



Aku segera mengusap wajahku yang basah.



"Ayah pasti merindukan bunda," sahut faris.



Hampir saja aku kembali menangis mendengarnya. Namun, aku harus kuat di depan mereka. Semua ini sudah di siapkan oleh takdirku. Kebahagiaan dan kesedihan. Semuanya sudah tertulis di buku catatan takdirku.



"Sudah, sudah. Sebaiknya kita pergi. Katanya mau ke alun-alun. Ntar kesiangan," ucapku mengalihkan pembicaraan.



Benar saja. Mereka berdua langsung memasang wajah ceria.



"Let's go," teriakku.



Aku pun segera berdiri dan kemudian menggandeng kedua anakku. Sekilas aku menoleh kembali. Tampak samar. Ntah iyah atau bukan, aku seperti sedang melihat fare berdiri sambil melambaikan tangannya. Tersenyum manis ke arahku.



*Cintaku takkan pernah pudar hingga maut memisahkan.


Love, Farenina*.



**THE END**.



.


.


.


.


.


Berusaha ikhlas dengan takdir yang tidak sesuai dengan keinginan, itu sangatlah berat.


Rasanya ingin berteriak dan menjerit.


Begitu frustasi merasakan kehilangan.


Menahan cinta dan rindu secara bersamaan.


Aku Azmi Maulana berjuang keras untuk berdamai dengan takdirku.


Mencoba ikhlas dan bersyukur dengan apa yang sudah disiapkan oleh-Nya.


Berat sudah pasti.


Frustasi apalagi.


Tapi Takdir tidak bisa terganti.


Mulailah bersyukur. Didalam suka pasti ada duka. Didalam manis pasti ada pahit. Didalam cinta pasti ada benci. Tapi satu hal yang harus kita ingat. Jangan pernah membenci pemilik Mu karena dia sudah menciptakan rasa yang kita nikmati. Cukup syukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang. Kebahagiaan pasti akan datang.



Terimakasih..


Sudah membaca novel mengharukan Azmi Maulana. Perjuangannya tidak pernah sia-sia.


Ada dua malaikat yang di kirim padanya untuk menggantikan Farenina di dalam hidupnya.



See you next novel....😘😘😘😘😘😘