
Setelah tadi aku sudah memesan hotel di sekitar rumah wanita tua itu. Seluruh barang-barang ku telah aku tinggal disana. Karena memang tempat kerjaku berada di Jakarta Selatan, sedangkan alamat rumah ini berada dijakarta pusat. Sehingga akan butuh waktu lama jika aku harus kembali ke rumah dinas ku terlebih dahulu.
Mencoba tenang di dalam taksi. Kusandarkan punggungku pada sandaran jok mobil. Hatiku gelisah memikirkan keadaan fare. Berharap jika pertemuanku dengannya tidak mendapatkan masalah yang rumit.
Terus berkumandang di dalam hati, shalawat nabi beserta mengucap istighfar. Menginginkan ketenangan hati dan juga kelancaran dalam segala hal yang akan ku hadapi.
Beberapa menit berlalu. Aku seakan dibuat bingung oleh sopir taksi itu. Bagaimana tidak, sedari tadi dia hanya berputar arah saja hingga berulangkali.
Sial. Apa sopir ini juga bersekongkol dengan wanita tua itu.
Dengan masih menahan kesalku, kini kucukupkan untuk bersikap bodoh.
" Pak, berhenti. Saya turun sini saja. " ucapku secara tiba-tiba.
Sedikit melirik kebelakang. Bukannya berhenti, sopir itu terus melaju bahkan menambah kecepatan laju mobilnya.
Sial.
Seketika itu amarahku langsung naik hingga ke level tertinggi. Bukannya aku ingin berlaku tidak sopan, namun sopir itu lah yang lebih dulu mengusikku. Jangan pikir aku lemah, tuan. Kamu hanya belum tahu siapa Azmi Maulana yang sebenarnya.
Segera aku beranjak dari dudukku. Mendekat pada sopir taksi itu dan segera kuangkat tangan kiri ku untuk mengapit lehernya dengan kuat.
Eeehhhhhggggg
" Apa yang ka..... "
" Bawa aku ke Cafetaria Star atau aku akan mematahkan lehermu, pak. " tukas azmi.
Aku pun menggertak sopir taksi tersebut yang ingin mengerjaiku. Berani sekali dia ingin bermain-main denganku.
Bahkan lelaki berparas manis dan lembut itu sama sekali tidak terlihat garang walaupun saat ini dia sedang marah.
Postur tubuhnya yang ideal, sangat sempurna bagi azmi yang memiliki wajah manis dan lembut itu. Siapa yang tahu, jika Azmi sangat pandai dalam hal bela diri. Semua itu bisa tercover dengan sempurna oleh wajahnya yang lembut.
Tidak ada yang mengira jika lelaki itu sangatlah tegas dan cerdik dalam setiap hal. Maka tidak sulit baginya untuk tinggal di Jakarta yang penuh dengan kriminalitas tinggi seperti saat ini.
" Ba-baik, mas. To-tolong lepaskan, mas. ! "
Sedikit melonggarkan lenganku. Tapi masih tidak ingin melepaskan. Aku sudah tahu taktik apa yang biasa digunakan oleh orang-orang seperti mereka.
" Jangan banyak bicara ! Cepat bawa aku kesana ! " ucapnya dengan penuh penekanan. Terkesan tidak ingin ditolak.
Kurasakan jika saat ini tubuh pak sopir itu gemetaran. Tidak, kali ini aku harus melakukannya agar segera sampai pada tujuan. Aku harus segera bertemu dengan fareku. Hatiku semakin gelisah saat ini. Begitu banyak halangan yang menghadang membuatku semakin ingin segera bertemu dengannya.
Syukurlah..
Kulihat saat ini mobilnya berbalik arah. Semoga saja sopir taksi ini segera membawaku pada alamat yang benar.
Beberapa menit ku coba untuk tetap tenang, karena belum juga sampai pada tujuan. Hingga kurasakan laju mobilnya semakin pelan setelah beberapa menit setelahnya.
" Apa ini yang dimaksud dengan Cafetaria Star ? Bapak tidak sedang membohongiku, kan ? " gertakku.
Aku takut jika sopir itu hanya mengerjaiku seperti tadi. Namun, aku bisa melihatnya jika saat ini sopir itu mengangguk. Sedikit kusentakkan lenganku dengan masih mengapit lehernya hingga membuat sopir itu menggeleng takut.
" Ti-tidak mas. Tolong jangan sakiti saya ! " ucapnya memelas.
Antara percaya atau tidak, namun aku pun tidak tega jika harus melakukan kekerasan pada sopir taksi itu. Sambil meyakinkan diri, aku mulai melonggarkan lenganku. Melepaskan leher sopir itu dan segera ku buka pintunya.
" Eh.. Mas. Bayar dulu. " ucapnya.
Aku pun baru tersadar jika memang aku belum membayar tagihannya. Segera kuambil dompet dari dalam saku celana dan kuberikan selembar uang merah padanya.
" Lain kali jangan seperti tadi lagi, pak. Atau bapak akan saya laporkan agar tidak bisa narik penumpang lagi. " tuturku.
