LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Perjalanan pulang



Aku baru saja turun dari mobil online yang tadi ku pesan, setelah memberikan beberapa lembar uang pada sang sopir. Kutarik sedikit bibirku keatas ketika kini aku sudah berada di depan stasiun kereta api.


Kali ini, aku memilih untuk pulang ke kampung halamanku menggunakan kereta api. Bukannya tidak ada ongkos, bahkan pulang pergi menggunakan pesawat saja aku sangat mampu, hanya saja aku ingin mengulang kembali kenangan pertamaku menuju bandung maupun Jakarta yang menggunakan kereta api.


Sebuah tas ransel yang tidak terlalu besar sudah bertengger dipunggung ku.


Segera ku ajak kedua kakiku untuk melangkah masuk kedalam stasiun, karena keberangkatan ku menuju kota Sidoarjo, jawa timur tinggal beberapa menit lagi.


Kali ini, aku tidak membelikan oleh-oleh untuk keluarga. Pasalnya seminggu yang lalu aku sudah mentransfer sejumlah uang dan juga sebuah mobil utuk ayah dan ibuku. Walau aku tahu jika mereka berdua tidak bisa mengemudikannya, tidak ku urungkan niatku membelinya.


Sedikit mempercepat langkahku, agar segera masuk kedalam kereta dan bersiap dengan perjalananku. Perjalanan yang lumayan menyita waktu, namun aku sungguh menikmatinya.


Sidoarjo I'am cominggg.... Teriakku dalam hati.


Setelah aku masuk kedalam kereta api, ku segerakan untuk mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor tiket ku. Kutemukan tempat dudukku dan segera ku nyamankan posisiku untuk memulai perjalananku. Tidak sabar rasanya aku untuk segera sampai dikampung halamanku


Lega. Rasanya aku sangat lega. 7 tahun aku meninggalkan kota kelahiran ku Sidoarjo, meninggalkan keluargaku, meninggalkan sosok gadis cantik yang hingga kini masih ku simpan dalam hati. Penyemangat ku dalam meraih pendidikan dan mimpiku.


Tersenyum. Aku tersenyum tipis saat ingatanku akan dirinya, sudah memenuhi isi kepalaku. Gadis cantik yang selalu tegar dalam menghadapi masalah hidupnya. Gadis cantik yang sudah membuatku jatuh cinta.


FARENINA. Nama itu seakan sudah melekat dihati dan pikirkan ku. Farenina, itulah nama panggilan yang biasa ku sebut dalam setiap doaku. Sosok gadis yang kuinginkan sebagai jodoh masa depanku.


Mari ikutlah bersama denganku menuju ke lembah waktu beberapa tahun silam. Inilah ceritaku.


*******************************************


Lembah waktu beberapa tahun yang lalu.


Sosok bocah laki-laki itu masih memeluk kaki ibunya. Dia sedang merengek minta pulang. Bahkan beberapa teman yang lainnya menatapnya heran. Tidak sedikit pula yang mengalami hal sama dengan bocah tersebut.


Dari kejauhan terlihat gadis cantik baru saja turun dari boncengan sepeda. Setelah mencium tangan ayahnya dia pun segera melangkah dengan riangnya. Tampak dia membalikkan tubuhnya untuk dapat melihat sosok ayahnya yang saat ini sudah kembali mengayuh sepedanya.


"Hati-hati, ya," teriaknya.


Gadis ceria itu segera melangkah untuk masuk kedalam kelasnya. Ini adalah hari pertama masuk sekolah. Suasana begitu ramai dan padat beberapa wali murid yang mengantarkan anaknya sekolah.


Berbagai jenis kendaraan sudah memenuhi halaman sekolahan. Jika saja gadis itu tidak pandai mungkin saja dia tidak bisa masuk ke sekolah negeri itu.


Berbagai dandanan, mulai dari yang sederhana hingga yang sangat mewah siapa saja bisa melihatnya disana. Gadis cantik dan ceria itu hanya menatap sekeliling dengan bingung.


"Kata ayah, orangtua gak boleh masuk ke dalam karena akan mengganggu. Lah, tapi ini banyak juga yang masuk." gumamnya sendiri.


Wajah cerianya kini pun perlahan menyusut. Merasa sedih dan iri pada teman temannya yang diantar oleh orangtuanya. Tapi sesaat kemudian dia teringat.


"Yasuda, gak papa. 'Kan ayah juga harus kerja," hiburnya sendiri.


Tak lama setelah dia akan sampai dikelasnya. Gadia itu menghentikan langkahnya. Menatap kearah bocah yang saat ini sedang menangis. Memeluk ibunya dan tidak ingin ditinggal.


"Gak mau, Azmi mau Ibu masuk juga. Pokoknya Ibu ikut masuk!" teriaknya sambil menangis.


Perlahan gadis itu melangkah. Menghampiri si bocah menangis itu.


"Hai, kenapa menangis?" tanyanya.


Sontak sang ibu dan putranya segera mengalihkan pandangannya. Menatap heran pada gadis cantik itu.


"Ayo masuk kedalam bersamaku! Aku juga sendirian. Kita bisa duduk bersebelahan nanti," bujuknya tiba-tiba.


Sang ibu hanya melongo. Dan bocahnya menatap bingung. Kenal aja nggak, tapi kenapa sok akrab. Mungkin begitu pikirnya.


"Namaku farenina. Panggil saja fare. Ayo masuk! Kalau gak masuk cepet-cepet ntar gak kebagian kursi. Aku sih, gak mau belajar sambil berdiri. Makanya ayo masuk!" ucapnya lagi tanpa ragu.


"Iya, Sayang. Kamu masuk sama temen kamu ini. Dia aja gak nangis ditinggal sama ayahnya, ya 'kan," tutur ibunya yang juga merayu.


"Hem ... ayo masuk! Kita cari duduk di depan biar bisa lihat bu guru dengan jelas," ucapnya lagi.


"Ayo!" ajaknya sembari menyodorkan tangannya. Berharap dia bisa mengajak bocah itu masuk kedalam sana.


Tidak ada niatan apapun. Gadis itu hanya merasa kasihan melihat ibunya yang kualahan merayu putranya untuk masuk kedalam kelas.


Hidup berdua dengan sang ayah telah membuat dirinya menjadi lebih dewasa sebelum waktunya. Sang ibu telah meninggal saat melahirkan dirinya. Dia pun dididik untuk bisa membantu sang ayah tercinta dalam urusan beberes pekerjaan rumah.


Kehidupannya yang serba sederhana dan serba dituntut untuk mandiri membuat pribadinya yang selalu sabar dan tegar. Hingga saat ini pun, dia bisa berfikir bijak dari teman-temannya yang masih merengek pada orangtuanya.


"Ayo! Kita masuk ke dalam," ajaknya sekali lagi.


Perlahan bocah itu meraih tangannya. Sang ibu tersenyum melihat rengkuhan putranya yang semakin mengendur. Mengarahkan tangannya untuk mengusap wajah putranya yang sidah basah.


"Wah, sudah dapat temen sekarang. Ini tasnya," ucap ibu sambil memberikan tas milik putranya.


"Makasih ya, Dek."


Kedua bocah berseragam putih merah itu pun saling bergandengan tangan untuk masuk kedalam dalam kelas. Fare terlihat sangat telaten dalam meladeni bocah manja itu.


"Ayo kita duduk di sini saja. Biar bisa denger bu guru bilang apa, " tuturnya dan sang bocah itu mengangguk patuh.


"Sini tasnya," pinta fare sembari mengambil tas yang dibawa oleh bocah itu.


Tas miliknya dan tas milik bocah itu sudah tergeletak apik dibelakangnya. Fare kembali melihat kearah bocah itu.


"Namamu siapa? Namaku Farenina. Kamu bisa memanggilku Fare. "


Sang bocah laki-laki itu segera menolehkan kepalanya setelah tadi masih menatap kearah luar. Menatap lekat wajah cantik fare dengan tersenyum tipis.


"Namaku Azmi Maulana."


******************************************


Aku terkekeh kecil. Mengingat akan hal itu membuatku merasa malu. Bagaimana bisa dulu aku menjadi bocah cengeng didepannya.


Kusandarkan kepalaku dan sedikit menoleh kesamping. Kereta yang kutumpangi kini sudah bersiap untuk berangkat.


Kepulanganku kali ini karena aku sedang menginginkan sesuatu. Mungkin aku belum bisa dikatakan kaya. Karena aku hanyalah seorang karyawan biasa. Tapi, kali ini aku sudah siap untuk menata hidupku bersama dengan wanita impianku.


Kurasa uang tabunganku sudah sangat cukup untuk memulai kehidupan baruku. Kedua orang tuaku sudah pasti aku jatah seperti setiap bulannya. Tapi, uang gajiku masih sangat cukup jika untuk membiayai kehidupanku dan dia nanti.


Dia yang selalu kuminta pada setiap sujudku. Jodoh yang selalu kunanti untuk masa depanku. Wanita cantik yang bisa menggetarkan hatiku hanya dengan mengingat namanya saja. FARENINA.


Tbc


Mampir yuk mampir..


Jangan lupa like dan komen..


Favorit juga yah..


Terimakasih..


😘😘😘😘