Sopir itu kembali mengangguk kecil dan terlihat masih menahan takut. Aku tersenyum tipis saat melihatnya yang kini mulai fokus kembali pada kemudinya. Tak ingin berlama-lama, aku segera berbalik dan melangkah masuk.
CAFETARIA STAR.
Tempatnya seperti bar kelas atas. Walaupun telah lama aku merantau di sini, tapi tempat seperti ini sama sekali belum pernah aku datangi dan inilah pertama kalinya aku masuk kedalam tempat penikmat kebebasan. Mungkin.
Merasa penasaran, aku pun segera menghampiri meja bartender. Pikiranku mulai berkelana. Pesta. Tadi si wanita tua itu mengatakan jika fareku sedang menemani seseorang ke sebuah pesta. Aku harus segera mencari tahu.
Tidak akan kubiarkan dia tetap berada dalam genggaman si wanita tua itu. Aku berjanji, jika aku sudah menemukannya nanti, akan segera kubawa dia pergi.
" Mas. "
Panggilku pada mas bartender bar yang saat ini sedang melakukan aktivitasnya. Kunyamankan dudukku di depannya. Wajahnya tampan tapi sayangnya terlalu banyak gambar dibeberapa bagian tubuhnya.
" Yah, mau pesan apa ? "
" Yang tidak mengandung alkohol ada ? " tanyaku berbasa-basi.
Kulihat dia mengangguk dan kembali menjauh. Malanjutkan aktivitasnya. Kucoba untuk bersantai sejenak. Memikirkan langkah yang tepat untuk aku dapat menemukan posisi fare. Karena aku pun masih bingung dengan keadaan disini.
Sambil menunggu minumanku, mataku terus menelisik setiap sudut ruangan. Setiap orang yang mungkin bisa kujadikan sebagai petunjuk. Yah.. Bingo. Beberapa orang memang banyak yang naik turun dari tangga itu.
Apa mungkin pestanya ada di atas sana ?
Beberapa menit kemudian, mas tampan dengan keahliannya membuat minuman dengan gerakan yang dia miliki tadi kembali menghampiriku.
" Ini minumannya. "
Aku menoleh dan tersenyum. Tak ingin melewatkan kesempatan, aku pun segera bertanya pada lelaki itu.
" Mas, saya lagi nyariin temen. Dia katanya ada pesta disini. Tapi pestanya dimana ? Temen saya gak bisa dihubungi. "
Kulihat dia terdiam sejenak. Memperhatikanku lekat-lekat. Aku pun tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya. Namun, terus kumohon pada-Nya agar lelaki itu bisa memberiku sebuah jawaban.
" Oh, temannya benny ? Ada di atas. Naik aja. " Jawabnya setelah beberapa menit terlihat sedang berfikir.
Sebisa mungkin aku tetap berusaha tenang. Seperti yang kulihat di film-film Hollywood. Menjadi mata-mata atau seorang agen rahasia harus bisa bersikap santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.
hehehehe..
Aku terkekeh didalam hati. Bagaimana gak curiga, orang aku datang ketempat seperti ini menggunakan kemeja. Bahkan penampilanku saat ini lebih cocok digunakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bukan pesta di bar seperti saat ini. Tapi biarkan saja.
Bo**hnya aku.. Siapa juga yang menyangka jika cafetaria yang dimaksud adalah sebuah bar.
Ku ambil dua lembar uang dari dalam dompet. Entah kurang atau tidak aku pun tidak tahu. Kini aku mulai beranjak dari dudukku setelah minumanku tinggal setengah gelas. Rasanya lumayan.
" Mas "
Kusodorkan uangku padanya.
" Ambil saja sisanya. "
Dia tersenyum sambil mengangguk.
" Thanks. "
Aku pun segera berbalik dan berjalan menuju tangga. Menaiki anak tangga satu persatu hingga kini aku sudah berada di lantai atas. Kulihat sekeliling, ternyata pestanya ada di luar. Kurasa di atas sana juga ada lantai lagi.
Dengan masih memendam perasaanku yang mulai tidak karuan. Kini aku melangkah untuk masuk dan ikut bergabung bersama dengan mereka yang ada disana. Banyak wanita berpakaian seksi dan berparas cantik.
Masya Allah..
Ada beberapa lelaki seumuran ku dan juga beberapa lainnya adalah pria tua. Beruntung sekali para petua itu. Bahkan aku yang muda saja belum bisa bersanding dengan para wanita cantik itu. Lha ini ? Uang memang berkuasa.
Mataku terus menelisik. Ku abaikan tatapan mata lapar dari wanita cantik yang saat ini sedang menatapku. Yah, mereka bukanlah wanitaku.
Saat aku melihat beberapa orang yang sedang asyik berbincang di sofa ujung. Mataku tiba-tiba saja membola. Kurasakan aliran darahku seakan mendidih. Tubuhku terasa panas bahkan dadaku mulai merasakan sesak.
Sial.. Itu fareku, itu wanitaku.
Tbc..